Buronan Tampan

Buronan Tampan
Dilema


__ADS_3

Bari langsung menekan matanya dalam-dalam dengan kedua ibu jari. Sembari menguasai diri dan emosi, ia beranjak dari posisinya, lalu berjalan ke teras villa.


Elmina tak mencegah sama sekali. Ia paham, ada sesuatu yang membuat pemuda brewok itu tiba-tiba berubah melow. Ketika jus di dalam gelasnya telah tandas, gadis itu berjalan perlahan menghampiri Bari yang kini menetap hamparan kebun kelengkeng yang terdapat di kiri villa.


"Aku kira laki-laki tidak bisa menangis," celetuk gadis itu sembari menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ia khawatir salah bicara.


Namun, di luar dugaan, Bari malah terkekeh pelan. Gadis di sampingnya ini selalu sukses mengubah suasana. Sebagaimana dirinya.


"Mataku hanya kelilipan," elak pemuda itu sok jaim.


Elmina mencebikkan bibirnya. "Kelilipan karena putus cinta?" terka Elmina yang memang merasa ingin tahu.


Entah, kenapa hatinya cukup terganggu jika memang pemuda misterius di sampingnya itu benar-benar memiliki seorang kekasih. Namun, jika benar Bari menangis karena diputuskan oleh kekasihnya, bukankah itu berita baik untuknya?


"Anak kecil tahu apa soal cinta?" Bari melirik sekilas ke arah Elmina. Membuat gadis itu kembali mencebik seraya melipat kedua lengan di depan dada.


Dia selalu saja menganggapku anak kecil, protesnya di dalam hati.


Di saat Elmina hanyut dalam kedongkolan, Bari diam-diam merangsek--menuruni tangga villa. Namun, ketika tubuhnya hampir mencapai mobil suara Elmina kembali membahana.


"Hei ...!"


Bari tak menggubris, wajahnya tampak tersenyum tipis. Tangannya sigap membuka pintu mobil dan hendak masuk ke dalamnya.


Namun ....


"Hei, Pak Reyden!"


DEG


Bari menghentikan pergerakannya, lalu merotasikan leher ke samping.


Elmina masih berdiri di teras villa menatap horor ke arahnya. Kedua lengan masih di lipatnya di depan dada.


"Setidaknya habiskan minumanmu sebelum pergi. Bukankah tadi kau sendiri yang memintanya? Kau tahu, aku sudah menyiapkannya dengan tanganku sendiri," ucap gadis itu panjang lebar.


Bari memutar bola matanya malas. Ia kembali menghadap mobil dan hendak memasukinya.


"Pak Reyden yang terhormat!"


Kini Bari menggigit bibir bawahnya. Kepala dibawa menggeleng pelan--tidak habis pikir. Sepertinya ia harus membuat Elmina bungkam terlebih dahulu, barulah bisa melanjutkan misi.


Dengan cepat berputar arah, pemuda brewok itu berjalan tegap ke arah Elmina.

__ADS_1


Melihat ekspresi Bari yang serius, tubuh Elmina terpukul mundur hingga menempel pada tembok.


Bari yang memang berniat mengusili gadis itu, langsung mengunci tubuh Elmina dengan kedua tangannya. Satu tangan di kiri, dan satunya lagi di kanan kepala Elmina.


Gadis itu tampak tergagap. Kedua matanya mengerjap berkali-kali, namun tak juga bisa mengeluarkan suara.


"Jika kau berani memanggil nama itu lagi tanpa seizinku, maka aku akan membungkam bibirmu itu dengan ciuman!" ancam Bari yang berpura-pura mengetatkan rahangnya. Tatapan tajam dilontarkannya sebagai penyempurna drama.


Elmina terlihat menahan napas. Jika seperti itu konsekuensinya, maka dia lebih memilih untuk bungkam selama-lamanya.


"Mengerti?" lanjut Bari.


Elmina mengangguk patah-patah. Atmosfer di sekitarnya tiba-tiba terasa mencekam. Aura membunuh yang pernah Bari pertontonkan kala itu, seolah kembali naik ke permukaan.


"Anak pintar," ucapnya seraya menepuk pelan pipi Elmina.


Gadis itu kembali mengerjap. Dadanya tampak turun-naik karena merasa terancam.


Perlahan Bari melepaskan kunciannya dari tubuh Elmina, lalu memutar badan untuk kembali ke mobil.


"Rey--" Suara Elmina tercekat.


Bari menoleh ke samping.


Setelah mengatakan kalimat itu, Bari langsung pergi dari sana.


Elmina langsung menghela napas lega.


