
Langit tampak sangat cerah. Secerah hati Bari dan keluarganya. Hari ini Elita sudah diizinkan pulang ke rumah, karena sejak kedatangan Dias, kesehatannya semakin membaik.
CEKLEK
Sebuah pintu ukir dari kayu jati berukuran lebar dan tinggi itu terbuka. Sejak sekian lama, hunian itu tak pernah dikunjungi oleh pemiliknya. Walaupun demikian, kediaman yang cukup melabeli kata megah itu tetap tampak rapih dan terawat. Bukan karena mengandalkan ilmu sulap atau pun sihir, melainkan ada beberapa tangan terampil yang bertugas merawatnya.
Elita terperangah, apalagi Dias. Keduanya berjalan perlahan memasuki rumah mewah yang sukses dibangun Bari dengan hasil dari jerih payahnya selama bertahun-tahun.
"Rey--" Suara Elita tercekat, tatkala pandangannya menangkap sebuah lukisan raksasa mendiang suaminya. Dengan posisi duduk, pria yang tinggal namanya itu tersenyum lebar sambil memeluknya. Mereka berdua tampak sangat bahagia.
Lukisan tangan bernilai milyaran itu terpampang di dinding utama ruang tamu. Tak hanya itu saja, di samping kiri dan kanan lukisan raksasa itu terdapat lukisan wajah Dias kecil dan juga Bari, tentunya dengan ekspresi yang sama.
Elita membekap mulutnya. Dias pun langsung memeluk ibunya.
Dalam keharuan bercampur kerinduan, Elita dan Dias saling berpeluk dalam isakan. Itu adalah air mata bahagia.
Keduanya sama-sama tidak menyangka bahwa Bari akan mengantongi hidup berlabel orang-orang kalangan atas. Bahkan semua itu tak pernah terlintas sedikit pun di benak masing-masing.
Bari yang kala itu masih mengayun tungkai, sontak menghentikan langkah, tatkala tak menemukan sang ibu dan sang adik di sampingnya.
Ia berbalik, lalu melihat keduanya masih termenung di ruang tamu sambil memandangi lukisan raksasa sang ayah.
Tak ingin mengganggu momen keduanya, Bari terus melangkah menuju dapur. Di sana sudah ada dua orang asisten rumah tangga yang kala itu langsung menunduk hormat ketika sang pemilik rumah menghampiri mereka.
"Tuan!" Salah satunya menyapa seraya tersenyum.
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Bari pada salah satu asisten yang bernama Hasni.
Wanita dewasa itu mengangguk mantap, lalu menggerakkan tangannya ke depan.
"Sudah ditata di atas meja, Tuan." Bi Hasni mengarahkan tangannya ke meja makan, yang terletak tak jauh dari sana.
__ADS_1
Bari mengikuti arah tangan Hasni, lalu mengangguk puas.
"Terima kasih, Bi." Pemuda itu berkata sembari tersenyum. Kemudian berbalik menemui dua wanita berharga dalam hidupnya itu.
"Ayo!" ajak Bari pada keduanya.
Elita dan Dias manggut-manggut seraya menyeka air mata masing-masing, lalu mengekori langkah Bari.
Tak berapa lama, mereka tiba di ruang makan, yang di mana di atas meja sudah tertata rapi beragam makanan siap santap, dan tak lupa pula sebuah kue ulang tahun berukuran sedang.
Dias langsung membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan tatkala menyadari sebuah kejutan lain yang telah dipersiapkan oleh sang kakak untuknya.
"Selamat ulang tahun, Adikku." Bari menyentuh bahu gadis itu.
Membuat Dias tidak tahan jika tidak merasa terharu. Kedua matanya kembali berkaca-kaca. Tubuhnya bergetar hebat tatkala kedua lengan kokoh sang kakak melingkari tubuhnya.
Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan ketika hati begitu bahagia. Hanya air mata yang berperan sebagai pengganti ekspresi luar biasa yang kadang diri kita sendiri pun tidak bisa mengukur seluarbiasa apa nikmat itu.
Tak hanya Elita, dua orang asisten rumah tangga yang sudah bertahun-tahun bekerja untuk Bari itu pun ikut menangis haru untuk majikannya.
