Buronan Tampan

Buronan Tampan
Kejutan


__ADS_3

"Kau tidak merindukanku?" Elmina bertanya tanpa merasa gengsi. Perasaan di dalam hatinya sudah membuncah dan ia tidak mungkin mampu jika diminta untuk menahannya lagi.


Bertahun-tahun ia hidup dalam kegetiran jiwa. Tanpa kepastian, gadis itu menganggap bahwa cintanya hanyalah sebuah lawak belaka. Namun, ternyata ia salah. Cinta sesungguhnya tidak datang secara tiba-tiba. Kebersamaanlah yang membuat cinta itu bersemi di antara dua anak manusia. Dan hal tersebut terjadi padanya.


Mendengar pertanyaan Elmina, Reyden hanya berdeham seraya menggulir pandangan ke seantero gedung.


"Kau harus meraih gelarmu dulu," ucapnya untuk menyadarkan Elmina bahwa sekarang tatapan semua orang sedang tertuju pada mereka berdua.


Gadis itu langsung tersentak. Pandangannya ikut bergulir menyisir sekitar.


Reyden menurunkan tubuh Elmina perlahan setelah menggendongnya hingga ke atas panggung. Pemuda itu mundur beberapa langkah, agar tidak menutupi pandangan para tamu undangan.


Elmina tersenyum ceria seraya berjalan menuju meja Rektor yang sedari tadi sudah menunggunya untuk momen pemindahan toga.


Sesampainya di depan pria paruh baya itu Elmina sedikit menundukkan


kepalanya agar si Rektor lebih mudah untuk memberikan gelar kebanggaan.


"Selamat," ucap pria bergelar profesor itu seraya tersenyum lebar pada Elmina setelah ia memindahkan tali toga yang menjuntai di atas kepala gadis tersebut.


"Terima kasih, Prof." Setelah menjabat tangan si Rektor, Elmina langsung menuruni panggung.


Walau pandangan beberapa tamu masih tertuju padanya, Elmina tak mau ambil pusing.


"El, yang tadi itu siapa?" tanya teman Elmina ketika gadis itu sudah kembali duduk di kursinya.


"Calon teman hidup," jawab gadis itu sambil tersenyum. Pandangannya mulai mencari sosok yang hampir saja membuat jantungnya berhenti berdetak tadi. Namun, sosok itu tidak ditemukan di mana-mana.


***


Satu jam kemudian, semuanya sudah berada di luar gedung. Ada yang sibuk mengabadikan momen berharga mereka di beberapa studio mini yang berjejer di taman gedung. Ada juga yang sibuk berfoto dengan kamera ponsel masing-masing. Namun, tidak dengan Elmina. Gadis itu masih sibuk dengan pencariannya.


Reyden benar-benar menghilang bak ditelan masa.


"Cari siapa?" ejek Prima ketika tubuhnya sudah sejajar di samping sang adik. Seraya menggenggam tangan calon istrinya, ia mulai melancarkan aksi--mengusili gadis itu.


Elmina masih tak menghiraukan pertanyaan kakaknya, karena kepalanya masih tampak celingukan.


"Hei, dia di sana!" Prima menarik ujung hidung Elmina, lalu menunjuk arah di mana sosok yang dicarinya berada.


Gadis itu melengak seraya menggosok pelan ujung hidungnya akibat sentuhan sang kakak.


Wajahnya kembali berbinar, ketika sosok yang dicarinya kini memenuhi ruang pandang.


Dari tempatnya berdiri, bisa dilihat bahwa Reyden tampak sedang duduk dalam satu meja bundar bersama kedua orang tuanya. Meja-meja bundar yang tersedia di bawah kanopi raksasa di samping gedung Pancuran Agung.


Namun, yang sukses membuat kedua alis Elmina bertautan adalah adanya sosok gadis muda yang duduk di sebelah pemuda brewok itu. Mengenakan pakaian kebaya dan toga persis seperti yang dipakainya.


Siapakah gadis itu?


Elmina masih bergeming di tempatnya. Hatinya mulai bertanya-tanya.


"Hati-hati, El. Jangan tebar pesona di depan calon suami orang," ucap Prima di dekat telinga sang adik.


Wajah Elmina langsung berubah mendung.


