Buronan Tampan

Buronan Tampan
Memastikan Asumsi


__ADS_3

Sakti baru saja mendaratkan pesawat di pulau Moralla. Tepat di depan villa milik Tuan Morang. Mereka memang sengaja membangun landasan pribadi, agar lebih memudahkan perjalanan. Jika harus mendarat di kota, maka mereka harus menaiki speed boat selama empat jam dan itu sangat melelahkan.


Tuan Morang dan istrinya tampak keluar dari pesawat. Senyuman merekah tersungging di wajah keduanya. Pergerakan mereka diekori oleh Daru dan juga Dias. Gadis remaja itu tampak takjub melihat pemandangan yang super indah dan belum pernah ia lihat sebelumnya.


Di depannya tampak sebuah villa besar dengan arsitektur modern. Bangunan itu menghadap langsung pada lautan lepas. Yang di mana airnya sangat jernih hingga berwarna kehijauan. Pasirnya putih bak mutiara yang berserakan. Nyiur hijau di tepian tampak berlenggak-lenggok mengikuti arah angin.


Dias mengerjap tatkala Daru menepuk pundaknya. Ia langsung menundukkan kepala.


"Tuan dan Nyonya sudah menunggu di dalam," ucap pemuda itu, lalu menuntun Dias untuk masuk ke dalam Villa.


Begitu daun pintu dibuka, Dias kembali terkagum-kagum. Sempat terpikirkan bahwa dirinya sedang berada di surga ataukah masih di muka bumi? Namun, lamunannya seketika buyar ketika menyadari bahwa Tuan Morang sudah berdiri di hadapannya.


"Kamarmu di sebelah sana!" tangannya menunjuk ke arah barat. Dias mengerjap, lalu pandangannya bergulir mengikuti arah tangan lelaki itu. "Ayo!" Tuan Morang berjalan lebih dulu, membuat Dias dan Daru mengikuti pergerakannya.


"Daru, beritahu Sakti dan Galbi di mana kamar mereka!" titah Tuan Morang pada asistennya ketika mereka baru saja memasuki kamar yang dikhususkan untuk Dias.


"Baik, Tuan." Daru langsung balik kanan.


Dias berjalan perlahan, pandangannya menyisir seluruh ruangan bernuansa ungu muda itu. Kamar yang memang dikhususkan untuk tamu. Di dalamnya terdapat tempat tidur yang ukurannya cukup besar jika hanya menampung tubuh mungil Dias. Kemudian, ada sebuah lemari pakaian di pojok ruangan. Tepat di sebelah kiri lemari terdapat sebuah pintu kecil yang Dias yakini adalah kamar mandi. Lalu, tepat di depan tempat tidur ada sebuah televisi berukuran besar dengan meja panjang sebagai tempatnya.


Satu lagi yang menarik perhatian Dias, jendela kamar yang terbuka mengarah langsung ke lautan. Terdapat sebuah Sofa panjang di depannya.


"Kau suka?" Pertanyaan Tuan Morang sukses membuat Dias menatapnya. Pasalnya sedari tadi, gadis itu belum membuka bibir sama sekali.


Dias mengangguk. Membuat Tuan Morang kebingungan untuk meneruskan percakapan. Suasana seketika menjadi kaku. Baik Dias mau pun Tuan Morang, mereka sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Tanpa mereka sadari bahwa Olla sedang mengintip dari luar kamar.

__ADS_1


Wanita itu sengaja meminta suaminya untuk mengantar Dias ke kamar agar hubungan keduanya menjadi lebih akrab. Namun, ternyata usahanya tak membuahkan hasil. Suaminya kurang piawai dalam hal mendekati seorang wanita. Berbeda lagi jika sedang berduaan dengannya.


Olla mengembungkan kedua pipinya. Kedua tangan dibawa berkacak pinggang. Helaan napas kasar pun terembus dari hidungnya. Ia mengetuk daun pintu dengan pelan, membuat kedua insan di dalamnya menoleh seketika.


"Dias!" serunya seraya mendekati gadis itu.


Dias tersenyum karena Olla lebih dulu melempar senyuman ramahnya, seperti biasa.


"Mau ikut aku berkeliling?" tawar Olla pada Dias, membuat suaminya berkerut dahi. Namun, wanita itu tak mengindahkannya.


