Buronan Tampan

Buronan Tampan
Pura-pura Terdampar


__ADS_3

Dias tampak duduk termenung di atas tempat tidurnya. Bayangan kilas balik percakapannya dengan Olla dua hari silam kembali berputar di dalam benak.


Matanya menyipit, alisnya bertaut. Rasa tak berdaya semakin memojokkan dirinya ke dalam keresahan. Dia sendiri tak menyangka, nasib hidupnya seolah kembali diperolokkan. Kegetiran jiwa mulai membuat bola matanya berkabut lara.


Setelah menyetujui permintaan Olla, kini Dias mulai diserang kegamangan. Pasalnya, di usianya yang masih sangat labil, tentu saja begitu mudah mendorong diri untuk berubah pikiran.


Kepalanya menggeleng berkali-kali seraya menangis dalam diam.


"Ibu ...!"


Rintihan pun ternyata tak menyukseskan diri mencapai ketenangan.


Puas menangis tergugu, gadis itu kini mulai lelap dalam kelelahan.


Tanpa Dias sadari ternyata sedari tadi tangisannya disaksikan oleh sepasang mata seorang lelaki. Siapa lagi kalau bukan Tuan Morang. Niat hati tadinya ingin mengantarkan segelas susu untuk gadis itu, tentu saja atas permintaan sang istri. Namun, setelah tubuh berdiri di depan pintu kamar, sayup-sayup ia mendengar suara isakan kecil dari dalam karena memang pintunya tidak tertutup rapat.


"Apa dia berubah pikiran?" gumamnya seraya terus menatap ke dalam.


Terdorong oleh rasa empati, tangan kokohnya mulai menyibak daun pintu dengan perlahan. Seraya mendekati ranjang, matanya mengedar ke arah jendela yang gordennya tampak beterbangan karena tertiup angin laut.


Setelah meletakkan gelas susu di atas meja yang terdapat di samping ranjang, Tuan Morang berjalan mendekati jendela, lalu menutupnya.


Kemudian kedua tungkai kembali melangkah mendekati ranjang. Dengan perasaan ragu, ia mendudukkan tubuh gagahnya di tepian. Membelakangi Dias yang tertidur dengan posisi miring ke arahnya.


Kedua siku bertumpu pada lutut, sementara jari-jarinya saling bertaut di bawah dagu.


"Sebenarnya aku sendiri juga tidak menginginkan semua ini terjadi," ucapnya seolah sedang berbicara pada Dias. Kedua mata gadis itu masih tertutup rapat tanpa adanya pergerakan.


"Aku sangat mencintai istriku," lanjutnya masih dengan posisi yang sama. Anggap saja, Tuan Morang sedang curhat. "Tapi, aku akan melakukan apa pun demi kebahagiaannya. Termasuk jika harus menyerahkan semua harta yang kupunya." Tidak ada sedikit pun keraguan pada gurat wajahnya.


"Maafkan aku," tuturnya setelah menghela napas dalam. Kepala berotasi ke arah Dias sejenak, lalu bangkit dan meninggalkan kamar.


Sementara di luar villa.

__ADS_1


"Hei, siapa itu?" tanya seorang penjaga seraya berjalan mendekati gerbang.


"Tolong saya, Pak." Tampak seorang wanita paruh baya dengan busana modis, berdiri di depan gerbang besi yang masih terkunci. Kacamata super mahalnya tak lagi tampak melengkapi penampilan.


Penjaga itu berkerut dahi, tentu saja berpikir keras; dari mana datangnya tante-tante modis di dalam buta begini?


"Siapa Anda?" tanya Penjaga itu dengan sopan setelah mengetahui lawan bicaranya adalah orang yang lebih tua.


"Saya salah satu penumpang speed boat dengan tujuan Pulau Montego. Tadinya saya tertidur selama perjalanan." Si Tante tampak tersengal-sengal.


"Entah kenapa setelah terbangun, saya sudah terbaring di atas dermaga sana." Jarinya menunjuk ke arah dermaga sebelah timur villa. "Mereka meninggalkan saya dan membawa kabur dompet dan perhiasan saya," jelas wanita paruh baya itu dengan mendramatisir.


Fitnah itu memang kejam. Namun, bukanlah hal tersebut yang menjadi niat sebenarnya. Tampaknya wanita paruh baya itu hanya sedang memainkan sebuah peran besar.


Penjaga villa itu seketika merasa iba karena teringat akan sang ibu yang berada di rumah. Ia lekas membuka gerbang, lalu meminta wanita tersebut menunggu di pos jaga.


