Buronan Tampan

Buronan Tampan
Kilas Balik


__ADS_3

Lima belas menit sebelumnya.


Motor trail dengan ban kotak-kotak besar tampak melambung di udara. Kendaraan yang dikendarai oleh seorang pemuda itu memasuki kawasan markas Om Koboi dengan sangat gagah. Tak lama mengudara, motor trail itu mendarat di tanah dengan hentakan yang sempurna.


Sambil mengangkat wajah, pemuda yang mengendarai motor itu membenahi posisi kacamata hitam yang bertengger di hidup mancungnya.


"Dia datang, cepat lapor ke dalam!"


Dua orang penjaga gerbang tampak kelimpungan ketika melihat Bari sudah melewati pintu masuk dengan tinggi tiga meter itu tanpa harus menginjak tanah.


"Cepat!" pekik salah satu dari mereka pada temannya.


Pria yang diteriaki itu langsung berlari pontang-panting ke arah markas.


"Kyaaa!"


Pria yang memekik tadi berusaha menyerang Bari yang masih duduk nyaman di atas motornya.


BUGH


Satu tendangan Bari hadiahkan pada perut lelaki itu sehingga terpelanting ke tanah.


"Itu dia!"


Pekikan dari anak buah Om Koboi membuat Bari tersenyum remeh.


Beberapa pria bersetelan sama tampak berlari ke arahnya.


Bari menstandarkan kendaraanya, lalu berdiri tegak--siap menyambut serangan mereka.


"Kyaaa!"


"Kyaaa!"


BAG


BIG


BUG


WUSH


"Arrrggghhh!"


Satu per satu dari mereka berjatuhan karena ulah Bari. Pukulan, tendangan, pitingan, cekikan, semua jurus telah dipakainya.


Tak ingin berlama-lama di sana, pemuda brewok itu terus merangsek ke dalam.


"Itu dia!"


Tiga orang bertubuh besar tinggi berhambur ke arah Bari dengan mengantongi senjata tumpul.


BUG


BUG


BUG


Bukannya Bari yang terpukul senjata, melainkan senjata itu yang telah membantai tuannya.


Setelah membereskan tiga pria tadi, Bari terus melewati lorong. Di setiap titik ia bertemu dengan cecunguknya Om Koboi, namun sebanyak apa pun orang yang ditemuinya, sebanyak itu pula Bari melumpuhkan mereka.


BRAK


Suara pintu ditendang dari luar. Menyebabkan daun pintu itu pecah dan berhamburan. Bersamaan dengan itu, tubuh Om Koboi pun terpelanting.


BRUK BRUK BRUK


Tubuh Om Koboi tersungkur bersamaan dengan pecahan pintu kayu itu.

__ADS_1


"Rey--" Elmina berhambur ke arah Bari. Sangking takutnya gadis itu sampai lupa jika tubuhnya menubruk dada bidang pemuda tersebut.


Bari tampak membeku. Kedua tangannya masih terjulur ke bawah. Ia ragu untuk membalas


Setelah beberapa detik, barulah Elmina sadar bahwa ia sudah memeluk tubuh pemuda brewok itu dengan sangat erat.


Perlahan lingkaran tangannya mengendur, lalu melepaskan diri sepenuhnya.


Elmina tampak salah tingkah. Namun, tubuhnya segera bersembunyi di belakang Bari, ketika mendengar Om Koboi mulai bangkit.


"Si-alan kau!" Lelaki tua itu mengumpat dengan geram. Seraya membersihkan kotoran kayu dari jasnya, ia terus menatap garang ke arah Bari.


"Penjaga?" teriaknya dengan wajah sombong.


Namun, sungguh aneh, tidak ada satu anak buahnya yang muncul.


"Hei, Penjaga! Apa kalian tuli?" pekiknya lagi.


Namun, tetap saja tidak ada yang datang ke ruangan itu.


Sementara di luar markas, tubuh semua orang-orang Om Koboi sudah tergeletak di tanah. Tidak hanya itu saja, di setiap lorong menuju ruangan di mana Elmina di sekap pun banyak tubuh-tubuh tak sadarkan diri karena ulah buronan tampan itu. Entah, mereka semua benar-benar sudah mati, atau hanya pingsang saja.


"Penjaga!" Om Koboi masih membuang-buang waktunya. Padahal, ia sudah merasakan firasat buruk saat itu.


"Mau berteriak ribuan kali pun mereka tidak akan datang, karena aku sudah membuat mereka semua tenang di alam sana." Itu suara Bari.


Om Koboi melongo mendengar kalimat absurb itu. Mana mungkin pria di depannya ini bisa melumpuhkan semua anak buahnya tanpa berbekal senjata apa pun?


Melihat Om Koboi yang sudah seperti orang terkena serangan jantung, Bari memajukan langkahnya perlahan, hingga tubuhnya berdiri gagah di depan musuh bebuyutannya itu.


