Buronan Tampan

Buronan Tampan
Dimana Gadis Kecil Itu?


__ADS_3

"Apakah kau yang bernama Bari, Sayang?" Wanita seksi itu mendekat ke arah Bari, lalu melingkarkan kedua tangannya pada leher pemuda itu. Membuat Elmina yang berdiri tak jauh dari sana sontak menutup mulut dengan kedua telapak tangan sekaligus melotot sempurna.


Bari mengangguk pelan pada wanita itu seraya melirik tipis ke arah Elmina. Wanita di hadapannya mengerjap, kemudian mengikuti arah pandang pemuda brewok super tampan calon pelanggannya.


"Baru kali ini aku mendapat pelanggan yang turut serta membawa istrinya," ucap wanita bernama Asti itu dengan senyuman mengejek. Dipandangnya Elmina tanpa berkedip dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Cantik, komentarnya di dalam hati.


"Ayo, masuk, Sayang!" Asti langsung menarik lengan Bari, lalu mengajaknya memasuki kamar. Ia menyeret pemuda itu seolah melupakan gadis yang disebutkan sebagai istri Bari tadi.


Sementara Elmina, masih membeku di tempatnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Membuntuti langkah Bari dan wanita itu, atau sebaiknya pergi dari sana?


Perlahan ia bergerak maju mendekati ambang pintu dan mengintip ke dalam. Tak ada pergerakan. Kemana perginya mereka berdua? Elmina masih digerogoti rasa penasaran. Tanpa berpikir panjang, ia pun mengayun langkah perlahan memasuki ruangan.


Setapak demi setapak melangkah hingga kedua tungkainya melewati kamar kecil yang diyakininya sebuah kamar mandi. Terdapat sebuah dinding penyekat di depannya, membuat gadis itu terus melewatinya dan sampailah pada ruang utama.


Ini kamar hotel atau apartemen? cicitnya dalam hati. Kenapa buronan itu harus membawaku kemari? tanyanya lagi, tentunya pada diri sendiri.


Kedua netra terus bergulir mencari keberadaan dua orang itu, sementara yang dicari tak juga ditemui. Hingga akhirnya pandangan gadis itu jatuh pada sebuah pintu yang terdapat di sebelah kirinya. Dipandanginya pintu itu sesaat seraya terus memasang pendengaran. Tidak ada suara sama sekali.


Elmina mulai bergidik. Pikirannya mulai terkontaminasi film-film thriller yang sering ia tonton. Di dalam benaknya, ia membayangkan bahwa Bari pura-pura memesan jasa wanita itu, namun pada kenyataannya pemuda itu malah melenyapkannya.


"Tidaaak!"


Elmina tersentak. Suara teriakan Asti membuatnya berlari cepat menuju ruangan yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya.


BRAAAK


Gadis itu mendorong pintu yang memang tidak dikunci, kemudian kembali melotot sempurna.


"Kau apakan dia?" pekik Elmina pada Bari. Wajahnya tampak panik dan napasnya terdengar memburu.


Asti berontak setelah menyadari kehadiran Elmina. Kedua tangan dan kakinya sudah terikat pada kursi besi tunggal. Sementara Bari tampak berjongkok di hadapannya.

__ADS_1


"Lepaskan!" erang wanita itu di depan wajah Bari.


"Hei, lepaskan dia!" Elmina berusaha mendekat, namun Bari memberi kode dengan telapak tangan agar gadis itu tetap berada di posisinya saat ini.


"Dimana gadis itu?" Bari menggulir pandang ke arah Asti seraya bertanya. Membuat wanita itu berhenti berontak.


"Gadis?" Asti mengernyit tak mengerti.


"Gadis kecil yang dititipkan padamu sepuluh tahun yang lalu." Bari mengambil sebuah kertas foto, lalu menunjukkannya pada Asti.


Wanita itu mengerjap berkali-kali. Berusaha mengenali sosok mungil yang sedang berdiri dalam kertas foto usang itu.


"Anak ini--" ucapnya tercekat. Keduanya matanya masih tak berpindah arah. "Siapa kau sebenarnya?" Asti mulai menyadari sesuatu. Tatapannya kembali tertuju pada Bari.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Katakan saja, di mana dia sekarang?" Bari merespon dengan nada dingin.


Membuat Asti bergidik ngeri. Aura membunuh terpancar kental di wajah pemuda brewok super tampan di hadapannya. Walaupun sebelumnya ia sempat terBari-Bari, namun sekarang hanya rasa takut yang menguasai diri.


