Buronan Tampan

Buronan Tampan
Siapa Tuan Morang?


__ADS_3

Sakti menautkan kedua lengannya di depan dada, sebelah telapak tangan menanjak ke atas--mengusap kasar hidung dan bibirnya.


Sejak masuk ke dalam ruang perawatan, pria berkacamata itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Pemandangan di hadapannya cukup membuat hatinya ikut berdesir ngilu. Sahabat kecilnya kini sedang tampak membersihkan tubuh sang ibu yang terbaring di atas brankar.


Tubuh lemah Elita bukannya mati rasa atau pun mati suri. Dia sadar diri. Hanya saja, ia tak mampu membuka mata dan melihat dunia yang sudah bagaikan gurun pasir--gersang dalam pandangan. Semangat hidupnya telah direnggut dengan paksa. Trauma berat sekaligus merasa kehilangan sudah pasti menjadi penyebab terpuruknya diri.


Bahkan kehadiran putra sulungnya pun tak bisa mengisi kekosongan jiwa. Wanita paruh baya itu kini harus menanggung beban berat di sisa-sisa hidupnya yang ia anggap telah berakhir saat sang suami pergi untuk selama-lamanya, dan sang putri dibawa pergi entah kemana.


Akibat tidak mau menampakkan kepedihan itu pada sang putra, Elita mampu berpalung duka seorang diri. Sejak tragedi menyedihkan yang menimpa keluarga kecilnya, wanita itu tak pernah terlihat menangis, atau pun mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan hal tersebut.


Bari yang mengira bahwa sang ibu sudah mengikhlaskan kepergian ayahnya, beranggapan bahwa semua baik-baik saja. Dan keadaan itu berlangsung selama dua tahun setelah kejadian.


Hingga saat usia Bari menginjak tujuh belas, Elita mulai menampakkan gelagat tidak biasa. Ia sering tiba-tiba histeris tanpa sebab, kemudian tiba-tiba emosinya berubah ceria dalam sekejap. Tentu saja, hal tersebut membuat Bari memahami sesuatu. Ia adalah siswa terbaik di sekolahnya, sudah pasti ia merupakan anak yang cerdas.


Setelah berkonsultasi dengan dokter yang ada di desa mereka, akhirnya Bari memutuskan untuk membawa ibunya ke kota bermodalkan uang tabungan sang ayah yang memang selama ini mereka simpan.


Berharap sang ibu bisa kembali hidup normal setelah ia membawanya jauh dari desa, namun prediksi Bari meleset jauh. Elita tak menampakkan perkembangan baik sama sekali. Kondisinya stuck pada kebisuan dan kehampaan.


"Kau harus menemukan adikmu," ucap Sakti setelah beberapa jenak bergeming.


Bari sudah menceritakan semuanya. Ia yakin dengan begitu, akan lebih mudah untuk menemukan keberadaan Dias.


"Obat ibumu hanyalah Dias, Rey. Kau temukan Dias, maka ibumu akan sembuh seperti sedia kala." Sakti duduk antusias di samping Bari, membuat pemuda itu melirik sekilas dengan sebelah alis terangkat ke atas.


"Itu yang sedang kulakukan," ucap pemuda brewok itu yang kini kembali membersihkan lengan ibunya dengan handuk yang sudah direndam dengan air hangat.


"Ak--"


Belum sempat Sakti mengutarakan kalimat, ponselnya terdengar berdering, menandakan sebuah panggilan masuk.


"Sebentar, ya." Sakti permisi menjauh, lalu menerima panggilan.


Sementara Bari sudah menyelesaikan rutinitasnya. Ia mulai membereskan semua peralatan mandi sang ibu. Namun, sesekali pandangannya melirik ke arah Sakti yang tampak sedang berbincang.


"Oke, aku akan menyusul kalian." Sakti tampak melihat penunjuk waktu yang ada di pergelangan tangannya. "Tiga puluh menit lagi aku sampai di sana," ucap pria berkacamata itu seraya menganggukkan kepala beberapa kali.

__ADS_1


Bari kembali duduk di samping brankar sang ibu, lalu menggenggam tangannya.


"Aku pamit sebentar ya, Bu. Besok adalah panen besar-besaran, jadi aku harus berada di sana," tuturnya pada sang ibu. Ditariknya telapak tangan pucat itu ke depan wajah, lalu melabuhkan sebuah kecupan dalam pada punggung tangan sang ibu.


"Setelah itu aku akan kembali mencari Dias." Kecupannya berakhir pada telapak tangan yang sudah merawatnya sejak kecil itu. Bari memang terbiasa mengajak ibunya berbicara. Walaupun sang ibu tak merespon, namun ia yakin bahwa ibunya mendengar apa pun yang ia katanyakan.


Sakti tampak sudah selesai dengan gawainya, lalu kembali mendekati Bari.


