Buronan Tampan

Buronan Tampan
Kakak Sudah Tiada


__ADS_3

"Ibu! Hiks ... hiks."


Dipeluknya lutut dengan erat. Linangan air mata pun sudah menganak sungai. Tubuh bergetar menahan gejolak rasa yang semakin berkecamuk. Di usia belia ia sudah harus menjalani hidup yang tidak semestinya dialami oleh anak seusianya. Direbut paksa, dipisahkan dari keluarga.


Namun, Dias cukup beruntung karena selama ini tidak pernah mengalami pelecehan. Ia dibesarkan oleh seorang wanita paruh baya yang sudah dibayar oleh Om Koboi. Mbok Sinah, begitu Dias sering memanggilnya.


Wanita paruh baya itu hidup sebatang kara, sebab itulah ia mencurahkan seluruh kasih sayangnya terhadap Dias seorang. Dengan kehadiran Mbok Sinah, gadis itu tidak merasa kekurangan cinta seorang ibu. Namun, hal tersebut tak membuat Dias melupakan sosok ibu kandungnya.


Sosok yang masih sering dirindukannya di kala malam menyapa. Tak jarang gadis itu menangis tergugu karena digelangi rasa ingin bertemu. Di saat resah menyerang kalbu, di saat itulah memorinya kembali pada puing-puing kenangan yang masih tersimpan apik di dalam kepala.


"Diaaas! Ibu suapin ya, Nak." teriak sang ibu dari dapur.


Dias kecil tak menjawab, ia masih asik dengan mainan boneka barbie-nya sambil sesekali berbicara dengan benda itu.


Di samping gadis mungil itu ada sang kakak yang fokus perhatiannya tertuju pada layar televisi. Dalam genggamannya terdapat sebuah remote yang sesekali ia tekan untuk memindah channel ketika tontonannya sudah mencapai iklan.


"Diaaas!" Kembali, suara ibunya mengudara seantero rumah yang tak begitu besar itu, hingga terdengar menggelegar seperti sedang menggunakan toa masjid.


Kediaman mereka memang tak semewah istana-istana para sultan, namun cukup memberikan rasa nyaman bagi penghuninya.


"Permesta Diaaas!" Lagi, volume suara ibunya semakin naik.


"Dek, jawab ibu!" titah sang kakak yang masih sempat memperingati si adik, walaupun ia sedang asik menonton acara kesayangan.


"Iya, Bu." Akhirnya Dias angkat suara, daripada nanti terkena omelan sang ibu tercinta.


Tak beberapa lama, wanita bernama Elita Sastri itu menghampiri kedua buah hatinya, lalu duduk di samping Dias. Dalam timangannya terdapat sepiring nasi lengkap dengan lauk dan sayur, serta segelas air putih tak lupa turut serta.


"Rey, sebaiknya kamu makan dulu, Nak. Sejak pulang sekolah tadi, kau belum makan apa pun," ucap Elita pada sang putra sulung ketika tangannya sigap menyodorkan sesendok makanan ke depan mulut Dias.


Gadis kecil itu langsung membuka mulut dengan antusias, lalu melahap makanan tersebut. Sementara kedua tangannya masih sibuk bermain, dan kedua netranya fokus ke arah boneka barbie.


"Nanti saja, Bu. Aku ingin makan bersama ayah. Katanya hari ini ayah pulang lebih cepat," jawab remaja laki-laki yang bernama Reyden Elbarak itu. Pandangannya masih tak berpindah tempat.


Elita tersenyum, lalu kembali menyuapi Dias.


TAP


TAP


TAP


Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki seseorang memasuki rumah. Mereka bertiga kompak menoleh ke arah yang sama.


"Ayah kenapa?!" tanya Reyden yang melihat gurat kepanikan di wajah ayahnya.

__ADS_1


Lelaki dewasa bernama Aang Permana itu tak menjawab pertanyaan sang putra. Ia langsung mendekati Dias, lalu menggendong gadis kecil itu.


"Ada apa, Mas?" Tentu saja Elita terheran-heran melihat tingkah sang suami yang menurutnya di luar kebiasaan.


"Kita harus pergi dari sini secepatnya, Dik." Aang menjawab dengan pandangan yang terus menoleh ke arah pintu.


"Iya, tapi kenapa?"


Elita langsung mengerutkan keningnya, begitu juga dengan Reyden. Ia mengikuti gerakan sang ibu yang sontak berdiri menuntut jawaban setelah meletakkan piring makanan tadi di lantai.


"Nanti akan aku ceritakan, waktu kita tidak banyak, ayo!" Aang sudah melangkah lebih dulu ke luar rumah.


Begitu juga dengan Elita dan Reyden. Mereka mengekori langkah lelaki itu. Namun, baru saja mereka tiba di halaman rumah, dua buah mobil mewah tampak memasuki pekarangan dengan kecepatan penuh.