Elmina masih mengamati komunikasi dua orang dewasa di depannya, namun belum berniat sama sekali untuk menguntai kata. Ada rasa penasaran yang mendalam atas sosok orang yang berada di dalam foto tersebut. Foto yang ditunjukkan Bari pada Asti.


"Apa aku perlu mencukur habis rambutmu ini agar kau mau berbicara jujur!" ancam Bari dengan nada penuh penekanan. Sebelah tangannya sudah mencengkeram kuat rambut wanita itu.


Elmina yang menyaksikan ikut meringis. Namun, ia tahu Bari hanya menggertak Asti saja. Tidak mungkin Pemuda brewok itu tega melakukan hal tersebut.


Lagi pula dari mana dia bisa mendapatkan alat cukur? batin gadis itu.


"A-aku tidak berbohong. O-Om Koboi langsung menjemputnya setelah satu pekan, dan dia tidak mengatakan apa pun lagi, aaargh!" ucap Asti sambil terbata. Erangannya semakin memekakkan telinga tatkala Bari kembali menarik kasar rambutnya.


"Sekarang katakan dimana pria tua itu?"


"Di-dia ...."


BRAAAK

__ADS_1


Tiba-tiba pintu utama kamar terbuka lebar karena didobrak dari luar.


***


"Kenapa Elmina belum pulang juga, Pa?"


Seorang wanita paruh baya tampak berjalan ke sana kemari. Air mukanya terlihat sendu seraya terus memandang pintu utama kediaman mereka. Pintu yang sedari tadi menjadi pusat perhatiannya, berharap tubuh sang putri bungsu muncul dari sana.


"Mungkin sedang di jalan, Ma." Sang suami tampak santai sembari menyesap manisnya kopi dari sebuah cangkir keramik berwarna cokelat muda. Kumis bagian bawahnya tampak sedikit basah terkena sentuhan busa minuman itu.


"Ah, papa mah selalu begitu. Elmina itu anak perempuan kita satu-satunya, Pa. Tapi, papa selalu memperlakukan dia seperti Prima. Mereka berbeda, Pa."


Sang istri tampak tidak terima melihat sikap santai sang suami. Menurutnya sang suami terlalu sepele menghadapi masalah tersebut. Ia sudah menelpon Elmina berkali-kali. Namun, nomornya tidak bisa dihubungi. Berulang kali ia mendial nomor kontak anak itu, namun berulang kali pula ia mendengar suara operator yang bernada datar seperti jalan raya.


"Bukan begitu, Ma. Maksud pa--"


"Ma, Pa!" seru seorang lelaki matang yang baru saja memasuki ruangan. Ia berjalan cepat, kemudian mencium pipi sang ibu, lalu pindah ke sisi sang ayah yang sedang duduk di sofa.


Ibunya yang bernama Renita itu langsung melongo tatkala melihat putra pertamanya tiba di rumah tanpa membawa sang adik.


Lelaki paruh baya di samping Prima itu tersenyum simpul, kemudian menegakkan duduknya.


Prima tampak membisikkan sesuatu pada sang ayah, lalu berbalik duduk tegak menghadap sang ibu.


Pria tua bernama Sanjaya itu berdiri menghampiri sang istri, lalu memeluknya dari samping. Langkahnya menuntun wanita paruh baya itu menuju kamar tidur. Sang istri tak mengeluarkan seutas kata protes pun. Ia tahu, ada hal penting yang pastinya perlu putranya bahas bersama sang suami.


"Tidurlah dulu, Elmina pasti baik-baik saja." Satu elusan lembut mendarat di pipi Bu Renita. Tubuhnya sudah duduk di tepi ranjang berukuran besar milik mereka.


"Berjanjilah kalau kalian akan membawa putriku pulang," ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.


"Putri kita, Ma." Pak Sanjaya tidak terima.


Bu Renita mengangguk dengan senyuman kecil. Membuat sang suami tak tega melihat genangan air mata di pelupuk mata sang istri.

__ADS_1


"Tidurlah." Pak Sanjaya membantu Bu Renita berbaring, lalu menyelimuti tubuhnya. "Aku pergi dulu!" pamitnya setelah mendapat anggukan dari wanita yang sudah mendampinginya selama hampir tiga puluh tiga tahun itu.


__ADS_2