
"Memang ada masalah apa?" Nissa semakin mendekat, bahkan lekuk tubuh sexy Nissa kini menempel di lengan Bayu.
Kenapa tubuhku bisa bereaksi seperti ini?
Seketika Bayu menatap Nissa. Dia merasakan jemari lentik Nissa menyentuh dadanya dan membentuk pola abstrak di sana. "Pak, kalau merasa pusing, kita bisa bersenang-senang. Siapa tahu Pak Bayu bisa melupakan masalahnya."
"Bersenang-senang?"
"Iya, selain menjadi staff, aku juga bisa menjadi apa saja." Nissa semakin mendekat. Bahkan kini tangannya sudah berpindah ke paha Bayu dan mengusapnya, karena tidak ada penolakan dari Bayu, dia semakin berani.
Bayu merasakan sentuhan lembut itu. Dia bisa merasakan bagian tubuhnya semakin bereaksi. Apalagi saat usapan itu semakin ke atas.
Nissa mendekatkan wajahnya di telinga Bayu. Hembusan napasnya yang hangat membuat Bayu semakin merinding.
"Sebenarnya saya sudah lama suka Pak Bayu, tapi sayang Pak Bayu sudah punya istri. Tapi kalau Pak Bayu mau, aku bisa melakukan apapun untuk Pak Bayu." Tangan Nissa semakin berani menyentuh Bayu.
Bayu memejamkan kedua matanya sesaat merasakan sentuhan tangan Nissa. Apa dia sudah sembuh? Dia benar-benar bisa merespon sentuhan itu.
"Sudah sangat keras," bisik Nissa lagi.
Seketika Bayu berdiri. Buru-buru dia keluar dari klub lalu menaiki mobilnya. "Apa aku sudah sembuh? Aku harus mencobanya lagi dengan Aya."
Bayu segera melajukan mobilnya pulang ke rumah. Dia sudah tidak sabar untuk melanjutkannya bersama Cahaya. Setelah sampai di rumah, dia segera masuk ke dalam kamarnya. Dia lepas jaket dan kemejanya lalu merangkak ke atas ranjang.
"Sayang, sudah tidur?" Bayu langsung menindih tubuh Cahaya.
Seketika Cahaya membuka kedua matanya. "Ada apa?"
Bayu memandang wajah mengantuk Cahaya lalu mencium bibirnya singkat.
"Mas, bau alkohol. Habis minum?"
"Iya, sedikit." Bayu mencium pipi Cahaya lalu mengendus lehernya. Dia kembali menyentuh Cahaya, bahkan sudah melihat tubuh Cahaya pun gairahnya tetap tidak muncul lagi.
Bayu menarik napas dalam lalu menghembuskannya. Dia kembali menghempaskan dirinya di samping Cahaya.
Cahaya kembali merapikan piyamanya lalu memunggungi Bayu. Sudah kesekian kalinya Bayu seperti ini, bahkan sudah tak terhitung lagi.
Bayu masih ingat kata dokter yang menanganinya, selain luka fisik, kondisi psikologis juga sangat berpengaruh pada kesembuhannya.
"Aya, apa sebenarnya kamu gak mau melakukannya sama aku?" tanya Bayu.
__ADS_1
"Kalau aku gak mau, pasti aku sudah menolak atau mendorong kamu."
"Aya!" Bayu manarik tangan Cahaya agar menyentuh dirinya. "Kamu coba sentuh aku, buat stimulasi di tubuh aku. Mungkin hasrat aku akan muncul kalau kamu yang memulainya."
Cahaya melepas paksa tangannya dari genggaman Bayu. "Aku gak mau. Aku tidak melarang kamu melakukannya sama aku, karena aku tahu itu kewajiban seorang istri. Tapi aku gak mau memulainya."
"Jadi kamu mau melakukannya hanya karena kewajiban. Kamu gak ada perasaan apa-apa?"
Cahaya tak menjawabnya. Dia kembali menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. "Aku tidak menutup diriku kalau kamu mau datang, tapi aku tidak bisa kalau harus memulai atau merayu kamu."
Bayu memukul ranjang karena merasa kesal kemudian dia turun dari ranjang dan memakai piyamanya. Dia membawa ponselnya lalu keluar dari kamarnya.
Dia kini masuk ke dalam ruang kerjanya dan menutup pintu kerjanya. Dia duduk di kursi kerjanya sambil menatap ponselnya. Kemudian dia mencari nama Nissa di grup chat perusahaannya. "Ini dia Nissa. Aku masih penasaran kenapa aku bisa bereaksi saat Nissa menyentuhku. Apa karena Aya tidak pernah mau membalas sentuhanku, jadi hasrat aku tidak terpancing."
