Buronan Tampan

Buronan Tampan
Misi Penyelamatan


__ADS_3

Setelah memutus panggilan, Bari kembali ke meja makan. Dengan tampang sok santainya dia melanjutkan santapan tanpa memedulikan tatapan menyelidik dari ibu dan adiknya.


Pemuda itu berdeham di sela-sela kunyahan, lalu menenggak segelas air putih yang memang tersedia di dekat piringnya.


"Bu, aku ada urusan di luar. Mungkin akan pulang larut malam. Jadi, tidak perlu menungguku," ucap Bari, lalu beranjak dari kursinya. Tungkainya langsung terayun menuju lantai dua, di mana kamarnya berada.


Dias dan Elita tampak saling pandang.


Selang beberapa saat, seseorang terdengar mengetuk pintu kamar. Bari lekas membereskan persiapan, lalu membuka daun pintu dengan perlahan.


"Ibu?" Pemuda itu berkerut dahi ketika melihat sang ibu berdiri di depan kamarnya.


"Masuklah," kata Bari seraya membuka daun pintunya lebar-lebar.


Wanita paruh baya itu tersenyum, lalu memasuki kamar putranya yang didominasi oleh warna abu-abu muda. Tidak banyak furnitur di dalam ruangan itu, hanya ada tempat tidur dan satu meja di sampingnya.


Elita membalik badan ketika Bari menutup kembali pintunya.


"Sebenarnya ada apa, Nak?"


Tentu saja, sebagai seorang ibu Elita bisa merasakan sesuatu yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain. Apalagi jika hal itu berkaitan langsung dengan anak-anaknya.


Bari yang mendengar pertanyaan itu, lantas mendekati sang ibu dan mengajaknya duduk di tepian kasur.


"Bu."


Diraihnya telapak tangan yang sudah tak lagi kencang kulitnya itu, lalu menggenggamnya dengan lembut.


"Aku harus melakukan apa yang harus kulakukan sejak lama," tuturnya dengan nada pelan.


Elita mengerjap. Kedua alisnya tampak bertautan.


"Sekarang Dias sudah bersama kita, Bu. Jadi, tinggal satu janji lagi yang belum kutepati," lanjut Bari seraya menatap lekat kedua manik mata ibunya.


Elita langsung merasakan kedua bola matanya memanas. Tentu saja, ia mengerti akan maksud dari perkataan putranya.


"Restui aku, Bu." Setelah mengatakan kalimat itu, Bari langsung menundukkan kepala. Mencium punggung tangan Elita dengan sayang.


Wanita itu tidak bisa lagi menahan air matanya. Cairan bening yang menggenangi kelopak mata tuanya, kini tercurah bak aliran air terjun.


"Restu ibu selalu bersamamu, Nak. Apa pun yang kau lakukan ibu akan selalu mendo'akanmu," tutur Elita seraya mengelus sayang rambut Bari.


Pemuda brewok itu mengangkat kepalanya, lalu menyeka air mata yang membasahi pipinya Elita.


"Sekarang bukan waktunya lagi untuk bersedih, Bu. Air mata ibu sangat berharga." Kembali dikecupnya punggung tangan yang hampir keriput itu, lalu bangkit dari peraduan.


"Bi Hasni sudah menyiapkan semua perlengkapan ibu dan Dias."


Elita ikut bangkit seraya mengangguk.


"Aku pamit dulu, Bu." Bari mengecup kening Elita, lalu keluar dari kamar.


***

__ADS_1


"Buka!"


TOK TOK TOK


"Buka pintunya!"


TOK TOK TOK


Elmina menggedor pintu dengan membabi buta. Walaupun usahanya hanya akan sia-sia, namun ia tak sedikit pun merasa berputus asa.


Napasnya tersengal-sengal, sementara kakinya masih kuat mengayunkan tendangan.


BUGH


Tendangan super kuatnya mendarat di daun pintu yang malang.


"Buka!"


Sekali lagi, ia meneriaki siapa pun yang berada di luar.


"Simpan saja energimu untuk yang lainnya, Nona!" Tiba-tiba terdengar gelombang suara yang berasal dari belakangnya.


Elmina terperanjat. Tubuhnya refleks berbalik arah. Pasalnya sedari tadi ia hanya fokus pada daun pintu ruangan, sehingga lupa untuk memerhatikan apa saja dan siapa saja yang berada di dalamnya.


Lelaki tua bertopi koboi itu tersenyum miring seraya memandangi Elmina dengan tatapan lapar.


Hal itu benar-benar membuat Elmina merasa jijik.


Elmina sontak berdecih seraya menatap tajam ke arah penjahat tua itu.


"Cih, jangan mimpi, Tua Bangka!" sembur gadis itu dengan amarah yang kentara. Bukan Elmina namanya jika tidak meledak-ledak.


