
Sakti mengekori langkah Bari yang lebih dulu memasuki kamar. Perlahan pintu ditutup rapat setelah tubuhnya melewati ambang. Setelah itu, barulah pria itu kembali tertawa lepas bahkan sampai terbahak-bahak.
"Aku masih tidak percaya kalau kau akan melakukan ide gila ini," ucap Sakti di sela-sela tawa.
Bari memutar kedua matanya malas, lalu melepaskan topeng sekaligus rambut palsu yang ia gunakan. Tak lupa pula membuka satu per satu pakaian ribet yang membuatnya mulai merasa gerah. Tinggallah celana pendek dan kaos tak berlengan yang melekat di badannya.
"Berhentilah tertawa atau aku akan menyumpal mulutmu dengan sandal ini?" Bari melontarkan kalimat candaan yang bernada mengancam.
Sakti sontak menutup mulutnya, namun terus menahan tawa.
"Sekarang ceritakan padaku bagaimana caramu bisa lolos begitu saja di bandara. Identitas siapa yang kau gondol?" Kini suara Sakti terdengar serius. Sisa-sisa tawanya sudah tertelan bumi--mungkin.
Bari langsung mengambil koper kecilnya dari dalam lemari, lalu membukanya. Pemuda brewok itu tampak mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar. Beberapa paspor dan visa dengan identitas berbeda diletakkan Bari di depan Sakti. Membuat kedua mata pria itu terbelalak sempurna.
"Gila, kau benar-benar Penjahat Internasional," komentarnya seraya meraih buku-buku kecil beserta beberapa kartu lainnya. Ada juga beberapa kertas putih yang tak disentuh oleh Sakti.
Bari tersenyum tipis mendengar ocehan sahabatnya itu, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa yang sama.
"Aku sudah mencarinya ke beberapa negara lain," jawabnya seraya memegangi satu buku paspor. "Ternyata di sinilah labuhan terakhirku." Bari meletakkan kembali buku kecil itu ke atas meja yang berada di depan sofa.
"Besok aku butuh bantuanmu untuk memancing Tuan Morang agar pergi dari villa," ucapnya dengan pandangan lurus ke depan. Kedua telapak tangannya disatukan di depan bibir.
"Akan aku coba," tutur Sakti.
"Kau ragu?" Bari menoleh dengan kedua alis bertautan.
"Masalahnya adalah aku tidak terlalu dekat dengan lelaki itu. Aku memang bekerja dengannya, tapi baru kali ini diajak kemari. Tapi, apa pun yang terjadi, aku akan tetap mendukungmu," respon pria itu panjang lebar. Sebelah tangannya mendarat di pundak Bari sebagai simbol penyemangat.
Bari mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Setelah itu ia memberitahu Sakti apa rencana selanjutnya.
Keesokan harinya.
Tepat pukul empat pagi, Bari sudah terjaga. Ia langsung mempersiapkan beberapa alat yang ia butuhkan dalam pelaksanaan misi hari ini. Sangat tidak mungkin untuk meminta Dias dengan cara baik-baik pada Tuan Morang. Karena lelaki itu tidak mungkin setuju.
Apalagi setelah mendengar cerita dari Sakti bahwa lelaki itu sudah menghabiskan banyak uang untuk mendapatkan Dias. Sudah bisa ditebak, apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1
Bari sudah siap dengan segala peralatannya, lalu keluar dari jendela samping.
Sementara di dalam, Sakti tampak mengintip dari celah pintu kamarnya yang terbuka. Tubuhnya perlahan menyembul, lalu berjalan mengendap-endap menuju kamar Dias.
Setelah tiba di depan pintu kamar gadis itu, Sakti tidak mengetuk, melainkan langsung memutar knop pintunya. Namun, gerakan pria itu harus tertahan ketika pintunya tidak bisa dibuka.
"Si-al ...!" Ia mengumpat. "Pintunya dikunci." Sakti meninju udara, lalu meraup wajahnya dengan kasar.
"Apa aku benar-benar harus mengetuk pintunya?" tanyanya pada diri sendiri. Tentu saja, dia merasa gamang. Jika ia mengetuk pintu, maka khawatir akan membangunkan seluruh penghuni villa ini.
"Ah, tidak ada salahnya mencoba." Sakti mulai mengetuk pintu kamar Dias dengan pelan. Sekali, dua kali ketukan, tidak ada respon dari dalam.
Lalu Sakti mencobanya lagi. Namun, tetap saja tidak ada jawaban. Hingga ketukan yang ke sekian, Dias baru membuka pintu kamar.
"Iya, ada apa, Tuan?" gadis remaja itu bertanya dengan suara parau. Matanya menyipit--memastikan siapa yang telah mengusik waktu istirahatnya.
