
"Keparat Tua Sialan!"
Tangan pemuda brewok itu sudah mengudara hendak mengayun tinju. Namun, bersamaan dengan itu Prima dan Pak Sanjaya tampak memasuki ruangan.
Ayah dan anak itu memang tidak mengenakan seragam lengkap kepolisian, namun Bari tahu identitas keduanya karena ini bukanlah kali pertamanya mereka bertemu. Ditambah lagi kehadiran beberapa anggota polisi yang lainnya, membuat dua lelaki berbeda usia itu membeku seketika.
"Komandan!" seru Om Koboi. Sebelah tangannya terangkat menyentuh pelipis--memberi hormat. "Anda datang tepat pada waktunya. Silakan, silakan! Buronan Anda sudah di depan mata," katanya menunjuk Bari dengan sebelah tangan.
Ya, Bari memang sudah dilaporkan kepada pihak kepolisian atas tewasnya adik dari Om Koboi. Walaupun belum bisa diketahui seperti apa kejadian sebenarnya, namun berdasarkan keterangan saksi dari salah seorang pelayan di rumah keluarga korban, Bari terlihat keluar dari tempat kejadian sebelum korban ditemukan tewas.
Pak Sanjaya hanya mengangguk tipis, sementara Prima masih memandang Bari dengan tatapan menelisik. Seperti sedang menerawang sesuatu, lelaki yang tak lain adalah kakak Elmina itu mendikte setiap inci tubuh Bari. Dari atas sampai bawah. Ya, sampai bawah.
"Tempat ini sudah dikepung." Setelah berdiam diri beberapa detik, kini Pak Sanjaya angkat suara. "Akan lebih baik jika kau bisa bekerjasama, Anak Muda," lanjutnya seraya menatap Bari lekat-lekat.
Om Koboi tampak tersenyum penuh kemenangan. Tentu saja, ia sangat bersyukur karena kali ini nyawanya kembali diselamatkan.
Prima sigap menarik sebuah borgol dari saku besar celananya, lalu membuka kunci benda itu.
CEKLEK
Bari masih bergeming. Seolah terkunci, sepasang bibirnya tidak sedikit pun membuat cela untuk berbicara. Namun, otaknya terus berputar mencari cara untuk kabur dari sana.
"Tidak ada lagi cara untuk melarikan diri," ucap Prima yang mengerti arah pandang pemuda brewok itu.
Balkon adalah sasaran pandang sekilas yang menjadi titik terbaik untuk merangsek keluar. Pikiran Bari seolah sudah terbaca.
Terjun bebas bukanlah hal baru untuk pemuda brewok itu. Namun, ia masih berpikir; akankah Elmina tak banyak protes jika ia membawanya turut serta?
Ya, gadis itu masih bersembunyi di balkon kamar tersebut. Sebenarnya ia sangat tahu bahwa membawa Elmina dalam misinya adalah sebuah hal yang merepotkan. Namun, entah kenapa ia berpikir bahwa kehadiran gadis itu bisa menyelamatkannya dari kebarbaran Asti. Apa hanya itu alasannya?
Bari tampak menggeleng pelan. Sebelah tangannya tampak bergerak ke belakang, lalu menekan sebuah tombol merah yang terdapat pada ransel bagian bawah miliknya.
"Ayo, Bung!" Prima hendak maju untuk memborgol tangan pemuda itu. Namun, hal yang tak disangka-sangka pun terjadi.
"Ular!" pekik Asti ketika melihat seekor king cobra keluar dari belakang Bari. Hewan itu langsung merayap di lantai, meliuk-liuk ke sana kemari.
Suasana seketika menjadi gaduh. Masing-masing dari mereka sibuk menyelamatkan diri.
Bari tersenyum tipis, tidak sia-sia ia membawa hewan peliharaannya terdebut. Ular itu sebenarnya sangatlah jinak, karena kedua taringnya sudah dipotong sehingga ia tidak akan bisa menyalurkan racunnya. Sayangnya, tidak ada yang tahu tentang hal itu. Sehingga mereka yang berada di dalam ruangan tampak panik bukan main.
Dan ini ... adalah kesempatan emas bagi Bari. Ia melanting ke balkon, kemudian meraih tubuh Elmina.
__ADS_1
"Hei, kau mau apa?" tanya gadis itu ketika tubuhnya berada dalam gendongan Bari. Pemuda brewok itu dengan sigap menaiki pembatas balkon dalam sekali hentakan.
"Lompat!" ucap Bari santai.
"Apa?" Elmina membuka lebar kedua matanya.
WUUUSH
Tanpa merespon ucapan terakhir gadis itu, Bari langsung melompat dengan penuh percaya diri.
"Aaaaggrrrh!" pekik gadis itu yang tak bisa mengondisikan ketakutan dalam dirinya. Segala bentuk do'a diutarakannya dalam hati.
Angin kencang menerpa wajah cantiknya. Kedua matanya masih terpejam. Sungguh di luar dugaan. Jatuh menggelinding hingga menabrak dinding atau terjun bebas hingga menubruk atap mobil lalu mati konyol, dua hal itu yang menjadi bayangan Elmina.
Namun, hal tersebut tak terjadi sama sekali. Ia malah merasa tubuhnya melayang. Hal itu justru menimbulkan ketenangan jiwa yang sebelumnya merasakan panik luar biasa. Perlahan Elmina membuka mata. Ternyata, ia terbang dalam gendongan Bari.
"Apa aku sedang bermimpi?" gumamnya pelan. Tatapannya masih takjub akan pemandangan kota yang begitu indah ketika dilihat dari ketinggian. Sepertinya ia belum sadar bahwa kedua tangannya melingkar posesif pada leher Bari.
