
Di tempat berbeda, Bari sedang berjalan di lorong sebuah rumah sakit. Sasarannya saat ini adalah menuju sebuah apotek yang terdapat di depan loket informasi.
Setelah perdebatan mulut dengan Elmina tadi, Bari langsung mengantar gadis itu pulang. Tak ingin merasa berdosa dan menyesal di kemudian hari, ia harus memastikan bahwa gadis itu sampai di rumah dengan selamat.
TAP
TAP
TAP
Beberapa menit kemudian.
BUGH
Seseorang tak sengaja menabrak tubuh pemuda brewok itu ketika mereka akan melewati pintu yang sama.
Tubuh Bari tak bergerak sedikit pun, ia tetap berdiri tegak. Berbeda dengan lawannya, seorang pria muda seumuran dengannya itu tampak terhuyung ke belakang karena sebelumnya ia berjalan sambil membaca hasil sebuah tes kesehatan, sehingga selembar kertas yang dipegangnya tadi terjatuh ke lantai.
"Maaf, maaf, Tuan," ucapnya seraya mengambil kembali kertas putih itu. Pandangannya belum terarah pada orang yang telah ia tabrak.
Sedangkan Bari, ia terus memandang wajah pria yang membungkuk di depannya. Wajah pria itu sangat familiar dalam ingatan. Apakah ia tidak salah mengenali orang?
"Sakti?" tanyanya seraya menunjuk pria itu.
Pria yang disebut Sakti itu mendongak, lalu menautkan kedua alis. Matanya sedikit menyipit--mengenali pemuda di hadapannya--juga karena ia memang sedang memakai kacamata.
"Reyden! Kau kah ini?" tanyanya seraya berdiri dan memegang kedua bahu Bari.
Bari mengangkat sedikit pad topi yang sengaja dipasang menunduk--menutupi wajah bagian atasnya. Lalu, ia tersenyum seraya mengangguk tipis.
"Sobat, kemana saja kau selama ini?" Wajah lesu saat membaca hasil tes kesehatan tadi, kini tergantikan oleh binar bahagia yang cukup mengejutkan.
Pasalnya setelah tragedi kematian sang ayah dan perebutan Dias, Bari membawa serta sang ibu ke kota. Ia tidak pernah kembali ke desa. Rumah peninggalan ayahnya di sana dibiarkan terbengkalai begitu saja.
Alih-alih menjawab pertanyaan Sakti, Bari lebih memilih untuk bertanya balik. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Aku--" Wajah murung pria itu kini kembali menghampiri. Kertas di tangannya menjadi sasaran pandang saat ini.
"Ada apa?" Bari bertanya dengan kening berkerut. "Siapa yang sakit?" Satu tepukan mendarat di bahu Sakti.
"Sudahlah, lupakan! Bukan masalah besar. Sakti langsung menyembunyikan kertas itu di balik jaketnya. "Kita baru saja bertemu sejak sekian lama, bukankah sebaiknya kita rayakan?" kata Sakti dengan wajah yang kembali semringah.
__ADS_1
Bari tersenyum tipis seraya menggeleng. "Aku tidak suka minum alkohol," ucapnya yang sudah mengerti kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Setidaknya kau minum kopi, 'kan?" tanya pria berkacamata itu lagi. Senyuman mengejek terbit di kedua sudut bibirnya.
Bari mengangguk. "Tapi, jika kau punya banyak waktu, tunggulah sebentar, aku akan menebus obat dulu," kata pemuda brewok itu yang diangguki oleh Sakti.
Lima belas menit kemudian.
Kini keduanya sudah duduk berhadapan di kantin rumah sakit. Bari tidak mungkin pergi jauh dari sana karena ada tanggung jawab yang tidak bisa ia tinggalkan.
"Jadi, ibumu di rawat di rumah sakit ini?" Sakti bertanya dengan dua mata terbuka lebar.
"Iya, sejak kematian Ayah dia seperti tidak mempunyai semangat lagi untuk hidup." Bari menunduk sembari mengaduk-aduk kopinya dengan sendok kecil.
Sakti terdengar menghela napas kasar. "Maafkan aku yang tidak tahu sama sekali tentang semua itu," ucapnya berselimut rasa sesal.
"Bukan salahmu, Kawan. Bukankah waktu itu kau masih berada di asrama?" Bari seolah memaklumi ketidaktahuan temannya atas tragedi yang menimpa keluarganya.
Ya, setelah lulus sekolah dasar, Sakti dikirim oleh ayahnya untuk menjalani pendidikan di boarding school. Sebuah yayasan swasta yang mengharuskan seluruh siswanya untuk tinggal di asrama.
