Buronan Tampan

Buronan Tampan
Demi Kesayangan


__ADS_3

Sakti mengayun langkah menjauhi pantai dengan perasaan campur aduk. Bari memutuskan sambungan sebelah pihak tanpa mengatakan rencana selanjutnya. Ia tak habis pikir dengan pemikiran sahabat kecilnya itu. Bisa-bisanya pemuda brewok itu menganggap enteng kepolisian dan departemen keamanan lainnya yang bertugas di bandara.


Saat diri berbalut kebingungan, langkahnya tiba-tiba melamban ketika pandangan menangkap dua sosok pria yang sedang duduk santai sambil berbincang di sebuah gazebo yang dibangun tak jauh di depan villa.


Galbi, yang merupakan teman satu profesinya bersama dengan Daru tampak begitu akrab dalam balutan tawa. Keduanya terlihat seperti dua sahabat tempel dengan saling melempar canda.


"Kopi?" tawar Galbi ketika Sakti duduk bergabung.


Pria itu mengangguk tipis ketika Galbi mengangkat segelas kopi hangat yang baru saja dituangkannya ke dalam gelas.


"Kalian sedang membahas apa?" Sakti bertanya seraya menyesap minumannya.


Galbi terkekeh geli. Membuat Sakti berkerut dahi.


"Itu ... si Daru, baru saja bercerita perkara lucu, tidak masuk di akal," ucap Galbi di sela tawanya.


Sakti tampak mengangkat sebelah alisnya, lalu meletakkan gelas kertas itu di atas meja bundar yang mereka hitari.


"Cerita lucu?" Sakti mulai kepo.


Daru yang sejak tadi hanya memasang wajah cengengesan, kini mulai berbicara, "Iya, Tuan Muda baru saja membuang uangnya secara cuma-cuma hanya untuk seorang gadis kecil." Daru tersenyum miring.


Berbeda dengan ekspresi Daru dan Galbi, Sakti malah memasang wajah antusias.


"Maksudmu?" desaknya agar Daru meneruskan ceritanya.


"Itu ... gadis sepuluh miliyar." Dagu asisten pribadi Tuan Morang itu mengarah pada Olla dan juga Dias yang masih duduk di tepian pantai.


DEG


Sakti sangat paham kemana arah ucapan Daru. Tentu saja, Gadis Sepuluh Miliyar yang dimaksud pria itu adalah Dias, tidak mungkin istrinya Tuan Morang.


Sahabat Reyden Elbarak itu tampak menggertakkan giginya. Walaupun Dias bukanlah adik kandungnya, namun hatinya tidak terima jika gadis itu dijadikan barang dagangan.


Galbi yang menyadari perubahan ekspresi temannya, lantas menepuk pundak Sakti.


"Kau baik-baik saja?" Tentu saja, itu adalah pertanyaan konyol, yang jelas-jelas Galbi mengetahui jawabannya.

__ADS_1


Sakti sedang tidak baik-baik saja, rahangnya seketika mengetat dan napasnya terdengar memburu.


"Hei, ada apa denganmu?" Daru mengerutkan keningnya--keheranan.


Menyadari hal itu, Sakti langsung berusaha menenangkan diri. Tidak bijak jika ia bertindak sesuka hati sebelum mengetahui apa rencana Bari. Ia tidak ingin gegabah dalam bertindak. Setidaknya saat ini Dias sudah ditemukan. Jika ia salah melangkah, bisa-bisa Tuan Morang akan membawa gadis itu pergi jauh sehingga tak ada seorang pun yang bisa menemukan keberadaannya.


"Ah, tidak apa-apa. Perutku tiba-tiba mulas." Sakti bangkit dari posisi, lalu melangkah menuju villa.


Galbi yang merasa curiga, masih menatap punggung Sakti hingga tenggelam ditelan pintu. Ia menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang sedang disembunyikan oleh pria yang sudah lama menjadi rekan kerjanya itu.


***


Di sebuah bandara, tampak seorang wanita paruh baya, mengenakan busana modis sedang menggeret sebuah koper kecil di tangannya. Sebuah kacamata bingkai lebar bertengger apik di hidung mancungnya. Lipstik berwarna merah hati menjadi pilihan sejati sebagai identitas diri yang tidak bisa disembunyikan. Usia sudah mendekati bau tanah, mana mungkin ia menggunakan lipstik berwarna merah muda.


"Taksi!"


Sebelah telapak tangannya mengarah ke depan, membuat salah satu sopir taksi bandara yang sudah berjejer di lobi itu membukakan pintu mobil untuknya.