Tentu saja, mereka tahu seperti apa jalan hidup Bari selama ini. Sebesar apa usahanya dalam menemukan sang adik, sehingga ia rela menjadi buronan anggota kepolisian. Bukankah itu sudah cukup untuk menggambarkan sebuah kata pengorbanan?
Ditambah lagi pemuda brewok harus merawat sang ibu yang sedang sakit. Tentu hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan seorang diri. Namun, Bari alias Reyden Elbarak, mampu menjalani kegetiran hidup dalam bingkai perpisahan dan keterpurukan. Ia sanggup melangkah maju walaupun harus tertatih demi sebuah tujuan hidup yang harus digapai.
Sekarang adalah saatnya Bari dan keluarganya untuk menikmati madu. Setelah bertahun-tahun memelihara lebah dan berani mengambil resiko besar saat akan memanen madu tersebut. Tentu saja, mereka layak mendapatkannya.
"Sudahlah," ucap pemuda itu sambil mengelus lembut punggung Dias. "Kakak harap setelah ini tidak ada lagi air mata yang akan menjamah pipimu," lanjut pemuda itu seraya menarik tubuhnya dari sang adik.
Dias menunduk sambil tersenyum malu. Disekanya sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipinya.
"Ayo, waktunya potong kue!"
__ADS_1
Dias mendekati meja makan, diikuti oleh Bari dan ibunya. Mereka masih sama-sama berdiri ketika Dias melapalkan permohonan sebelum benar-benar memotong kue berbentuk bundar bertingkat dua itu.
Satu per satu suapan kue disodorkannya pada sang ibu dan kakaknya secara bergantian. Lalu, Dias memasukkan beberapa potong lagi ke dalam empat piring kecil yang tersedia di sana, kemudian memberikannya pada Bi Hasni dan Yana, asisten yang satunya lagi.
"Bi, jangan lupa berikan ini pada bapak tukang kebun, ya." Dias berucap sambil tersenyum.
"Terima kasih ya, Non. Semoga panjang umur dan sehat selalu. Bibi ikut senang atas kepulangan Non Dias. Ditambah lagi, ternyata Non Dias itu benar-benar baik dan cantik orangnya," kata Bi Hasni sambil menyeka kembali air mata yang membasahi sudut matanya.
Dias tersenyum. "Sama-sama, Bi. Makasih juga karena selama ini sudah membantu kakak," balas Dias.
Hasni menggeleng pelan. "Justru Tuan Reyden yang sudah menolong kami, Non." Mata Bi Hasni kembali berkaca-kaca. Begitu pun dengan Yana yang berada di sampingnya.
Dias mengernyit tak mengerti. Namun, lekas dielusnya lengan wanita dewasa itu, lalu kembali menghampiri ibu dan kakaknya di meja makan. Seraya mengobrol ringan, mereka bertiga pun menikmati makan siang dengan penuh canda tawa.
Di sela-sela canda ketiganya, tiba-tiba ponsel Bari bergetar, menandakan sebuah panggilan masuk.
Setelah melihat nama si penelpon, pemuda itu berdeham, lalu izin menjauh untuk menerima panggilan.
"Ya, Om?" sambut Bari setelah tubuhnya berada di teras samping. Teras yang menghubungkan dirinya pada kolam renang.
"Elmina diculik," kata seseorang di seberang sana.
Kedua alis Bari tampak bertaut. Dia sudah mengira bahwa hal itu akan terjadi. Lambat lain Om Koboi pasti akan menyandra gadis itu sebagai umpan untuk memancing kehadirannya. Namun, ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Tapi, jika kau masih ingin menghabiskan waktu bersama keluargamu, maka Om aka--"
"Aku akan mengurusnya," sambar Bari. Ia merasa bertanggung jawab atas masalah ini. Bari sangat menyadari bahwa jika bukan karena dirinya, Elmina tidak akan pernah terlibat dalam permainan Om Koboi.
"Baiklah, jaga dirimu." Orang di seberang sana langsung memutus panggilannya.
Bari kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, lalu kembali ke meja makan untuk berpamitan pada ibu dan adiknya.
__ADS_1