"Lalu ... bagaimana dengan adikmu? Apa sekarang dia juga berada di sini?" Sakti tampak celingukan seolah sedang mencari sosok Dias.
"Mas, ini camilannya." Seorang pelayan wanita tiba-tiba mendekati meja mereka dan meletakkan dua buah piring kecil di atasnya. Setelah meletakkan pesanan Sakti, gadis muda itu tersenyum, lalu undur diri.
Bari menaikkan sebelah alisnya. "Kau masih suka makan kentang?" tanya pemuda brewok itu sembari tersenyum mengejek.
Sakti meninju pelan lengan sahabat kecilnya, lalu mengambil satu potong kentang goreng dan melahapnya dalam sekali suapan.
"Makanan favorit tetaplah makanan favorit, tidak akan tergantikan," jawab Sakti enteng seraya mengunyah.
Bari terkekeh kecil, lalu kembali menunduk dan mengaduk kopinya tanpa sedikit pun berselera untuk meminumnya.
"Aku ingin menjenguk ibumu," kata Sakti tiba-tiba setelah mereka sama-sama berdiam diri untuk beberapa jenak.
"Ayo!" Bari bangkit dari posisi, lalu membawa Sakti menuju kamar rawat ibunya.
***
CEKLEK
Dias mengangkat wajahnya ketika mendengar suara pintu kamar terbuka. Lekas dihapusnya jejak air mata yang tersisa di kedua pipinya.
__ADS_1
Di ambang pintu terdapat tiga orang lelaki berbeda penampilan dan pastinya berbeda usia.
"Bawa dia!" perintah seorang lelaki yang perawakannya masih terlihat muda. Suaranya terdengar cukup dingin, membuat Dias bergidik dibuatnya.
Setelah mendengar perintah dari lelaki itu, dua pria kembar penampilan tersebut langsung mengangguk dan berjalan menghampiri Dias.
"Jangan! Aku tidak mau! Lepaskan aku!"
Pekik dan jerit membahana menjadi satu. Dias terus berontak ketika dua lelaki itu menyeret tubuhnya ke luar kamar mengikuti langkah lelaki muda tadi.
Kini, semuanya sudah kembali berada di halaman depan dan siap memasuki mobil.
"Tolong lepaskan aku, Tuan." Dias mengiba setelah tubuhnya dimasukkan paksa ke dalam mobil. Mobil yang di dalamnya juga terdapat lelaki muda itu.
Apakah dia anaknya Om Koboi?
"Ke bandara sekarang juga!" perintahnya pada si sopir.
Dias hanya bisa menangis terisak tatkala mendengar ucapan lelaki itu. Lelaki yang sedari tadi tak berbelas kasihan sedikit pun atas usahanya dalam memohon.
Kesedihan yang ia pertontonkan pun sudah tidak laku lagi. Mungkin sudah saatnya untuk diam dan menerima takdir dengan lapang dada.
Dias akan pergi jauh dari negara ini. Meninggalkan rumahnya. Meninggalkan ibunya.
Tak berapa lama, mobil sudah memasuki bandara melalui gerbang khusus. Orang kaya seperti Om Koboi tentu saja memiliki kuasa yang cukup mumpuni di kota ini.
Ketika kendaraan roda empat itu berhenti, lelaki muda itu langsung keluar dari mobil. Diikuti oleh sopirnya. Si sopir langsung membawa Dias keluar yang kini sudah tampak menurut. Tak ada perlawanan lagi, tak ada air mata lagi.
"Tuan!" Lelaki muda itu menyapa lelaki tua yang tak lain tak bukan adalah Om Koboi. Sudah bisa dipastikan bahwa lelaki muda tadi bukanlah putra dari Badjingan Tua itu.
Om Koboi mengangguk, lalu memberi kode dengan dagu agar anak buahnya membawa Dias masuk ke dalam jet pribadi yang pintunya sudah terbuka lebar.
Satu persatu dari mereka memasuki pesawat, termasuk lelaki muda tadi.
Dias sudah duduk di kursinya. Pandangannya tampak kosong. Kedua matanya hanya berkaca-kaca, namun tak ada sedikit pun air mata yang jatuh membasahi pipi.
"Birma, hubungi Tuan Morang!" titah Om Koboi yang sudah duduk nyaman di kursinya.
Lelaki muda yang bernama Birma itu mengangguk, lalu menarik sebuah iPad yang sebelumnya ia letakkan di atas meja.
Ibu ... selamat tinggal, rintih Dias di dalam hati.
__ADS_1