Buronan Tampan

Buronan Tampan
Kejutan Ketiga


__ADS_3

Sedari tadi, Tuan Morang masih ditemani Dias menikmati beberapa makanan khas negeri kelahiran ibundanya itu. Walaupun, jarang sekali menginjakkan kaki ke negara ini, namun lelaki itu masih hapal betul rasa otentik dari setiap makanannya.


"Selamat atas kelulusanmu," ucap lelaki berkacamata bening itu.


Dias yang sedang duduk di hadapannya sontak tersentak dan menghentikan kunyahan.


"Bagaimana Tuan bisa mengetahui hal itu?"


Dias mulai berani menatap kedua manik mata lelaki yang dulu pernah berjasa dalam menyelamatkannya dari penjara Om Koboi.


Mendengar pertanyaan Dias, Tuan Morang hanya tersenyum tipis seraya menundukkan pandangan. Ternyata Dias masih selugu dulu. Begitulah kiranya isi kepala lelaki itu.


"Aku dan kakakmu--"


"Oh, ya, aku mengerti," potong Dias sebelum Tuan Morang menyelesaikan kalimatnya. Gadis itu tampak menganggukkan kepala.


"Apa rencanamu setelah ini?" Tuan Morang mulai asik berbincang. Padahal, dulu ia sering kehabisan kata-kata jika harus berhadapan dengan wanita lain selain istrinya.


Dias refleks menatap langit-langit ballroom, tampaknya sedang berpikir sebelum menanggapi.


"Menikah?" tanya Tuan Morang, bahkan sebelum gadis itu menemukan jawaban yang pas.


Dias terperanjat. Tidak mungkin ia akan menikah setelah ini. Bagaimana akan menikah? Pacar saja tidak punya.


"Eng ...." Dias meringis.


"Oh, aku mengerti. Kau pasti belum memiliki kekasih," terka Tuan Morang seolah bisa membaca pikiran adik dari Reyden Elbarak itu.


Mendengar ucapan Tuan Morang, Dias malah kembali melotot. Tidak menyangka bahwa pria kalem di hadapannya ternyata merupakan spesies Om-Om sakti mandraguna.


"Aku bukan Om-Om, Dias. Usiaku tidak jauh berbeda dengan kakakmu."


Kembali, Tuan Morang memberikan kejutan luar biasa pada gadis itu.


Alih-alih merasa aneh, Dias malah semakin melebarkan kedua matanya--takjub.


"Apa Tuan ini sejenis vampir masa kini?" tanya Dias yang mulai berkelakar. Tentu saja, Dias mengira bahwa Tuan Morang termasuk spesies vampir masa kini, karena kemampuannya yang bisa membaca pikiran seseorang.


Tuan Morang langsung terkekeh.

__ADS_1


Setelah itu, keduanya terus terlibat dalam obrolan asik ala mereka.


Sementara, di meja yang terletak tak jauh dari Tuan Morang dan Dias, Sakti tampak menekuk wajah seraya menatap lurus ke arah mereka.


Galbi dan Daru yang sedari tadi mengamati pergerakan kedua netra pria itu, kini mulai memahami situasi.


"Sudahlah, kau tidak akan menang jika harus bersaing dengan Tuan Muda," ucap Daru seraya menepuk pundak Sakti.


Pria itu masih tak menanggapi ocehan asisten pribadi Tuan Morang itu, kedua matanya masih fokus pada gadis manis, yang entah sejak kapan mulai bertahta di hatinya. Padahal, mereka hanya bertemu sekali saja saat sama-sama berada di villa Tuan Morang. Lebih tepatnya, saat Sakti berusaha melarikan Dias.


"Aku yakin, Tuan memang menyukai gadis itu ketika dia memberlinya dulu," tutur Daru saat mengingat momen di mana atasannya mengeluarkan milyaran uang hanya untuk membebaskan Dias dari jeratan Om Koboi. "Apalagi, sekarang sudah tidak ada lagi sosok Nyonya Olla di sampingnya," lanjut Daru yang membuat Sakti mengerjap.