"Aku harus kembali ke bandara, maaf kalau aku tidak bisa menemanimu malam ini. Ada pekerjaan mendadak." Sakti menepuk bahu Bari.


Pemuda brewok itu tampak mengernyit. "Kau bekerja di bandara?" tanyanya dengan nada tak percaya.


Sakti mengangguk.


"Bagian petugas cargo?" celetuk Bari seenak lidah.


Sakti langsung menoyor kepala sahabatnya itu tanpa rasa berdosa atau pun sungkan. "Sialan kau!" umpatnya di sela-sela tawa. "Apa tampangku hanya cocok sebagai petugas cargo?"


Bari tak menjawab. Dia hanya mengedikkan kedua bahu.


"Kau mengusirku?" Sakti tidak terima.


"Lah, baper? Bukannya tadi kau yang bilang akan pergi?" ucap Bari enteng.


"Ah, benar juga."


Sakti lantas pamit dan berlalu dari sana dalam sekejap mata.


***


"Apa yang dikatakan oleh Tuan Morang?" Om Koboi bertanya setelah Birma memutuskan panggilan. Sedari tadi ia hanya mendengarkan percakapan sepihak lelaki muda itu.


Siapa Tuan Morang? cicit Dias dalam hatinya.


"Tiga puluh menit lagi dia akan menyusul, Tuan." Birma menjawab seraya menatap Om Koboi.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebaiknya kita berangkat terlebih dahulu." Om Koboi membuka topi andalannya, lalu meletakkan benda bundar itu di atas meja tepat di hadapan. Perlahan kepalanya mendongak--bertumpu pada sandaran kursi. Ia memejamkan kedua mata.


Lelaki tua itu terdengar menghela napas panjang. Sepertinya ia merasa bahwa rencananya kali ini akan berjalan dengan mulus.


Ia sendiri tidak menyangka bahwa Pak Sanjaya tidak banyak bertanya tadi. Setelah memerintahkan anak buahnya untuk menangkap ular peliharaan Bari, jenderal polisi bintang dua itu langsung meminta Prima dan para anggotanya untuk meninggalkan hotel.


Entah, apa yang ingin mereka lakukan, Om Koboi tidak ingin mengetahuinya. Fokusnya hanyalah pada rencana untuk membawa Dias pergi jauh dari negara ini. Ia sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini, maka lelaki tua itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.


Birma bangkit dari duduknya setelah melirik sekilas ke arah seorang gadis remaja yang duduk tepat di hadapannya.


Dias tampak bergeming. Tatapan kosongnya tertuju ke luar jendela pesawat. Entah, apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, Birma pun tidak tahu. Namun, sebuah keanehan mulai disadarinya. Sedari keluar dari mobil tadi, gadis itu tak banyak berontak. Tak banyak meronta. Tidak seperti sebelum-sebelumnya. Membuat Birma penasaran.


Saat akan melangkahkan kaki, Birma sempat menyenggol kulit lengan gadis itu. Sangatlah dingin.


"Apa Tuan membutuhkan sesuatu?" Seorang wanita berseragam pramugari mendekati Birma ketika melihat lelaki muda itu berjalan ke arah pantry yang tersedia di dalam pesawat.


"Aku ingin membuat kopi sendiri, terima kasih." Birma merespon tanpa menatap wajah wanita itu, lalu melanjutkan langkah.


Lelaki itu benar-benar membuat kopi dengan tangannya sendiri. Tadi malam ia tidak bisa tidur karena banyaknya pekerjaan. Jadi, ia merasa bahwa tubuhnya sedikit kurang prima hari ini. Maka, kopi adalah minuman terbaik sebagai pilihan.


Namun anehnya, kini ada dua gelas kopi dalam genggaman lelaki muda itu. Apakah ia berniat mengusik waktu istirahat sang atasan, lalu mengajaknya minum kopi bersama? Sepertinya tidak.


Tak berapa lama kemudian ....


"Minumlah!" Birma menyodorkan gelas berisi kopi itu ke hadapan Dias.


Gadis remaja berusia lima belas tahun itu mengerjap, lalu merotasikan pandangan. Di depannya, lelaki muda berwajah dingin tadi tampak menatapnya lekat.


Dias tak langsung menyambut uluran tangan Birma. Gadis itu masih menimbang, haruskah ia terima gelas yang berisi kopi itu?


"Ini bukan racun kok," kata Birma seolah bisa membaca pikiran Dias.


Dias mengulurkan tangannya dengan ragu. Kini, gelas kertas itu berpindah dalam genggamannya.


"Te--terima kasih, Tuan." Dias menundukkan kepalanya sedikit saat mengucapkan kalimat tersebut.

__ADS_1


"Namaku Birma dan Aku bukan seorang Tuan Muda," ucap lelaki itu, kemudian menyesap manisnya minuman tersebut seraya menatap ke arah Dias.


__ADS_2