
Tuan Morang melirik pada dua orang anak buahnya. Bahasa isyarat yang diberikan pada mereka untuk menahan tubuh Sakti.
"Lepas!"
Pria itu langsung berontak ketika dua orang bersetelan jas lengkap tersebut menahan tubuhnya hingga terjepit di tanah.
Bari masih tak bergerak. Tatapan lurus tertuju pada Sakti, lalu bergulir pada Tuan Morang yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Di malam kau datang ke sini, aku sudah mencurigai sesuatu," katanya pada Bari.
Pemuda itu langsung berkerut dahi. Dia merasa bahwa penyamarannya sudah mendekati kata sempurna. Bagaimana bisa ketahuan?
"Tidak ada speed boat yang melakukan perjalanan di malam hari, kecuali karena ada urusan mendesak seperti kematian atau membawa orang sakit," ucap Tuan Morang lagi masih dengan ekspresi tenang. "Atau ... penyusup," lanjutnya seraya menatap manik mata Bari.
Pemuda brewok itu tak berkedip sama sekali.
"Sebenarnya tujuanku memberimu izin menginap, hanya untuk ini. Mengetahui tujuan utamamu datang kemari." Pandangan Tuan Morang jatuh pada tangan Bari yang menggenggam erat jemari tangan Dias.
Bari mengikuti arah pandang lelaki itu, lalu mendongak menatap adiknya, yang seluruh wajahnya kini sudah diselimuti rasa takut. Sebelah tangannya mencengkeram lengan sang kakak dengan gerakan kikuk.
"Bawa mereka ke bawah tanah!" titah Tuan Morang pada orang-orangnya. Lalu, mundur beberapa langkah.
Belasan pria bersetelan jas itu maju. Salah satunya hendak menyentuh lengan Dias. Namun, sudut mata Bari tampak melirik dengan tajam.
Sepersekian detik, tubuh pemuda brewok itu memutar ke belakang, lalu membanting tendangan sekuat tenaga.
BUGH
Pria bersetelan jas tadi melayang ke samping. Mengenai tubuh temannya yang lain. Beberapa orang tampak ambruk seketika.
Melihat hal itu, teman-temannya yang lain langsung menyerang Bari secara serentak. Satu per satu maju dengan cara mengayun tangan dan kaki untuk memberi serangan.
"Kyaaa!"
"Kyaaa!"
"Kyaaa!"
"Kakak!" pekik Dias seraya mencengkeram kuat lengan Bari. Wajahnya disembunyikan di balik bahu kekar pemuda brewok itu.
"Ayunkan tendangan!" bisiknya pada Dias.
"Hah?"
"Sekarang!"
Dias bahkan tak sempat membuka mata terlebih dahulu ketika Bari sudah mengangkat tubuhnya dan mengayunkannya ke arah lawan.
"Tendang!" titah Bari.
Gadis remaja itu pun langsung melayangkan tendangannya bertubi-tubi. Tubuhnya melayang mengitari tubuh sang kakak sehingga bisa melibas semua lawan dalam waktu bersamaan.
BUGH
BAGH
BUGH
BAGH
BUGH
DEBUSH
__ADS_1
Satu per satu dari mereka ambruk ke tanah. Dengan taktik yang Bari gunakan, Dias sukses menumbangkan orang-orang Tua Morang dalam sekejap mata.
Tuan Morang tampak tersenyum tipis. Ekspresinya sangat sulit untuk ditebak. Lalu, tangannya kembali memberi kode kepada dua orang di belakangnya, yang menahan tubuh Sakti.
Seketika sahabat Reyden Elbarak itu dihempaskan ke tanah dengan keras.
"Aw!" Sakti mengaduh. Ringisan kental menghiasi wajahnya.
Dua pria bersetelan jas tadi maju ke arah Bari, lalu mengayunkan tendangan berjama'ah.
"Aaarrrgh!" Dias memekik seraya bersembunyi di belakang tubuh kakaknya.
BUGH
BUGH
Bukannya tubuh Bari yang terjungkal, melainkan tubuh dua pria berjas itu yang terpental ke belakang.
DEBUK
Keduanya terkapar di tanah sambil memegangi perut masing-masing.
Tuan Morang kembali tersenyum tipis. Daru yang berdiri di belakangnya langsung menghampiri setelah lelaki itu memberinya kode dengan jari.
"Tuan?" Daru membungkuk hormat seraya mendekat.
"Bawa mereka masuk, aku tunggu di ruang tamu!" Lelaki itu langsung berbalik badan masih dengan wajah tenang, lalu melangkah masuk ke dalam villa.
Daru sedikit berkerut dahi. Tidak begitu paham dengan jalan pikiran sang atasan yang kadang kala sulit terbaca. Pandangannya tertuju pada Sakti yang sudah berdiri sambil memegangi perutnya, kemudian bergulir pada Bari dan Dias.
"Mari, Tuan!" Daru memajukan ibu jarinya. Mempersilakan Bari, Dias, dan Sakti untuk mengekori langkah atasannya.
Bari dan Sakti lantas bertukar pandang. Ada kejanggalan yang sama-sama mereka rasakan. Namun, setelah itu keduanya sama-sama mengangguk, lalu berjalan memasuki villa.
***
"Siapa pemuda itu?" tanyanya pada sang suami yang sudah duduk di atas sofa ruang tamu.
Tuan Morang tak menjawab. Dia memberi kode dengan tangannya agar sang istri bergerak mendekat.
Olla yang selama ini memang terkenal patuh pada titah sang suami, lantas mengayun langkah menuju sofa. Lalu, duduk di samping suaminya.
Dahi wanita itu berkerut dalam ketika melihat telapak tangan Dias yang digenggam erat oleh seorang pria asing.
