
"Ibu ... Kakak ... tolong aku!" teriak seorang gadis kecil seraya terus meronta--minta dilepaskan.
Seorang lelaki bertubuh besar dengan paksa menggendongnya dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil.
"Kembalikan putriku! Kembalikan putriku!" teriak balik seorang wanita berusia empat puluh tahun sembari terus berlari ke arah mobil tersebut.
"Diaaas!" Sesampainya di samping mobil, wanita itu terus berteriak dan memukul kaca mobil hingga bertubi-tubi. Berharap semua orang yang berada di dalam kendaraan tersebut keluar dan membebaskan anaknya.
"Ibu ... tolong!" pekik gadis kecil dari dalam mobil. Gadis yang masih sangat belia. Bahkan ia baru saja mengenyam pendidikan di bangku TK.
"Ibu ...!" teriaknya sambil terus memukuli kaca mobil yang sama. Air matanya terus berurai. Bahunya pun ikut berguncang bahkan bergetar.
"Jalan!" titah seorang pria dewasa yang duduk di samping kursi kemudi. Seakan tuli, ia tak mau berbelas kasih pada dua wanita berbeda generasi yang sedang bersahut-sahutan dalam pilu itu.
Pria dewasa tersebut tampak mengenakan topi koboi berwarna cokelat tua. Cerutu hitam mengkilat menempel enteng di sudut bibirnya.
Setelah memberikan perintah, mobil pun melaju--meninggalkan wanita paruh baya tadi yang semakin menangis berderai. Tubuhnya terkulai ke tanah. Tangisannya pun semakin pecah. Anak keduanya sudah menjadi korban perampasan, setelah suaminya mati konyol di tangan pria dewasa bertopi koboi tadi.
"I-ibu!"
Dalam keterpukulan, wanita itu mendengar suara parau dari remaja laki-laki yang kini tergeletak dalam posisi tengkurap di tanah dengan luka pukulan di seluruh wajahnya. Sebelah tangan terjulur ke arah sang ibu, sementara satunya lagi ia letakkan pada perutnya yang terasa sangat nyeri.
"Reyden!" pekik wanita itu setelah menyadari bahwa putra pertamanya terluka parah karena berusaha melawan orang-orang tadi, namun kekuatannya tidak sebanding. Beruntung nyawanya tidak melayang di saat yang bersamaan.
"Bangun, Nak." Wanita itu membantu sang anak untuk duduk, lalu menyandarkannya pada pohon mangga. Kemudian ia bergegas masuk ke dalam rumah untuk mengambil air minum.
Tragedi naas itu terjadi tepat di halaman rumah mereka. Karena rumah itu terletak sangat jauh dari penduduk yang lainnya, maka kejadian tersebut tak terekam oleh siapa pun yang tinggal di desa yang sama.
Tak berapa lama, wanita itu tampak kembali dengan segelas air putih dalam genggamannya. Ia berjalan tergopoh ke arah pohon mangga, lalu berlutut dan membantu putranya untuk minum.
Sejenak pandangannya tertuju pada jenazah sang suami yang tergeletak tak jauh dari mereka. Kedua matanya kembali memanas. Air dukanya lagi-lagi luruh.
__ADS_1
Melihat sang ibu yang menangis terisak membuat remaja laki-laki yang bernama Reyden itu mengikuti arah pandang ibunya. Dadanya bergemuruh. Amarahnya memuncak, namun ia tak sedikit pun mengeluarkan air mata.
"Suatu saat aku akan membalas perbuatan mereka, Bu. Dan aku pasti akan membawa Dias kembali ke pelukan ibu," tekadnya dengan tatapan nanar.
TING
"Bang, ini kopinya. Jangan melamun gitu dong," ucap seorang wanita berparas ayu seraya bermain mata ke arah Bari. Tubuhnya molek bak gitar spanyol, hidungnya bangir, dan bibirnya seksi. Rambut ikalnya tergerai indah dengan satu jepitan kecil yang tampak menawan poninya ke belakang.
Pemuda brewok itu mengerjap karena baru saja keluar dari zona lamunan. Ia tersenyum kikuk ke arah wanita pelayan sekaligus pemilik warung kopi itu, lalu berucap, "Terima kasih."
"Aku terima kasihmu," tutur balik wanita itu dengan senyum menggoda.
Wanita berusia sekitar tiga puluh tiga tahun itu bernama Mimi. Dia sudah lama menjalankan usaha warung kopi di pasar baru.