"Dia benar-benar menakutkan!" ucapnya pada diri sendiri sembari bergidik. Diputarnya tubuh memasuki villa, lalu menutup pintunya rapat-rapat.


Di perjalanan, Bari kembali merogoh ponselnya dan melakukan panggilan pada Sakti.


"Yap?" Suara Sakti terdengar di balik sambungan.


"Katakan di mana posisi kalian?" Bari langsung pada intinya.


Sakti pun langsung memberitahukan detil lokasinya. Ia masih berada di pinggiran pantai sembari memantau Dias yang masih berbincang dengan istri Tuan Morang.


"Tapi, bukankah sangat sulit bagimu untuk terbang ke sini?" Itu suara Sakti.


Pria itu tahu bahwa saat ini Bari bukanlah penduduk sipil yang bebas berkeliaran ke sana kemari.


Kepolisian dan departemen keamanan lainnya pasti sudah bekerjasama dalam menemukan keberadaan pemuda itu. Dan Sakti, tidak mungkin kembali ke negara mereka hanya untuk menjemput Bari. Terlalu mencurigakan. Dan dia belum siap menanggung resikonya.

__ADS_1


"Siapa bilang aku tidak bisa?" Bari tersenyum enteng. Ia langsung mematikan sambungan begitu saja. Kemudinya tampak berbelok ke arah kanan, menuju kawasan hutan Pinus.


Jalanan setapak yang hanya mampu dilewati oleh satu mobil itu terhubung langsung pada rumah pohon yang biasa menjadi tempat rahasianya.


"Kali ini aku tidak boleh gagal," tekadnya. Ia turun dari mobil, lalu naik ke atas pohon.


***


"Dias ...!" Olla tampak ragu untuk berkata. Tubuhnya bergeser mendekati Dias. Diraihnya sebelah telapak tangan gadis itu, lalu menggenggamnya dengan sayang.


Dias tampak berkerut dahi.


"Jika aku meminta bantuanmu, apakah kau akan menolongku?" katanya dengan nada lembut.


Dias mengangguk ragu.


Olla tersenyum lega setelah melihat bahasa tubuh gadis cantik itu.


"Aku dan suamiku, kami sudah lama menikah," tutur Olla sambil menatap manik mata Dias. "Namun kami tidak bisa memiliki keturunan, karena aku ...." Kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Aku tidak sempurna, Dias." Suara isakan Olla mulai terdengar. Suaranya pun bergetar. "Aku tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada suamiku dan keluarganya." Suasana semakin mendramatisir. Olla sudah bersimbah air mata.


Tak jauh berbeda dengan istri Tuan Morang itu, Dias pun tampak terbawa suasana. Keningnya berkerut dalam, kedua matanya mulai menyipit. Kedua bola matanya tampak memerah. Seolah ikut merasakan penderitaan wanita di hadapannya. Tentu saja, dia juga seorang wanita.


"Aku mandul, Dias." Tangisan Olla pecah seiring deburan ombak yang menerjang bebatuan.


Dias yang masih berusia enam belas tahun, tentu saja sudah memahami apa itu artinya mandul. Walaupun ia tidak mengenyam pendidikan formal, namun jika hanya untuk memahami situasi, dia cukup cerdas menginterpretasikan semua kalimat yang sudah Olla sampaikan.


"Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk menolong Kak Olla?" Akhirnya gadis itu bertanya juga.


Mungkin dia merasa bingung karena jika dilihat dengan mata telanjang rumah tangga Olla dan Tuan Morang terlihat baik-baik saja. Jadi, masalahnya di mana?


"Bisakah kau melahirkan seorang anak untuk kami?"


DEG


Dias refleks menarik tangannya dari Olla. Pandangannya pun kini berpindah arah.


Olla yang menyadari gelagat itu, akhirnya turun dari kursi kayu panjang yang mereka duduki, lalu berjongkok di hadapan Dias.


"Kumohon Dias, kami yakin kau adalah gadis baik-baik. Oleh sebab itu suamiku memilihmu." Olla mulai mengiba. Membuat Dias terdesak tentunya.


Adik dari Reyden Elbarak itu tampak berpikir sejenak.


Di satu sisi ia sudah terlepas dari jeratan Om Koboi berkat Tuan Morang. Namun, di sisi lain, ia tidak mungkin menikah dan mempunyai anak di usianya yang masih sangat belia. Apalagi lelaki itu sudah memiliki seorang istri. Dias rasa itu bukanlah impian hidup yang indah. Walaupun haknya sudah dirampas sedari kecil, namun apakah sekarang pun ia tidak diberikan kesempatan untuk memilih?

__ADS_1


__ADS_2