Buronan Tampan

Buronan Tampan
Samudera Biru


__ADS_3

Elmina baru saja menginjak anak tangga terakhir ketika sang ayah baru saja memasuki pintu utama. Mengenakan seragam kepolisian lengkap dengan segala atributnya, pria paruh baya itu menyapa sang putri bungsu dengan senyuman mengembang.


"Papa tampak sangat bahagia, apakah baru saja berhasil menangkap pelaku kriminal?" selidik Elmina yang kini sudah dalam dekapan ayahnya.


Wajahnya menoleh ke samping, menuntut sebuah jawaban. Namun, Pak Sanjaya hanya tersenyum tipis. Langkah keduanya terayun kompak menuju ruang keluarga.


"Eh, papa sudah pulang. Mana Prima?" Renita muncul dari arah dapur. Kepalanya tampak celingukan mencari keberadaan sang putra sulung yang biasanya akan mengekori langkah sang ayah jika tiba di rumah.


"Dia masih di TKP, Ma. Ada kasus pembunuhan yang dilakukan terhadap anak kecil," ucap Pak Sanjaya keraya membawa Elmina duduk di sampingnya. Sofa tidur di ruang keluarga menjadi peraduan mereka.


Mendengar berita itu Elmina dan Renita kompak menjerit seraya menutup mulut dengan telapak tangan. Wanita paruh baya itu ikut duduk di samping suaminya. Mengapit tubuh sang suami, karena Elmina berada di seberangnya.


"Apa Tegar juga bersama Prima?" tanya wanita paruh baya itu yang kini mulai panik.


Belakangan ini sangat sering terjadi tragedi pembunuhan. Dan jika dihitung kasusnya mencapai angka lima belas sampai dua puluh dalam satu bulan.


Tentu saja, sebagai seorang ibu, Renita pasti mengkhawatirkan keselamatan putranya. Terlepas Prima adalah seorang anggota kepolisian, namun tetap saja, bagi Renita dia adalah seorang anak yang sampai kapan pun akan selalu dikhawatirkannya.


Pak Sanjaya berdeham. Sebelum menjawab, ia melepaskan Kopel yang melingkari perutnya. Perlahan ia juga melepas satu per satu kancing baju, lalu menyerahkan seragam itu ke tangan sang istri. Tinggallah baju kaos polisi yang menempel di tubuhnya.


"Sebenarnya Tegar yang menangani kasus itu, Prima hanya mendampingi," jawab Pak Sanjaya setelah beberapa jenak membuat Elmina dan Renita menunggu.


Pria paruh baya itu meraih remot televisi, lalu menyalakannya. Di layar lebar berukuran 42 inchi itu menampilkan sebuah acara--berita akhir pekan.


Pak Sanjaya dan Elmina fokus pada televisi, sementara Renita bangkit dari peraduan, lalu menuju kamar untuk menyimpan seragam sang suami ke dalam lemari gantung.


"Kapan kau pulang dari puncak, El?" Pak Sanjaya mengalihkan perhatiannya pada sang putri.


Elmina yang ditanya kini mengerjap.


"Tadi siang, Pa." Gadis itu menjawab dengan pandangan yang terus tertuju pada televisi.

__ADS_1


"Bukankah masa liburmu masih lama?" Pak Sanjaya terus bertanya. Kedua alisnya tampak bertaut. Ekor matanya melirik tipis pada sang putri bungsu.


Elmina mengerjap, lalu menoleh pada ayahnya.


"Terlalu lama di villa membuatku bosan, Pa." Gadis itu menjawab dengan ekspresi wajah kesal.


Pak Sanjaya tampak berkerut dahi. Bukankah sebelum berangkat ke puncak putrinya itu tampak sangat antusias untuk pergi berlibur? Mengapa sekarang ekspresinya berbanding terbalik?


"Berita terkini ...." Suara Pembawa Berita di televisi.


Elmina dan Pak Sanjaya kompak menatap layar putih itu.


"Samudera Biru, kalung berlian satu-satunya di dunia, dan merupakan icon terkenal di negara kita sudah dicuri dari Museum bersejarah oleh seorang pemuda berinisial B," lanjut Pembawa Berita.


Elmina tampak menganga, sementara Pak Sanjaya terlihat biasa saja. Tentu saja, ia sudah mengetahui terlebih dahulu perihal berita tersebut.


"Pihak kepolisian masih mencari keberadaan pemuda itu yang saat ini seolah hilang ditelan bumi," lapor Pembawa Berita itu seraya menampilkan sebuah gambar wajah pencuri yang dimaksud.