Namun, baru kali ini Bari bertandang ke tempat ini. "Kakak sudah lama berjualan di sini?" tanya Bari berusaha untuk sopan.
"Eh, jangan panggil kakak dong, Bang. Panggil adek ajah," ucapnya manja seraya duduk di depan Bari.
Mendengar permintaan Mimi, Bari hampir tersedak kopi yang baru saja ia telan. Pasalnya, dari penampilannya saja pemuda itu bisa memastikan bahwa wanita di hadapannya itu jauh lebih tua darinya.
"Baiklah, Dek." Bari harus bisa mengambil hati wanita ini, jika ingin mendapatkan informasi.
Senyuman Mimi tampak mengembang tatkala permintaannya bersambut. Pemuda di hadapannya memang tampak sangat tampan. Jarang sekali dia mendapatkan tamu seperti ini. Kesempatan besar yang tidak boleh dilewatkan, mungkin begitu pikirnya.
Wanita dewasa bergincu merah hati itu tampak berpikir sejenak sambil mengetukkan jari telunjuknya pada dagu. "Emm, adek jualan di sini sudah hampir sebelas tahun, Bang. Ada apa?"
Sekarang giliran Bari yang tampak berpikir. Ia mulai menghubungkan rentetan kejadian di mana ayahnya terbunuh dan adiknya dibawa lari. Sepuluh tahun yang lalu, tepat ketika usianya masih lima belas tahun.
"Adek pernah melihat gadis ini?" tanyanya pada Mimi seraya mengeluarkan sesuatu dari dalam ransel, lalu mengarahkan sebuah kertas foto yang tampak usang ke hadapan wanita itu.
Mimi langsung melengak. Menyipitkan matanya sejenak, lalu kembali mengingat-ingat.
__ADS_1
"Ini ... adek gak pernah lihat, Bang. Lagi pula anak sekecil ini ...." Suara Mimi tercekat. Ingatannya seolah sedang menemukan kepingan puzzle yang sempat terlupakan. "Anak ini ...," lanjutnya seraya menoleh ke arah barat. "Kayaknya anak ini dulu pernah dititip sama Mbak Asti." Jari telunjuknya terarah pada sebuah warkop di ujung barat. "Tapi ...." Nada bicaranya terdengar melemah.
Bari tampak menegang. Jantungnya berpacu cepat. Sepertinya petunjuk yang akan diberikan oleh Mimi hanya akan menemui jalan buntu.
"Mbak Asti udah pindah lapak, Bang." Mimi mengatakan hal itu dengan ekspresi menyesal yang begitu kentara.
Ah, benar kata hatinya.
"Lalu, Adek gak tahu lapak barunya?" Bari masih berharap bahwa wanita di depannya ini bisa memberikan secercah harapan.
Sudah bertahun-tahun ia berusaha mencari sang adik, namun hasilnya nihil. Petunjuk yang ia dapatkan selalu saja berujung buntu. Namun, Bari tak ingin berputus asa. Janjinya pada sang ibu harus ditepati.
"Emmm ...." Mimi tampak tersenyum simpul. Ada makna lain yang bisa Bari tangkap dari senyuman wanita centil di hadapannya.
Pemuda brewok itu kembali merogoh ranselnya, lalu mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah. Tanpa disensor lagi, ia meletakkannya langsung di atas meja tepat di depan Mimi.
"Untuk jasamu karena sudah mau berbagi informasi," ucap Bari.
Mimi masih tak menyentuh uang itu. Ia hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menatap Bari dengan senyuman yang sama dengan sebelumnya.
S-i-a-l, umpat Bari dalam hati.
Dua jam kemudian.
"Haaah, daun muda memang memuaskan!" Mimi tampak meregangkan otot-ototnya. Selimut tebal masih menutupi tubuh polos wanita itu.
Sementara Bari, ia tampak sudah mengenakan pakaian lengkap. Alamat wanita bernama Asti itu sudah dikantonginya. Bahkan Mimi dengan suka rela memberikan nomor ponsel wanita itu.
"Bang, uangnya ketinggalan!" teriak Mimi ketika pemuda itu sudah berdiri di ambang pintu kamar.
Bari memang sengaja meletakkan uang tadi di atas meja rias milik Mimi.
__ADS_1
"Untukmu saja," responnya seraya bergegas menutup pintu dari luar.