"Kau tidak tidur, bagaimana bisa bermimpi?"
JLEB
Leher Elmina berotasi ke arah Bari. Membuat tatapan mereka bertemu dalam diam. Terpaan angin malam yang cukup dingin membuat gadis itu sedikit mengetatkan lingkaran tangannya. Bari pun mengetatkan rengkuhannya pada tubuh Elmina.
Bari mengerjap, lalu kembali fokus pada tujuannya. Ia tak berniat untuk menjawab pertanyaan gadis itu. Walau bagaimana pun identitasnya tetaplah sebuah rahasia.
Beberapa menit kemudian keduanya mendarat sempurna di rooftop sebuah gedung pencakar langit. Bari sengaja membawa Elmina pergi jauh dari gedung hotel tempat mereka bertemu Asti tadi.
WUUUSSHH
"Aku baru tahu kalau sekarang sudah ada jual sepatu yang bisa terbang. Bisa spill tokonya?" celetuk Elmina ketika Bari baru saja menurunkan tubuhnya dari gendongan.
Bari terkekeh kecil. Ternyata pengalaman terbang bersama sepatu canggih tak membuat Elmina berhenti berisik.
Alih-alih menjawab, pemuda itu malah berjalan melewati Elmina, lalu berdiri di depan tembok pembatas yang berukuran setinggi dadanya.
"Kenapa tadi kau tidak keluar dari balkon dan menemui ayahmu?" tanya Bari yang sedari tadi menyimpan rasa penasaran di dalam benaknya. Bukannya ia tidak tahu bahwa Elmina adalah putri dari Pak Sanjaya.
Bagaimana ia bisa tahu? Tidak perlu ditanyakan lagi. Zaman sekarang bukanlah hal sulit untuk menemukan identitas diri seseorang. Bukan lagi masanya bertanya pada rumput yang bergoyang. Segala sesuatunya bisa diretas dalam waktu sepersekian detik saja. Apalagi Elmina sudah pernah mengatakan bahwa ia adalah putri dari seorang jenderal polisi bintang dua.
"Entahlah." Gadis itu mengekori Bari, lalu berdiri di samping pemuda tersebut. Ia tidak heran jika Bari bisa mengetahui identitasnya secepat itu. Dilihat dari sisi mana pun pemuda di sampingnya bukanlah pemuda biasa.
__ADS_1
Bari menggiring pandang ke arah Elmina, sekadar untuk memastikan sesuatu, karena gadis itu tak juga melanjutkan perkataannya.
"Hati kecilku mengatakan bahwa aku harus tetap bersembunyi," kata Elmina melanjutkan dialognya yang terjeda.
Mendengar itu Bari tersenyum samar. Kini pandangannya tertuju pada jejeran bangunan tinggi yang memadati kota.
"Ternyata kau sejenis pujangga cinta yang mengikuti suara hati," celetuk pemuda itu.
Elmina bersungut. Kedua alisnya bertaut, sementara matanya menyipit ke arah Bari.
"Kau selalu saja merusak suasana," tuturnya dengan wajah kesal. "Tidak bisakah kau mengiyakan saja perkataanku?" tanyanya mulai menuntut.
Bari menoleh, lalu menyahut, "Aku tidak berkewajiban untuk itu." Pemuda brewok itu mulai membalik badan. "Sekarang sebaiknya kau pulang saja, sangat merepotkan jika kau terus menempel padaku," ucapnya tak tahu diri.
"Hei, kau yang membawaku kemari, Penculik!" pekik Elmina. Tubuhnya menghadap lurus pada Bari, sementara dadanya tampak naik turun karena tersulut emosi.
Bari terkekeh kecil. Ternyata sangat mudah membuat Elmina kembali pada mode aslinya. Meledak-ledak bak petasan di malam tahun baru.
***
"Lepas! Lepaskan aku!" erang seorang gadis yang baru saja dikeluarkan paksa dari sebuah mobil.
Tubuhnya terus diseret menuju sebuah rumah megah yang tak lain tak bukan ialah kediaman Om Koboi.
Gadis berusia lima belas tahun itu bernama Permesta Dias. Ya, dia adalah adik Bari. Dias terus meronta dalam ketidakberdayaan. Sia-sia saja usahanya untuk melepaskan diri, karena tenaga lelaki yang membawanya lebih besar bahkan berkali lipat dari ketangkasannya.
Ini kali pertamanya ia menginjakkan kaki di rumah tersebut. Selama ini ia disembunyikan di sebuah rumah milik Om Koboi yang terletak di pinggiran kota.
Kemunculan Bari merupakan sebuah malapetaka yang bisa menggagalkan rencana besar Om Koboi. Penjahat Tua itu ingin mempercepat keberangkatan Dias yang memang akan dikirim ke luar negeri.
"Lepas!" Dias terus berontak walaupun perjuangannya itu tak membuahkan hasil sama sekali.
Keduanya sudah melewati pintu masuk, lalu bergeser menuju sebuah ruangan.
"Aaaarrgh!" erang gadis remaja itu ketika tubuhnya dihempaskan pada sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Tetaplah di dalam dan jangan coba-coba kabur!" ancam lelaki itu dengan tatapan tajam, kemudian menutup pintu dari luar.
"Hiks ... hiks ...!"
Walaupun tak sepecah hujan yang lebat, namun suara isakan Dias cukup memilukan. Ia tahu bahwa dirinya akan diasingkan jauh dari negara ini. Itu berarti harapan untuk bertemu lagi dengan keluarganya akan semakin kecil.
__ADS_1
"Ibu ...! Hiks ... hiks."