"Saya harus meminta izin kepada Tuan Muda pemilik villa ini dulu, tunggulah sebentar," katanya. Lalu pria itu berjalan memasuki villa.


Kedua bola matanya tiba-tiba memerah menahan gejolak rindu yang sudah menggunung. Dadanya pun terasa bergemuruh tatkala rasa ingin bertemu sang adik kembali menghantam. Ia sungguh tidak sabar ingin menatap wajah mungil yang sudah sepuluh tahun ini tak pernah mengisi ruang pandangnya.


Kenapa bisa begitu?


Jawabannya karena seseorang yang sedang duduk di pos penjagaan villa itu adalah samaran dari Reyden Elbarak.


Ya, Bari harus menempuh jalan tersebut agar bisa lolos dari pemeriksaan yang sangat ketat di bandara. Dengan mengenakan topeng kulit berwajah seorang wanita paruh baya, ia begitu piawai dalam mendalami perannya. Awalnya ia sempat terkekeh geli kala melihat wajah samarannya dari pantulan cermin.


Berkali-kali ia berlatih dialog dengan gaya bahasa yang dilembut-lembutkan dan didrama-dramakan. Tentunya, agar benar-benar bisa meyakinkan setiap lawan bicaranya. Namun, sepertinya hal itu tak semudah yang ia bayangkan. Menirukan suara seorang wanita paruh baya, ternyata lumayan menguras udara.


Bari masih tampak tersengal-sengal. "Sepertinya tadi itu adalah dialog terpanjang yang aku ucapkan," gumamnya dengan suara asli seraya menepuk nyamuk yang menempel di pipi.


Bersamaan dengan hal itu, dari arah villa tampak dua orang pria berjalan ke arahnya. Salah satunya adalah si penjaga villa tadi.


"Selamat malam, Nyonya." Pria satunya menyapa Bari dengan ramah. Tubuhnya sedikit membungkuk hormat.

__ADS_1


Bari lantas berdiri, lalu membalas sapaan pria yang tak lain adalah Daru.


"Tuan ingin menemui Anda. Mari, ikut dengan saya." Daru memajukan sebelah tangannya, yang diangguki oleh Bari tanpa berucap kata.


Di dalam villa.


"Tuan?"


Daru menyapa atasannya, ketika tiba di ruang tamu.


Tuan Morang yang memang sudah menunggu di sofa lantas mengangguk, lalu meminta tamunya itu untuk duduk.


Bari tak tampak gugup sama sekali. Topeng kulit yang dipakainya benar-benar terpahat dengan sangat sempurna sehingga tidak menimbulkan kecurigaan sama sekali.


"Saya sudah mendengar cerita Anda dari penjaga villa tadi." Tuan Morang berkata seraya menatap ke arah Bari. Tatapannya yang teduh, benar-benar menyiratkan kepribadian yang baik. "Saya turut prihatin," lanjut lelaki itu.


Bari mengangguk dengan memasang wajah sendu.


Benar-benar aktor papan atas. Setelah ini, pasti akan banyak produser yang akan menawarinya bermain film layar lebar.


"Anda boleh menginap di sini, Nyonya. Lusa akan ada speed boat yang lewat untuk menuju Pulau Montego. Asisten saya akan mengantarkan Anda ke kamar," ucap Tuan Morang seraya tersenyum ramah. Lantas lelaki itu bangkit dari duduknya--hendak memasuki kamar.


"Terima kasih banyak, Tuan." Akhirnya Bari mengeluarkan suara falsetonya.


Membuat Tuan Morang menghentikan pergerakan. Lelaki itu memutar leher dan sedikit berkerut dahi.


"Sama-sama, Nyonya." Ia tersenyum tipis, kemudian berlalu.


Setelah kepergian Tuan Morang, Bari diantar ke sebuah kamar tamu. Di villa ini terdapat banyak kamar yang disediakan. Tujuannya adalah untuk menyediakan penginapan bagi para tamu jika Tuan Morang mengadakan acara di sana.


"Sejak kapan aku menjadi Nyonya Besar?" gumam Bari seraya menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Perjalanan panjang yang sangat melelahkan. Kedua kelopak matanya hampir tertutup dan tenggelam dalam lelap. Namun, kelebat wajah Sakti melintas di benaknya.


"Aku harus mengabari anak itu," ucapnya pada diri sendiri. Lalu merogoh ponselnya yang berada di dalam saku.

__ADS_1


__ADS_2