
Setelah pemberkatan pernikahan mereka, Elmina tampak tersenyum simpul, seraya memandang wajah paripurna yang duduk di sebelahnya. Untuk sesaat, ia merasa bahwa pernikahan yang digelar mewah itu hanyalah sebuah mimpi belaka.
Namun, setelah wajah tampan itu kembali menatap ke arahnya dan mendaratkan sebuah kecupan dalam di punggung tangannya, barulah ia menyadari bahwa memang apa yang telah terjadi adalah sebuah kenyataan.
"Terima kasih," ucap Elmina sembari tersenyum ke arah Reyden.
"Untuk?" Reyden balas tersenyum.
"Untuk kejutan yang luar biasa." Elmina balas mencium punggung tangan suaminya.
Reyden langsung meraih dagu gadis itu, lalu mencium keningnya dengan hangat.
Semua tamu undangan kembali bersorak, tak terkecuali anggota keluarga kedua mempelai. Namun, di sela-sela kebisingan, tiba-tiba suara seseorang melalui pengeras suara menginterupsi euforia berjama'ah tersebut.
"Ehem, sepertinya aku sudah sangat terlambat," ucap seorang pemuda berkacamata bening.
Semua tatapan sontak tertuju padanya yang berdiri di panggung kecil yang terletak tak jauh dari pelaminan.
"Sakti," gumam Reyden seraya tersenyum tipis.
"Siapa Sakti?" tanya Elmina yang memang belum mengenali siapa pun yang berkaitan dengan suaminya itu.
"Nanti kau akan tahu." Reyden menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya dari panggung mini yang berada tak jauh dari mereka.
"Maaf, Rey. Walaupun terlambat, aku tetap membawakanmu kado dari negeri seberang," ucap Sakti dengan mengangkat sebuah kotak berukuran sedang.
Reyden terkekeh kecil seraya geleng-geleng kepala.
Sakti menyerahkan kembali pengeras suara itu pada si Pembawa Acara, lalu berjalan mendekati pelaminan. Diletakkannya terlebih dahulu kotak kado itu di samping kursi pengantin, sebelum mengucapkan selamat.
"Selamat, Kawan." Sakti memeluk Reyden dan menganggukkan kepala ke arah Elmina.
"Kukira kau tidak akan datang," tutur Reyden setelah Sakti menarik diri darinya.
"Bagaimana mungkin aku tidak datang." Sakti menaik-turunkan kedua alisnya seraya melirik sekilas ke arah lain.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Reyden tampak tidak mengerti dengan lirikan mata sahabat kecilnya itu.
Sakti hanya bisa menghela napas.
Dari pintu masuk, tampak seorang lelaki bertubuh tinggi, memakai setelan jas rapi, dan juga mengenakan kacamata bening. Seraya mengedar pandang ke segala arah, langkah tegapnya terayun menuju pelaminan. Namun, di tengah perjalanan, ada seorang gadis cantik yang mencuri perhatiannya. Tujuannya sontak berotasi.
Gadis itu mengenakan gaun brokat selutut. Rambut panjangnya yang lurus dibiarkan terurai indah. Hanya jepitan kecil yang menyita poninya hingga terlipat ke belakang. Gadis yang sama, yang pernah dijumpainya empat tahun silam. Hanya saja, penampilannya tampak sudah lebih dewasa.
"Dias!" seru lelaki itu setelah tubuhnya berdiri tegak di belakang gadis tersebut.
Dias yang sebelumnya sedang asik berbicara dengan teman-temannya, kini mulai berbalik badan.
DEG
Wajah Dias tampak melongo dengan segala keterkejutannya.
"Tu-Tuan Morang?" ucapnya terbata seraya melotot ke arah lelaki itu.
Tuan Morang hanya tersenyum, melihat respon Dias yang tampak menggemaskan di matanya.
Dias sontak membekap mulutnya.
"Anda di sini? Lalu, di mana Kak Olla?" Dias langsung celingukan mencari keberadaan istri dari lelaki itu.
Tuan Morang yang tadinya masih tampak tersenyum, kini mulai berwajah datar.
"Aku hanya datang bersama Daru, Sakti dan Galbi." Tuan Morang menunjuk Daru dan Galbi yang sedang berdiri tak jauh darinya. Mereka berdua baru saja memasuki ballroom.
"Oh, ayo kutemani Anda bertemu dengan kakak." Dias pamit kepada teman-temannya, lalu menemani langkah Tuan Morang menuju pelaminan.
Dari pelaminan, Elmina mulai melingkarkan tangannya pada lengan Reyden, ketika melihat Dias berjalan ke arah mereka. Sepertinya dia masih berpikiran bahwa Dias adalah rival yang harus diwaspadai.
"Kak!" Dias berdiri di samping Reyden. Membuat Elmina mengernyit tak mengerti.
Kakak?
__ADS_1
Tentunya istri dari Reyden Elbarak itu membatin gamang.
"Selamat atas pernikahanmu," ucap Tuan Morang seraya menjabat tangan Reyden.
Reyden tersenyum. "Terima kasih juga sudah berkenan hadir, Tuan."
"Tidak masalah, lagi pula aku juga punya tujuan lain di negara ini," ucap Tuan Morang seraya melirik ke arah Dias.
Reyden yang memahami tatapan lelaki itu, hanya tersenyum tipis. Namun, ia juga belum sepenuhnya yakin akan asumsinya sendiri. Hanya waktu yang akan menjawabnya.
"Dias, tolong temani Tuan Morang menikmati hidangan, ya." Reyden meminta tolong adiknya.
"I-iya, Kak." Entah, kenapa ditatap intens oleh Tuan Morang membuat Dias salah tingkah. "Mari, Tuan." Gadis itu melangkah lebih dulu ke arah meja di mana telah tersaji berbagai makanan khas negara mereka.
Sepeninggalan Dias dan Tuan Morang, Elmina berbisik di dekat telinga Reyden. "Tadi itu adikmu?" tanyanya yang mulai memahami situasi.
"He'em." Reyden mengangguk tipis.
Elmina langsung memejamkan kedua matanya dalam, sempat merutuki dirinya yang malah menganggap Dias sebagai rival.
Ini semua gara-gara Kak Prima!
Ucapan bernada kesal itu, hanya tercicit di dalam hatinya saja.
Reyden yang memahami gestur sang istri, lantas menatap kedua manik mata ratunya itu lekat-lekat.
"Kau cemburu pada adik iparmu?" ejek pemuda brewok itu.
Elmina tersenyum tidak enak hati, karena sudah tertangkap basah oleh suaminya sendiri.
"Hidupmu benar-benar penuh kejutan, setelah ini tolong jangan merahasiakan apa pun dariku," pinta Elmina dengan nada merengek, membuat Reyden gemas melihatnya.
"Jangan menggodaku di tengah keramaian," bisik Reyden seraya mengedar pandang ke arah para tamu.
Elmina yang memahami kemana arah pembicaraan sang suami, sontak membatu di tempatnya.
__ADS_1