
Di sebuah restoran cepat saji terbesar di ibu kota. Bari sudah memilih salah satu meja, lalu menarik kursinya. Perlahan ia duduk nyaman di sana, setelah meletakkan pesanannya di atas meja. Sebuah big burger lengkap dengan sayuran segar, ditambah dengan saos dan mayones melimpah serta segelas Coca cola kesukaannya tampak menggiurkan di depan mata.
Kali ini penampilan pemuda itu tampak berbeda dari biasanya. Rambutnya agak kriting dan panjang. Kemeja denim dan celana kain berwarna hitam menjadi pilihan outfit-nya. Tak lupa ujung kemejanya dimasukkan ke dalam celana, mirip abang-abang tukang galon. Ada tambahan satu aksesoris lagi yang membuat penampilannya semakin tersamarkan, kacamata bening dengan lensa bulat tebal.
Sambil melirik ke kiri dan kanan, ia mulai menikmati pesanannya. Satu gigitan dengan gaya makan lumayan rakus, membuat beberapa pengunjung menatap risih ke arahnya.
"Ehem ... ehem!"
Di sela-sela ritual pengurukan lambungnya, tiba-tiba seorang pria hampir setengah baya, mengenakan celana dan jaket jeans berwarna hitam, berdiri sambil berdeham di samping mejanya.
Bari mengerjap. Satu gigitan besar tampak menyumpal mulutnya yang menganga.
"Mr. B?" tanya pria itu seraya duduk di depan Bari. Pandangannya lurus ke arah pemuda itu yang kini tak tampak brewok sama sekali.
Dagunya tak setajam biasanya. Apa ia sedang menggunakan kulit tambahan sehingga wajahnya terlihat lebih gemuk?
Tanpa mengeluarkan suara, Bari mengangguk tipis seraya melirik pada beberapa pengunjung lain. Diletakkannya burger sabit itu kembali ke piring.
Dengan kondisi mulut yang masih mengunyah, ia langsung menenggak minumannya dengan rakus pula.
Pria dewasa di hadapannya tampak terkekeh. Mungkin sedang mengagumi akting Bari yang luar biasa.
"Mana barangnya?" tanya pria itu sembari mengetukkan jemarinya di meja.
Bari mengelap tangannya dengan tissue, lalu menatap balik pria itu.
"Sekarang harganya naik lima puluh persen, karena kau terlambat," ucap Bari tanpa menjawab langsung pertanyaan lawan bicaranya.
Pria berkumis tipis dan bermata tajam itu tampak menggertakkan giginya karena geram.
"Kau ingin bermain-main denganku, hah? Aku hanya terlambat lima menit!" ucapnya dengan suara tertahan. Giginya terdengar bergemeletuk sangking emosinya. Kedua matanya melebar.
"Lima menit, lima puluh persen, sepuluh menit, seratus persen." Bari terus mengoceh dengan wajah santai. Ia sengaja memilih tempat ramai agar meminimalisir keributan.
"Kau!" ancam pria itu seraya mengarahkan telunjuknya pada Bari.
Bari kembali melirik sekitar.
Tanpa mereka sadari, beberapa anggota kepolisian sedang menyamar sebagai pengunjung. Satu di antaranya duduk di belakang Bari.
__ADS_1
Sedari tadi, si anggota kepolisian asik menguping percakapan dua pria beda usia itu. Sebelah sudut bibirnya terangkat ketika mendengar perdebatan di antara mereka berdua. Setelah menenggak habis minumannya, anggota kepolisian yang mengenakan baju preman itu berdiri, lalu menghampiri meja Bari.
"Boleh aku ikut bertransaksi?" tanyanya sebagai ucapan permisi.
Bari dan pria berkumis itu melengak ke samping.
Tanpa menunggu jawaban lagi, anggota kepolisian itu menarik kursi, lalu duduk di samping Bari.
"Tempat ini sudah dikepung," ucapnya.
Bari dan pria berkumis tipis itu kini saling pandang. Tentu saja, keduanya paham dengan situasi yang terjadi.
"Penawaran tertinggi," ucap anggota kepolisian itu seraya menatap Bari.
"Sekarang harganya naik seratus persen," jawab pemuda itu.
Si anggota kepolisian langsung tersulut emosi. Sebelah tangannya meraih sesuatu dari saku jaket, lalu meletakkannya di atas meja. Tampak sebuah lencana berbentuk bulat, berwarna emas dengan icon kepolisian terpampang di sana.