Kedua tangannya sudah mengepal erat. Urat-urat di kedua lengannya bahkan bermunculan seperti kabel-kabel listrik yang siap menyambarkan sengatannya.


GREP


Bari mencengkeram kerah jas lelaki tua itu.


"Sekarang giliranmu, Keparat Tua Sialan!"


Mata Bari sudah memerah. Mulutnya tampak menganga seiring dengan ayunan tinju berkekuatan tinggi.


BUG


Tubuh Om Koboi limbung karena terkena serangan pertama yang sangat mengesankan dari Bari.


"Bangun!"


Dengan segera Bari kembali menarik kerah jas lelaki tua itu dan membuatnya berdiri.


"Aku tidak akan membuatmu mati semudah itu!"


Bari menyeret tubuh lelaki itu keluar menuju sebuah ruangan besar yang tampak seperti gudang penyimpanan.


Langkah pemuda itu diekori oleh Elmina, dengan ekspresi meringis yang tak berkesudahan.


BUG


BUG


Bari kembali melayangkan tinju.


Sekarang wajah Om Koboi yang menjadi sasaran brutalnya. Bari bahkan sampai melupakan bahwa Elmina juga ikut memasuki gudang itu.


Bari kembali menyabet jas Om Koboi dan membuat mereka saling tatap.


"Kau, sudah membuat seorang istri berpisah dari suaminya."


BUG


Om Koboi kembali terjatuh. Darah mengucur deras dari hidung lelaki tua bangka itu.

__ADS_1


Bari terus mengejar dan kembali menarik tubuh lemah Om Koboi. Kali ini tatapannya semakin mengerikan.


"Kau juga sudah memisahkan anak dari ibunya."


BUG


Elmina bergidik ngeri. Namun, bisa dia bayangkan seperti apa perasaan Reyden saat ini. Melalui setiap kalimat yang diucapkannya, Elmina tentu bisa membaca situasi. Pasti ada sesuatu yang terjadi di antara dua lelaki beda usia itu di masa lampau.


"Kau!" Bari kembali menarik tubuh Om Koboi yang wajahnya sudah bersimbah darah.


"Kau sudah memisahkan seorang adik dari kakaknya."


BUG


Tinjuan terakhir Bari sukses membuat Om Koboi terjungkal dan menabrak drum minyak.


Elmina terperanjat.


Sementara Bari tersenyum puas. Tiba-tiba ide gilanya mulai muncul ke permukaan.


Om Koboi masih sadarkan diri. Ia masih berusaha untuk bangkit, namun tidak bisa. Hanya tangan dan kakinya yang bergerak-gerak tidak karuan, memohon pembebasan dari keberingasan pemuda di hadapannya itu.


"A-ampuni a-aku!"


Dengan terbata-bata, lelaki tua itu masih berusaha untuk bersuara.


Bari tak mempedulikannya. Kedua bola matanya melirik ke pojok ruangan, di mana terdapat beberapa ken berukuran lima liter minyak.


Diayunnya tungkai mendekati Om Koboi, lalu berjongkok di hadapannya. Tanpa berpikir lagi, ditariknya rambut bagian atas milik lelaki tua itu. Topi koboi yang sebelumnya ia pakai, kini entah pergi kemana.


"Sekarang katakan selamat datang pada kematianmu, Tua Bangka!"


Bari menghempaskan kepala Om Koboi sekuat tenaga. Membuat lelaki itu mengerang kesakitan.


"Aaarrrrgggh! A-ampuni a-ku, a-ampuni a-ku."


Om Koboi terus mengiba dengan suara gemetar. Yang paling membuatnya takut adalah maut macam apa yang akan diberikan oleh pemuda di hadapannya itu? Pandangannya pada Bari sudah seperti seorang malaikat maut, yang di mana sebentar lagi akan mencabut nyawanya.


Bari bangkit, lalu berjalan ke pojok ruangan. Diambilnya salah satu ken minyak, lalu berjalan ke arah Elmina.


Gadis itu mengerjap.


"Kita harus keluar sekarang!" katanya pada Elmina.


Gadis itu mengangguk patuh.


Seraya berjalan keluar, Bari menuangkan minyak ke tubuh Om Koboi, lalu terus berjalan hingga mereka tiba di luar bangunan.


TIK


Sebuah pemantik ia tarik dari dalam saku celana, lalu menyalakan apinya.


"Rey--"


Suara Elmina tercekat ketika Bari menoleh ke arahnya.


"Kenapa tidak diserahkan pada pihak kepolisian saja?" tanya gadis itu.


Bari tersenyum enteng. "Selama ini kejahatannya tak pernah tersentuh hukum. Jadi, sekarang hanya hukum alam yang berlaku untuknya."


TING


Pemantik itu pun dilemparkan Bari ke tanah, lalu apinya menjalar mengikuti aliran minyak tadi hingga ke dalam bangunan.


SRAAAH


Seketika api pun berhamburan ke arah Om Koboi dan memeluknya dalam kematian.


BOOM

__ADS_1


__ADS_2