
Sakti tak membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan surat izin terbang dari bandara internasional, kemudian melanjutkan perjalanan kedua mereka.
Setelah tiba di bandara, Bari langsung membawa Dias menuju rumah sakit. Tentu saja, hal itu membuat gadis tersebut bertanya-tanya di dalam hati. Siapa gerangan yang sakit?
"Kak!"
Langkah Dias terhenti ketika tubuhnya dan Bari hampir saja memasuki sebuah ruang perawatan.
Bari sontak menoleh, lalu bertanya, "Ada apa?"
Dias langsung menjawab, "Siapa yang sakit?" Kedua matanya mulai berkaca-kaca. Semoga saja, firasatnya tidak benar. Ia sudah merasakan kegetiran saat taksi bandara berhenti di parkiran tadi.
"Bukannya kau ingin menemui ibu?" Bari memegang kedua pundak adiknya.
Kedua kelopak mata Dias terpejam dalam, hingga menyebabkan buliran bening itu terjun bebas membasahi pipinya. Rasa rindu yang sudah menggunung membuat air mata yang keluar terasa panas bak bola api yang menyala. Namun, kenyataan berkata lain.
Gadis itu mengangguk patah-patah. Langkahnya terayun mengekori sang kakak yang sudah menyibak daun pintu.
DEG
Sekali lagi, langkah Dias terhenti. Jantungnya berpacu cepat tatkala melihat wanita yang sudah melahirkannya, yang merawatnya hingga berusia enam tahun, kini terbaring tak berdaya di atas brankar dengan wajah pucat pasi.
Segala peralatan kesehatan menempel di tubuhnya. Dias mulai mendekat dengan ekspresi tergagap. Sebenarnya, banyak kalimat yang ingin ia ucapkan ketika bertemu dengan wanita itu, tapi apa boleh dikata? Sang ibu hanya bisa terbaring tak berdaya.
Bari yang berdiri menyisih tak sedikit pun bersuara, ia ingin memberikan ruang penuh kepada adiknya untuk melepaskan jerat rindu yang sudah menahun. Sepuluh tahun bukanlah waktu sebentar bagi mereka. Sepuluh tahun berkalung resah. Sepuluh tahun bergelang rindu. Sepuluh tahun berkubang derita.
Perpisahan adalah spesies tak berujung yang akan menggerogoti hati hingga jantung tak lagi menjalankan fungsinya dengan baik. Tubuh terhanyut dalam rasa pedih sehingga semangat untuk hidup tak lagi menemani.
Elita ... kehilangan semangat hidupnya selama rindu dikandung badan. Akankah kehadiran Dias bisa mengembalikan semangat hidupnya?
"Bu," seru Dias dengan nada lirih. Gadis itu sudah duduk di atas kursi yang tersedia di samping brankar. Kedua tangannya menggenggam erat telapak tangan pucat yang msh terpasang infus di punggungnya itu.
"Aku pulang," tuturnya lagi seraya mengecupi telapak tangan sang ibu dengan bertubi-tubi.
Elita masih tak merespon. Membuat Dias menoleh pada sang kakak.
Bari hanya mengangguk sebagai kode bahwa Dias harus terus berbicara.
"Apa ibu tidak ingin memelukku? Aku rindu dipeluk ibu?"
TIT ... TIT ... TIT ....
Monitor yang ada di samping brankar tiba-tiba berbunyi dengan tempo cepat.
__ADS_1
Dias tampak gelagapan. Sementara Bari langsung mendekat. Ditekannya tombol urgen yang ada, lalu memeluk Dias yang kini sudah menangis karena khawatir dirinya telah melakukan sebuah kesalahan. Padahal ia hanya mengajak sang ibu berbicara, tapi kenapa begini jadinya?
Tak berapa lama, dokter dan dua orang perawat memasuki ruangan. Ia meminta Bari dan Dias untuk menyisih, selama mereka melakukan pemeriksaan.
Dua kakak beradik itu saling rengkuh dan menguatkan diri masing-masing. Mereka sama-sama berharap semoga hal itu menjadi tanda-tanda baik untuk kondisi sang ibu.
Hingga beberapa menit berlalu dalam ketegangan. Bari masih memeluk Dias yang sedari tadi menangis tergugu. Sementara Dokter dan perawatnya pun sudah selesai dengan pekerjaan mereka.
Ketiganya mundur, memberi ruang kepada kakak beradik itu untuk mendekat. Di atas brankar, Elita dengan senyuman lemah menatap keduanya penuh damba.
"Ibu?" Dias berlari ke arah sang ibu, lalu memeluk tubuh lemah wanita paruh baya itu.
"Di-Dias, pu-putriku!" gumam Elita dengan nada parau kalimatnya masih terbata.
