
Kini hanya tinggal Arion dan Cahaya yang berada di dalam ruangan itu. Banyak hal yang ingin dikatakan Arion, tapi dia tidak tahu harus dimulai darimana.
Akhirnya Arion membuka laptopnya lagi. Pandangannya memang tertuju pada laptop tapi otaknya sedang memikirkan banyak hal.
"Aku sudah melihat bagian produksi dan ada beberapa mesin yang kurang, nanti aku tambah kekurangan itu. Nanti setelah istirahat aku akan briefing manager produksi dan pemasaran. Ada masalah juga dengan manager keuangan, tim audit akan memeriksa semua keuangan dan aku akan mengganti manager keuangan juga," jelas Arion.
"Iya, keuangan di perusahaan ini memang sangat bermasalah, Pak. Saya sudah..."
"Kalau hanya berdua jangan panggil, Pak." kata Arion memotong pembicaraan mereka.
Cahaya hanya menganggukkan kepalanya. Jujur saja, dia masih sangat grogi berada di dekat Arion.
"Kamu gak makan siang?" tanya Arion.
"Iya, sebentar lagi."
Arion menutup laptopnya kemudian dia menatap Cahaya yang sedari tadi mengalihkan pandangan darinya. "Aya, maaf aku gak tahu kalau ini perusahaan kamu dan aku juga turut berduka cita atas meninggalnya Papa kamu."
"Kamu tahu darimana?"
"Dari cerita Nindi."
"Aku mau meminta maaf atas perbuatan Papa sama kamu dulu," kata Cahaya sambil menatap Arion.
"Semua sudah berlalu. Tidak perlu dibahas lagi. Aku juga sudah memaafkan kedua orang tua kamu. Semoga Papa kamu tenang di sana."
Cahaya hanya mengangguk kecil, kemudian tidak ada pembicaraan di antara mereka. Begitu banyak yang ingin mereka bicarakan tapi hanya tersimpan di dalam hati mereka masing-masing.
Beberapa saat kemudian, ponsel Cahaya berbunyi. Dia segera mengangkat panggilan itu. Dia sangat terkejut mendengar kabar dari rumah sakit.
"Mama, jatuh di kamar mandi? Iya, saya akan segera ke sana." Cahaya berdiri dan keluar dari ruang rapat. Dia menuju ruangannya untuk mengambil tasnya.
"Ayo, aku antar," kata Arion sambil mengikuti Cahaya.
"Bukannya mobil kamu dibawa sama assistant kamu?"
"Tidak, mereka naik grab car. Tidak apa-apa, agar cepat sampai."
Cahaya akhirnya mengiyakan tawaran Arion. Mereka segera keluar dari kantor dan menuju tempat parkir.
__ADS_1
Arion membukakan pintu untuk Cahaya di jok depan. Setelah Cahaya masuk ke dalam mobil, Arion kini duduk di kursi pengemudi dan segera melajukan mobilnya.
"Di rumah sakit mana?" tanya Arion.
"Di RSJ yang ada di perbatasan kota."
"Lumayan jauh ya. Ngomong-ngomong kenapa Mama kamu masuk RSJ?" tanya Arion.
Cahaya terdiam beberapa saat, dia hanya menundukkan pandangannya.
"Eh, maaf. Bukan maksud aku buat kamu sedih."
"Mama sangat sedih kehilangan Papa. Emosinya tidak terkendali. Mama merasa telah ditipu oleh keluarga Bayu dan Mama mengamuk di rumah Bayu, itu yang membuat Mama dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh orang tua Bayu." Setetes air mata jatuh di pipi Cahaya lalu buru-buru dia menghapusnya. "Aku yakin Mama gak gila. Mama cuma melampiaskan rasa marahnya, mereka tidak memperbolehkan aku menenangkan Mama, padahal seharusnya aku yang merawat Mama."
Arion fokus dengan jalanan sambil mendengar cerita Cahaya. "Rumah kamu gimana?"
"Rumah aku disita bank. Aku memang sudah tidak punya apa-apa lagi. Hanya saham 20% yang sekarang berada di perusahaan itu Untunglah kamu yang membeli semua saham itu, hingga perusahaan itu jatuh ke tangan kamu, kalau bukan kamu, mungkin aku sudah dilempar keluar dari perusahaan dan gak mungkin jadi direktur lagi."
"Makanya aku akan mengganti manager keuangan. Manager keuangan kamu gak beres. Sepertinya dia masih bekerja sama dengan keluarga Bayu."
