Buronan Tampan

Buronan Tampan
Resah


__ADS_3

Setelah memastikan semua bangunan markas Om Koboi sudah terlahap si jago merah, Bari langsung menggamit tangan Elmina dan membawanya mendekati motor miliknya.


Tanpa banyak berkata, gadis itu manut bak sedang dijemput oleh pangeran impian seperti adegan-adegan romantis dalam film drama-drama kesukaannya.


Namun, baru saja keduanya akan menaiki kendaraan itu, tampak dua buah mobil polisi memasuki area tersebut.


Elmina mendadak tegang, sementara Bari tampak biasa-biasa saja. Gadis itu tidak akan membiarkan Bari diringkus oleh para petugas kepolisian. Begitu, tekadnya.


Tanpa aba-aba, Elmina berdiri di depan Bari--guna melindungi tubuh pemuda brewok itu--ketika mengenali sosok pria yang baru saja turun dari mobil polisi. Diekori oleh beberapa orang anggotanya, pria itu berjalan mendekati mereka.


"Berhenti!" Elmina melebarkan tangannya ke depan. Bahasa tubuh yang diberikannya pada petugas polisi yang tak lain adalah kakaknya sendiri.


"Minggir, El!" titah Prima karena tidak ingin kehilangan buronannya lagi. Awalnya, ia hanya menerima laporan bahwa telah terjadi keributan di tempat itu, namun bak gayung bersambut, ternyata buronan yang selama ini dicarinya ada di depan mata.


"Kak, dia tidak bersalah," bela gadis itu dengan masih menutupi tubuh Bari--melindunginya dari sentuhan Prima. "Dia yang sudah menyelamatkan aku dari orang jahat itu," ucap Elmina memberitahu kebenarannya. "Jadi, mana mungkin kakak bisa menangkapnya begitu saja?" Gadis itu sedikit memekik.


Mendengar hal itu Prima tampak tertegun sesaat. Namun, mau bagaimana lagi, perintah tetap harus dijalankan.


"Kau tidak mengerti, El!" hardik Prima pada adiknya.


Elmina tampak menggeleng-gelengkan kepala seraya merentangkan tangannya.


Bari masih menikmati pemandangan di depannya, di mana kedua kakak beradik itu sedang memperebutkan dirinya. Ingin rasanya ia tertawa lepas karena drama di depannya itu cukup menghibur.


"Dia itu pencuri!" pekik Prima pada akhirnya. "Dan dia juga pembunuh!" Pria itu berkata seraya mengarahkan telunjuknya pada Bari.


Yang ditunjuk hanya tersenyum tipis.


Namun, Elmina tidak mau ambil pusing. Persetan dengan status yang disandang Bari saat ini. Pokoknya ia tidak akan membiarkan kakaknya memasukkan pemuda itu ke sel tahanan.


"Itu semua tidak benar," kata Elmina sok tahu. Padahal Bari belum mengatakan apa pun padanya.


Bari masih mendengarkan perdebatan mereka dengan saksama. Sementara beberapa anggota polisi yang merupakan bawahan Prima sudah siap siaga di tempatnya. Ada yang mendampingi Prima, ada juga yang memeriksa tempat kejadian perkara.


"El, hukum punya jalannya sendiri, yang salah harus tetap mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sebaiknya kau tidak ikut campur dalam hal ini!" Prima semakin geram dengan sikap adiknya yang tampak sangat melindungi buronannya.


"Pokoknya kakak tidak boleh membawanya ke kantor!" tegas Elmina dengan nada penuh keseriusan.


Dahi Prima berkerut dalam. Apa yang membuat sang adik begitu peduli pada pemuda yang memiliki jejak kriminal seperti Bari?


"Berikan satu alasan tepat!" tantang Prima pada sang adik.

__ADS_1


Elmina tertegun di tempatnya. Apa yang harus ia katakan pada sang kakak agar pria itu bisa mengurungkan niatnya?


"Ya ... karena dia sudah menolongku," kata gadis itu sedikit ragu.


Prima tersenyum tipis. Alasan Elmina tidak bisa diterimanya begitu saja. Ia berpikir bahwa Bari berada di tempat itu karena untuk menyelesaikan kepentingannya sendiri.


"Giandra!" seru Prima pada salah satu anggota yang berdiri di belakangnya.


"Siap, Ndan?" Giandra menjawab dengan cekatan.


"Borgol pemuda itu!" titah Prima, lalu berbalik badan.


"Kak!" Elmina tampak berang. Tubuhnya bergerak sedikit maju.


"Alasanmu tidak bisa diterima, El." Prima berkata tanpa menatap ke arah sang adik.


"Bagaimana jika ... jika karena aku mencintainya?" tanya gadis itu dengan suara lantang.