"Kita akan kemana, Nyonya?" tanya sopir itu ketika wanita paruh baya tadi duduk nyaman di jok belakang.


"Pulau Moralla," jawabnya.


"Aku tahu," responnya terkesan santai sambil membenahi kacamatanya yang berharga mahal.


"Lalu?" Sopir itu menatapnya dari kaca spion yang ada di hadapan.


"Bawa saja aku ke pinggiran kota," ucapnya tanpa menatap balik si sopir. Suaranya mulai terdengar dingin.


Si sopir yang merasakan keanehan pada penumpangnya, berpikir sejenak sebelum tancap gas.


"Tunggu apa lagi?" protes wanita paruh baya itu dengan nada tegas.


Pria yang duduk di depan kemudi itu akhirnya mengangguk dan melajukan kendaraannya. Selama di perjalanan, mereka sama-sama diam.


Setelah dua jam perjalanan.


"Nyonya, perjalanan kita akan memakan banyak waktu, sebaiknya Anda beristirahat saja," kata si sopir mencari teman berbincang karena matanya sudah mulai mengantuk.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu, melepas kacamatanya, lalu bersuara, "Berhenti!" ucapnya dengan nada membentak. Si sopir tentu saja terperanjat seraya menginjak pedal rem.


"Turun kau!" titahnya pada si sopir, membuat pria itu kebingungan. Ia masih sempat beradu pandang dengan wanita itu dari balik pantulan kaca spion.


"Turun!" ucapnya lagi dengan nada penuh penekanan. Tanpa bisa menolak, pria itu keluar dari mobilnya bersamaan dengan wanita paruh baya itu.


"Masuk!" titahnya lagi menyuruh pria itu duduk di kursi penumpang.


Bak terkena hipnotis, pria itu menuruti apa pun yang dikatakan oleh wanita tadi. Daripada menjadi bulan-bulanan seorang tante-tante, bisa tamat hidupnya, begitu pikirnya.


Bertukar posisi, itulah yang mereka lakukan. Wanita paruh baya itu lanjut mengemudikan taksi hingga memakan perjalanan selama delapan jam. Matanya melirik ke arah kaca spion di hadapan, si sopir terlihat masih terlelap ketika mereka tiba di pinggiran kota.


Tampak sebuah dermaga yang dibangun di atas sebuah sungai. Tidak jauh di depan sana terdapat muara yang menghubungkan mereka pada lautan lepas.


Langit sudah mulai temaram. Wanita paruh baya itu keluar dari taksi. Pandangannya menyisir sekitar. Tampak seorang tukang ojek speed boat berjalan mendekatinya.


"Ada yang bisa dibantu, Nyonya?" tanyanya ramah menggunakan bahasa penduduk setempat.


"Aku ingin pergi ke pulau Moralla," jawab wanita itu menggunakan Bahasa Inggris yang fasih.


Pria yang menjadi lawan bicaranya tentu mengerti maksud dari wanita itu, walaupun ia tak begitu memahami bahasa asing.


"Mari!" Sebelah tangannya mengarah pada salah satu speed boat yang terparkir di pinggiran dermaga.


Wanita paruh baya itu duduk nyaman di dalamnya, setelah tukang ojek itu memasukkan koper kecilnya di jok belakang.


Tanpa berlama-lama lagi, mereka langsung meninggalkan dermaga saat itu juga.


Sopir taksi yang baru saja bangun dari tidurnya, tampak terperanjat karena mobil sudah berhenti. Diedarnya pandangan ke luar jendela mobil, ternyata sudah tiba di dermaga pinggiran kota.


"Hah?"


Tiba-tiba si sopir terperangah, ketika menyadari tumpukan uang dengan jumlah tak terhitung memenuhi pangkuannya. Kedua matanya sontak berkaca-kaca sangking bahagianya. Di dalam hati, ia mulai merutuki diri yang sempat berpikiran yang tidak-tidak pada wanita paruh baya tadi.


"Siapa pun wanita itu, semoga Tuhan selalu melindunginya dan melancarkan semua urusannya," ucap pria itu seraya menyeka kedua pipinya yang basah dengan kedua telapak tangan.


***

__ADS_1


Speed boat baru saja terparkir di sebuah dermaga Pulau Moralla. Tanpa banyak bertanya, wanita paruh baya itu naik ke daratan membawa koper kecilnya setelah menyerahkan segepok uang tunai yang masih terbungkus di dalam sebuah amplop berwarna cokelat muda.


Pria si tukang ojek hanya menganga melihat amplop tebal di tangannya. Ia bahkan tak sempat mengucapkan terima kasih karena wanita itu sudah berjalan cepat menjauhinya.


__ADS_2