Layar televisi menampilkan foto Bari yang sedang mengenakan jaket Hoodie, memakai topi, dan kebetulan posenya tengah berjalan sambil menoleh ke arah kiri. Wajahnya terlihat tidak begitu kentara, namun dagu runcing dan rambut-rambut halus yang memenuhi rahangnya, membuat Elmina bisa mengenali pemuda itu dengan valid.


Elmina tak berkedip sama sekali. Mulutnya menganga bak sedang melihat pertunjukan menakjubkan.


"Bagi siapa pun yang melihat wajah ini, harap melapor pada pihak kepolisian setempat," ucap Pembawa Berita sekaligus menutup acara tersebut.


Untuk beberapa jenak Elmina tampak bergeming. Pak Sanjaya pun tak mengeluarkan suara sama sekali. Keduanya seakan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Pa--" Suara Elmina tercekat, ketika sang ayah memangkas kalimatnya.


"Apa kau sering bertemu pemuda itu?"


Sedari tadi, Pak Sanjaya memang mencuri pandang terhadap putrinya. Dia yakin bahwa gadis itu pasti akan mengatakan sesuatu setelah berita tersebut dibacakan. Apalagi, beliau sudah mendengar dari Prima bahwa Elmina mengenal pemuda yang wajahnya baru saja terpampang di media tadi.

__ADS_1


Gadis itu seketika tergagap. Ia ragu untuk berucap. Batinnya masih menimbang-nimbang; haruskah ia memberitahu sang ayah? Atau sebaiknya berpura-pura tidak mengenal pemuda itu?


"Ah, aku--"


"Dia sangat berbahaya, sebaiknya langsung hubungi ayah jika kau bertemu dengannya," potong Pak Sanjaya ketika Elmina akan menjawab pertanyaan.


Ah, papa dan kakak sama saja, batinnya seraya memberengut manja.


Entah, mengapa Elmina merasa bahwa tuduhan yang ditimpakan pada Bari hanyalah sebuah tuduhan semata. Ia ingin mengatakan hal itu tadi, namun sang ayah sudah lebih dulu berspekulasi.


"Belum tertangkap juga, Pa?" Renita tiba-tiba keluar dari kamar, lalu memangkas percakapan ayah dan anak itu.


"Belum," jawab Pak Sanjaya singkat.


"Sebaiknya papa makan dulu," kata wanita paruh baya itu. Langkahnya langsung terayun menuju ruang makan. Seperti biasa, Pak Sanjaya akan makan siang di rumah, walaupun jam pulangnya sudah pasti sore hari.


Pak Sanjaya mengangguk, lalu mengekori pergerakan wanita itu. Sementara Elmina masih mematung di depan televisi dengan segala pemikiran yang kembali dipenuhi oleh bayang-bayang Bari.


***


Di sebuah restoran cepat saji terbesar di ibu kota. Bari sudah memilih salah satu meja, lalu menarik kursinya. Perlahan ia duduk nyaman di sana, setelah meletakkan pesanannya di atas meja. Sebuah big burger lengkap dengan sayuran segar, ditambah dengan saos dan mayones melimpah serta segelas Coca cola kesukaannya tampak menggiurkan di depan mata.


Kali ini penampilan pemuda itu tampak berbeda dari biasanya. Rambutnya agak kriting dan panjang. Kemeja denim dan celana kain berwarna hitam menjadi pilihan outfit-nya. Tak lupa ujung kemejanya dimasukkan ke dalam celana, mirip abang-abang tukang galon. Ada tambahan satu aksesoris lagi yang membuat penampilannya semakin tersamarkan, kacamata bening dengan lensa bulat tebal.


Sambil melirik ke kiri dan kanan, ia mulai menikmati pesanannya. Satu gigitan dengan gaya makan lumayan rakus, membuat beberapa pengunjung menatap risih ke arahnya.


"Ehem ... ehem!"


Di sela-sela ritual pengurukan lambungnya, tiba-tiba seorang pria hampir setengah baya, mengenakan celana dan jaket jeans berwarna hitam, berdiri sambil berdeham di samping mejanya.


Bari mengerjap. Satu gigitan besar tampak menyumpal mulutnya yang menganga.

__ADS_1


"Mr. B?" tanya pria itu seraya duduk di depan Bari. Pandangannya lurus ke arah pemuda itu yang kini tak tampak brewok sama sekali.


Bagaimana bisa?


__ADS_2