Buronan Tampan

Buronan Tampan
Diculik


__ADS_3

Bari terus menyeret Elmina--berjalan mundur--hingga langkah keduanya tiba di sebuah taman. Taman bermain yang malam itu tampak sangat sepi. Hanya beberapa kendaraan yang berlalu-lalang sesekali memecah kesunyian.


Elmina masih menurut. Ia khawatir jika melawan sedikit saja, maka nyawanya akan melayang. Tak hanya khawatir, gadis itu juga bergidik ngeri kalau-kalau orang tersebut akan berbuat tidak senonoh padanya. Secara taman itu sangat sepi.


Saat tiba di sebuah kursi beton, Bari mendudukkan Elmina di sana. Gadis itu tersentak tatkala pemuda tersebut menarik senjatanya, kemudian memutar tubuh, lalu berjongkok di depannya.


Elmina tergagap. Penampilan pria di depannya benar-benar tampak culun, tapi kenapa orang culun bisa berbuat nekad seperti itu?


"Kau takut?" tanya Bari pada Elmina.


Gadis itu mengangguk patah-patah. Ekspresi panik sangat kental terlukis di wajahnya.


Bari mendadak ingin tertawa, namun ia masih berusaha menahannya.


"Bukankah kau gadis pemberani?" tanyanya lagi seraya menunduk, kemudian memasukkan pisau kecil itu ke dalam saku celana.


Mendengar pertanyaan itu, Elmina berkerut dahi.


Apa maksudnya?


Elmina membatin.


Tunggu dulu!


Ia mulai menyadari sesuatu.


Suara itu?


"Ka-kau?" Elmina bertanya seraya menyipitkan kedua matanya. Dia agak ragu, namun gelombang suara orang di depannya itu sangat familiar di telinga.


Bari tak menanggapi. Pemuda itu berdiri, lalu membuka kemeja denim kebesaran yang ia kenakan.


Elmina sontak menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


Bari tersenyum tipis. Tingkah gadis di depannya ini cukup menggemaskan di matanya.


Tak lupa pula ia juga melepas celana kain berwarna hitam yang tampak sedikit kedodoran. Kini, tinggallah baju kaos oblong, celana jeans pendek dan sepatu kets hitam berles putih yang melekat di tubuhnya.


"Kau sangat tidak sopan!" hardik Elmina pada Bari. Ia masih menutupi pandangannya.


Pemuda brewok itu tetap santai seraya melepaskan rambut palsu, kacamata, dan juga kulit tambahan yang menutupi rahangnya.


Setelah membuang semua perlengkapannya ke tempat sampah, Bari kembali berjongkok di depan Elmina. Tangannya sigap menarik sesuatu dari balik pinggang. Topi andalan, kini sudah bertengger di atas kepala.


Elmina bisa melihat perubahan penampilan pemuda itu dari bawah. Perlahan, diturunkannya telapak tangan, lalu melotot ke arah Bari.


Terbukti sudah asumsinya tadi, pemuda brewok itu sedang menatapnya seraya tersenyum mengejek.


"Kau baru saja menodongku dengan senjata tajam. Apa kau sudah gila?!" pekik Elmina setelah benar-benar memastikan siapa orang yang sudah membahayakan nyawanya.


Bari terkekeh seraya membuang muka.


"Aku hanya berakting," katanya santai.


Elmina mendengus kesal.


"Huh, aktingmu memang sangat sempurna, sampai-sampai mengalahkan aktris senior papan atas," ucap gadis itu masih dengan nada meledak-ledak.


Bari balik menatap Elmina.

__ADS_1


"Hei, kecilkan volume suaramu! Orang-orang itu bisa menemukan kita," tutur Bari seraya mengedar pandang ke sekitar. Ia mulai berdiri.


Elmina memasang wajah sewot.


"Itu deritamu," gumamnya pelan sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Pemuda itu tampak celingukan--mengawasi sekitar. Namun, telinganya masih bisa mendengar celetukan gadis itu.


"Dan sekarang, deritaku adalah deritamu juga."


"Apa?"


Elmina tersentak. Pandangan mendadak mengarah pada Bari. Kalimat pemuda itu terdengar ambigu di telinganya.


"Ternyata sekarang kau sudah mulai tuli," ucap Bari seenak lidah.


Membuat Elmina menggeram seraya mengepal tinjunya.


"Itu karena aku selalu bertemu dengan Buronan Tampan sepertimu!" pekik Elmina tanpa sadar.


Bari menaikkan sebelah alisnya. Hatinya sedikit tersentuh karena gadis itu mengatakan bahwa dirinya tampan.


Elmina yang sudah menyadari keterlanjuran lidahnya, kini mulai salah tingkah. Dibuangnya tatapan ke sembarang arah, lalu pura-pura melihat-lihat situasi di sekitar sana.


"Kau tau, kau sudah mengacaukan makan malamku," ucap gadis itu tiba-tiba.


Kini Bari mengalihkan perhatian padanya.


"Aku bahkan belum menyelesaikannya," ucap Elmina seraya memegangi perutnya. Wajahnya tampak sendu.


Bari menghela napas. Dihempasnya tangan ke udara, lalu kembali berjongkok.


"Kau ini putri jenderal polisi bintang dua, kau bisa makan di mana saja," imbuh Bari.


