
Bari yang akan dimasukkan ke dalam sel tahanan, tak juga melawan atau pun berontak. Ekspresi wajahnya masih tampak tenang setengah air di danau tiga warna. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pemuda brewok itu. Raut wajahnya sangat sulit ditebak.
"Sudah aman?" tanya Prima pada Giandra ketika dirinya tiba di halaman kantor.
"Siap sudah, Ndan." Giandra menjawab dengan sigap.
"Bagus, apa Tegar sudah kembali?" tanya Prima lagi seraya melangkah melewati lorong ruang tahanan.
"Siap, belum, Ndan."
Prima hanya menganggukkan kepala setelah mendengar jawaban Giandra. Keduanya sudah tiba di depan sel tahanan di mana ada beberapa orang yang berada di dalamnya termasuk Bari.
"Hei, Pencuri!"
Prima sengaja memanggil Bari dengan sebutan itu karena pemuda brewok tersebut masih asik menundukkan pandangan. Sementara tahanan yang lainnya tampak melengak setelah menyadari kehadiran Prima.
Pemuda yang bernama asli Reyden Elbarak itu melirik sekilas ke arah perwira polisi yang tak lain dan tak bukan adalah kakaknya Elmina. Senyuman tipis terangkat di kedua sudut bibirnya karena mendengar sebutan PENCURI yang disematkan untuknya.
"Ikut aku!" titahnya pada Bari, lalu menyuruh Giandra membuka pintu sel.
Polisi muda itu langsung melakukan perintah atasannya, lalu membawa Bari keluar.
Setelah mengunci kembali pintunya, mereka bertiga langsung berjalan melewati lorong, lalu berbelok menuju sebuah ruangan yang bertuliskan ruang interogasi.
Bari sudah duduk di sebuah kursi yang di mana ada meja persegi panjang di depannya. Kedua tangannya masih diborgol.
"Tinggalkan kami berdua!" titah Prima pada Giandra.
"Siap, Ndan." Giandra patuh, lali melangkah keluar setelah menutup kembali pintunya.
Sebelum memulai percakapan, Prima masih menatap tahanannya itu dari atas sampai bawah. Ya, sampai bawah.
Lumayan tampan, komentarnya di dalam hati. Pantas saja Elmina bisa jatuh hati.
__ADS_1
Namun, ia masih tak habis pikir bagaimana bisa adiknya itu jatuh cinta kepada seseorang kriminal?
"Di mana Samudera Birunya?" tanya Prima yang sukses membuat Bari tersenyum enteng.
Lagi-lagi Samudera Biru, cicit pemuda itu dalam hati.
Karena melihat Bari yang masih bersikap santai seperti di pantai, akhirnya Prima menggebrak meja dan menajamkan pandangannya ke arah pemuda itu. Tubuhnya sedikit membungkuk. Napasnya pun mulai memburu. Amarah di dalam diri Prima mulai meluap tatkala pemuda di hadapannya tak juga angkat bicara.
"Aku bisa memotong jari-jarimu jika kau tak bisa bekerjasama!" ancam perwira muda itu.
Bari kembali tersenyum enteng. Ternyata Elmina dan saudaranya sama-sama suka meledak-ledak.
Bagaimana tidak? Sudah berbulan-bulan pemuda brewok itu menjadi buronannya. Setelah berhadapan seperti ini malah tidak mau berbicara. Prima harus bisa menarik semua bukti atas perbuatan kriminal yang sudah dilakukan oleh Bari, jika tidak, maka usahanya hanya akan sia-sia.
"Sekali lagi kutanya, di mana kau simpan Samudera Birunya?" bentak Prima dengan mencengkeram rahang Bari.
Bisa Bari rasakan, napas hangat perwira muda itu dengan ganas membentur wajahnya.
"Samudera Biru tidak pernah dicuri," ucap Bari. "Jadi, atas dasar apa kalian ingin memenjarakanku?" tantang Bari.
"Maksudmu?" Dahi Prima berkerut dalam. Butuh pemahaman ekstra untuk memahami kalimat tahanan cerdik seperti Bari.
"Samudera Biru masih aman di tempatnya Pak Polisi." Kembali, ucapan Bari terdengar tidak masuk akal di telinga Prima. Ingin sekali rasanya ia menampar mulut pemuda itu jika berani berbicara omong kosong.
"Dia tidak berbohong, Prima."
