Buronan Tampan

Buronan Tampan
Tuan Morang


__ADS_3

Dias mengulurkan tangannya dengan ragu. Kini, gelas kertas itu berpindah dalam genggamannya. Kedua matanya masih terlihat sendu, walaupun bibir memaksakan diri untuk mengukir senyum.


"Te--terima kasih, Tuan." Gadis itu menundukkan kepalanya sedikit saat mengucapkan kalimat tersebut.


"Namaku Birma dan Aku bukan seorang Tuan Muda," ucap lelaki itu, kemudian menyesap manisnya kopi buatannya seraya menatap ke arah Dias. "Jadi, berhentilah memanggilku dengan sebutan Tuan!" Birma memperingati dengan nada dinginnya.


Dias tak menyahut, kepalanya hanya mengangguk paham, lalu sedikit demi sedikit menikmati kopi buatan Birma.


Seandainya kakak masih hidup, mungkin dia sudah seumuran lelaki ini, batinnya meratap sedih.


Bola matanya kembali memanas. Dadanya bergemuruh seketika. Ternyata sesakit itu rasanya kehilangan orang yang disayangi. Sosok Reyden yang teramat penyayang ternyata masih tertanam apik di benaknya. Dias kembali membuang pandangan ke luar jendela.


Pesawat sudah mengudara jauh. Semakin jauh. Terus menjauh. Hingga akhirnya mereka tiba di bandara sebuah negara yang tidak Dias ketahui namanya.


Kedua tungkainya melangkah cepat menyesuaikan langkah orang-orang dewasa yang mengepung tubuhnya di kiri, kanan, depan, dan belakang. Tentu saja, Om Koboi berada pada posisi paling terdepan.


"Selamat datang, Tuan Koboi." Seorang pemuda seumuran Birma membungkuk hormat. "Sebentar lagi Tuan Morang juga akan tiba, saya ditugaskan untuk menyambut dan mengantar Anda ke hotel," jelas pemuda itu dengan wajah ramah.


Om Koboi mengangguk, lalu mengikuti langkah pemuda itu. Ia dan orang-orangnya memasuki dua buah mobil yang sudah disiapkan di lobi bandara.


"Birma, kau awasi gadis kecil itu!" titah Om Koboi yang menginginkan asisten barunya berada di dalam satu mobil dengan Dias.


"Siap, Tuan." Lelaki muda itu menanggapi seraya melakukan perintah atasannya.


Tanpa menunggu lama, dua buah kendaraan kembar bentuk dan warna itu melesat menuju hotel yang sudah direservasikan untuk rombongan Om Koboi.


Sesampainya di hotel, Dias keluar dari mobil bersamaan dengan Birma. Sebagaimana seorang adik yang menurut pada kakaknya, Dias tak sedikit pun berontak. Kali ini dia sudah pasrah dengan keadaan. Melawan pun tidak ada gunanya lagi. Ini tempat asing baginya.


"Mari, Tuan."


Pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah manajer dari hotel itu langsung membawa Om Koboi dan rombongannya masuk.


"Tuan Morang sudah mempersiapkan semuanya dengan baik, kalian bisa menikmati semua fasilitas yang ada di hotel ini. Silakan!"


Setelah mengantarkan rombongan Om Koboi memasuki kamar masing-masing. Manajer hotel itu langsung pamit undur diri.


Dias ditempatkan di kamar yang terletak tepat di samping Om Koboi. Sementara Birma menempati kamar di depannya. Namun, saat ini tentu saja lelaki itu ditugaskan untuk mengawasi Dias agar tidak melarikan diri. Dua orang lelaki bertubuh besar ditugaskan juga untuk berjaga di depan kamar gadis itu. Dan dua orang lagi di depan kamar Om Koboi.

__ADS_1


"Siapa Tuan Morang?" Akhirnya Dias tidak tahan untuk bertanya. Sedari tadi rasa penasaran terus mencekik diri sehingga mendorong lidah untuk berlisan.


Birma yang saat itu sedang sibuk dengan iPad di tangannya, mendadak menghentikan pekerjaan. Tanpa menoleh pada Dias yang duduk di atas tempat tidur, lelaki itu memberikan tanggapan, "Nanti kau juga akan tahu." Lalu kembali melanjutkan gawainya.


"Apa aku akan dijual pada Tuan Morang?" Pertanyaan Dias sukses membuat Birma menarik pandangan. Seraya berkerut kening, ia langsung menoleh pada gadis remaja yang saat ini masih duduk dengan memeluk lutut. Kedua telapak tangannya tampak bertautan akibat rasa takut yang menghantam diri.