Pantas saja, saat ia bertanya bahwa Reyden merindukannya atau tidak, pemuda itu tidak langsung menjawabnya. Ternyata dia sudah mempunyai calon pendamping hidup. Begitulah kiranya isi kepala Elmina.

__ADS_1


"Ayo, papa dan mama sudah menunggumu," tutur Prima seraya menggandeng tangan Clemira yang sedari tadi hanya diam, menuju meja di mana kedua orang tuanya berada.


"Nak, di mana adikmu?" Bersamaan dengan pertanyaan Renita, langkah Elmina pun mengekor di belakang Prima.


"Eh, ini dia. Kamu dari mana saja, Sayang?" Renita bertanya dengan lemah lembut seraya menyentuh lengan putrinya itu.


"Tadi ... aku ...."


"Dia tadi dari toilet, Ma." Prima memotong kalimat adiknya yang terbata.


Elmina menyikut lengan sang kakak karena sudah berani berbohong tanpa seizinnya.


Prima hanya menahan tawa seraya membawa Clemira duduk bergabung di meja yang sama.


Tak terkecuali Elmina. Ia pun duduk di samping wanita paruh baya yang saat ini menatapnya penuh kagum. Kagum akan kecantikannya. Entah, siapa wanita itu, Elmina tidak mengenalnya.


"Ini Elmina, Mbak." Renita memperkenalkan putrinya pada Elita--ibunya Reyden.


"Sudah dewasa, cantik lagi. Selamat atas pencapaianmu ya, Nak." Elita menyentuh pundak gadis itu yang sedari duduk tadi, hanya menundukkan pandangan.


Elmina mengerjap, lalu menatap wanita paruh baya yang tak dikenalinya itu. "Terima kasih, Tante," ucapnya dengan senyuman canggung.


Elita balas tersenyum.


"Sayang, nanti malam Tante Elita mengundang kita sekeluarga untuk hadir di acara besar keluarganya. Kamu ikut, ya." Renita berusaha membujuk sang putri. Pasalnya, selama ini gadis itu selalu menolak jika diajak pergi ke acara-acara besar. Seperti pernikahan, pesta ulang tahun, dan lain-lainnya.


"Em ... aku ...." Elmina melirik sekilas ke arah Reyden, namun pemuda itu masih sibuk berbicara dengan ayahnya. Tak sedikit pun hirau akan kehadirannya.


"Kamu harus datang, Sayang," bujuk Elita seraya kembali menyentuh pundak Elmina.


"Ba-baik, Tante."


***


"Bukankah kita hanya tamu, kenapa harus seribet ini?" Ia terus protes karena menurutnya tindakan Renita sudah berlebihan.


"Pokoknya kamu harus tampil cantik, Sayang." Renita masih kukuh, dan kembali mendudukkan Elmina di kursi rias ketika gadis itu berdiri hendak pergi.


"Ma!"


Elmina tak kuasa lagi membantah. Jika ibu suri sudah bertitah, maka dia hanya bisa pasrah.


Satu setengah jam kemudian.


"Waaah," ucap Renita terkagum-kagum melihat penampilan putrinya. Ia baru saja kembali memasuki kamar gadis itu setelah bersiap-siap juga di kamarnya.


Elmina berdiri di depannya dengan mengenakan gaun panjang mewah model duyung yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Di seluruh gaunnya tersulam permata cantik berwarna putih. Ada lipatan kain kasa berwarna senada yang menjuntai di bahu kirinya. Tak lupa mahkota kecil bak putri kerajaan bertengger apik di pucuk kepalanya. Rambutnya yang ikal gantung dibiarkan terurai, namun bagian kiri dan kanannya dijepit ke belakang.


"Sempurna, Mia. Terima kasih," ucap Renita pada MUA tersebut.


"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu, saya permisi dulu." Mia pamit pada Renita seraya menggondol semua perlengkapan yang dibawanya bersama sang asisten.


Sepeninggalan Mia, Renita kembali menatap Elmina penuh haru. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.


"Sayang!"


Dielusnya dengan lembut dagu Elmina.

__ADS_1


"Kenapa mama menangis?" tanya gadis itu merasa bingung.