Cahaya hanya terdiam, dia juga tidak mengerti kenapa keluarga Bayu tega dengannya. Andai saja dia punya keberanian meminta cerai dengan Bayu, mungkin hidupnya akan bebas. Tapi Bayu tidak akan mungkin melepaskannya.
"Kalau kamu mau, biar aku bantu kamu tebus rumah kamu lagi, agar Mama kamu bisa menempatinya."
Arion hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian, mereka sampai di rumah sakit itu. Mereka berdua segera masuk ke dalam rumah sakit dan menemui Mamanya Cahaya.
"Mama, kenapa bisa jatuh?" tanya Cahaya sambil menghampiri Mamanya yang sedang duduk dengan kaki yang terluka.
"Mama terpeleset," kata Weni dengan tatapan yang kosong.
Sedangkan Arion hanya menatap mereka dari kejauhan.
"Mama, cepat sembuh ya. Nanti Aya pasti akan bawa Mama keluar dari sini. Sekarang, Aya sudah menempati direktur di perusahaan Papa."
"Aya, maafin Mama." Kemudian Weni memeluk Cahaya sambil menangis. "Seandainya Mama tidak memaksa kamu menikah dengan Bayu, pasti hidup kamu tidak menderita seperti ini. Mereka sudah menipu kita. Kamu harus berpisah dengan Bayu, kamu harus keluar dari rumah itu."
"Bayu tidak mungkin membiarkan Aya pergi dari rumah, Ma." Cahaya melepas pelukannya lalu menghapus air mata Mamanya. "Mama tidak usah sedih dan jangan memikirkan Aya. Bayu baik kok sama Aya. Pokoknya suatu saat nanti kalau Aya berhasil menebus rumah kita, Aya janji akan ajak Mama pulang ke rumah."
Weni hanya tersenyum kecil. "Mama sudah bisa hidup di sini. Sekarang Mama membantu orang dapur memasak. Kamu juga tidak perlu memikirkan Mama di sini, yang terpenting kamu percaya kalau Mama itu tidak gila."
__ADS_1
"Iya, Ma. Mama sebentar ya, Aya mau ke toilet." Kemudian Cahaya berdiri dan setengah berlari menuju toilet.
Barulah kini Weni tahu keberadaan Arion. "Rion..."
Mau tidak mau Arion berjalan mendekat. Dia bersalaman dengan Weni lalu duduk di dekatnya.
"Kamu yang mengantar Aya ke sini?"
Arion hanya menganggukkan kepalanya.
"Rion, Tante minta maaf sama kamu. Tante dulu terus menghina kamu. Maafkan Tante ya."
"Tidak apa-apa, Tante. Saya sudah memaafkan, Tante."
"Rion, boleh Tante minta satu hal sama kamu. Tolong bawa Aya keluar dari rumah Bayu, sebelum Aya semakin tersiksa."
"Maaf Tante, bukan saya tidak mau. Saya justru sangat ingin membantu Aya, tapi bagaimanapun juga Bayu adalah suami sah Aya. Saya tidak mungkin merebut Aya dari Bayu. Kecuali jika Bayu telah menceraikan Aya."
"Bayu tidak mungkin menceraikan Aya. Dia terlalu terobsesi dengan Aya. Tante tidak tahu lagi harus bagaimana membantu Aya."
"Saya pasti akan menjaga Aya dari jauh. Tante tenang saja dan fokus dengan kesembuhan Tante."
"Tante boleh meminta kartu nama kamu. Mungkin sewaktu-waktu Tante membutuhkan bantuan kamu jadi Tante bisa hubungi kamu."
Arion menganggukkan kepalanya lalu dia mengambil kartu nama dan memberikannya pada Bu Weni.
Weni membaca kartu nama itu. "Direktur utama AL Elektronika? Kamu sekarang putra Pak Alex?"
Arion hanya menganggukkan kepalanya. Setelah Cahaya datang, buru-buru Weni menyembunyikan kartu nama Arion.
"Mama sudah bertemu dengan Rion?"
Weni menganggukkan kepalanya. "Mama mau istirahat. Kalian pulang saja ya, hati-hati di jalan."
Cahaya kembali memeluk Mamanya. "Mama cepat sehat ya." Kemudian Cahaya mengantar Mamanya kembali ke kamar.
Arion hanya menatap mereka berdua. Begitulah roda kehidupan yang terus berputar.
💞💞💞
__ADS_1
Ada yg mendukung Arion sama Cahaya ada yg tidak ya ini. 🤠Tenang dulu ya, othornya lagi cari pangsit.. 😉 apapun jalannya pasti mereka bahagia kok..
Like dan komen ya..