Buronan Tampan

Buronan Tampan
Bertemu Asti


__ADS_3

Awalnya Bari tak ingin bersuara, namun hatinya berkata lain. Seolah garis kegusaran di wajah gadis itu terhubung langsung pada dirinya. Perlahan, ia melepaskan kacamata, lalu sedikit mengangkat pad topinya agar Elmina bisa melihat wajahnya.


"Hei!" tegur Bari. Elmina menoleh.


"Ka-kau?" Gadis itu melotot sempurna. "To--"


"Ssst!" Bari langsung menutup mulut Elmina dengan telapak tangannya.


"Kenapa kau hobi sekali berteriak ketika melihatku?" bisik pemuda itu di dekat telinga Elmina.


Gadis itu menepis kasar tangan Bari, lalu meraup udara dengan rakus. Pasalnya telapak tangan lebar milik pemuda itu sukses menutup lubang hidungnya juga.


"Hidupku menjadi s-i-a-l setelah bertemu denganmu," ucap gadis itu dengan suara tertahan.


Dari situ Bari bisa menyimpulkan bahwa Elmina masih percaya bahwa dia bukanlah orang jahat seperti yang sudah dikabarkan oleh media. Jika tidak, gadis itu pasti sudah berteriak.


Bari memilih untuk membuang muka. Bibir bawahnya sedikit ia gigit guna menahan senyuman yang hampir terkembang. Padahal baru saja Elmina mengatakan bahwa dirinya pembawa s-i-a-l, namun pemuda tersebut malah tampak kegirangan.


"Hei!" Elmina memukul lengan Bari. Membuat pemuda itu berbalik menatapnya.


"Namaku Bari, kau tahu itu!"


"Aku tidak percaya kalau itu nama aslimu."


Mendengar itu, Bari terkekeh kecil. Sepertinya Elmina sudah melupakan rasa sakit yang menggerogoti kakinya. Mereka terus saja berdebat tak jelas hingga taksi itu tiba di pelataran sebuah rumah sakit.


"Aku tidak bisa mengantarmu," ucap Bari.


"Siapa juga yang minta diantar." Elmina turun dari mobil dibantu oleh Pak Sopir. Wajahnya tampak cemberut akut. Entah, Karena tidak diantar oleh Bari atau karena rasa sakit yang berubah menjadi asam.


Sesampainya di IGD, Elmina langsung ditangani oleh petugas yang sedang berjaga di sana.


Setelah membayar uang administrasi dan menebus obat yang sudah diresepkan, gadis itu berjalan perlahan menuju parkiran. Namun, taksi yang ditumpanginya bersama dengan Bari tadi sudah tidak ada lagi di sana.


Pandangan Elmina menyisir sekitar, hingga kedua netranya menangkap sesosok pemuda menyebalkan yang hampir saja membuat dirinya menjadi korban penculikan untuk yang ketiga kalinya.


Ternyata, Bari masih menunggu di sana. Ia sengaja meminta Pak Sopir taksi itu untuk melanjutkan perjalanan mencari rezeki setelah membayar jasanya.


"Kau!" geram Elmina seraya menunjuk Bari dengan telunjuknya.


Bari yang sedang bermain ponsel pun langsung mendongak setelah mendengar suara gadis itu.


"Sudah bisa berjalan?" tanyanya seraya memasukkan ponsel ke dalam saku celana. "Berarti aku tidak perlu bertanggung jawab lebih." Pemuda itu hampir memutar tubuh hendak meninggalkan Elmina. Namun, ia kembali mengingat alasan kenapa ia harus menunggu gadis itu.


"Apa yang membuatmu menyeberang jalan seenak jidat tadi?" Sebenarnya Bari sedang bertanya atau ....


"Sudah kubilang kau itu pembawa s-i-a-l dalam hidupku." Elmina malah mengatakan kalimat pedas di luar jalur. Tubuhnya sudah berdiri sejajar di depan Bari.


Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya. Baginya perkataan Elmina bukanlah sesuatu yang bisa membuatnya baper hingga guling-guling.


"Kalau kau rindu padaku, bilang saja, tidak perlu marah-marah." Kalimat narsis Bari tentu membuat Elmina semakin menggeram.


"Ka--"

__ADS_1


"Apa tadi kau berusaha lari dari seseorang?"


Walaupun cahaya di sekitar mereka sangat minim, namun Bari bisa menangkap raut gelisah yang terlukis di wajah gadis itu. Elmina hanya berusaha untuk menutupinya saja dengan amarah.


Sejenak gadis itu tampak bergeming.


"Ada orang yang sepertinya sedang mengikutiku dari belakang, tapi setelah kulihat mereka langsung bersembunyi." Akhirnya Elmina mau membuka diri. Dia merasa perlu menceritakan tentang hal tersebut kepada Bari. Entah, apa yang mendorongnya melakukan hal itu. Yang jelas, sejak Bari menculiknya tempo hari, ia merasa pergerakannya selalu saja dipantau oleh seseorang.


Bari menatap kedua netra gadis itu lekat. Di mana pada saat bersamaan Elmina juga melakukan hal yang sama.


"Mungkin mereka bodyguard tersembunyi yang dibayar oleh ayahmu," ucap Bari setelah beberapa jenak terdiam.


"Dari mana kau tahu?"


"Bukankah kau bilang, ayahmu adalah jenderal polisi bintang dua?"


"Kau ini penjahat atau bukan sih?"


"Apa maksudmu?"


"Bagaimana kau bisa berpikiran naif seperti itu?"


"Aku hanya berusaha untuk membuatmu berhenti khawatir."


Elmina tertegun. Ia tak menyangka bahwa seorang buronan berkedok pemuda tampan di depannya bisa mengatakan hal sedalam itu padanya.