Tanpa disangka-sangka Dias mengangguk antusias. Keduanya lantas meninggalkan kamar dan juga meninggalkan Tuan Morang sendirian.


"Apa aku bisa melakukannya?" gumam Tuan Morang pada diri sendiri seraya menatap kepergian dua wanita tersebut.


Kepalanya tampak menggeleng pelan. Sebelah tangan meraup wajah dengan kasar karena merasa dilema akan keadaan. Namun, mau bagaimana lagi, pilihan sudah ditentukan. Mundur pun sudah tidak mungkin, karena sang istri pasti akan sangat kecewa.


Di kamar lainnya.


Sakti menghempaskan tubuhnya pada kasur super empuk. Ia berniat melanjutkan tidurnya yang hanya segelintir waktu. Namun, saat akan memejamkan kedua mata, tiba-tiba ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan masuk.


Pemuda itu berdecak lidah, namun mau tidak mau bangkit dari peraduan, lalu meraup ponsel yang sebelumnya ia letakkan di atas meja yang terdapat di samping tempat tidur.


"Reyden?"


Kini kantuknya mulai menghilang, tergantikan dengan binar senang tatkala membaca nama yang tertera pada layar.

__ADS_1


Ia duduk antusias, lalu menggeser tombol hijau. "Kau pasti baru bangun tidur, ya? Ah, payah." Sakti menyambut panggilan dengan kalimat tak biasa, yang terdengar seperti semprotan seorang ibu yang memarahi anaknya karena bangun kesiangan.


"Ya, aku baru saja bangun tidur," ucap Bari yang tentu saja hanya berbohong. "Kau dimana sekarang?" tembak Bari tanpa basa-basi. Ia harus menyusul Sakti di mana pun pria itu berada, untuk memastikan bahwa gadis yang dilihatnya pada video tadi adalah adik kandungnya atau bukan.


"Ah, kau ini seperti pacarku saja. Baru bangun tidur sudah ingin bertemu," ejek Sakti seraya tergelak.


Bari tampak geleng-geleng kepala. Sakti memang tidak pernah berubah. "Ya, anggap saja begitu," balas Bari sekenanya.


Membuat Sakti bergidik ngeri. "Yang benar saja, aku masih normal, Bro. Aku tidak menyukai sesama batang." Sakti meninggikan intonasi suaranya hingga membuat Bari harus menjauhkan benda pipih itu dari telinganya.


"Jangan berteriak, Sakti! Aku tidak tuli," kesal pemuda brewok itu yang sukses membuat Sakti terkekeh. "Jadi, kau dimana sekarang?" tanyanya lagi.


Sebelum menjawab Sakti mengubah posisinya menjadi berbaring. "Kenapa kau selalu menanyakan itu, apa kau ingin menyusulku?" Bukannya menjawab pertanyaan Bari, ia malah balik bertanya.


Bari berdecak lidah. "Iya," jawabnya singkat.


"Wah, secepat itukah kau merindukanku?" Celotehan Sakti benar-benar membuat Bari geram.


"Dengar Sakti ...."


Akhirnya, Bari menceritakan perihal video yang dikirimkan oleh pria itu. Bari juga mengatakan bahwa ia meyakini bahwa salah satu orang yang berada di dalam ruang transit tadi adalah adik kandungnya.


"Kau yakin?" Sakti langsung terduduk sempurna setelah mendengar penjelasan Bari.


"Bagaimana aku bisa yakin, jika aku tidak menyusulmu dan memastikannya sendiri," jawab Bari.

__ADS_1


Sakti menepuk keningnya. "Aku akan membantumu," ucap pria itu. Sontak pandangannya tertuju pada pintu kamar yang tertutup. "Aku berada satu atap dengan gadis itu. Akan kupastikan sendiri." Ia mulai bangkit dan berjalan keluar kamar. "Tunggulah sebentar, aku akan mengirimkan fotonya jika sudah bertemu." Sakti langsung memutuskan panggilan sebelah pihak. Pandangannya mulai mengekori sekitar yang tampak sangat sepi tanpa pergerakan.


Di seberang sana, Bari terlihat harap-harap cemas. Dadanya seketika bergemuruh tatkala membayangkan apa yang akan disampaikan oleh Sakti nanti. Semoga saja, perkiraannya tidak meleset. Begitu kata hatinya.


__ADS_2