"Kau masih di bawah umur, sebaiknya tidak usah bertanya yang macam-macam." Jawaban dingin Birma kembali membuat Dias bungkam.


Kenapa sikap lelaki di depannya ini bisa berubah-ubah? Terkadang hangat, terkadang dingin?


Semua orang menganggapku anak kecil, batin Dias seraya terus menunduk.


Kedua bola matanya kembali memanas dan digenangi air mata. Satu per satu air lukanya menetes membasahi lutut. Kedua tangannya tampak memilin kain celana yang ia kenakan.


Birma sempat melirik sekilas, lalu kembali fokus pada iPad-nya.


Siapa keluarga gadis ini? Kenapa mereka tidak bisa menemukan keberadaannya selama ini? batin Birma tak habis pikir.


Birma sudah mendengar sekilas cerita tentang Dias. Walaupun dirinya merupakan asisten dari Om Koboi, namun yang namanya manusia tetap ada sisi baiknya. Sebenarnya ada rasa iba di dalam hatinya tatkala mengingat sosok sang adik kandung yang berusia tidak jauh di bawah Dias.


Apalagi Birma adalah asisten baru yang belum lama bekerja dengan penjahat tua berkedok pengusaha itu. Tentu saja, hal seperti ini belum terbiasa ia temukan. Walaupun ia dituntut untuk melakukan apa pun yang diperintahkan oleh atasannya, namun hati kecilnya siapa yang tahu?


"Dimana mereka?"


Seorang laki-laki berwajah tampan, mengenakan setelan jas lengkap dengan dasinya, bertanya pada manajer hotel setelah dirinya melewati pintu lobi. Manajer hotel yang tadi menjemput Om Koboi dan rombongannya.


"Sudah di kamar masing-masing, Tuan."


"Bagus. Kabari lelaki tua itu jika aku menunggunya di ruangan."


Ya, laki-laki itu adalah Tuan Morang. Pemilik hotel tersebut.


Beberapa menit kemudian.


CEKLEK


"Tuan, Morang!" seru Om Koboi ketika dirinya memasuki ruangan diikuti oleh Birma di belakangnya.

__ADS_1


Laki-laki yang mengenakan kacamata bening itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis.


"Silakan duduk!" Sebelah tangan terulur ke depan--mengarah pada sofa yang terletak di depan meja kerjanya.


"Terima kasih," ucap Om Koboi seraya duduk pada sofa gandeng.


Sementara Tuan Morang memilih untuk duduk di sofa tunggal.


"Dimana gadis itu?" Tuan Morang langsung bertanya pada intinya.


Membuat Om Koboi terkekeh. "Ternyata Anda sudah tidak sabar untuk menikahinya, Tuan." Lelaki tua itu menegakkan tubuhnya.


Birma yang berdiri di samping sofa yang diduduki Om Koboi sontak berkerut dahi.


"Ada uang ada barang, Tuan Muda." Om Koboi berkata seraya mendekatkan diri pada Tuan Morang.


Lelaki itu tersenyum tipis, lalu menoleh pada asistennya. Tangannya terangkat--meminta sebuah cek yang sudah ia siapkan sebelumnya.


"Cukup?" Tuan Morang bertanya seraya meletakkan kertas berbentuk persegi panjang itu di atas meja--tepat di depan Om Koboi.


Lelaki Tua itu melengak. Kedua matanya tampak berbinar seolah berwarna hijau. Sangking bahagianya melihat jumlah fantastis yang tertera pada cek tersebut.


"Anda memang rekan bisnis yang sangat pengertian, Tuan Morang." Om Koboi menerima cek itu, lalu menyerahkannya pada Birma.


Asisten Om Koboi itu langsung menerima kertas itu tanpa membacanya.


"Mulai detik ini, gadis itu menjadi milik Anda. Selamat bersenang-senang, Tuan Muda."


Om Koboi bangkit dari peraduan.


"Kalau begitu saya pamit undur diri, terima kasih atas sambutan hangat dan jamuannya." Om Koboi mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


Tuan Morang tersenyum tipis, lalu menerima uluran tangan lelaki tua itu. "Sebaiknya Anda menginap, Tuan."


"Tidak, terima kasih. Urusan kita sudah selesai, aku harus segera kembali karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan di negaraku."


Tuan Morang mengangguk paham.

__ADS_1


Setelah itu Om Koboi dan rombongannya langsung meninggalkan hotel.


"Aku ingin melihat gadis itu," kata Tuan Morang, lalu melangkah keluar ruangan diekori oleh asistennya.


__ADS_2