"Tidak apa-apa, Sayang. Mama hanya bahagia melihatmu ...."


"Sudah siap?" Tiba-tiba Pak Sanjaya memasuki kamar Elmina.


Kedua wanita beda usia itu kompak menoleh ke arah sumber suara.


"Wah, putri Papa tampak luar biasa," puji pria paruh baya itu setelah melihat penampilan anaknya.


"Papa!" Elmina tak kalah terpananya melihat penampilan sang ayah. Sebab, jarang sekali ayahnya mengenakan setelan jas lengkap seperti saat ini. Elmina tersenyum lebar.


Pria yang masih bertubuh bugar, walau usianya tak lagi muda itu memang tak kalah tampan dan gagah dari putranya. Sebagai seorang anggota kepolisian, tentu beliau wajib menjaga penampilan.


"Papa tahu, papa terlihat tampan, bukan?" Pak Sanjaya tentu bisa menebak makna dari tatapan kagum putrinya.


"Sudah, sudah, berhenti saling pujinya. Nanti kita terlambat, ayo!" Renita mengajak suami dan putrinya berangkat menuju tempat acara.


Sementara Prima sudah berangkat terlebih dahulu, karena harus menjemput Clemira.


***


Di sebuah hotel termewah di kota mereka.


"Ma!"


Tubuh Elmina terpukul mundur setelah mereka bertiga turun dari mobil. Entah, mengapa jantungnya mendadak berdentam tak karuan. Suhu tubuhnya mulai terasa panas dingin.


"Ayo!"


Renita menggenggam erat telapak tangan putrinya yang terasa sangat dingin. Wanita baya itu tersenyum simpul, karena mengerti akan perasaan Elmina.


Di halaman hotel yang luas itu sudah tersusun banyak sekali karangan bunga yang bertuliskan HAPPY WEDDING REYDEN ELBARAK. Namun, anehnya tidak ada keterangan nama wanita yang akan menjadi pasangan hidup pemuda itu.


"Ayo!"


Lengan Pak Sanjaya melingkari bahu putrinya, lalu mendekapnya dari samping. Tentu saja, ia sedang berusaha menahan tubuh gadis itu agar tidak tumbang saat itu juga.


Perlahan ketiganya melewati pintu masuk hotel yang berhadapan langsung dengan pintu ballroom.


Ketika mereka menginjakkan kaki di karpet merah yang menghubungkan pintu ballroom dan pelaminan, tepuk tangan para undangan pun mulai mengudara. Pandangan semua tamu tertuju pada mereka bertiga.


PROK PROK PROK


Elmina merasa kebingungan, ia lantas menggulir pandang ke arah ayah dan ibunya secara bergantian. Sementara, Pak Sanjaya dan istrinya tampak tersenyum ke arahnya.


Dalam keterpakuan Elmina saat ini, tiba-tiba Reyden sudah berdiri di depan mereka bertiga dengan setelan tuxedo mewah berwarna putih senada dengan warna gaun Elmina. Rambut depannya yang agak panjang tampak disisir rapi ke belakang. Jangan lupakan rambut-rambut halus yang tumbuh memenuhi rahangnya, menambah kesan manly yang membuat para wanita meleleh dibuatnya.


Elmina terpana. Ketampanan Reyden sukses membuatnya bungkam berulang kali. Bukan hanya untuk hari ini, tapi untuk hari-hari sebelumnya dan hari-hari yang akan datang.


"Rey--"


"Saatnya naik ke altar, Calon Istri!" ucap Reyden seraya mengulurkan tangannya pada Elmina.


Kedua mata gadis cantik itu sontak berkaca-kaca setelah mendengar kalimat ajaib Reyden. Tanpa banyak komentar, Elmina langsung menyambut uluran tangan calon suaminya seraya tersenyum penuh haru. Dia teramat bahagia.


Semua tamu undangan pun kembali bertepuk tangan.

__ADS_1


Keduanya berjalan perlahan menuju altar pernikahan, yang sebelumnya memang sudah direncanakan tanpa sepengetahuan Elmina.


Hari ini adalah hari bersejarah bagi Elmina. Reyden ingin memberikan kejutan luar biasa yang bahkan membuat Elmina tak mampu berkata-kata.


__ADS_2