
TAP
TAP
TAP
CEKLEK
Tuan Morang membuka pintu kamar dengan perlahan khawatir gadis yang berada di dalamnya sedang terlelap.
Kedua netra bergulir ke seluruh ruangan, hingga pandangannya berhenti pada tempat tidur yang di atasnya terdapat seorang gadis remaja.
Kedua kaki jangkungnya melangkah pasti mendekati ranjang, lalu berhenti di samping kasur berukuran besar itu.
Pandangannya sontak terkunci pada gadis berparas ayu dan berbibir imut di hadapan. Gadis yang baru saja ia ambil alih hak kepemilikannya. Walaupun terkesan kasar, namun semua itu terpaksa ia lakukan.
Ia sudah berusaha menemukan gadis yang tepat di negaranya, namun tidak juga ditemukan. Setelah melihat foto Dias yang dikirim oleh Om Koboi, hatinya langsung berkata cocok. Apalagi setelah mengetahui bahwa status gadis itu masih segelan.
"Daru!"
"Ya, Tuan?"
"Sekarang kau hubungi Sakti, besok pagi-pagi buta kita akan membawa gadis ini ke pulau," kata Tuan Morang pada asistennya.
Pria yang bernama Daru itu mengangguk, lalu pamit keluar kamar untuk menghubungi Sakti yang bertugas sebagai pilot jet pribadi Tuan Morang.
Sepeninggalan Daru, Tuan Morang duduk di tepian ranjang. Ia terus memandang wajah gadis yang begitu menarik perhatiannya. Ternyata setelah dipandang dengan jarak dekat, kecantikan gadis itu sungguh di luar dugaan. Parasnya sangat membius dan sukses membuat jantungnya berdenyut di luar kebiasaan.
"Aku tahu, kau masih di bawah umur, itulah sebabnya aku harus membawamu jauh dari kota ini," ucapnya seraya tersenyum tipis.
Kacamata bening yang ia kenakan ditarik dari posisi awal. Ternyata hanya kacamata anti radiasi yang sering ia gunakan saat bekerja di depan laptop.
"Tuan!" Daru kembali memasuki kamar dan berdiri agak jauh dari tempat tidur.
"Katakan!" Tuan Morang merespon tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah Dias.
"Sakti mengatakan bahwa ... menurut perkiraan BMKG kemungkinan akan turun hujan deras di pagi buta. Jadi, akan lebih baik jika kita berangkat setelah cuaca kembali membaik," lapor Daru panjang lebar.
Tuan Morang terdengar menghela napas dalam. "Baiklah."
__ADS_1
Sebagai Tuan Muda yang baik hati dan tidak sombong serta songong, Tuan Morang memang dikenal berbudi pekerti baik. Daru yang sudah lama menjadi asistennya saja tidak pernah mendapatkan amukan darinya.
"Tapi, Tuan ...." Daru tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ada apa lagi?" Tuan Morang menoleh ke samping tanpa berbalik badan.
"Em ... Nyonya akan tiba dari Singapura sekitar pukul delapan pagi," lanjut Daru.
"Kalau begitu aku akan menemuinya terlebih dahulu," tutur Tuan Morang dengan tatapan yang kembali berlabuh pada wajah Dias.
Keesokan harinya.
Sesuai prediksi BMKG setempat, hujan deras disertai angin kencang mengguyur kota dan seisinya. Tuan Morang yang tidak tidur sama sekali hanya menatap titik-titik air hujan yang menempel di balik kaca jendela kamarnya.
Tentu saja dia tidak bisa tidur. Pagi ini istrinya tiba dari Singapura dalam rangka perjalanan dinas. Mereka sudah menikah selama delapan tahun dan belum memiliki keturunan.
TOK TOK TOK
Tiba-tiba pintu diketuk dari luar. Tuan Morang mengerjap, lalu berbalik badan bersamaan dengan daun pintu yang terbuka.
"Sayang!" seru sang istri dengan wajah semringah.
"Aku sangat merindukanmu," ucap wanita berwajah lancip dan berhidung mancung itu. Seketika tubuhnya tenggelam di dalam dada bidang sang suami.
"Aku juga," balas Tuan Morang. Kecupan bertubi-tubi didaratkannya pada puncak kepala sang istri.
Beberapa detik berlalu dengan adegan mesra. Sepasang kekasih halal itu menyalurkan kerinduan mereka dalam bentuk sentuhan. Keduanya sudah berpisah jarak selama satu Minggu. Tentu saja, itu bukanlah waktu yang sebentar. Hingga sesuatu tiba-tiba berkelebat di benak sang istri. Lalu, ia menarik diri dari sang suami.
"Apa kau sudah menemukannya?" tanyanya dengan kedua mata membola sempurna.
Sang suami yang mengerti kemana arah pembicaraan sang istri pun mengangguk tegas.