"Say--"
"Ssst!" Tuan Morang memangkas ucapan sang istri dengan jari telunjuknya. "Nanti kau akan tahu," ucapnya dengan senyuman.
Olla patuh, lalu mendengarkan dengan saksama.
"Sakti!"
Suara atasannya itu sukses membuat Sakti menelan salivanya dengan susah payah.
"Ya, Tuan." Ia merespon seraya menunduk.
"Seharusnya kau mengatakan semua kebenarannya padaku, sebelum keributan ini terjadi," ucap Tuan Morang.
Di sela-sela pertengkaran tadi, lelaki itu bisa mendengar dengan jelas bagaimana Dias memanggil pemuda asing di sampingnya itu dengan sebutan 'KAKAK'. Tentu saja, dia bisa dengan mudah memahami situasinya.
Sakti mengangkat wajah, lalu menatap lelaki itu dengan ekspresi tergagap.
Tuan Morang terdengar menghela napas dalam. "Aku tidak mungkin memaksakan Dias untuk tetap di sini, jika memang dia masih memiliki keluarga," ucapnya di luar dugaan.
__ADS_1
Tak hanya Olla saja ... Bari, Sakti, dan Dias juga tersentak mendengar kalimat lelaki itu.
"Sayang?" Kedua mata Olla sudah berkaca-kaca. Kepalanya menggeleng pelan karena tidak rela jika Dias harus dibawa pergi.
Tuan Morang yang tak tega melihat ekspresi wajah sang istri, lantas menarik wanita itu ke dalam pelukannya.
"Dias sudah menemukan keluarganya, Sayang. Jadi, kita harus ikhlas melepaskan dia," bisik lelaki itu di dekat telinga sang istri.
Tubuh Olla semakin bergetar. Lonjakan rasa sedih di dadanya kian memuncak ketika sang suami mengatakan kalimat itu. Sesungguhnya, ia tidak siap untuk kehilangan Dias. Gadis itu sudah dianggapnya seperti seorang adik.
Bari yang masih bisa mendengar kalimat Tuan Morang, lantas tersenyum tipis sambil menggeleng pelan. Ia tidak menyangka bahwa lelaki itu memiliki hati yang sangat luas. Direngkuhnya tubuh Dias dari samping, lalu mendaratkan kecupan bertubi-tupi di puncak kepala gadis itu.
Sebenarnya, jauh sebelum melakukan transaksi dengan Om Koboi, Tuan Morang sudah meminta Daru untuk menyelidiki informasi detil mengenai Dias. Jadi, ia sudah tahu betul seperti apa cerita hidup gadis itu sebenarnya.
Di saat mendengar teriakan Dias tadi, ia sempat tertegun dan berpikir ulang. Namun, perkelahian di antara Bari dan orang-orangnya tidak bisa lagi dihentikan. Selain itu, ia juga ingin melihat seberapa besar usaha pemuda brewok itu dalam memperjuangkan kebebasan adiknya.
"Maafkan aku, Tuan." Itu suara Sakti. Ia benar-benar merasa menyesal karena telah meragukan kebaikan atasannya.
Tuan Morang lantas melepaskan pelukannya dari sang istri, lalu kembali menghadap ke depan.
"Aku tidak akan memecatmu hanya karena kau melakukan sebuah pengorbanan atas nama persahabatan," ucap Tuan Morang dengan nada mantap.
Sakti tersenyum kikuk mendengar kalimat atasannya yang bermakna sangat dalam.
"Karena aku pun pernah berada dalam posisi itu." Senyuman Tuan Morang sukses membuat semua yang berada di dalam ruangan itu tersenyum lega.
Terutama Sakti. Bayangan akan kehilangan pekerjaan favoritnya kini sirna sudah ditelan kelegaan.
Dias tersenyum lepas kini. Bukan hanya karena dekapan kakaknya yang syarat akan kasih sayang, namun juga arti sebuah kebebasan yang baru saja terlontar dari mulut Tuan Morang.
***
"Aku pasti akan berkunjung," ucap Olla pada Dias ketika mereka sama-sama melepas pelukan.
Dias mengangguk. Ungkapan terima kasih berkali-kali terlontar dari bibirnya.
Mesin pesawat sudah dinyalakan. Semua orang pun sudah berkumpul di landasan terbang pribadi yang terletak tak jauh dari villa.
Sakti dan Galbi sudah duduk di kursi mereka masing-masing.
"Kau memang pemberani, Kawan." Galbi berkata pada Sakti yang sedang sibuk memencet beberapa tombol. Keduanya tampak sudah mengenakan seragam kebanggaan mereka.
"Jika kau menjadi aku, maka kau pun akan melakukan hal yang sama, Bi." Perkataan Sakti terdengar sangat enteng.
"Oh, ya? Aku tidak yakin, Broh." Galbi geleng-geleng kepala.
Di luar pesawat.
"Aku akan mengganti kerugianmu," ucap Bari pada Tuan Morang ketika mereka saling berjabat tangan.
"Tidak perlu." Tuan Morang menolak.
Bari mengerutkan keningnya.
"Aku tidak ingin melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya," lanjut Tuan Morang.
Ia baru menyadari bahwa caranya untuk mendapatkan Dias adalah sebuah kesalahan besar.
Bari mengangguk paham. "Terima kasih, karena kau sudah memperlakukan adikku dengan baik," ucap pemuda brewok itu.
Tuan Morang mengangguk seraya tersenyum.
Matahari baru saja menampakkan cahayanya. Bari dan Dias pun masuk ke dalam pesawat setelah melambaikan tangan pada Olla dan juga suaminya.
__ADS_1
Perlahan roda jet pribadi milik Tuan Morang itu bergerak menjauh, kian menjauh, lalu terbang menuju kota.