Awalnya Bayu ragu untuk menghubungi Nissa, tapi dia sangat penasaran dengan dirinya sendiri. Akhirnya dia menghubungi Nissa. Cukup lama, sampai beberapa kali akhirnya Nissa mengangkat panggilannya.
"Hallo, ini siapa?"
"Nissa, ini aku Bayu."
"Oo, Pak Bayu. Ada apa, Pak? Saya baru saja sampai rumah."
"Iya, bisa."
Kemudian Bayu mengalihkan panggilan menjadi panggilan video.
"Ada perlu apa, Pak?"
Bayu menatap Nissa dari layar ponselnya yang hanya memakai tanktop hingga belahan dadanya terlihat. Jika dibandingkan dengan Cahaya sebenarnya tubuh mereka sama-sama sexy, putih, dan mulus. Tapi entah mengapa justru Nissa yang bisa membangkitkan hasratnya.
Bayu berdiri dan mengunci pintu ruang kerjanya. Dia juga menutup rapat tirai. Ruangan itu kedap suara, tidak akan ada yang bisa mendengar suaranya dari luar.
"Kalau diluar kantor, jangan panggil Pak."
"Panggil apa? Mas Bayu?"
Suara Nissa terdengar sangat manja bahkan senyumnya terus mengembang di bibir Nissa. "Mas Bayu tidak tidur sama istri? Tadi kan sudah bereaksi yang bawah."
Bayu terdiam beberapa saat dan terus menatap Nissa dari layarnya. "Aku boleh cerita sama kamu?"
"Tentu saja boleh."
__ADS_1
"Sebenarnya aku impoten karena aku pernah terjatuh dari tangga dan terbentur."
Nissa terkejut mendengar hal itu. "Impoten? Mana mungkin Mas, tadi keras kok." Terdengar Nissa tertawa kecil. Dia memang seorang gadis nakal. Kapanlagi menggoda bosnya dan direspon seperti ini.
"Nah, itu aku juga tidak mengerti. Setiap kali aku akan melakukan sama istriku, aku gak bisa. Bahkan sampai empat tahun aku sudah berobat kemana-mana, dan sampai sekarang aku belum sembuh."
"Oo, jadi karena itu Mas Bayu sampai sekarang belum punya anak."
"Iya, tadi waktu kamu sentuh bereaksi. Aku kira sudah sembuh, tapi ternyata sama saja. Aku belum bisa melakukannya sama istri aku."
"Mungkin selain trauma secara fisik, Mas Bayu juga punya trauma secara psikis. Mungkin ada yang mengganjal pikiran Mas Bayu."
Bayu memasang ponselnya di holder lalu dia bersandar. "Iya. Sebenarnya istriku hanya setengah hati denganku. Kita menikah karena dijodohkan, tapi aku sangat mencintainya."
"Ya, bisa saja karena itu. Mas Bayu tidak pernah mencoba dengan cara lain?"
Bayu menggelengkan kepalanya. "Cara apa?" Bayu menatap Nissa yang tersenyum menggodanya. Dia semakin membusungkan dadanya dan menggoda Bayu.
"Aku bantu dari sini ya. Mumpung aku juga lagi pengen."
Bayu semakin menegang saat melihat Nissa berani membuka seluruh pakaiannya. Kemudian dia memainkan miliknya sambil men de sah.
"Mas, ayo... Ikuti aku."
Suara manja Nissa membuat hasrat itu kembali muncul. Lekuk tubuh dan ekspresi menggoda itu membuat Bayu tidak bisa menahannya. Dia membuka celananya dan miliknya memang sudah normal seperti semula.
"Mas, itu bisa."
"Aku juga tidak tahu." Bayu mencoba memainkannya ditemani Nissa lewat video call itu. Mereka saling berbalas de sah dan membayangkan seolah-olah mereka benar-benar melakukannya. Hingga akhirnya Bayu mencapai pelepasannya.
"Itu tandanya Mas Bayu sudah kembali normal."
"Tapi kenapa aku tidak bisa melakukannya sama istriku?"
"Ya tidak tahu."
Setelah membersihkan diri, Bayu kembali mengobrol dengan Nissa hingga dia tertidur di kantornya.
💞💞💞
Dikira ada pebinor ternyata ada pelakor... 🤔
__ADS_1