"Sekarang ada masalah yang lebih serius dibanding masalah pengurukan perutmu." Bari mulai bicara serius. Dihentaknya tubuh untuk berdiri, lalu duduk di samping Elmina. Tatapannya lurus ke jalan. Menatap kendaraan yang berlalu-lalang walau tak seramai di jalan raya.


"Setelah ini, pasti akan ada orang-orang yang akan kembali mencarimu," lanjut pemuda itu setelah terdengar menghela napas.


Elmina mulai memasang wajah tegang.


Ternyata ini yang dia maksud deritaku juga deritamu? Gadis itu membatin hampir menangis.


"Pertama, mereka berasal dari anggota kepolisian. Tapi, untuk yang satu ini kau pasti aman, karena ayahmu pasti bisa mengatasinya." Bari terus mengoceh.


Sementara Elmina mulai merasakan pusing. Kalimat Bari satu per satu terdengar berat di telinganya.


"Yang kedua, mereka adalah orang-orang suruhan oknum pengusaha. Dan kau ...." Bari mulai menatap Elmina.


Gadis itu tampak bergidik.


"Harus ekstra hati-hati." Bari lantas berdiri. "Kusarankan setelah ini bawalah salah satu ajudan ayahmu jika ingin pergi ke luar rumah." Pemuda brewok itu tampak berkacak pinggang, masih menatap ke depan.


Elmina ikut berdiri.


"Dan jika mereka bertanya tentang aku, maka ...." Bari menoleh ke arah Elmina.


Gadis itu tampak tertegun sejenak, entah apa yang dia rasakan.


"Aku tidak pernah mengenalmu," gumam gadis itu seraya terus menatap kedua manik mata tajam milik Bari. Seolah terhipnotis, Elmina tampak manggut-manggut tidak jelas.

__ADS_1


Bari tersenyum tipis.


"Gadis pintar." Bari merotasikan tubuh ke arah Elmina. "Sekarang aku akan mengantarmu pulang."


***


Anggota kepolisian yang tadi menyergap Bari di restoran, kini tampak sedang menemui seseorang.


"Duta!"


Itu suara Om Koboi.


Lelaki bernama Duta itu mendekat, lalu membungkuk hormat.


"Bagaimana?" tanya lelaki tua itu seraya terus menghisap asap dari cerutu.


Duta menggeleng pelan.


"Pencarian malam ini belum membuahkan hasil, namun--"


"Apa kau pikir aku punya banyak waktu untuk menunggu?" sembur Om Koboi dengan nada tinggi. Tubuhnya refleks berdiri dari kursi, lalu menatap tajam ke arah Duta.


"Aku membayarmu mahal bukan untuk mendengarkan sebuah kegagalan," pekik Om Koboi lagi.


Duta tak berani mengangkat wajah. Lantai marmer di ruangan itu menjadi objek pandangnya untuk sementara.


"Tuan."


Tiba-tiba seorang bawahan tampak memasuki ruangan. Ia mendekat pada Duta, lalu membisikkan sesuatu.


"Tuan Koboi, ternyata gadis yang ditodong oleh pemuda itu adalah gadis yang sama dengan gadis yang terakhir kali naik taksi bersamanya," ungkap Duta.


Om Koboi langsung menyeringai.


"Ternyata dia sudah merencanakan semuanya," ucapnya dengan nada geram. Ia berpikir bahwa Bari dan Elmina adalah rekan.


"Cepat temukan gadis itu!" titahnya seenak lidah, seolah sedang menyuruh anak buahnya untuk membeli makanan.


"Tapi, Tuan--" Duta ingin mengatakan sebuah kebenaran, namun Tuan Koboi lekas memangkas ucapannya.


"Aku tidak mau tahu. Pokoknya malam ini juga kalian harus bisa membawa gadis itu ke depanku!" tegasnya lagi sambil menggerakkan jari telunjuknya ke bawah.


"Hanya gadis itu yang bisa membawa anak sialan itu datang kepadaku," lanjutnya.


Duta tak kuasa menolak lagi. Ia lantas mengangguk, lalu pamit undur diri.


***


"Sudah cukup, sampai di sini saja." Elmina tak ingin pemuda itu mengantarnya sampai di depan rumah, karena hal itu sangat beresiko. Jika ayah atau kakaknya tahu, Bari pasti akan ditangkap.


"Kau yakin?" Bari mencoba meyakinkan.


Elmina mengangguk.


Entah, mengapa sampai saat ini ia merasa bahwa semua asumsi tentang pemuda itu tidaklah benar. Walaupun ayah dan kakaknya selalu mengatakan bahwa lelaki di depannya ini sangat berbahaya, namun hati kecilnya berkata tidak.


"Kalau begitu, aku pergi." Bari berbalik badan, lalu meninggalkan Elmina di persimpangan.


Keduanya memang memilih untuk berjalan kaki saja, karena letak taman bermain itu tidak begitu jauh dari kediaman Elmina.

__ADS_1


Setelah menuntaskan senyumnya yang entah karena apa, Elmina pun berbalik badan dan meneruskan langkah. Namun, baru saja sepuluh meter berjalan, seseorang tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang dengan sapu tangan.


Elmina berontak seraya mengerang meminta pertolongan. Namun, usahanya sia-sia saja, karena tak lama setelah itu, ia sudah kehilangan kesadaran.


__ADS_2