Buronan Tampan

Buronan Tampan
Takdir


__ADS_3

Empat tahun kemudian.


Seorang gadis cantik berusia sekitar dua puluh dua tahun sedang mengenakan setelan kebaya modern yang dipercantik dengan sanggul mini dan make up tipis yang membuat kecantikannya tampak natural. Dibantu oleh sang ibu, gadis itu sudah selesai bersiap-siap.


Hari ini adalah hari bersejarah dalam hidupnya. Setelah bertahun-tahun berjuang dengan teori dan penelitian, akhirnya ia bisa sampai pada momen pemindahan toga.


"Anak mama cantik banget," puji Renita dengan senyuman yang terkembang dari pantulan cermin. Memandang wajah putrinya yang hanya tersenyum tipis.


Ya, gadis itu adalah Elmina Putri Sanjaya. Dia sudah banyak berubah. Gadis berisik itu kini tak lagi banyak bicara. Perubahan yang cukup drastis setelah perpisahannya dengan Reyden empat tahun yang lalu.


Setelah itu, mereka tidak pernah lagi bertemu. Entah, karena setingan, atau memang karena takdir belum menginginkan keduanya untuk kembali bertatap muka.


Elmina berpikir Reyden telah mengalami masa-masa pahit dalam hidupnya selama empat tahun ini. Mendekam di penjara. Mendapat perlakukan tidak baik dari sesama tahanan, atau mungkin makan nasi batu dan sayur hambar setiap harinya.


Mengingat semua itu, cahaya hidupnya seolah redup. Entah, mengapa ia ikut merasakan kegetiran hidup walaupun kebebasan memeluknya setiap waktu.


Prima yang menyadari perubahan drastis sang adik, tentu saja sangat mengerti seperti apa perasaan gadis itu. Namun, ia pun tak banyak komentar, karena pria itu ingin Elmina mempertanggungjawabkan kewajibannya yaitu sebagai mahasiswi kedokteran. Dan, semua itu Elmina capai tepat pada waktunya.


Kini tibalah saatnya keluarga besar Sanjaya menghadiri acara wisuda strata satu Elmina yang diadakan di gedung Pancuran Agung. Gedung serbaguna terbesar dan termewah di kota mereka.


Pak Sanjaya dan istrinya sudah duduk di kursi barisan paling depan, sementara Prima masih berdiri di ambang pintu masuk gedung. Pandangannya mengekori sekitar seraya sesekali melirik arloji mewah yang melingkar ketat di pergelangan tangan kanannya. Tampaknya perwira muda itu sedang menunggu kedatangan seseorang.


"Sayang!"


Prima menoleh setelah mendengar seruan merdu atas nama kasih yang sudah pasti dilontarkan padanya.


"Cle!"


Pria itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya, menyambut kedatangan sang kekasih.


Ya, dalam enam bulan terakhir Prima mengenal seorang gadis cantik yang merupakan seorang psikolog termuda di kota mereka. Namanya Clemira. Tanpa suka berbasa-basi sesuai karakternya, Prima langsung melamar gadis itu dan akan melaksanakan pernikahan bulan depan.


Berbalut kebaya modern berwarna salem, Clemira tampak begitu anggun. Selaras dengan karakternya yang memang selalu tampak tenang.


"Maaf terlambat, ya. Pasienku benar-benar butuh penanganan ekstra tadi," ucap gadis itu dengan seulas senyuman tidak enak hati. Disambutnya uluran tangan sang kekasih sehingga kedua tangan mereka saling bertautan.


"Kau belum terlambat, Cle. Acaranya belum dimulai." Prima menggandeng tangan wanitanya, membawanya memasuki gedung. Keduanya berjalan menuju barisan depan di mana ada dua kursi kosong di samping ayah dan ibunya.


"Cle!" seru Renita pada calon menantunya itu disertai senyuman.


"Tante, Om!"

__ADS_1


Clemira mencium punggung tangan kedua calon mertuanya.


"Kamu cantik banget, Sayang." Renita tak henti-hentinya mengagumi paras ayu calon istri putranya itu.


"Tante juga tak kalah cantiknya."


Mereka pun duduk berdampingan. Sementara Prima duduk di samping ayahnya.


Di depan sana, Elmina tampak gerogi setengah mati. Entah, perasaan apa yang tengah menghantam jiwanya yang tiba-tiba merasa tidak tenang. Kedua telapak tangannya yang dingin, terlihat saling me-remas satu sama lain.


Mungkin karena acara pemindahan toga sudah dimulai atau ada alasan lain? Entahlah. Elmina merasa sangat gugup. Gelar sarjana kedokteran sebentar lagi akan tersemat di belakang nama panjangnya. Kini ia hanya menunggu giliran untuk menaiki panggung kebesaran.


"Elmina Putri Sanjaya!" seru seorang Pembawa Acara.


Gadis itu masih bergeming di tempatnya.


"Elmina Putri Sanjaya!"


Tiba-tiba suara seorang pemuda yang sudah lama tidak didengarnya, kini merajai rongga telinganya.


Elmina tersentak. Tubuhnya refleks berdiri, lalu mengedar pandang ke segala arah. Namun, tidak ada sosok yang diharapkannya itu. Hanya sepasang Pembawa Acara yang kini tersenyum ke arahnya seraya menganggukkan kepala.