DEG


Prima spontan membalik badan. Wajahnya tampak melongo.


Sementara Bari, pemuda brewok itu tampak terkejut parah. Kedua matanya melebar sempurna.


"Ini masalah hukum, El. Bukan soal kisah cinta. Sebaiknya kau cepat masuk ke mobil!" Lagi-lagi Prima tak menerima ucapan konyol sang adik. "Gi, bawa pemuda itu!" Prima memberi kode dengan tangannya.


"Kakak!"


Elmina tak tahan lagi. Ia berbalik badan, lalu melingkarkan kedua lengan pada tubuh Bari, agar Giandra tidak bisa memborgol tangan pemuda itu.


Bari terperangah. Yang di mana tadinya ia tampak masih terhipnotis dengan kalimat Elmina. Apakah benar gadis berisik itu mencintainya? Sepertinya begitulah isi kepala Bari saat ini.


"Ndan?" Giandra kini merasa serba salah. Walau bagaimana pun Elmina adalah adik dari atasannya, maka dia tidak bisa berbuat seenaknya tanpa instruksi dari Prima.


Putra sulung dari Pak Sanjaya itu terdengar menghela napas kasar seraya menggelengkan kepala berkali-kali, lalu kembali menatap tingkah sang adik yang ia anggap di luar kebiasaan.


Tanpa menunggu lagi, kedua kaki jangkung Prima kembali melangkah mendekati Elmina, lalu menarik paksa tubuh ringkih itu agar menjauh dari buronannya.


Elmina tampak berontak, sementara Bari tak kuasa melawan lagi. Dengan gampang Giandra langsung menguncikan borgol pada kedua pergelangan tangannya.


Pemuda brewok itu sepertinya masih merasakan haru biru di dalam dadanya. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa. Ucapan Elmina seolah telah membiusnya.

__ADS_1


Setelah melakukan olah TKP dan mengumpulkan barang bukti yang ada, dua mobil polisi itu langsung meninggalkan tempat tersebut.


***


Prima mengantarkan Elmina ke rumah terlebih dahulu. Tak ingin sang adik membuat keributan di kantor polisi, jadi ia harus mengamankan terompet mininya itu.


Melihat sang adik memasang wajah memberengut saat turun dari mobil, akhirnya Prima tak bisa untuk tidak bertanya.


"Apa kau benar-benar mencintai seorang kriminal?" tanya Prima tanpa turun dari mobil.


"Dia bukan seorang kriminal." Elmina masih memasang wajah cemberut tanpa menoleh ke belakang.


Prima menghela napas kasar. "Bukankah kau sudah mendengar tentang pencurian barang sejarah di museum itu? Lalu, kasus pembunuhan Pak Bandi, dia juga pelakunya," tutur Prima agar sang adik paham serta bisa membuka pemikirannya yang mungkin sedang tersumbat kegilaan.


Elmina tak memedulikan hal itu, ia terus mengayun langkah hingga masuk ke dalam rumah.


Prima kembali menghela napas, lalu melajukan mobilnya menuju kantor.


"Sayang!" Renita berhamburan ke arah sang putri yang sudah tidak pulang selama hampir dua puluh empat jam. Ia memeluk tubuh Elmina erat, namun gadis itu tetap bergeming tanpa membalas pelukan sang ibu.


"Syukurlah, kamu pulang dengan selamat," lanjut Renita dengan wajah berbinar. "Mama benar-benar khawatir karena dari semalam kamu tidak pulang." Renita menarik diri dari tubuh Elmina yang sama sekali tidak memberikan respon.


Ditatapnya lekat-lekat putri bungsunya itu seraya menciptakan kerutan dalam di dahinya.


"Ada apa, El? Mana kakakmu?" Leher Renita tampak memanjang ke arah depan, namun tak lagi menemukan mobil Prima di depan sana.


"Aku ke kamar dulu, Ma." Tanpa merespon ucapan mamanya, Elmina langsung pamit untuk naik ke lantai dua. Ekspresi wajahnya sangat datar sedatar-datarnya.


Dia kenapa?


Renita membatin bingung. Ingin rasanya ia mengekori langkah Elmina, namun putrinya itu adalah tipe yang irit bicara jika sedang merajuk.


"Aku harus menanyakannya pada Prima," kata Renita seraya mengayun kedua tungkai menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


Di kamar Elmina.


BUGH


Gadis cantik itu langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Kedua matanya tampak berkaca-kaca. Entah, apa yang sebenarnya ia rasakan? Apakah kalimat pernyataannya tadi hanyalah sebuah alasan agar Prima mengurungkan niatnya untuk menangkap Bari, atau memang berasal dari hati kecilnya?


Elmina memejamkan kedua matanya dalam-dalam. Ia menangis dalam diam.

__ADS_1


__ADS_2