
Sakti tampak sedang asik bermain game online di ponselnya. Mulutnya terlihat komat-kamit seolah sedang khusyuk membaca mantra.
"Kali ini kau pasti kalah lagi!" ejek Galbi yang sama asiknya dengan permainan mereka. Keduanya sedang berbaring di kasur yang sama dengan bersentuhan kepala.
"Sombong sekali kau!" Sakti mencibir seraya terus menghunuskan tembakan bertubi-tubi ke arah lawan.
Beberapa detik kemudian ....
"Woh, aku menang!" pekik Sakti dengan wajah semringah seiring dengan lonjakan tubuh yang bergerak duduk. Satu kepalan tangannya mengudara sebagai simbol rasa bangga atas sebuah prestasi.
Sementara Galbi tampak kesal setengah mati. Berkali2 ia mengumpat bahkan sampai membanting ponselnya ke kasur.
"Makanya jadi orang jangan sombong, Bi." Sakti terus mengejek temannya itu seraya tertawa lepas.
Galbi hanya mengibaskan tangan seraya bangkit, lalu bergegas ke kamar kecil karena kandung kemihnya sudah tidak mampu lagi penampung urin yang sedari tadi berontak menuntut pengosongan.
Sepeninggalan Galbi, Sakti masih terus tertawa kecil, hingga akhirnya satu notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Ia kembali menatap layar canggih itu, lalu membaca nama pengirim pesan.
"Reyden!" gumamnya seraya membaca pesan.
^^^Aku sudah di villa. ^^^
Begitulah isi pesannya. Di bawah pesan itu tertera gambar yang menampilkan sebuah kunci kamar. Tertulis nama Tuan Morang pada gantungan kunci tersebut.
"Gokil," komentar Sakti seraya tersenyum merekah, lalu kedua ibu jarinya mulai menari di atas keyboard.
Aku akan menemuimu sekarang.
Pesan balasan Sakti sudah terkirim.
Bari yang berada di kamar yang tak jauh dari Sakti, lantas membalas kembali pesannya.
^^^Jangan! ^^^
^^^Besok pagi aku akan menemuimu.^^^
Sakti menggeleng pelan. Lalu, membaringkan tubuhnya kembali.
Keesokan harinya.
Beberapa orang sudah berkumpul di meja makan. Tuan Morang, Olla, Galbi, dan juga Sakti. Mereka siap melakukan sarapan bersama. Tak berapa lama, seorang ART mendekat ke arah mereka bersama dengan seorang wanita paruh baya.
Tuan Morang dan istrinya menyapa dengan ramah pada wanita itu seraya tersenyum. Sementara Galbi dan Sakti, mulutnya tampak menganga. Garpu dan sendok yang berada di tangan mereka seolah melakukan gerakan slow motion sangking herannya.
Dari mana datangnya tante-tante itu? Mungkin begitulah isi kepala keduanya.
"Terima kasih," ucap wanita itu ketika seorang ART menuangkan segelas jus jeruk pada gelas kosong yang berada di dekatnya.
__ADS_1
"Has, tolong panggilkan Dias, ya!" pinta Olla pada ART yang bekerja di villanya itu. Ahas langsung mengangguk dan berjalan menuju kamar tamu yang berada di pojokan.
Sedangkan Bari yang mendengar nama adiknya disebutkan dengan jelas oleh Nyonya di rumah ini, seketika merasakan desiran hangat melewati dada. Kepalanya sedikit tertunduk. Jantungnya tiba-tiba berpacu dengan cepat. Rasa rindu selalu saja sukses membuat dirinya terhempas tak berdaya. Namun, kali ini rasanya sedikit berbeda. Binar bahagia mulai terpancar di setiap titik wajahnya yang tertutup topeng. Hari ini dia akan bertemu sang adik.
Beberapa menit berlalu, suasana di meja makan tampak begitu hangat berbalut canda tawa. Semua yang berada di sana tak membutuhkan banyak waktu untuk saling mengenal. Kebaikan hati masing-masing seolah mengantarkan mereka pada sebuah kehangatan.
Dari kejauhan Dias tampak berjalan mendekati meja makan. Semua mata tertuju pada gadis itu. Ia lantas menunduk sambil mendudukkan dirinya di atas kursi yang terletak tepat di depan Bari.
Keduanya sama-sama menunduk. Hingga sepersekian detik kemudian, Dias maupun Bari mengangkat wajah masing-masing. Pandangan mereka bertemu dalam senyum.
Seolah waktu berhenti sejenak untuk memberikan ruang bagi kakak beradik itu menyalurkan kerinduan dalam bentuk bahasa tubuh. Bari yang kini berwajah seorang wanita paruh baya, tentu bisa menyembunyikan ekspresi aslinya. Sangking bahagianya melihat wajah sang adik dari jarak yang begitu dekat, Bari sampai lupa jika gelas yang tadi ia pegang kini berada dalam posisi miring hingga menyebabkan jus miliknya tumpah ke dalam piring.
"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?"
Suara Tuan Morang sukses mengembalikan kesadarannya yang sempat melayang. Bari lantas mengerjap dan meminta maaf atas keterlanjurannya.
Tentu saja, Dias tak merasakan sesuatu yang sama dengan Bari. Bahkan wajah wanita di depannya itu tak mengingatkan ia pada siapa pun di masa lalunya.
"Dias, ini ada roti lapis keju buatanku. Kau pasti akan menyukainya." Olla dengan telaten mengisi piring Dias dengan makanan.
