Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 10


__ADS_3

Arion menghentikan motornya di depan rumahnya. Bukan hanya hatinya yang masih terasa sakit tapi juga raganya. Kepalanya terasa pusing bahkan dia sempat mimisan saat dijalan.


Arion kini masuk ke dalam rumah. Seperti biasa, dia menuntun neneknya dulu masuk ke dalam kamar karena neneknya masih saja menunggunya di ruang tamu. Setelah itu, dia masuk ke dalam kamar untuk mengambil handuk dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Air dingin yang langsung melewati tubuhnya itu membuatnya menggigil.


"Tadi badan aku gerah, sekarang jadi kedinginan gini." Arion segera memakai baju lengan panjang dan juga celana panjangnya. Kemudian dia naik ke atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Dia meraih ponselnya yang berada di atas meja. "Aya?"


Arion mengangkat panggilan itu.


"Hallo, Aya..."


Arion sangat terkejut saat mendengar Cahaya berada di depan rumahnya. Kemudian dia turun dari ranjangnya. Cepat-cepat dia keluar dari rumah dan melihat Cahaya memang ada di depan rumahnya.


"Aya, ngapain malam-malam kamu ke sini?" tanya Arion dengan suara pelan agar nenek dan tetangganya tidak dengar.


Cahaya semakin menangis dan memeluk Arion. "Rion, aku gak mau tunangan sama Bayu. Rion, jangan tinggalin aku. Aku mau sama kamu."


"Aya, aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku gak bisa melawan orang tua kamu."


Cahaya semakin menangis sampai Arion takut suara Cahaya terdengar oleh tetangganya. "Kamu sekarang pulang. Ini sudah larut malam."


Cahaya masih saja menggelengkan kepalanya.


"Aya, jangan nangis di sini nanti tetangga aku dengar." Arion melihat ke dalam rumahnya sesaat untuk memastikan kamar neneknya yang tertutup rapat. Kemudian dia menarik tangan Cahaya masuk ke dalam rumah.


Setelah mengunci pintu rumah, Arion kembali menarik tangan Cahaya masuk ke dalam kamarnya. Kebetulan kamarnya memang tidak terlalu berdekatan dengan kamar neneknya.


"Aya, udah. Jangan menangis lagi." Arion menghapus air mata di pipi Cahaya. Kedua mata Cahaya juga sangat sembab karena sedari tadi terus menangis.


"Rion, aku gak mau tunangan sama Bayu. Orang tua aku terus memaksa aku. Rion, aku mau sama kamu."


"Aya, pilihan orang tua kamu itu yang terbaik buat kamu. Aku gak punya apa-apa dibandingkan dengan Bayu."


"Tapi kamu jauh lebih baik daripada Bayu."

__ADS_1


"Bayu itu juga baik."


Cahaya menggelengkan kepalanya. "Kalau Bayu baik, dia gak mungkin rebut aku dari kamu dengan memanfaatkan perjodohan ini."


Arion terdiam beberapa saat. Apa yang dikatakan Cahaya memang benar. Dia juga tidak mengira Bayu tega melakukan itu padanya dan menyembunyikan darinya.


"Kamu tidak mau berjuang buat aku?" tanya Cahaya sambil menatap wajah Arion.


"Bukannya gak mau berjuang buat kamu, tapi aku gak punya power. Kamu lihat, aku gak punya apa-apa, dan aku juga sedang sakit parah. Kamu pasti akan hidup susah sama aku. Aya, aku rela melepas kamu untuk kebahagiaan kamu."


"Ya udah, kalau kamu memang gak mau berjuang buat aku." Cahaya akan keluar dari kamar Arion tapi Arion menahannya.


"Aya, bukan seperti itu. Kalau kamu mau pulang aku antar."


"Aku gak mau pulang."


"Terus kamu mau kemana? Udah larut malam, bahaya buat kamu."


Cahaya beringsut duduk dilantai. "Kamu gak tahu rasanya hidup jadi aku. Hidup aku selalu diatur sejak kecil. Aku gak boleh menentukan pilihan sendiri."