Om Koboi menarik cerutunya dari bibir, lalu meletakkannya di atas meja. Sofa yang tadi diduduki, kini kembali ke bentuk semula, karena lelaki itu mulai berdiri. Sebelah tangannya diselipkan ke dalam saku celana. Seraya menatap gemas ke arah gadis cantik di depannya, Om Koboi sempat menelan saliva dengan rakus.


Perlahan, kedua kaki jangkungnya terayun mendekati Elmina.


Tubuh gadis itu terpukul mundur hingga menempel lekat pada daun pintu. Ekspresinya mulai tergagap, karena sebenarnya keberaniannya tak sebesar rasa takutnya.


"Gadis cantik," gumam lelaki tua itu ketika tubuhnya sudah berdiri di depan Elmina. "Rambut panjang bergelombang." Sebelah tangannya mengurai sebagian rambut Elmina. "Dan ... wangi," ucapnya seraya mencium aroma rambut hitam pekat milik gadis itu.


Elmina memeluk erat tubuhnya seraya memejamkan kedua mata. Sembari berdo'a di dalam hati agar kali ini Dewi Fortuna akan berpihak padanya.


Reyden kau di mana?


DEG


Elmina seketika membuka mata. Kenapa malah nama Reyden yang terpekik di dalam hatinya?


Sangking bingungnya, ia bahkan tak menyadari bahwa tangan Om Koboi sudah merayap kemana-mana.


"Hah?"


Gadis itu tersentak ketika merasakan sentuhan nakal di telinganya.

__ADS_1


"Pergi!" pekiknya seraya mendorong tubuh Om Koboi sekuat tenaga.


Lelaki tua itu dibuat terhuyung-huyung, namun masih bisa menahan bobot tubuhnya. Sebelah ibu jari digosokkannya ke sudut bibir seraya memandang Elmina dengan tatapan sensual.


Tanpa berpikir panjang, Om Koboi langsung berhambur ke arah Elmina. Namun, dengan cepat gadis itu menghindar, sehingga membuat lelaki tua itu menabrak daun pintu dengan kasar.


BRUK


Bersamaan dengan hal itu, Bari tampak sedang mengayunkan tendangannya dari luar ruangan.


BRUK BRUK BRUK


Tubuh Om Koboi tersungkur bersamaan dengan pecahan pintu kayu itu.


"Rey--" Elmina berhambur ke arah Bari. Sangking takutnya gadis itu sampai lupa jika tubuhnya menubruk dada bidang pemuda tersebut.


Bari tampak membeku. Kedua tangannya masih terjulur ke bawah. Ia ragu untuk membalas


Setelah beberapa detik, barulah Elmina sadar bahwa ia sudah memeluk tubuh pemuda brewok itu dengan sangat erat.


Perlahan lingkaran tangannya mengendur, lalu melepaskan diri sepenuhnya.


Elmina tampak salah tingkah. Namun, tubuhnya segera bersembunyi di belakang Bari, ketika mendengar Om Koboi mulai bangkit.


"Si-alan kau!" Lelaki tua itu mengumpat dengan geram. Seraya membersihkan kotoran kayu dari jasnya, ia terus menatap garang ke arah Bari.


"Penjaga?" teriaknya dengan wajah sombong.


Namun, sungguh aneh, tidak ada satu anak buahnya yang muncul.


"Hei, Penjaga! Apa kalian tuli?" pekiknya lagi.


Namun, tetap saja tidak ada yang datang ke ruangan itu.


Sementara di luar markas, tubuh semua orang-orang Om Koboi sudah tergeletak di tanah. Tidak hanya itu saja, di setiap lorong menuju ruangan di mana Elmina di sekap pun banyak tubuh-tubuh tak sadarkan diri karena ulah buronan tampan itu. Entah, mereka semua benar-benar sudah mati, atau hanya pingsang saja.


"Penjaga!" Om Koboi masih membuang-buang waktunya. Padahal, ia sudah merasakan firasat buruk saat itu.


"Mau berteriak ribuan kali pun mereka tidak akan datang, karena aku sudah membuat mereka semua tenang di alam sana." Itu suara Bari.


Om Koboi melongo mendengar kalimat absurb itu. Mana mungkin pria di depannya ini bisa melumpuhkan semua anak buahnya tanpa berbekal senjata apa pun?


Melihat Om Koboi yang sudah seperti orang terkena serangan jantung, Bari memajukan langkahnya perlahan, hingga tubuhnya berdiri gagah di depan musuh bebuyutannya itu.


Kedua tangannya sudah mengepal erat. Urat-urat di kedua lengannya bahkan bermunculan seperti kabel-kabel listrik yang siap menyambarkan sengatannya.


GREP


Bari mencengkeram kerah jas lelaki tua itu.


Om Koboi tampak tergagap-gagap. Sekarang Bari baru tahu bahwa penjahat tua itu tidak ada apa-apanya tanpa bantuan dari semua anak buahnya.


"Sekarang giliranmu, Keparat Tua Sialan!"

__ADS_1


__ADS_2