Seperti biasa, sikap baik Olla selalu sukses membuat Dias kembali tak berdaya. Sepasang suami-istri itu sama-sama orang baik, dan memperlakukannya dengan sangat baik pula.
Diam-diam Bari mengamati komunikasi di antara Olla dan adiknya. Di dalam hati, ia sangat bersyukur karena Dias diperlakukan dengan hangat. Namun, di sisi lain ia tak tahu saja, jika adiknya akan dijadikan aset masa depan yang hanya dibutuhkan untuk sebuah keuntungan.
Sakti dan Galbi tampak sudah menyelesaikan sarapan, begitu pun dengan Olla dan Tuan Morang. Kini tinggallah Bari dan Dias yang tersisa di sana.
"Apa Anda mengenaliku, Nyonya?" Tiba-tiba Dias bertanya pada Bari.
Diraihnya gelas kosong, kemudian mengisinya dengan air putih. Ia butuh banyak cairan untuk mengkondisikan pita suaranya.
"Kenapa kau bertanya begitu, Nona?" tanya Bari dengan suara mendayu. Ia ingin memastikan isi kepala sang adik. Tentu saja, Dias punya alasan tersendiri atas pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.
Sebenarnya ingin sekali Bari membawa gadis remaja itu ke dalam pelukannya, tapi itu tidak mungkin untuk dilakukan.
"Aku tidak tahu. Tapi, aku merasa sedari tadi Anda selalu mencuri pandang ke arahku. Apa Anda mengenaliku sebelumnya?" Dias benar-benar penasaran.
Tatapan wanita di depannya ini seolah menyiratkan sebuah rasa rindu yang begitu dalam. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan tatapan yang sama dari siapa pun.
Bari berdeham kecil setelah mendengar penuturan Dias. Hubungan darah tentu saja akan menciptakan sebuah telepati yang begitu kuat. Suara hati pasti mampu mendorong seseorang untuk lebih peka atas sesuatu yang berkaitan langsung dengan kesayangannya.
Ya, aku adalah kakakmu. Tentu saja, aku mengenalmu, Adikku.
Kalimat itu hanya terlisan di dalam hati Bari. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membuka diri. Ia harus menyelesaikan misi dengan rapi agar bisa membawa Dias pergi dari sini tanpa mengundang sebuah kecurigaan pun. Jika memang keributan harus terjadi, maka itu adalah pilihan terakhir.
"Kalian belum selesai juga?" Olla tiba-tiba menghampiri mereka dengan setelan pantai super modis. Tidak terlalu seksi, namun lebih kepada kesan anggun yang ia inginkan. Sesuai karakternya.
Bari dan Dias sama-sama menoleh ke arah Olla.
__ADS_1
Langkah wanita itu disusul oleh sang suami yang juga mengenakan setelan pantai super santai. Tampak berbeda dengan penampilan formal yang selalu melekat pada dirinya.
"Dias, kami akan pergi menyelam. Apa kau mau ikut?" tanya wanita itu dengan senyum mengembang.
"Aku tidak mahir menyelam, Kak." Dias menolak dengan halus. Sebenarnya dia hanya sedang tidak ingin kemana-mana.
"Tenang saja, suamiku akan melatihmu. Dia sangat jago dalam hal itu. Bukan begitu, Sayang?" Olla melabuhkan pandangannya pada Tuan Morang yang tampak mengangguk tipis.
"Tapi, Kak--"
"Setidaknya kau harus mencoba, ayo!"
Tanpa ingin ditolak, Olla langsung menarik lengan Dias dan membawanya keluar villa.
"Apa Anda ingin bergabung, Nyonya?" Tuan Morang bertanya pada Bari ketika pandangan pemuda itu tak lepas dari pergerakan adiknya.
"Ah, tidak. Terima kasih, Tuan. Selamat bersenang-senang."
Bari berencana untuk menemui Sakti, bagaimana mungkin dia akan ikut bersama Tuan Morang?
"Baiklah, Anda bisa berkeliling di sekitar sini jika merasa bosan di dalam villa." Seperti biasanya Tuan Morang pasti melemparkan senyuman sebelum berlalu.
Di luar villa.
"Kemana anak itu?"
Sakti tampak celingukan mencari keberadaan Bari. Sebenarnya ia berharap Bari akan menemuinya pagi-pagi buta, namun pemuda itu tidak mengaktifkan ponselnya.
"Kau mencariku?" Tiba-tiba suara bariton itu keluar dari mulut wanita paruh baya yang tadi ditemuinya di meja makan.
Tubuh tingginya berdiri sejajar dengan Sakti seraya menatap lurus ke arah lautan.
Sakti tersentak. Mulutnya tampak menganga ketika menyadari sahabat kecilnya itu bersembunyi di balik sebuah topeng dengan wajah seorang wanita.
"Reyden, Kau--"
"Jangan berteriak!"
Sakti langsung menahan tawa. Perutnya terasa digelitiki oleh ribuan kupu-kupu sangking hebohnya.
"Wah, kau benar-benar berbakat, Rey." Sakti masih terkekeh geli.
Bari tampak membuang muka. Ia menggigit kuat bibir bawahnya. Tentu saja, sama-sama merasa geli akan ulahnya sendiri.
"Kau harus membantuku untuk keluar dari sini," ucap Bari ketika Sakti sudah bebas dari mode tawa.
Kini mereka tinggal berdua saja, karena yang lainnya pergi menyelam bersama Tuan Morang ke barat pulau.
__ADS_1
"Apa rencanamu?" Sakti bertanya dengan wajah serius.
"Ikuti aku!" pinta Bari. Lau keduanya melangkah bersama memasuki villa.