Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 40


__ADS_3

Cahaya keluar dari toilet sambil menggenggam dua alat tes itu.


"Gimana?" Arion berdiri. Dia mengambil dua alat tes yang berada di tangan Cahaya dan melihatnya. "Ini positif atau negatif, kok samar gini."


Cahaya menggelengkan kepalanya. "Aku juga gak tahu."


"Aku penasaran. Kita periksa saja." Arion mengambil tas Cahaya lalu mengeluarkan bekal yang sudah disiapkan oleh mertuanya. "Tapi kamu makan dulu sebelum periksa. Biar kantor dihandle Dika." Dia membuka kotak bekal itu dan akan menyuapi Cahaya.


Cahaya duduk di samping Arion lalu menerima suapan dari Arion. "Mas, jujur aku masih kepikiran tentang omongan Mamanya Bayu, saat dia bilang kalau aku gak bisa punya keturunan. Kadang aku takut kalau omongan itu..."


"Sssttt, udah, kamu buktikan kalau kamu bisa. Kalau perlu nanti kita buat banyak anak biar ramai sekalian."


Cahaya tertawa dan mencubit pinggang Arion. "Ih, Mas. Gak gitu juga."


"Gak papa kan. Selagi kita mampu membiayai hidup mereka tidak masalah."


"Iya sih, benar juga."


"Tapi aku juga memikirkan kondisi kamu. Aku bercanda, dua anak sudah cukup." Arion terus menyuapi Cahaya hingga isi satu kotak bekal itu habis.


"Mas Rion gak makan juga?"


"Aku masih kenyang, nanti saja."


Setelah Cahaya menghabiskan air mineralnya, mereka berdua keluar dari kantor dan menuju tempat parkir.


Saat akan melajukan mobilnya, Arion menghubungi Mamanya terlebih dahulu untuk bertanya tentang Dokter Kandungan yang bagus di kota itu. Setelah mengetahuinya, Arion segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit tempat dokter itu praktek.


Beberapa saat kemudian, mobil Arion berhenti di depan rumah sakit. Kemudian mereka turun dan menuju loket pendaftaran terlebih dahulu, setelah mendapat nomor antrian, mereka duduk di kursi tunggu.


Mereka berdua tak menyadari ada Bayu dan Nissa berada di sebelah mereka, hingga akhirnya Bayu memanggil nama Cahaya.


"Aya..."


Seketika Cahaya menoleh. Dia berdiri dan berpindah di sisi lain Arion agar jauh dari Bayu.

__ADS_1


Arion menoleh dan menatap Bayu. Dia hanya tersenyum miring lalu menggenggam tangan Cahaya.


Bayu terus menatap Arion dan Cahaya. Dia penasaran, apa tujuan mereka ke dokter kandungan. Apa Cahaya sudah hamil?


"Mas, kenapa kamu lihat mantan istri kamu terus?" kata Nissa.


"Nggak papa." Bayu mengalihkan pandangannya dari Cahaya. Dia juga mengusap perut Nissa yang sekarang sudah terlihat.


Kenapa hati aku masih sakit melihat Cahaya bersama Rion, harusnya aku sudah tidak memikirkan Cahaya. Aku tidak boleh lagi memikirkan Cahaya, aku harus fokus dengan Nissa yang sebentar lagi akan melahirkan anak aku.


"Mas, ayo, kita sudah dipanggil," kata Nissa yang membuyarkan lamunan Bayu.


Kemudian Nissa dan Bayu masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


"Sayang, jangan hiraukan mereka. Biarkan saja," kata Arion. Dia tahu Cahaya masih trauma dengan masa lalunya.


Cahaya hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya tiba giliran Cahaya. Mereka berdua berdiri dan lagi-lagi berpapasan dengan Bayu dan Nissa.


"Jangan pernah campuri hidup Aya, atau kamu belum puas dengan apa yang kamu dapat sekarang! Aku bisa melihat kamu tidak benar-benar mencintai Bayu, pasti kamu hanya ingin menguasai harta Bayu."


"Rion, jaga perkataan kamu! Nissa tidak mungkin seperti itu."


"Iya, kita lihat saja nanti." Arion semakin menggandeng tangan Cahaya dan mengajaknya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.


Cahaya masih saja terdiam. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu lagi dengan semua orang yang berhubungan dengan masa lalunya yang kelam. Itu semua terlalu menyakitkan baginya.


"Putranya Bu Ida ya? Baru saja Bu Ida menghubungi saya. Kebetulan sekali Bu Ida adalah teman Mama. Mau periksa kandungan atau yang lainnya?"


"Istri saya sudah terlambat, dan tadi sudah dicek tapi garisnya masih samar."


"Sudah terlambat berapa minggu?"


"Sekitar dua minggu," jawab Cahaya.

__ADS_1


"Sudah berapa bulan menikah?"


"Sudah hampir dua bulan."


"Baik, kita langsung USG saja ya. Bunda tidak merasakan mual dan pusing?"


"Tadi pagi sempat mual." Kemudian Cahaya naik ke brankar USG dan merebahkan dirinya.


Arion berdiri di sebelah Cahaya. Dia sudah tidak sabar ingin melihat hasilnya.


Dokter itu mengoles perut Cahaya dengan gel lalu mengarahkan alat perekam USG itu. "Selamat ya, kalian akan menjadi orang tua."


Seketika Arion dan Cahaya tersenyum. Tangan mereka saling terpaut sambil menatap layar USG.


"Perkiraan usia kandungan sudah 7 minggu, janinnya sudah terlihat juga sebesar kacang. Benar-benar dijaga ya di trimester pertama ini. Makan makanan yang bergizi seimbang."


"Iya, Dok."


Senyum di bibir Cahaya dan Arion masih saja mengembang sambil mendengarkan penjelasan Dokter.


Setelah selesai mengecek seluruh kesehatan Cahaya dan berkonsultasi, mereka berdua keluar dari ruangan Dokter.


"Sayang, kita ke rumah aku sebentar ya. Aku mau beritahu kabar bahagia ini sama Mama. Sebentar saja, setelah itu kita pulang ke rumah."


Cahaya hanya menganggukkan kepalanya.


Setelah masuk ke dalam mobil, Arion memeluk tubuh Cahaya dan mencium kedua pipinya. "Aya, sekarang terbukti, kamu wanita yang sempurna."


"Iya, Mas. Makasih, kamu sudah mengubah hidup aku."


"Kenapa makasih sama aku? Aku yang harusnya makasih sama kamu. Mulai sekarang aku akan menjaga kamu. Kamu juga tidak boleh terlalu capek bekerja. Nanti aku akan carikan assistant yang bisa dipercaya seperti Dika." Kemudian Arion melajukan mobilnya menuju ke rumahnya. Rasanya dia sudah tidak sabar memberi kabar bahagia ini pada kedua orang tuanya.


💞💞💞


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2