
Cahaya terkejut saat Arion membawanya ke villa yang berada di atas bukit. Bukit yang pernah menjadi kenangan manis antara dia dan Arion. Dia sama sekali tidak tahu jika villa itu milik Arion.
"Jadi ini villa kamu?" tanya Cahaya setelah masuk ke dalam villa itu.
Arion mengunci pintu villa itu lalu merengkuh bahu Cahaya. "Iya, aku membelinya dua tahun yang lalu. Aku kira, aku tidak akan bersama kamu lagi jadi aku beli villa ini untuk mengenang kisah kita. Ternyata villa ini justru akan menjadi saksi cinta kita."
Kemudian Arion menuntun Cahaya menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar yang berada di lantai dua.
"Pemandangannya bagus banget." Cahaya tersenyum saat berdiri di dekat jendela. Dia melihat pemandangan perkotaan yang berselimut kabut dan terlihat indah.
Kemudian Arion memeluk Cahaya dari belakang sambil mencium pipi Cahaya singkat. "Kamu suka?"
"Suka banget. Makasih ya."
"Jangan bilang terima kasih sama aku. Takdirlah yang telah menyatukan kita."
Cahaya hanya tersenyum sambil menikmati pemandangan itu dan merasakan hangat pelukan Arion di belakangnya.
Perlahan tangan Arion menyusup di balik blouse yang Cahaya pakai dan bermain di area yang kini telah menjadi favoritnya.
"Mas, baru juga sampai."
"Apa? Aku cuma pegang."
"Pegang?"
Arion semakin menempelkan tubuhnya di belakang Cahaya dan mengendus leher Cahaya. "Iya, pegang, biar tegangannya naik."
Cahaya semakin membusungkan dadanya saat Arion terus mengeksplor dengan tangannya.
Arion menyingkap blouse itu hingga melewati kepala Cahaya lalu menjatuhkannya di lantai.
"Tuh kan, katanya cuma pegang."
Arion hanya tersenyum kecil. Dia semakin mendorong Cahaya hingga tangan Cahaya menapak di kaca jendela.
"Mas, nanti ada yang lihat dari luar jendela."
"Kaca ini tidak tembus pandang dari luar."
"Tapi Mas..."
__ADS_1
Arion kembali membungkam bibir Cahaya dengan bibirnya. Kedua tangan Arion semakin memberi stimulasi di titik-titik sensitif Cahaya
"Sebagai pembukaan di tempat ini." Perlahan Arion memutar tubuh Cahaya dan membuatnya duduk di dekat jendela. Dia mendekatkan wajahnya dan menyusuri wajah Cahaya dari atas, perlahan ke bawah dan berhenti di leher seputih susu itu. Beberapa tanda merah masih terlihat, Arion sudah menambahnya lagi.
Cahaya tak mengira, Arion perayu yang ulung. Dia sudah dibuat Arion melambung tinggi berulang kali.
Arion mengangkat satu kaki Cahaya, dia menahan punggung Cahaya dan mencari posisi yang pas.
"Mas..."
"Kenapa?"
Cahaya menggigit bibir bawahnya saat Arion berhasil menerobos masuk lagi. Kali ini dengan posisi yang berbeda. Cahaya semakin bersandar di jendela saat Arion terus menghujamnya.
"Aya, aku sayang kamu."
Di saat gairah memenuhi Arion, dia selalu membisikkan kata-kata manis di telinga Cahaya ditambah de sa han di ujung kalimatnya, karena hal itu selalu berhasil membuat Cahaya semakin menikmatinya.
...***...
Hari-hari pun berlalu, setelah menikmati masa bulan madu mereka selama tiga hari, mereka memutuskan untuk pulang dan kembali beraktifitas seperti biasanya karena pekerjaan mereka juga sudah sangat menumpuk.
"Kita tidak mungkin meninggalkan Mama kamu sendiri di rumah. Meskipun aku juga berat meninggalkan Mama dan Papa, karena mereka mengadopsi aku agar aku bisa menemani mereka sampai tua."
"Kalau Mas Rion berat meninggalkan orang tua, tidak apa-apa, aku ikut aja. Nanti aku bicara sama Mama enaknya bagaimana."
