
Seperti biasa, Bari selalu memakai topi jika sedang berada di luaran. Mengenakan celana jeans panjang dan sweater abu-abu yang di mana hoodie-nya sengaja dipasang menutupi topi. Namun, kali ini dia hanya memakai sepatu kets.
Pemuda itu berjalan ke arah Elmina yang sedari tadi ia lihat dari atas menara. Ya, gadis bertopi bundar itu memang Elmina. Gadis berisik yang diam-diam selalu menarik perhatiannya.
"Aw!" Elmina mengaduh tatkala Bari dengan sengaja menabrak bahunya.
"Kalau jalan hati-hati dong!" pekik gadis itu yang kini masih memegangi bahunya karena terasa sakit.
Bari tak menoleh sama sekali. Hanya kata maaf yang dilontarkannya sembari melangkah pergi.
Mendengar suara yang sangat familiar di telinganya, kedua mata Elmina membola sempurna. Ia menegakkan tubuh, kemudian berlari mengejar pemuda brewok itu, meninggalkan teman-temannya.
"Hei, tunggu!"
"Elmina, kau mau kemana?" teriak salah satu temannya, namun gadis itu tak memedulikan pertanyaan tersebut.
Diam-diam Bari mengulas senyuman. Sesuai perkiraannya, Elmina pasti bisa mengenali suaranya.
"Hei!" pekik Elmina lagi.
Bari menghentikan langkah karena gadis itu sudah merentangkan kedua tangan di hadapannya.
Pemuda brewok itu sedikit mengangkat wajah, lalu menatap Elmina dengan kening berkerut.
"Kau mengikutiku?" tanya gadis itu dengan penuh percaya diri.
Bari menaikkan kedua alisnya.
"Apa kau mendadak bisu, hah?" Sebelah tangannya mendorong bahu Bari. "Kenapa kau mengikutiku?" Lagi-lagi Elmina menanyakan pertanyaan yang sama.
"Ternyata selain berisik kau ini juga narsis." Bari menjawab seenak lidahnya.
Elmina menggeram. Barisan giginya terdengar bergemeletuk.
__ADS_1
"Dasar gadis aneh," gumam Bari yang masih bisa didengar oleh Elmina. Langkahnya kembali terayun. Meninggalkan gadis itu dengan segudang kedongkolan.
"Hei, aku belum selesai bicara!" pekiknya seraya berjalan cepat menyusul Bari.
"Namaku Bari bukan Hei ...!" tegas pemuda itu. Kakinya terus mengayun langkah menyusuri setapak yang sengaja dibuat di tengah-tengah jalur tanaman. Persis seperti lorong yang memudahkan setiap pekerja untuk melakukan perawatan atau memanen tanaman.
"Siapa suruh memberikan nama palsu. Aku tidak percaya kalau itu nama aslimu!" Elmina tidak mau kalah. Tubuhnya sejajar dengan Bari.
"Pak Reyden!"
Tiba-tiba paman Arjun menghampiri pemuda itu. Lelaki paruh baya tersebut tidak menyadari keberadaan Elmina yang tubuh mungilnya tertutup oleh tubuh Bari.
Reyden? gumam Elmina di dalam hati.
Tentu saja Bari sedikit tersentak, namun seketika ia cepat menguasai keadaan. "Maaf, Anda salah orang." Bari melangkah cepat menuju mobil jeep-nya.
Paman Arjun yang baru saja melihat Elmina, kini mulai memahami situasi. Awalnya dia sempat memasang wajah melongo, karena sang keponakan tiba-tiba mengatakan kalimat tidak jelas.
"Hei, tunggu!" Elmina kembali berlari ke arah Bari. Membuat kakinya tersandung batu karena tidak terlalu fokus pada jalan.
Paman Arjun maju untuk menolong gadis itu berdiri. "Terima kasih, Pak." Ucapan Elmina hanya direspon dengan anggukan oleh lelaki paruh baya itu.
Sementara Bari yang hampir memasuki mobil terdengar berdecak kesal karena Elmina lagi-lagi merepotkan.
Pemuda itu berputar arah, lalu menghampiri gadis itu. Tanpa banyak bicara, ia langsung membawa Elmina ke dalam gendongannya.
Diam-diam Paman Arjun tersenyum simpul, melihat pemandangan yang tak biasa itu.
"Aku akan membawanya ke klinik terdekat," ucap Bari pada Paman Arjun seolah ia tak mengenali pamannya sendiri.
Setelah menerima anggukan dari pria paruh baya itu, Bari langsung mendudukkan Elmina pada kursi di sebelah kemudi, lalu meluncur meninggalkan perkebunan.
"Jadi, namamu Reyden?" Di sela-sela ringisan gadis itu masih sempat bertanya.
__ADS_1
Bari tak langsung menjawab. Fokusnya masih pada jalanan yang bergelombang membuat tubuh keduanya bergoyang-goyang.
"Baiklah, kalau kau diam saja, berarti jawabannya iya," celetuk Elmina.
Bari masih tak membuka mulut. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah klinik yang letaknya tak jauh dari perkebunan.
"Aw!"
Rasa perih yang menggerogoti lututnya membuat Elmina meringis tatkala Bari membantunya turun dari mobil.
"Tolong obati dia!" katanya pada petugas yang sigap menyambut kedatangan mereka.
Elmina langsung dibawa memasuki ruangan untuk mendapat perawatan atas lukanya. Sementara Bari, ia menunggu di dalam mobil.
Sambil menunggu, pemuda brewok itu merogoh sakunya dan meraih ponsel yang sedari tadi terus bergetar.
"Panggilan video tak terjawab dari Sakti, sebanyak dua puluh kali?" Kedua alisnya bertautan tatkala menyalakan layar ponsel. "Anak itu pasti sudah gila."
Bari lebih memilih membuka beberapa pesan lainnya sebelum membuka pesan dari Sakti.
Seusai membaca beberapa pesan dan membalasnya, ia langsung membuka pesan terakhir yang menampilkan icon gambar.
Gambar pertama penampilan Sakti yang sedang tersenyum--memamerkan segaram pilotnya. Bari tersenyum melihat gambar itu. Ia mulai mengerti, ternyata Sakti berniat memamerkan profesinya.
Namun, slide berikutnya sukses membuat Bari menajamkan pandangan. Gambar itu menampilkan Sakti yang sedang duduk di ruang transit, kemudian ada beberapa orang di sampingnya.
Kemudian, slide berikutnya lagi merupakan sebuah video yang menampilkan Sakti sedang berjalan keluar dari ruang transit--memasuki lapangan terbang hingga memasuki pesawat.
Bari mencoba memutar ulang video tersebut. Kini keningnya semakin berkerut dalam. Yang membuat pemuda brewok itu tertarik untuk memutar ulang video dari Sakti adalah dari beberapa orang yang duduk di ruang transit itu, ada sosok seorang gadis yang wajahnya sangat familiar dalam pandangannya. Walaupun hanya terlihat sekilas, namun wajah itu seperti mengingatkannya pada seseorang yang paling berharga dalam hidupnya selain sang ibu.
Bari langsung menekan tombol panggil. Ia mencoba menghubungi Sakti, namun sayang nomornya sedang di luar jangkauan.
"S-i-a-l!"
__ADS_1
Bari terus menekan tombol panggil, namun sebanyak apa pun ia berusaha, hanya suara operator yang mengisi ruang dengarnya.
Seketika itu juga perasaan menyesal mulai menghantam diri ketika ingat bahwa ia sendiri yang mengabaikan panggilan Sakti tadi.