
Bari lekas mengayun langkah meninggalkan komplek warkop di Pasar Baru. Ia tak ingin Mimi kembali mengejarnya setelah sadar bahwa ia tak menyentuh wanita itu sama sekali.
Ya, Bari tak melakukan apa yang dibayangkan oleh Mimi. Ia sengaja mencekoki wanita itu dengan obat p-s-i-k-e-d-e-l-i-k jenis D-i-m-i-t-ri. Obat ini dapat memicu munculnya halusinasi. Sebab ia bekerja dengan cara mengubah kinerja senyawa kimia otak atau neurotransmiter yang bertugas dalam mengendalikan suasana hati, emosi, pikiran, ingatan, penglihatan, sentuhan dan perilaku s-e-k-s seseorang.
Pantas saja, ia tetap meninggalkan lembaran uang berwarna merah itu. Dasar penjahat tampan tapi profesional!
Flashback on
"Abang minum apa?" tanya Mimi ketika ia baru keluar dari kamar mandi. Sebelum bergelut panas dengan Bari, tentu saja ia perlu bebersih segala rupa, dari bagian tubuh yang terbuka sampai yang di sela-sela.
Ehem!
"Oh, ini larutan penyemangat," jawab Bari seraya meletakkan gelas kosong yang isinya baru saja ia tenggak habis.
"Loh, kenapa cuma diminum sendiri, gak bagi-bagi sama adek." Mimi memasang tampang cemberut seraya berjalan sambil menghentakkan kaki. "Bukannya kita harus sama-sama semangat," lanjutnya masih saja membahas sesuatu yang sudah tidak bisa kembali lagi.
Bari tampak menahan tawa seraya membuang muka. Ingin rasanya tergelak hebat, namun khawatir wanita itu akan berubah selera.
"Ini sudah kusiapkan satu gelas untukmu," ucap Bari seraya berjalan mendekati Mimi yang sudah duduk di tepi ranjang super empuknya.
Pemuda itu menyodorkan satu gelas jus jeruk yang sudah ia campur dengan D-i-m-i-t-r-i. Mimi menerimanya dengan antusias. "Romantis sekali." Lalu wanita bertubuh molek itu meminumnya hingga tandas.
Setelah itu, Bari menarik gelas kaca berukuran tinggi dari tangan Mimi, lalu menyentuhkan bibir benda itu ke bahu si wanita yang tampak terbuka sambil menggesernya secara perlahan. Sensasi dingin dari bibir gelas kaca itu, tentu saja membuat Mimi menggeliat manja.
"Apa adek sudah lama mengenal Mbak Asti?" tanya Bari mulai menginterogasi dengan nada pelan. Napasnya sengaja dibuat memburu agar Mimi berpikir bahwa ia mulai tergoda dengan tubuh wanita itu.
Bari tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Berada di tempat tertutup hanya berdua dengan seorang wanita bukanlah kebiasaannya. Walaupun banyak jejak yang sudah diukir dalam dunianya, namun tidak untuk yang satu itu.
"Ternyata kau sudah tidak sabar, Bang." Mimi berbalik arah, lalu membuka laci bupet. Ia menarik satu kertas seperti kartu nama, lalu menyerahkannya pada pemuda tampan di sampingnya.
Benar dugaan Bari, itu adalah kartu nama, namun tidak tertera alamat di atasnya. Seraya menerima kertas tersebut, Bari terus menatap wajah Mimi intens. Sementara, sebelah tangannya sigap memasukkan kertas itu ke dalam saku.
Jika dipandang dengan jarak dekat seperti ini, wanita di hadapannya itu cukup cantik, namun sayang bukannya sok suci, tapi Bari memang tak menyukai tempe, tahu, atau pun ayam bacem. Apalagi yang dijual terbuka di pasaran.
"Lalu ...."
"Ssst! Nanti saja bahas Mbak Astinya, bukankah Abang sudah tidak sabar?" Mimi memotong kalimat Bari yang hendak menanyakan alamat baru Asti.
Pemuda itu mengangguk, lalu berpura-pura memegang perutnya--mulai berlakon.
"Kau berbaringlah dulu, perutku tiba-tiba terasa mulas," ucap Bari sembari berdiri. Namun, baru saja akan melangkahkan kaki, Mimi malah menahan lengannya dengan erat, sehingga pemuda brewok itu harus merotasikan lehernya ke arah wanita yang kini ikut berdiri sejajar dengannya.
"Gerogi, ya?" goda wanita itu seraya bermain mata. "Apa ini pertama kalinya untukmu?" Mimi mendekatkan dadanya yang tampak sedikit terbuka ke arah Bari, karena saat ini dia hanya mengenakan lingerie yang cukup seksi. Membuat pemuda itu menahan napas sejenak.
__ADS_1
Alih-alih menjawab, bari malah memilih untuk melanjutkan langkah. Meninggalkan Mimi yang kembali mengerucutkan bibirnya karena kecewa.
"Tidak apalah, cuek-cuek juga dia masih mau kuajak traveling bersama," gumamnya seraya berbaring ceria. Dia menarik selimut hingga menutupi separuh tubuh bagian bawahnya.
"Ah, posenya kurang seksi." Mimi memutuskan untuk menyingkirkan selimut itu darinya. Memasang pose semenggoda mungkin sehingga bisa membuat lawan mainnya terpana bahkan tergila-gila.
Lima belas menit kemudian.
Tampak Bari sedang menyembulkan kepalanya dari sela pintu kamar kecil untuk memastikan keadaan korbannya. Korban pencekokan obat koplo yang tentu saja membuat Mimi bergoyang sendiri tanpa perlu musik sebagai pengiring.