Dias mengangguk berkali-kali. Air mata bahagia kini membanjiri pipinya.
"Ibu harus sembuh, Ibu tidak boleh pergi meninggalkan aku. Aku sudah pulang, Bu." Permintaan Dias membuat Elita mengulum senyuman.
Dokter dan perawatnya langsung keluar dari ruangan setelah berbicara dua tiga patah kata dengan Bari.
Pemuda brewok itu mendekat, lalu berdiri di seberang Dias.
Arah pandang Elita bergulir pada putra sulungnya. Sementara tangannya masih memeluk sang putri bungsu yang masih larut dalam dekapannya.
Selama dirinya terbaring di rumah sakit, bukan nama 'Reyden' yang terucap dalam alam bawah sadarnya, namun 'Bari' yang disadur dari penggalan terakhir nama pemuda itu--Elbarak. Namun, sedikit dipelesetkan.
Bari adalah panggilan sayang yang disematkan oleh sang ayah. Maka sejak sang ibu dirawat di rumah sakit, Bari langsung menggunakan nama itu sebagai samaran. Tentu saja, untuk menyamarkan identitasnya.
Mendengar suara sang ibu, Bari langsung mengangguk. Menatap lekat dua manik kecoklatan yang sudah lama dirindukannya itu.
"Bari?" Dias mengernyit, lalu menarik dirinya dari pelukan Elita.
"Sejak kapan nama kakak berubah menjadi Bari?" tanyanya pada sang ibu.
Elita tersenyum. Sebenarnya wanita itu masih terlalu lemah untuk banyak berkomunikasi, namun waktu bertemu Dias sangatlah berharga. Ia tidak ingin menyia-nyiakan momen emas yang sudah dinanti-nantikan bertahun-tahun lamanya.
"Bukankah almarhum ayahmu suka sekali memanggil kakakmu dengan nama itu?" tanya Elita--mencoba mengingatkan Dias kembali pada memori masa lampau.
Dias bergeming. Pandangannya lurus ke arah Bari.
Drrrt ... Drrrt ....
Ponsel Bari tiba-tiba bergetar. Dirogohnya saku jaket andalan, lalu menerima panggilan tersebut.
__ADS_1
"Ya, Om?" sambut pemuda itu mewakili kata halo.
Dias dan Elita sama-sama melihat ke arah Bari. Membuat pemuda itu tak bisa menjauhkan diri karena khawatir dua wanita beda generasi di hadapannya akan mencurigai sesuatu.
"Baik, saya akan segera ke sana." Bari kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket bagian dalam.
"Kakak mau kemana?" Dias masih menatap lekat ke arah Bari. Sementara Elita hanya diam saja.
"Ada sedikit urusan. Kau jaga ibu, ya. Jangan kemana-mana." Bari berkata seraya tersenyum pada sang adik.
Dias mengangguk patuh.
"Bu, aku pamit keluar sebentar," ucapnya pada sang ibu. Diraihnya tangan pucat Elita, lalu mencium punggungnya.
"Hati-hati, Nak."
Sebenarnya wanita itu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang putra. Namun, ia tidak mungkin bertanya di depan Dias.
***
"Bagaimana?" tanya seorang lelaki paruh baya yang duduk di hadapan Bari.
"Adikku sudah ditemukan," jawabnya seraya mengangguk.
"Bagus, sekarang tinggal misi selanjutnya," kata pria itu sambil menyerahkan sebuah air soft gun pada Bari.
Keduanya sama-sama berada di atas gedung sebuah hotel mewah.
"Apa samudera birunya masih ada padamu?" tanya pria paruh baya itu lagi. Wajahnya tidak terlalu jelas terlihat, sebab saat ini ia sedang mengenakan hoodie jaket, masker, dan kacamata hitam.
"Tentu saja, Om."
Bari merogoh sebuah rubik berwarna pelangi dari saku celananya yang besar. Lalu meletakkannya di atas telapak tangan. Menekan salah satu persegi yang berfungsi sebagai tombol yang berada di bagian atas, lalu bagian rubik yang lain berputar zig-zag ke bagian luar.
Bisa dilihat dengan jelas, sebuah kalung berlian dengan liontin bulat berwarna biru terpampang di dalamnya.
"Besok malam transaksinya, kau bersiaplah!" titah pria paruh baya itu, lalu diangguki oleh Bari.
Pemuda brewok itu kembali memasukkan rubik pelangi ke dalam saku celananya, lalu melenggang dari sana.
"Berhati-hatilah, Reyden!" ucap pria paruh baya itu yang sukses membuat Bari merotasikan lehernya.
"Terima kasih, Om." Bari menundukkan pad topinya, lalu kembali meneruskan langkah.
__ADS_1