Kepergian Olla akibat mengalami kecelakaan pesawat yang ditumpanginya tiga tahun lalu, benar-benar menorehkan luka dalam di hati atasan mereka. Tuan Morang lebih banyak menyendiri dan tidak mau hadir dalam acara-acara besar, terutama pesta.


Namun, hari ini mereka bertiga bisa menyaksikan sendiri seperti apa luwesnya gelak tawa yang ditunjukkan oleh lelaki itu. Seolah sudah menemukan penawarnya, sisi ceria Tuan Morang yang sempat hilang ditelan duka, kini naik lagi ke permukaaan.


Sakti menghela napas panjang.


"Sepertinya mereka memang ditakdirkan untuk bersama," tutur pria yang juga mengenakan kacamata bening itu.


Galbi dan Daru langsung mengangguk pertanda menyetujui pernyataan Sakti.


Lain Tuan Morang dan Dias, lain pula Reyden dan Elmina. Keduanya tampak berpamitan kepada para tamu undangan.


"Mereka mau kemana?"


"Apa sudah tidak sabar untuk melewati momen malam pertama?"


Begitulah sekiranya gumaman yang keluar dari mulut para tamu.


Reyden tak menghiraukannya, ia terus menarik tangan Elmina hingga keluar dari ballroom.


"Kita mau kemana, Rey?"


"Kejutan."


Biasanya, jika Reyden merahasiakan sesuatu, maka Elmina akan terus mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Namun, tidak untuk kali ini. Gadis itu patuh dan malah mengulas senyuman saat mendengar jawaban dari suaminya. Apalagi, untuk mendapat kejutan. Tentu saja, ia sangat senang.


Reyden membawa Elmina memasuki lift.

__ADS_1


Ketika kotak ajaib itu telah sampai di lantai yang dituju, Reyden keluar terlebih dahulu, kemudian mengulurkan tangannya pada sang istri.


Elmina menyambut uluran tangan suaminya. Tatapan Nyonya Elbarak itu mulai menyisir pemandangan rooftop yang sudah disulap dengan banyak lilin, yang menyala di sisi kiri dan kanan karpet merah.


Karpet merah yang terbentang mulai dari pintu lift hingga meja bundar yang berada di pojokan rooftop.


Ketika langkah keduanya tiba di dekat meja, Reyden langsung meraih kedua pundak gadis itu agar menghadap kepadanya.


Elmina mulai memejamkan kedua mata, ia mengira bahwa Reyden akan menciumnya saat itu juga, namun dia salah.


"Aaarrrgh!"


Gadis itu terperanjat. Kedua matanya refleks terbuka.


Kedua tangan kokoh sang suami ternyata sudah membawanya ke dalam gendongan dalam sekali hentakan.


"Belum waktunya," bisik Reyden di dekat telinga Elmina. Pemuda itu tentu sangat memahami bahasa tubuh sang istri tadi.


Kedua pipi Elmina sontak memerah karena malu.


Reyden hanya terkekeh kecil. Ia langsung menaiki anak tangga yang tersedia, lalu menurunkan Elmina di atas meja.


"Hei, kau mau kemana?" tanya gadis itu ketika melihat Reyden beranjak dari sana.


"Sabarlah sebentar, Nyonya Elbarak."


Mendengar panggilan itu, Elmina langsung tersenyum simpul.


Tak berapa lama, Reyden kembali menaiki meja, lalu berdiri sejajar dengan Elmina.


"Aku yakin kau pasti merindukan momen ini," ucap pemuda brewok itu sembari menggendong kembali tubuh istrinya.


Elmina tersenyum, lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Reyden.


"Baiklah, Buronan Tampanku. Bawa aku terbang kemana pun kau mau," ucap Elmina di dekat telinga suaminya.


Reyden balas tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya pada Elmina. Entah, siapa yang memulainya terlebih dahulu, bersamaan dengan lompatan kaki Ryeden, bibir keduanya pun saling bertemu. Di atas ketinggian dan embusan angin malam, keduanya terbang dalam buaian indah dengan saling mengecup, mengecap, dan menyesap.


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2