"Sekarang ikut aku ke kantor!" ucapnya pada Bari sok angkuh.
Bukannya panik, pemuda itu malah tersenyum santai. Ternyata tidak sulit membuka kedok manusia payah yang sedari tadi sudah dicurigainya itu.
"Aaarrrgh!" pekik korbannya dengan wajah terkejut setengah mati. Pasalnya, ia baru saja akan melahap makanan kesukaannya.
Tertarik mundur, gadis itu tak berani berontak karena menyadari adanya ujung senjata tajam yang menyentuh lehernya.
Gadis cantik dengan rambut panjang yang sedikit bergelombang. Kulitnya putih, wajahnya bulat, hidungnya mancung, dan aroma tubuhnya ... Bari hapal parfum yang gadis itu kenakan.
DEG
Elmina?
Bari menyadari.
Seraya membatin, pemuda itu terus menyeret gadis tersebut keluar. Sementara pengunjung yang lain kini tampak kalang-kabut. Suasana di dalam restoran itu mendadak ricuh karena ulah seorang culun berwajah gemuk.
Pria yang mengaku anggota kepolisian itu pun tak bisa berbuat apa-apa. Beberapa anggota lainnya yang menyamar pun, hanya bisa menodongkan senjata masing-masing tanpa bisa melesatkan pelurunya.
"Si-al!" umpat si pemimpin.
__ADS_1
"Ikuti dia!" perintahnya pada para anggota ketika tubuh Bari dan Elmina sudah hilang ditelan pintu keluar.
Semua anggota tampak bergegas ke laut restoran. Namun, mereka tak menemukan siapa pun. Hanya kendaraan yang berlalu-lalang dan beberapa pejalan kaki yang melintas di sekitar restoran.
Tak ingin mendapat amukan dari atasannya, mereka terus mencari di setiap sisi, bahkan hampir menempuh jarak lima ratus meter ke kanan dan ke kiri restoran. Namun, tetap saja, tak ada petunjuk apa pun. Buronan mereka bak lenyap di telan sunyinya malam.
Di dalam restoran, pria yang berkumis tipis itu langsung pergi. Sementara pria yang mengeluarkan lencana kepolisian tadi tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Kami gagal mendapatkannya," lapornya pada seseorang.
Di seberang sana seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas lengkap dengan topi koboinya tampak emosi. Diputuskannya sambungan secara sepihak, lalu meletakkan ponselnya serampangan.
"Sialan!" umpatnya dengan wajah bermandikan amarah.
Dia adalah Om Koboi. Masih ingat?
Ya, penjahat tua berkedok pengusaha yang satu ini sudah lama mengincar Samudera Biru.
Pada malam kematian pemimpin Museum Bersejarah yang bernama Bandi Simanungkalit, Om Koboi sedang dalam perjalanan menuju rumah pria itu yang kebetulan adalah adik kandungnya.
Mereka berdua sudah kongkalikong untuk mencuri barang tersebut, sehingga Bandi diam-diam mengeluarkan barang berharga itu dari Museum, lalu membawanya ke rumah.
Bari yang sudah lama mengincar Om Koboi tentu sudah banyak mencari tahu tentang sepak terjang pria paruh baya tersebut.
Ketika mengetahui rencana busuk penjahat tua itu, Bari lebih dulu menyelinap ke rumah Bandi, lalu merebut Samudera Biru dari tangan pria itu.
Untuk kronologi kematian Bandi, belum ada yang tahu secara pasti. Saat ini anggota kepolisian masih menyelidikinya. Ditambah lagi, si pelaku pembunuhan belum tertangkap, jadi kasusnya belum bisa naik banding.
"Birma!" seru Om Koboi dengan suara membahana.
"Ya, Tuan!"
Birma tampak membungkuk hormat dan berdiri di samping atasannya.
"Suruh orang-orang kita untuk menangkap pemuda sialan itu!" titahnya dengan tatapan nanar. "Putra Aang Permana masih berkeliaran di luaran sana membawa Samudera Biru," ucapnya lagi.
"Baik, Tuan." Birma hampir saja keluar dari ruangan, namun suara Om Koboi kembali menghentikannya.
"Katakan pada mereka kalau aku menginginkannya hidup-hidup!" tegasnya seolah memberi perintah agar tidak membunuh Bari secara langsung. "Aku ingin anak itu tetap hidup agar bisa menguliti tubuhnya hingga dia tak mampu lagi untuk bernapas," lanjut Om Koboi seraya mengepal erat sebelah telapak tangannya.
__ADS_1