"Dimana dia? Aku ingin menemuinya." Wanita itu tampak celingukan dengan wajah berbinar. Ia sendiri yang meminta sang suami untuk menemukan seorang gadis yang bisa melahirkan seorang anak untuk mereka.
Tuan Morang yang sudah merasakan sebuah gejolak di dalam dirinya, lantas menarik kembali tubuh sang istri ke dalam pelukan.
"Nanti aku akan membawamu untuk menemuinya, sekarang waktumu milikku," bisiknya di telinga sang istri. Membuat wanita itu menggeliat karena merasa geli.
Tanpa menunggu respon lagi, lelaki itu langsung menggendong istrinya dalam sekali hentakan. Membawanya terbang ke nirwana dan juga tenggelam ke dalam asmaraloka.
__ADS_1
***
Bari baru saja tiba di kebun buah hidroponik miliknya. Hari ini adalah panen besar-besaran yang dilakukan oleh seluruh karyawan perkebunan.
Ya, pemuda brewok itu bukan hanya seorang buronan tanpa modal. Namun, dia juga merupakan seorang pengusaha yang tak terlihat di pasaran. Kinerjanya tak pernah dipertontonkan. Bahkan kekayaannya juga sudah mencapai level yang bisa dilabeli dengan sebutan sultan.
Tak hanya itu saja, Bari juga memiliki beberapa pabrik pengolahan hasil panen dari kebunnya sendiri. Hasil produksinya berbentuk minuman kotak dan camilan unik.
Namun, pemuda brewok itu tak ingin dunia tahu tentang jati dirinya. Fokus hidupnya hanyalah membahagiakan sang ibu dan menemukan sang adik. Sebelum dua tujuan hidup itu diraihnya, maka dia tidak akan berhenti bersembunyi.
"Pak Reyden!" Seorang lelaki paruh baya yang merupakan pamannya sendiri, berjalan cepat ke arahnya yang baru saja turun dari mobil Jeep berwarna hijau lumut.
"Sudah berapa kali kukatakan, paman tidak perlu memanggilku seformal itu." Bari kembali memperingati. Pasalnya sang paman selalu saja menyebutnya dengan sebutan Bapak.
"Kita sedang berada di lingkungan kerja, Pak. Sudah sepatutnya saya memanggil Anda dengan sebutan itu," ucap pamannya seraya tersenyum.
"Baiklah, Paman." Bari memutar pandangan ke sembarang arah. "Apakah panennya sudah dimulai?" tanyanya seraya terus menyisir pandangan ke sekitar. Di sekelilingnya terbentang kebun buah Melon Kingshow seluas mata memandang.
"Masih menunggu arahan dari Bapak," jawab pamannya. "Jika Bapak ingin ikut serta, maka kami akan meminta para pekerja di kebun A untuk berpindah tempat."
Berita di media yang menyatakan bahwa keponakannya merupakan seorang buronan bukan lagi sebuah rahasia. Paman Arjun, begitu lelaki paruh baya itu sering dipanggil, ia sudah tahu apa yang sedang berusaha dicapai oleh sang keponakan.
Jadi, sudah menjadi kewajibannya, melindungi Bari dari pandangan semua karyawan yang kemungkinan besar akan melaporkan keberadaan pemuda itu pada pihak kepolisian. Apalagi selama ini, para pekerja tidak mengetahui siapa bos besar mereka yang sebenarnya, karena dari awal perkebunan hidroponik dan pabrik miliknya dikelola oleh Paman Arjun. Bari hanya sesekali melakukan pengecekan di saat jam kerja sudah berakhir, atau pun di malam hari.
"Tidak perlu, Paman. Aku akan mengawasi mereka dari menara saja," ucap Bari. Lalu, pemuda brewok itu melangkah menuju menara yang terdapat di samping ruang kerja Paman Arjun.
Menara itu sengaja dibuat untuk mengawasi pergerakan seluruh karyawan dari kejauhan. Tujuan awal pembangunan menara itu pun memang untuk dirinya sendiri.
"Apa perlu saya antar, Pak?" tanya Paman Arjun setengah berteriak.
"Tidak perlu, Paman. Lanjutkan saja pekerjaan Paman," jawab Bari tak kalah berteriaknya.
Ia terus berlari kecil menaiki anak tangga menuju puncak menara. Sesampainya di atas, ia langsung berdiri di tepian seraya menghirup udara segar.
Udara di daerah perbukitan memang sangat menyegarkan, apalagi di pagi hari. Udaranya sangat sejuk.
Bari tampak menggunakan teropong. Mengarahkannya ke kanan dan ke kiri dengan intensitas pergerakan yang cukup lamban. Hingga akhirnya sebuah getaran di ponsel membuatnya berhenti sejenak, lalu merogoh saku celananya.
"Sakti?" gumamnya seraya berkerut kening setelah melihat nama yang tertera pada layar.
__ADS_1