Wanita itu tampak asik menikmati halusinasinya, sementara Bari melangkah dengan pelan menuju sebuah sofa tunggal yang berada di pojok ruangan.
Ia terkekeh geli melihat tingkah Mimi yang cukup barbar di matanya. Sembari menarik ponsel dari saku celana, Bari langsung mengirim pesan pada nomor Asti yang tertera pada kartu nama yang tadi diberikan oleh Mimi.
Ia sengaja tak meninggalkan Mimi begitu saja, karena Asti tak juga membalas pesannya. Saat ditelepon nomornya juga tidak aktif. Selain itu, pengaruh dari obat D-i-m-i-t-r-i tidaklah lama, hanya satu jam. Jadi, Bari memutuskan untuk menunggu Mimi sadar dari traveling-nya. Baru ia akan kembali menanyakan alamat wanita yang bernama Asti itu.
"Haaah, daun muda memang sangat memuaskan!" Mimi tampak meregangkan otot-ototnya.
Sementara Bari, ia berpura-pura duduk bersandar pada kelapa ranjang tepat di samping Mimi dengan bertelanjang dada. Senyuman palsu disunggingkannya ke arah wanita itu.
"Makasih ya, Abang Tampan," ucap Mimi seraya bergelayut manja di lengan Bari.
Pemuda itu kembali menahan tawa sekaligus membuang muka.
"Bukankah Abang bisa menanyakannya langsung pada Mbak Asti." Mimi mulai mengecupi lengan Bari yang berotot. Membuat pemuda itu bergidik ngeri.
"Nomornya tidak bisa dihubungi," respon Bari.
"Sekarang dia bermain di tempat elit, sepertinya tidak mudah untuk bertemu dia." Mimi berucap seraya menghela napas kasar. "Tapi, coba saja Abang ke tempat ini." Mimi bergeser dari posisinya, lalu kembali membuka bupet dan menarik sebuah kertas lebar seperti selebaran.
Bari menerima kertas itu, membacanya, kemudian bergegas mengenakan pakaian.
"Bang, uangnya ketinggalan!" teriak Mimi ketika pemuda itu sudah berdiri di ambang pintu kamar.
Bari memang sengaja meletakkan uang tadi di atas meja di samping ranjang untuk membayar informasi yang sudah ia terima dari Mimi.
"Untukmu saja," responnya seraya bergegas menutup pintu dari luar.
Flashback off
"Jalan, Pak!"
Sebuah taksi online yang sudah dipesannya, melaju dengan kecepatan sedang. Bari sengaja menggunakan kendaraan umum setelah mengenakan topi dan kacamata hitam agar menyamarkan penampilan. Fotonya sudah tersebar di berbagai media cetak dan online, tidak menutup kemungkinan bahwa Pak Sopir juga mengetahui berita tentang pencariannya.
__ADS_1
Pemuda brewok itu tampak duduk bersandar punggung di kursi penumpang. Kedua ibu jarinya sibuk bermain di atas sebuah ponsel pintar.
Beberapa menit kemudian, kedua netra hijaunya tampak membesar tatkala menerima sebuah pesan balasan. Dengan sigap, ia membaca isi pesan itu.
^^^Hotel Harison kamar nomor 1011^^^
^^^Jam 8 malam^^^
Pemuda itu sontak melirik jam tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 16.30 waktu setempat. Ia masih punya banyak waktu sebelum itu. Apa yang harus ia lakukan?
BRAAAK
Bari terdorong ke depan. Kepalanya menabrak bantalan kursi yang ada di hadapannya. Untung saja ponselnya tidak terlepas dari tangan.
"Ada apa, Pak?" Ia bertanya pada si Sopir.
"Ada seseorang yang tiba-tiba menyeberang
, Tuan." Pak Sopir menjawab seraya keluar dari mobil.
Ia melihat seorang gadis duduk miring seraya memegang kakinya yang sempat menabrak bahu mobil.
"Aduuuh, sakiiiit!" Erangannya mengudara, sehingga membuat Bari yang masih duduk di dalam kendaraan pun bisa mendengar suara gadis itu.
"Elmina!" gumam pemuda itu.
Entah, sejak kapan ia mulai menghapal jenis gelombang bunyi yang keluar dari mulut gadis itu.
Karena penasaran, ia menurunkan kaca mobil, lalu mengintip ke depan.
Benar dugaannya. Gadis yang tertabrak itu memang Elmina. Gadis berisik yang sempat menudingnya sebagai seorang penculik.
"Apa masih lama, Pak?" Bari sengaja berteriak agar Elmina menyadari keberadaannya. Namun, si gadis masih fokus pada kakinya yang mungkin tergelincir.
Sejak kapan dia mulai cari perhatian? Bukankah ia sedang tidak ingin orang lain mengetahui keberadaannya? Lalu, Elmina?
"Sebentar, Tuan!" Pak Sopir bergegas mendekati Bari, lalu bertanya, "Apa Tuan keberatan kalau kita membawa Nona itu ke rumah sakit terlebih dahulu?"
Tanpa berpikir panjang, Bari langsung menggelengkan kepala.
Pak Sopir itu tersenyum, lalu kembali menghampiri Elmina dan membantu gadis itu berjalan. Kemudian memasukkannya ke dalam mobil--tepat di samping Bari.
"Pelan-pelan, Pak." Gadis itu meringis hampir menangis.
__ADS_1
Ia lantas duduk tanpa menoleh ke arah pemuda di sampingnya. Setelah mobil itu berjalan pun Elmina masih tak begitu ambil pusing dengan sosok kasat mata yang sedari tadi memandangnya dari balik kacamata. Namun, bisa Bari tangkap, raut cemas yang begitu kentara menyelimuti wajah gadis itu.