Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 47


__ADS_3

Area suami istri... 😂


...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...


Arion masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh Cahaya.


"Mas, akhirnya pulang. Aku khawatir banget soalnya Mas belum makan malam. Mas Rion kan gak boleh sampai telat makan." Cahaya membantu Arion melepas jaketnya.


"Iya, aku cuma bentar." Kemudian Arion memeluk Cahaya lalu mencium keningnya.


"Mas Rion makan dulu, lalu istirahat."


Arion menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua duduk di ruang makan.


"Memang Bayu kenapa Mas?" tanya Cahaya setelah mengambilkan nasi dan lauk untuk Arion.


"Dia ditipu. Nissa tidak mengandung anak Bayu. Nissa yang mencuri data rahasia perusahaan dan menguras habis rekening Bayu. Dia juga menggelapkan uang perusahaan."


"Astaga, tertipu sampai sebanyak itu."


"Iya, mereka sudah mendapat balasan apa yang sudah dilakukan sama kamu tapi orang tua Bayu belum juga sadar. Bayu kabur dari rumah, ya kita bisa bayangkan gimana posisi Bayu saat ini. Dia sudah kecewa ditipu Nissa tapi keluarganya justru terus menyalahkannya."


"Ya, kasihan juga sih."


Kemudian mereka berdua menghabiskan makan malam tanpa bersuara lagi.


"Sayang, kamu makan yang banyak."


"Mas, ini sudah banyak. Aku sampai gendut gini."


"Gak papa, biar anak kita sehat."


Cahaya hanya tersenyum tapi dia menyudahi makannya karena sudah kenyang. "Tapi ini udah kenyang."


"Ya sudah." Kemudian Arion meneguk segelas air putih. "Mama kemana sayang?"

__ADS_1


"Mama udah tidur. Tadi makan duluan." Kemudian Cahaya membereskan piring kotor dan menyimpan makanan yang masih tersisa.


"Sayang, biarkan itu dibereskan bibi." Arion merengkuh pinggang Cahaya dan mengajaknya ke kamar. "Sekarang aku mau makan kamu."


"Mas kan baru sembuh."


Arion masuk dan menutup pintu kamarnya lalu menahan tubuh Cahaya di belakang pintu. "Meskipun baru sembuh tapi aku sudah bertenaga." Kemudian dia berlutut dan membuka daster Cahaya lalu menciumi perut Cahaya.


"Cepat besar ya. Sehat-sehat selalu. Papa, hmm, Ayah..." Kemudian Arion mendongak menatap Cahaya. "Enaknya panggil apa?"


Cahaya mengangkat kedua bahunya. "Terserah. Mama, Papa? Ayah, Bunda?"


"Ayah sudah tidak sabar ingin melihat kamu."


Cahaya tersenyum saat Arion kembali mencium perutnya. Sama halnya seperti Arion, dia juga sudah tidak sabar ingin segera bertemu buah hatinya.


Arion berdiri dan beralih mencium bibir Cahaya. Jemarinya kini menelusuri punggung mulus Cahaya lalu melepas pengait dan membuang penutup buah sintal itu ke lantai.


Ciumannya perlahan turun ke bawah dan singgah di dada Cahaya. Mulai menyusuri dada itu dengan bibirnya yang membuat Cahaya melenguh tertahan.


Kemudian Arion mengangkat tubuh Cahaya dan merebahkannya di tengah ranjang. "Bermain sebentar ya."


"Siap, Bunda." Arion melepas pakaiannya lalu mengungkung tubuh Cahaya.


Cahaya tertawa sambil mencubit lengan Arion. Mereka saling bertatapan dan tersenyum. "Aku sangat bersyukur, kita bisa sampai di tahap ini."


"Iya, Mas. Aku ingin kita selalu bersama sampai kita tua nanti."


Arion menganggukkan kepalanya lalu dia kembali melabuhkan bibirnya di bibir Cahaya. Ciuman yang awalnya lembut itu semakin liar, saling menghisap dan me lu mat.


Tangan Arion sudah tidak tinggal diam lagi, dia sudah mengusap titik sensitif Cahaya yang membuat Cahaya tidak bisa menahannya lagi.


"Mas, sekarang saja." Sejak hamil, gairah Cahaya sangat mudah terpancing. Dia tidak malu-malu lagi meminta Arion untuk segera menyatu.


"Yes, baby." Arion segera memposisikan dirinya. Sekali hentakan, miliknya sudah terbenam dengan sempurna. Dia genggam kedua tangan Cahaya sambil menahan tubuhnya agar tidak terlalu menindih. Dia mulai menggerakkan pinggulnya. Rasa yang nikmat itu telah menjadi candu. Arion sangat suka melihat wajah Cahaya yang memerah karena gairah dengan bibir yang terus men de sah seiring hujamannya.

__ADS_1


"Mas..."


"Apa sayang? Mau dicepetin atau dilamain," goda Arion. Dia pasti akan menuruti apapun keinginan Cahaya. Apalagi masalah ini, jelas dia akan bergerak cepat.


"Mas, agak cepetin tapi yang lama."


"Tantangan baru ini." Arion mengangkat tangan Cahaya di atas kepala Cahaya dan menggenggamnya dengan satu tangan. Dia menegakkan dirinya agar tidak menindih perut Cahaya. Satu jemarinya bermain di sekitar kli to ris yang membuat Cahaya men de sah tak karuan.


"Masih mau lama-lama?"


"Nggak, aku udah gak tahan." Tubuh Cahaya bergetar beberapa saat lalu dia melemas.


Arion segera mengusap perut Cahaya yang terasa kencang. "Gak aku lamain ya. Kasian nanti dedek capek dan pusing. Kalau masih kurang besok pagi lagi."


Arion kembali menghentak Cahaya lebih dalam sampai tubuh Cahaya ikut bergerak seiring gerak pinggulnya. Keringat sudah membasahi tubuh mereka berdua. Arion semakin mempercepat gerakannya saat dia akan mencapai puncaknya.


"Ah, sayang." Arion menyudahi permainannya malam itu. Sejak Cahaya hamil, dia mempercepat permainannya karena dia tidak ingin membuat Cahaya terlalu lelah, yang terpenting Cahaya sudah berhasil dia buat lemas sekali.


"Mau lagi?" tanya Arion karena Cahaya masih saja menatapnya.


"Mau ke kamar mandi tapi gendong."


"Oke." Arion meraih tubuh Cahaya dan menggendongnya. Dia kembali mencium bibir Cahaya sambil membawanya berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Saat Arion menurunkan Cahaya di bawah shower, Cahaya justru menghidupkan shower itu hingga air hangat membasahi tubuh polos mereka berdua.


"Sayang, ini sudah malam."


"Aku dari tadi belum mandi. Memang Mas Rion sudah mandi? Cuacanya juga gerah. Setelah mandi baru kita tidur."


Arion tersenyum menatap Cahaya. Sepertinya ini kode alam untuknya. "Oke, ronde kedua dimulai."


"Siapa yang bilang?"


"Kamu." Arion mencubit hidung Cahaya. Kamar mandi juga menjadi tempat berkesan mereka berdua. Ada rasa yang berbeda saat mereka memadu cinta di bawah guyuran shower.

__ADS_1


💞💞💞


Mau lanjut kisah Bayu gak? Kalau lanjut kisah Bayu berarti episode di novel ini akan lebih panjang ya ..


__ADS_2