"Aya..." Arion memeluk Cahaya dan menenangkannya. "Iya, aku mengerti perasaan kamu. Tapi kamu juga tidak tahu rasanya ditinggal pergi kedua orang tua, itu sangat menyedihkan. Selagi kedua orang tua kamu masih ada di dunia ini, kamu harus berbakti pada kedua orang tua kamu."


"Aya, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya."


"Tapi orang tua lain juga memikirkan kebahagiaan anaknya selama itu tidak buruk."


Arion semakin mendekap kepala Cahaya. "Sudah, jangan menangis lagi. Aku semakin sedih lihat kamu kayak gini. Mungkin ini memang takdir buat kita."


"Rion, malam ini aku mau menginap di sini ya."


"Aya, nanti kamu dimarahi." Arion meregangkan pelukannya dan menatap kedua mata sayu Cahaya.


"Biar sekalian saja aku dimarahi, daripada aku pergi dan tidak pulang lagi."


"Aya, jangan pernah ada pikiran kabur dari rumah. Itu bukan solusi tapi semakin menambah masalah baru."


"Rion, aku harus bagaimana agar perjodohan ini batal?" Cahaya kembali menempelkan wajahnya di dada Arion.

__ADS_1


"Kalau kita memang jodoh, pasti ada jalan untuk bersatu. Kita berdo'a saja."


Kemudian Cahaya terdiam, hanya isak tangis yang sesekali terdengar. "Rion, aku capek, aku mau tidur di sini ya. Besok pagi-pagi saja aku pulang," pinta Cahaya.


Arion tak bisa menolak keinginan Cahaya yang terus memaksa. Kemudian dia berdiri dan menata tempat tidurnya. "Tempat tidur aku sempit dan keras, memang kamu bisa tidur di sini?"


Cahaya menganggukkan kepalanya lalu dia duduk di tepi ranjang sambil melihat Arion yang sedang mengambil selimut tipis dan menggelarnya di lantai. "Bisa kok. Kamu mau tidur di bawah?"


"Iya, gak papa kamu tidur di atas saja."


"Jangan, nanti kamu kedinginan." Cahaya menarik lengan Arion agar duduk di sebelahnya. "Di sini saja. Aku yakin kamu gak akan melakukan apapun."


"Ya udah, kamu cepat tidur. Besok pagi-pagi sekali aku antar kamu pulang sebelum nenek bangun."


Cahaya menganggukkan kepalanya lalu dia merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia memiringkan tubuhnya dan menatap Arion yang berada di dekatnya. "Rion, apa suatu saat nanti kita bisa seperti ini dalam ikatan yang sah?"


"Kita berdo'a saja. Meskipun aku sendiri juga tidak yakin."


"Rion..." Cahaya mendekatkan dirinya dan memeluk Arion. "Badan kamu semakin hangat. Kamu gak enak badan?"


"Iya, mungkin aku kecapekan. Aku gak papa. Sekarang kamu tidur saja." Arion hanya mengusap rambut Cahaya. Dia tidak mungkin bisa tidur malam itu. Dia tahu ini salah, membiarkan Cahaya tidur bersamanya. Jika orang tua Cahaya tahu putrinya sekarang bersamanya, pasti mereka akan sangat marah.


Arion menatap wajah Cahaya yang kini sudah tertidur dalam pelukannya.


Aya, aku gak mau kamu terus bersedih.


Beberapa saat kemudian Arion ikut tertidur. Hingga matahari bersinar terang, Arion baru terbangun. Dia terkejut karena harusnya dia bangun sebelum matahari terbit dan mengantar Cahaya. "Aya, sudah siang!"


Arion melepas pelukannya lalu turun dari ranjang. Sedangkan Cahaya masih menguap dan meregangkan ototnya. Semalam tidurnya terasa sangat nyenyak.


"Arion! Keluar kamu!"


Seketika Cahaya duduk dan rasa kantuknya hilang saat mendengar suara Papanya yang terdengar keras di depan pintu. "Itu Papa..."


💞💞💞


Like dan komen ya...

__ADS_1


Sepinya.... 🥲 Cerita Arion ini berat di awal aja kok. 🤔


__ADS_2