"Apa aku salah bicara?" Kali ini Bari kembali mengangkat sebelah alisnya. Menatap Elmina penuh tanya.


"Tidak ada yang salah." Gadis itu bersedekap seraya menggulir tubuhnya ke arah lain.


"Beraninya kau menyebutku anak kecil," ucap Elmina dengan suara super tinggi bak petir yang menggelegar di waktu petang.


Pandangan beberapa pengunjung yang berseliweran di sana refleks tertarik ke arah keduanya. Membuat seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun, menunjuk ke arah pemuda brewok di depan Elmina.


"Bukankah itu ... dia pemuda yang disiarkan di berita kemarin," pekik wanita itu.


Bari dan Elmina terkesiap. Tanpa menunggu lama, ditariknya lengan gadis itu, lalu berlari ke arah jalan raya.


Sesampainya di tempat sepi, mereka pun berhenti sekadar untuk beristirahat.


"Hah ... hah ... hah ... kau kembali menculikku." Elmina berucap dengan napas tersengal karena habis berlari kencang. Hal gila yang pernah ia lakukan seumur hidup, lari bersama seorang buronan. Buronan kakak dan ayahnya pula.


"Kau sendiri tidak menolak," cibir Bari. Ia duduk di atas sebuah kayu besar yang sudah tumbang. Ada lampu jalan dengan cahaya sedang yang bergantung di atas mereka.


Banyak kendaraan tampak berlalu lalang. Ini memang jalan besar, namun entah kenapa tidak ada satu taksi pun yang lewat.


"S-i-a-l! Lagi-lagi aku terjebak dengan buronan ini," gumam Elmina yang masih bisa terdengar oleh Bari. Tangannya sudah menggenggam erat ponselnya. Wajahnya bersinar akibat pantulan dari cahaya benda pipih itu.


"Kau ingin menghubungi ayahmu?" tanyanya mendekati Elmina. Gadis itu mendongak tepat di bawah wajah Bari yang sedang menatapnya.


Sepertinya ia tidak tahu kalau kakakku juga seorang polisi, pikir Elmina dalam benaknya.


"Aku tidak ingin ikut campur dalam urusan mereka." Elmina menjawab seraya memalingkan wajah ke samping. Membawa ponselnya turut serta.

__ADS_1


Bari tersenyum miring. Satu lagi sisi unik yang ia temukan dalam diri gadis itu. Gadis pertama yang membuatnya seolah mendengarkan alunan musik ketika berpandangan.


"Kalau begitu, ikut denganku!" Bari kembali menarik lengan Elmina dan berjalan meninggalkan tempat itu.


Dua orang bertubuh besar, tampak mengintip dari balik pohon yang ditanam di pinggir jalan.


"Kami menemukan pemuda itu," tuturnya pada seseorang di balik sambungan telepon.


"Tangkap dia!" perintah seseorang di balik telepon.


"Eh, kau mau kemana?" Pria di belakangnya langsung menarik kerah baju temannya yang tampak hendak beranjak dari persembunyian.


"Mengejar mereka," jawab pria itu.


"Mereka akan kabur lagi kalau kau mengejarnya, Bodoh!" hardik pria yang satunya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Kita tetap ikuti secara diam-diam sambil menunggu teman-teman datang."


Keduanya terlalu fokus mengobrol sehingga tidak menyadari bahwa Bari dan Elmina tak lagi berada di jalur trotoar.


"Kemana perginya mereka?"


Keduanya tampak celingukan.


"Itu mereka."


Bari dan Elmina baru saja menaiki sebuah taksi. Ban mobil pun langsung bergulir maju ketika pemuda itu sudah menutup pintu.


"Kita mau kemana?" tanya Elmina.


"Nanti kau juga akan tahu," jawab Bari yang sudah kembali mengenakan kacamatanya.


Sesampainya di lobi sebuah hotel mewah, Bari dan Elmina langsung masuk dan menuju lift.


"Ternyata kau ini penjahat elit," komentar Elmina.


Bari tak menanggapi ocehan gadis itu, ia menekan nomor lantai yang ingin dituju, lalu pintu lift pun tertutup.


Elmina terdengar menghela napas. Kali ini ia sempatkan berdo'a di dalam hati agar tetap selamat seperti sebelumnya. Semoga saja Bari tidak berbuat macam-macam padanya, begitulah penggalan harapan yang tercicit di hati Elmina.


TING


Setelah pintu lift terbuka, keduanya keluar dari dalam kotak berjalan itu, lalu menuju kamar 1011.


"Hei, kau mau apa membawaku ke sini?" Elmina terpukul mundur. Ia tak menyangka. bahwa Bari akan membawanya ke sebuah kamar. Tadinya ia sempat mengira kalau pemuda itu hanya akan menggunakan hotel ini sebagai batu loncatan. Membawanya ke bagian atas gedung, lalu mengajaknya terbang bersama sebuah helikopter.


Dasar Elmina.


Setelah tiga kali mengetuk, akhirnya daun pintu itu tersibak lebar, menampakkan seorang wanita dewasa dengan pakaian super seksi. Wajahnya bermake-up tipis, namun elegan. Sebuah kalung emas berliontin huruf A menempel di dadanya.


Elmina refleks menutup mulut dengan kedua telapak tangan. Karena posisinya agak ke samping, maka kehadiran Elmina tak disadari oleh wanita itu. Kedua matanya terlalu fokus pada pemuda tampak dengan brewok tipis di depannya.

__ADS_1


"Apa kau yang bernama Bari, Sayang?" tanyanya seraya menggelayutkan kedua tangan pada leher pemuda itu.


__ADS_2