"Jangan! Mama kamu sendirian. Kalau Mama aku masih ada Papa dan juga si kembar yang sering main ke rumah. Kita minta izin dulu sama Papa dan Mama. Semoga mereka mengerti."
Setelah menghentikan mobilnya di halaman rumah, Arion dan Cahaya turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sambil bergandengan tangan.
Di dalam ada kedua orang tua Arion, Sky, dan juga Shena. Ada si kembar juga yang sedang bermain playstation milik Arion.
"PS Om dibuat main tanpa izin," goda Arion. Dia mengusap puncak kepala Ara dan Ares secara bergantian. "Jangan lama-lama kalau main, nanti dimarahi Papa."
"Iya, Om. Papa gak mau beliin kita PS. Padahal kita suka bermain PS."
"Kalau Papa beliin kalian gak mau belajar," sahut Sky. "Rion, gimana? Kamu tinggal di sini atau di rumah Aya."
Arion duduk di sofa dan bergabung dengan keluarganya. Begitu juga dengan Cahaya yang duduk di sebelahnya. "Aku sudah memutuskan untuk tinggal di rumah Aya. Maaf ya, Ma. Kita tidak bisa meninggalkan Mama Weni sendiri di rumah."
Ida tersenyum lalu menggeser tempat Sky agar duduk di sebelah Arion. "Tidak apa-apa. Itu keputusan yang tepat. Sky dan Si kembar masih sering main ke sini. Kasihan kalau Bu Weni di rumah seorang diri."
__ADS_1
"Makasih, Ma. Mama memang sangat pengertian. Aku takut, Mama menganggap aku anak durhaka setelah Mama dan Papa mengangkat derajatku. Aku belum bisa membalas semua kebaikan Mama dan Papa."
"Rion, bagi Mama dan Papa kesuksesan kamu yang kamu raih saat ini adalah bentuk bakti kamu. Mama sangat beruntung mempunyai anak seperti kamu. Suatu saat nanti ketika kamu menjadi orang tua, kamu pasti mengerti bahwa kebaikan orang tua tidak butuh balasan. Sebagai orang tua sudah sangat bahagia ketika melihat anak-anaknya sukses."
"Betul apa yang dikatakan Mama kamu. Semoga kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu," kata Alex.
Mendengat semua itu, hati Cahaya benar-benar tersentuh. Angan-angannya selama ini memiliki mertua yang hangat dia dapatkan di keluarga Arion.
"Mama, biar aku, Shena, dan si kembar yang tinggal di sini. Menemani Mama." Kemudian Sky merangkul bahu Mamanya. "Aku akan pindah ke rumah ini, kalau Mama mengizinkan keluarga perusuh tinggal di sini."
Kedua mata Ida berkaca-kaca. Dia mencubit pipi Sky. "Jelas Mama izinkan. Ini juga rumah kamu. Asalkan Shena juga mau."
"Mama, Shena yang mengusulkan ini."
"Iya, Ma. Kebetulan sekali Kak Arnav juga tinggal bersama Mama. Jadi biarkan kita yang menemani Mama Ida," kata Shena.
"Yee, kita tinggal di sini, Ma," teriak si kembar. "Yee, kita bisa main PS setiap hari."
"No! Itu punya Om Rion. Nanti PSnya dibawa Om Rion."
"Yah, Papa gitu. Gak asyik."
"Iya, Pa. Beliin PS dong."
"Ara, kamu perempuan suka banget sama game. Gak boleh main game lama-lama."
Papa muda dan kedua anaknya itu mulai berdebat.
"Om Rion, jangan dibawa PSnya. Ares beli deh, nanti Ares cicil pakai uang saku."
"Udah, udah, kamu buat main saja. Tapi ingat, waktunya belajar harus belajar," kata Arion. Dia teringat dirinya waktu kecil. Di saat dia ingin bermain playstation tapi dia tidak punya uang untuk menyewanya walau hanya satu jam.
"Makasih, Om."
"Rion, udah punya mainan baru, udah gak kepegang PSnya," kata Sky menggoda Arion.
Arion hanya tertawa dan mengajak Cahaya ke kamarnya. "Kita menginap di sini semalam, baru besok aku berkemas."
💞💞💞
Like dan komen ya...
__ADS_1