CKIIIIT


Dua kendaraan roda empat itu berhenti tepat di hadapan Aang Permana dan keluarganya. Membuat wajah keempat orang itu tersentak luar biasa.


PROK PROK PROK


Seorang lelaki dewasa keluar dari dalam mobil seraya bertepuk tangan. Ia mengenakan setelan jas lengkap dengan topi koboinya. Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Om Koboi, entah siapa nama aslinya--tidak ada yang tahu.


Dari mobil yang satunya juga keluar beberapa orang berbaju serba hitam, bertubuh besar, dan berwajah sangar.


"Bagus!" Om Koboi berjalan mendekati Aang. "Setelah meretas semua dataku dan membocorkannya pada pihak kepolisian kau langsung berniat memboyong keluargamu, begitu?" kata lelaki itu setelah menarik cerutu hitam mengkilat dari sudut bibirnya. Seringai mengerikan terbit di wajahnya.


Aang tak berniat menyahuti celotehan penjahat berkedok pengusaha itu. Ia masih terus menatap tajam ke arah Om Koboi. Rasa takut yang tadinya sempat menyerang kini tergantikan oleh rasa tanggung jawab atas anak dan istrinya. Keselamatan anggota keluarganya patut diperjuangkan, bukan?


"Bawa anak itu!" titah Om Koboi pada anak buahnya.


Dua orang pria berambut ikal sebahu mengangguk patuh, lalu melangkah mendekati Aang.


"Jangan!' teriak Elita ketika tubuh putrinya jadi sasaran tarik-menarik antara sang suami dan salah satu anak buah Om Koboi.


BUGH


BUGH


Anak buah Om Koboi yang lainnya tampak menarik tubuh Aang, kemudian menghujani perut dan wajahnya dengan pukulan.


"Aaaaarrrrgh!"


Tubuh lelaki berkemeja abu-abu tua itu terhuyung ke belakang, kemudian ambruk di tanah.


"Ayah! Hiks ... hiks." teriak Dias sembari menangis di dalam gendongan pria berambut ikal sebahu itu.

__ADS_1


Aang berusaha bangkit dan ingin mengejar langkah pria yang merebut putrinya, namun naas sebuah tembakan berhasil menembus keningnya.


DOR


BRUUUGH


"Ayaaah!"


"Maaas!"


Reyden dan sang ibu bergegas menghampiri tubuh Aang yang sudah tergeletak di tanah. Tangis Elita pun pecah. Dipeluknya jasad sang suami yang di mana beberapa menit lalu masih mengajaknya berbicara.


"Ayaaaah!" Dias ikut menjerit ketika menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi pada ayahnya.


"Ayahmu sudah mati," ucap pria berambut ikal sebahu yang sedang menggendongnya.


Gadis itu kembali berontak dengan terus meronta-ronta. "Ayaaah! Hiks ... hiks. Lepas! Lepas!"


"Kalian telah membunuh ayahku!" pekik Reyden seraya berdiri. Tatapan tajamnya terhunus lurus ke arah Om Koboi.


Lelaki itu tersenyum miring seraya terus menyesap cerutunya.


"Kyaaa!"


Reyden maju berniat untuk memukul lelaki yang menjadi biang kerok dari tragedi menyedihkan tersebut. Namun, anak buahnya tak tinggal diam, mereka menghalangi remaja laki-laki itu. Pukulan dan tendangan pun terpaksa mereka layangkan karena Reyden terus melawan.


BAG


BIG


BUG


DEBAM


Tubuh Reyden ambruk di tanah dengan posisi telungkup. Darah mengucur dari hidung dan pelipisnya.


"Reyden!" pekik Elita yang kini berpindah tempat pada tubuh putranya yang tak lagi bergerak. Ia kembali menangis tergugu. Dalam hitungan menit keluarganya hancur seketika.


"Kakak!" Dias berontak saat akan dimasukkan ke dalam mobil.


"Kakakmu sudah mati!" Lagi-lagi kalimat itu didengarnya.


"Huhuhu! Kakak!" Gadis mungil itu menangis pilu seraya memukul kaca mobil bagian belakang.


Mengingat kejadian itu kembali membuat Dias bersimbah air duka. Pasalnya hingga saat ini ia mengira bahwa sang kakak juga telah pergi meninggalkan dia untuk selama-lamanya.

__ADS_1


"Kakak! Hiks ... hiks." Dias mengetatkan rengkuhannya pada lutut. Kesedihannya memuncak. Tubuhnya bergetar hebat karena hantaman duka yang sangat menyiksa.


Dias tidak tahu bahwa orang yang sedang ditangisinya saat ini sedang berjuang untuk menemukan keberadaanya.


__ADS_2