"Eh."


Elmina tampak semakin gugup ketika menyadari bahwa pandangan semua orang yang berada di dalam gedung itu, kini tertuju padanya. Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha mengurangi rasa gerogi yang merajalela.


"Elmina Putri Sanjaya!" Sekali lagi, Pembawa Acara berjenis kelamin perempuan mengulangi seruannya.


Elmina mengerjap, lalu mengembuskan napas kasar. Kedua pipinya sudah terasa panas, namun ujung hidungnya mendadak terasa dingin.


Ia mengayun langkah perlahan menuju panggung. Kedua tungkainya terasa keram karena tidak biasa mengenakan sepatu hak tinggi. Sangking repotnya dengan kondisi rok yang sempit dan alas kaki yang tidak enak dirasa, Elmina sampai tidak menyadari bahwa ujung roknya terinjak oleh hak sepatu ketika akan menaiki tangga panggung.


"Aaarrrgggh!"


GREP


Seketika tubuh gadis itu seolah melayang di udara.


Dua tangan kokoh berbalut jas berwarna biru tua tiba-tiba menangkap tubuh Elmina, lalu menggendongnya dalam sekali hentakan.


HAH?

__ADS_1


Elmina membeku.


Sedangkan para hadirin yang hadir sontak terbengong melihat peristiwa penyelamatan tersebut. Kejadiannya sangat mendadak, sehingga tidak ada yang bisa menyadari dari mana datangnya pemuda itu.


Beberapa wisudawati tampak gemas melihat pemandangan manis di depan mereka. Ada di antaranya yang menginginkan berada di posisi Elmina. Karena pemuda yang sedang menggendong tubuh gadis itu bertampang rupawan, bertubuh gagah, dan ... brewokan pastinya.


Sementara Pak Sanjaya, Bu Renita, dan Prima ketiganya tampak tersenyum. Tentu saja, mereka bertiga sangat mengenali sosok pemuda yang saat ini menjadi pusat perhatian semua orang.


"Rey--"


Suara Elmina tercekat. Ditatapnya kedua manik mata Reyden lekat-lekat. Sebelah tangannya menempel ketat di dada pemuda itu.


"Reyden Elbarak," ucap Reyden melengkapi kalimat Elmina yang terputus. Senyuman menawan tersungging di kedua sudut bibirnya yang sensual.


"Sebegitunya kau merindukan suaraku, sehingga untuk berjalan saja kau tidak mampu?" Reyden melanjutkan kalimatnya yang sedikit bernada narsis.


Namun, di luar dugaan, Elmina yang biasanya akan meledak-ledak ketika mendengar pernyataan yang bernada ejekan untuknya, kini malah mengeluarkan kalimat ajaib yang sukses membuat Reyden tertegun.


"Aku memang sangat merindukan suaramu, kalimat pedasmu, dan ... semua tentangmu, aku rindu."


DEG


Reyden tersenyum penuh kemenangan. Tidak sia-sia selama ini ia menahan rasa agar gadis itu sampai pada gerbang di mana mereka bisa bersama.


Ya, empat tahun yang lalu Pak Sanjaya sudah mengetahui kebenarannya dari Prima bahwa Elmina mencintai buronan mereka. Namun, beliau ingin putrinya itu tetap fokus pada pendidikannya, sehingga ia meminta Reyden untuk tidak menemui anaknya sama sekali.


Sempat beberapa kali pemuda itu berpapasan dengan Elmina, namun ia tidak pernah menemuinya langsung. Teringat akan pesan Pak Sanjaya, Reyden pun harus menahan gejolak rindu yang sama.


Tidak bisa dipungkiri, saat pertama kali melihat Elmina, pemuda brewok itu sudah jatuh hati padanya. Masih ingat di saat momen di mana Reyden dikejar polisi dan jatuh di atas atap mobil gadis itu?


Ya, saat itulah kisah cintanya dimulai. Namun, sebagai seorang pemuda yang berkedok buronan, tidak mungkin ia akan menyatakan perasaannya secara terang-terangan. Dan, untuk alasan kenapa di setiap misinya empat tahun silam, Elmina selalu terlibat di dalamnya? Jawabannya adalah karena itu adalah garis takdir keduanya.


Reyden meyakini bahwa itu adalah takdir. Takdir Sang Maha Pencipta, di mana gadis yang selalu diejeknya itu adalah sosok yang memang diciptakan untuknya.


"Kau tidak merindukanku?" Elmina bertanya tanpa merasa gengsi. Perasaan di dalam hatinya sudah membuncah dan ia tidak mungkin mampu jika diminta untuk menahannya lagi.


Bertahun-tahun ia hidup dalam kegetiran jiwa. Tanpa kepastian, gadis itu menganggap bahwa cintanya hanyalah sebuah lawak belaka. Namun, ternyata ia salah. Cinta sesungguhnya tidak datang secara tiba-tiba. Kebersamaanlah yang membuat cinta itu bersemi di antara dua anak manusia. Dan hal tersebut terjadi padanya.


Mendengar pertanyaan Elmina, Reyden hanya berdeham.


"Kau harus meraih gelarmu dulu," ucapnya untuk menyadarkan Elmina bahwa sekarang pandangan semua orang sedang tertuju pada mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2