"Kau harus ikut aku sekarang!" Sakti langsung menarik lengan gadis itu.
Dias tersentak. Matanya terbuka lebar. Sadar bahwa dirinya akan digondol pria asing, maka sudah barang tentu ia akan berontak. "Tidak!"
Dias terkesiap. Mulutnya masih tertutup rapat.
Siapa pria ini sebenarnya? Kenapa dia mau menyelamatkanku?
"Sudah, jangan melamun! Waktu kita tidak banyak." Sakti kembali menarik lengan Dias dan membawanya ke luar villa.
Sementara di sana, Bari sudah menunggu. Tanpa mengenakan topeng berwajah wanita paruh baya lagi, ia tersenyum ke arah adiknya yang kini tampak mengerutkan dahi.
"Siapa kalian? Kenapa kalian ingin menolongku?" Dias kembali diterjang kebingungan.
Masalahnya ia juga ingin pergi dari tempat itu, namun di sisi lain, ketakutan juga merayapi hati ketika yang akan membawanya adalah orang-orang asing yang tidak ia kenali. Pasti gadis itu khawatir akan nasibnya setelah ini. Apakah benar orang-orang ini akan membebaskannya? Atau malah kembali menyeretnya sebagai seorang tawanan? Lalu, kembali menjualnya pada orang lain. Dias ragu.
"Dia adalah kakakmu, apa kau tidak mengenalinya?" Itu suara Sakti. Seolah bisa membaca pikiran gadis itu, ia pun langsung menjelaskan.
"Ka-kakak?" Dias berkerut dahi.
__ADS_1
Sepengetahuannya, Reyden sudah meninggal dunia di hari yang sama dengan kematian ayahnya. Mana mungkin orang yang sudah meninggal, akan hidup lagi seperti sedia kala?
Bari mengangguk. Kedua bibirnya masih terkatup. Terjangan rasa rindu itu kembali menghantam, tatkala melihat kedua bola mata bening di depannya mulai berkaca-kaca.
"A-apa benar ka-kalau kau adalah ka-kakakku?" Kalimat Dias terdengar terbata.
Pasalnya, perawakan Bari sangat berbeda dengan Kak Reyden remaja yang sudah terpotret di dalam ingatannya. Tubuh pemuda itu sangat besar dan tinggi. Wajahnya juga terlihat berbeda karena ditumbuhi rambut-rambut halus di seluruh rahangnya. Hanya saja, hidung dan bola mata milik pemuda itu memanglah identitas asli yang tidak bisa disamarkan.
Buliran bening seketika menyembul sudah dari kelopak mata Dias. Membasahi pipinya yang tak kalah bening pula.
Bari tak menjawab. Ibu jarinya sigap menyeka pipi sang adik yang telah bersimbah air mata.
Mendapat perlakuan itu, Dias langsung menubruk tubuh kekar di depannya.
Bari pun tak tinggal diam, dirangkulnya erat tubuh ringkih Dias ke dalam pelukan.
Tangis Dias pun pecah.
"Kakak! Aku kira kakak sudah meninggal hari itu."
Bari terus mendekap tubuh adiknya dengan sayang. Seraya memberikan elusan lembut di punggung gadis itu, ia masih berusaha menguasai diri dan emosi.
Sakti yang melihat pemandangan mengharukan di hadapannya, sontak mengedipkan mata berkali-kali agar tak ikut terbawa suasana.
"Sebaiknya kalian cepat pergi sekarang! Tepat jam 6 pagi speed boat itu akan tiba di sana. Bersembunyilah terlebih dahulu di dalam hutan."
Sakti mulai cemas karena sayup-sayup terdengar aktivitas seseorang yang mungkin berasal dari arah dapur.
Bari mengangguk, lalu melepaskan rengkuhannya dari tubuh Dias. Digenggamnya jemari sang adik, lalu melangkah menuju gerbang. Penjaga villa masih tampak lelap dalam tidurnya.
Ketika hampir saja tiba di gerbang, keduanya berbalik badan menatap Sakti, lalu sama-sama mengucapkan terima kasih.
Sakti mengangguk, lalu berbalik badan. Namun, baru saja kakinya hendak melangkah maju, lampu sorot pun menyala dari segala sisi, hingga membuat halaman villa yang tadinya remang, kini tampak seperti sebuah stadion sepak bola--terang benderang.
Bari dan Dias langsung menghentikan langkah seraya mengedar pandang ke sekitar. Belasan pria bersetelan jas lengkap, sudah mengepung pergerakan mereka. Sementara Sakti tampak tersentak ketika melihat Tuan Morang melangkah mendekatinya diikuti oleh Daru dari arah pintu utama.
__ADS_1