Buronan Tampan

Buronan Tampan
Dias, adikku!


__ADS_3

Elmina baru saja keluar dari klinik. Langkahnya tampak terseok-seok, menyusul Bari yang masih setia menunggu di dalam mobilnya.


Pemuda itu menoleh ketika menyadari bahwa Elmina sudah berdiri di samping pintu. "Kau akan kembali ke perkebunan atau ...." Belum sempat Bari meneruskan kalimatnya, gadis itu sudah menjawab terlebih dahulu.


"Aku ingin kembali ke villa saja," katanya dengan wajah lesu.


Bari tak banyak komentar. Ia meminta Elmina masuk ke dalam mobil, lalu melanjutkan perjalanan menuju villa yang dikatakan oleh gadis itu.


"Ini villamu?" tanya Bari ketika mereka tiba di depan gerbang sebuah villa yang terbuat dari kayu belian. Memiliki kesan sederhana, namun mewah secara bersamaan.


"Lebih tepatnya villa ayahku," jawab Elmina, lalu keluar dari mobil.


Bari langsung berkerut dahi. Pandangannya kini fokus pada Elmina yang memasang wajah datar tanpa ekspresi. Pemuda brewok itu mulai menyadari sesuatu. Gadis super berisik kini tampak menjadi pendiam.


"Apa lututmu masih terasa sakit?" Tanpa Bari sadari kalimatnya itu merupakan sebuah perhatian.


Elmina mengangguk tanpa mengutarakan kata. Bari melanting keluar, lalu memutari mobil. Kini tubuhnya berdiri sejajar dengan Elmina. "Sepertinya villa ini bagus, aku ingin berkeliling," ucap Bari, kemudian berjalan memasuki gerbang.


"Hei!" Elmina mulai memekik. Kedua kakinya pun bergerak menyusul langkah Bari. Menurutnya, pemuda brewok itu sangat tidak sopan karena sudah memasuki villa ayahnya tanpa izin.


"Kau mau apa, hah?" Elmina merentangkan kedua tangannya ketika Bari hampir menaiki tangga villa.

__ADS_1


"Tentu saja, mau masuk," jawab Bari, lalu menyingkirkan tubuh ringkih gadis itu dan melewatinya begitu saja.


Elmina kembali memekik, berusaha menghalangi. Namun, kekuatan Bari tak sebanding dengannya. Hingga akhirnya tubuh gadis itu terdorong ke belakang. Membuat mereka berdua sama-sama berada di ruang tengah villa. Di sana terdapat sofa formasi lengkap hingga memenuhi ruangan.


Bari berjalan mendekati sofa, lalu melabuhkan tubuhnya dengan nyaman.


"Siapa yang mengizinkanmu duduk?!" Elmina menghentakkan kaki. Wajahnya sangat tidak bersahabat.


Bari masih terlihat santai, walaupun lawan bicaranya tampak meledak-ledak.


"Kau--"


Gadis itu melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi wajah sewot.


"Sediakan minuman, misalnya," lanjut Bari. Membuat Elmina menyipitkan kedua matanya.


Namun, beberapa detik kemudian gadis itu bergerak ke arah belakang. Entah, akan membuat minuman itu sendiri atau malah meminta bantuan ART yang bekerja di sana.


Sepeninggalan Elmina, Bari merogoh ponselnya kembali. Memastikan adanya pesan yang masuk dari Sakti. Namun, setelah layar benda pipih itu menyala, tak ada satu pun pesan yang ia terima. Hingga membuat dirinya kembali diserang kecemasan.


Mengapa Sakti tak juga memberikan kabar?

__ADS_1


Tak berapa lama, Elmina kembali ke ruang tengah dengan membawa dua gelas jus jambu. Satu gelas diletakkannya di depan Bari dan satu gelas lagi untuk dirinya.


Bari tak menggubris kedatangan gadis itu. Ia sedang mengirim pesan pada Sakti. Sambil menunggu, pemuda brewok itu melirik ke arah Elmina sekilas. Pandangan mereka bertemu sesaat kemudian terputus karena ponselnya bergetar menandakan sebuah pesan masuk.


^^^Apakah kau yakin ini Dias?^^^


Begitulah isi pesannya. Sudah barang tentu pesan dari Sakti. Di bawah pesan itu tertera sebuah gambar dua orang gadis yang sedang berbincang di tepian pantai.


Gambarnya terlalu buram.


Bari membalas demikian.


Elmina masih menelisik ke arah pemuda di hadapannya sambil menyesap kesegaran jus jambu di dalam genggaman.


Drrrt Drrrt Drrrt


Pesan berikutnya masuk ke ponsel Bari, berisi gambar kedua yang dikirim oleh Sakti. Resolusinya lebih tajam dan lebih dekat dari sebelumnya.


Bari tak berkedip sama sekali. Kedua bola matanya memanas tatkala melihat sosok gadis remaja yang sedang tersenyum. Sebelah tangannya tampak sedang menepikan anak rambut ke belakang telinga. Wajah itu memang tak sama persis dengan Dias kecil. Namun, sebuah liontin emas putih berisitial huruf D yang menempel di dadanya cukup menjadi bukti bahwa gadis itu memanglah adik kandungnya.


Dias, adikku! akunya di dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2