Tiba-tiba suara seseorang terdengar di telinga keduanya. Baik Prima maupun Bari, mereka sama-sama menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat seorang pria paruh baya--jenderal polisi bintang dua--memasuki ruangan setelah menutup kembali pintunya.
Pak Sanjaya ... dengan langkah tegapnya berjalan mendekati putranya.
"Dia orang kita, Prima." Ucapan lelaki yang merupakan ayahnya itu sukses membuat Prima membeku di tempatnya.
__ADS_1
Bersamaan dengan hal itu, Bari pun tersenyum penuh kemenangan. Pantas saja, sejak awal penangkapan pemuda itu tidak terlihat gelisah sama sekali. Ternyata, ada fakta tersembunyi selama ini.
Ya, Pak Sanjaya sebenarnya merupakan sahabat dari almarhum ayah Bari. Semua informasi tentang usaha ilegal milik Om Koboi yang dulu pernah dibocorkan oleh Aang Permana, semuanya ditampung oleh Pak Sanjaya.
Namun, sepuluh tahun yang lalu, Pak Sanjaya belum memiliki kuasa mumpuni untuk memenjarakan penjahat level sultan seperti Om Koboi. Terlalu banyak pihak yang melindungi si Tua Bangka itu, hingga saat ini.
Itulah sebabnya, Pak Sanjaya menyetujui rencana Bari yang ingin membalas dendam atas kematian ayahnya, serta merebut adiknya kembali dari tangan Om Koboi.
Tujuan Bari datang ke kota juga atas permintaan dari Pak Sanjaya. Namun, misi yang diberikannya pada Bari merupakan misi rahasia yang pada dasarkan pemuda itu juga menginginkannya. Menginginkan perlindungan hukum atas semua tindakan yang mungkin akan mencemarkan nama baiknya.
"Pa, papa pasti bercanda, 'kan?" Prima tampak tersenyum kecut. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya akan mengatakan kebenaran itu ketika dirinya sudah berhasil meringkus buronannya selama ini.
"Papa sendiri yang memberinya mandat, Prima. Mengenai Samudera Biru, barang itu sudah aman di museum. Sebelum pergi menyelamatkan Elmina, Reyden terlebih dahulu menemui papa," ucap Pak Sanjaya seraya menepuk sebelah pundak putranya.
Prima hanya geleng-geleng kepala tak percaya. "Jadi, semua itu rencana papa?"
"Hanya Reyden yang bisa melakukannya, Prima. Sebagai aparat negara kita tidak akan bisa bertindak semena-mena." Pak Sanjaya menatap kedua manik mata putranya lekat-lekat.
Awalnya Prima tampak kecewa dengan keputusan ayahnya, namun setelah mendengar penjelasan itu, barulah ia sadar.
"Mengenai kasus pembunuhan Bandi Simanungkalit, itu bukan Reyden pelakunya. Dia hanya melindungi diri dari tembakan anak buah si Koboi. Di mana saat itu ia sedang berbicara dengan Bandi untuk menanyakan keberadaan penjahat tua itu," jelas Pak Sanjaya kemudian.
Kebenaran tentang semua tuduhan yang ditujukan pada Bari, memang sudah dikantongi oleh Pak Sanjaya. Namun, beliau hanya berpura-pura tidak mengetahuinya, sampai misi pelenyapan Om Koboi tercapai. Dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkap kebenaran, karena memang kasus Reyden sudah dilimpahkan pada Prima untuk menanganinya.
Melihat putranya yang masih bergeming, Pak Sanjaya berjalan perlahan mendekati Bari, lalu membuka borgol yang menjerat kedua pergelangan tangan pemuda itu.
"Misi kita sudah selesai, Rey," ucapnya pada Bari.
Pemuda brewok itu bangkit dari kursi, lalu memeluk Pak Sanjaya.
"Terima kasih atas semua bantuan Om selama ini." Kedua bola mata Bari tampak memerah. Haru biru seketika menghantam rongga dadanya tatkala mengingat sosok sang ayah, yang jika masih hidup, mungkin akan seumuran Pak Sanjaya.
"Aang pasti bangga mempunyai anak sepertimu," tutur Pak Sanjaya yang mengerti akan perasaan pemuda brewok itu. "Mulai saat ini, kukembalikan identitas aslimu," lanjut pria paruh baya itu seraya melepaskan pelukan. Kedua bahu Bari dipegangnya dengan erat.
__ADS_1
"Reyden Elbarak!" seru Pak Sanjaya seraya tersenyum lebar. "Nikmatilah hidupmu, Nak."