
Cahaya bangun di pagi hari itu. Dia melihat di sisi kanannya tidak ada Bayu di sana. "Mas Bayu tidak tidur di sini? Mungkin di ruang kerjanya."
Kemudian dia turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Dia menuju ruang kerja Bayu yang sudah tidak terkunci itu. Kemudian dia masuk ke dalam ruangan itu dan melihat Bayu sedang tidur di sofa ruang kerjanya dengan ponsel yang berada di dadanya. Kancing piyamanya juga terbuka. Banyak tisu yang tercecer di lantai.
"Mas Bayu sakit?" Cahaya menyentuh kening Bayu tapi Bayu justru terbangun.
"Aya." Dia masih sangat mengantuk setelah hampir semalaman melakukan video call dengan Nissa.
"Mas sakit?"
Bayu menggelengkan kepalanya. "Semalam menyelesaikan pekerjaan sebentar tapi malah ketiduran."
"Kenapa banyak tisu? Pilek."
Seketika Bayu bangun dan melarang Cahaya mengambilnya. "Biar aku yang membereskannya."
Cahaya merasa aneh dengan Bayu. Sebenarnya apa yang dia lakukan di ruang kerjanya? Baru kali ini Bayu tidur di ruang kerjanya. Kemudian Cahaya keluar dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dia mandi terlebih dahulu sebelum mempersiapkan sarapan hari itu.
...***...
"Aya, kenapa kamu lebih senang bekerja? Nanti kamu kecapekan lalu stress dan semakin membuat kamu sulit hamil."
Lagi-lagi mamanya Bayu menyudutkannya. Hari yang harusnya dimulai dengan semangat tapi dia justru mendapatkan kekesalan.
"Justru Aya bosan kalau di rumah terus, Ma," jawan Cahaya.
"Hanya punya saham kecil saja sok-sok an ingin mengurus perusahaan. Nanti pasti juga akan hilang saham itu. Perusahaan keluarga kamu itu gak ada keuntungannya sama sekali."
"Mama, ngomong apa? Mama sudahlah, biarkan Aya merasakan dunia bisnis juga," bela Bayu pada Cahaya.
Hati Cahaya terasa sakit mendengar perkataan mertuanya itu. Andai saja perusahaan itu tidak diambil alih keluarga Bayu dan dijadikan proyek tumbal pasti saham itu tidak akan melayang.
Cahaya menyudahi sarapannya. Kemudian dia memakai tasnya.
"Aya, aku antar," kata Bayu.
Cahaya hanya menganggukkan kepalanya lalu dia bersalaman dengan kedua mertuanya. Kemudian dia keluar dari rumah dan menunggu Bayu di dekat mobilnya.
Bayu mendekat dan membukakan pintu mobil untuk Cahaya.
__ADS_1
Cahaya menatap bingung Bayu. Sikap Bayu berubah-ubah. Baru semalam dia terlihat sangat kesal dengannya tapi sekarang dia sangat perhatian dengannya.
Setelah mereka berdua masuk, mobil Bayu segera melaju menuju perusahaan Cahaya.
Saat perjalanan, beberapa kali dia menggenggam tangan Cahaya dengan tangan kirinya.
Aku merasa bersalah dengan Aya, harusnya aku tidak tergoda wanita lain. Aku yang menikahi Aya, aku yang tidak pernah melepaskannya. Harusnya aku membuat dia nyaman bukan malah menyakitinya.
Cahaya hanya menatap bingung perlakuan Bayu. "Mas, kenapa?"
"Gak papa. Nanti siang, kita makan siang bareng ya. Nanti aku jemput ke kantor kamu."
Cahaya hanya menganggukkan kepalanya. Setelah sampai di depan perusahaannya, Bayu menghentikan mobilnya. Bayu menahan Cahaya sesaat sebelum dia turun. Dia mencium kening Cahaya. "Hati-hati di kantor. Kalau butuh apa-apa telepon aku."
Cahaya hanya menganggukkan kepalanya. "Mas, juga hati-hati." Kemudian dia keluar dari mobil. Cahaya masih saja menautkan alisnya sambil masuk ke dalam kantornya.
Bayu aneh banget pagi ini. Biasanya emang perhatian tapi gak over gini. Padahal semalam uring-uringan, tiba-tiba berubah gini. Aneh, ada apa sebenarnya?
...***...
"Nindi, kamu sekarang ikut saya ke tempat Cahaya," kata Arion setelah mengecek semua laporan keuangan.
Seketika Arion menatap Nindi. Meskipun di ruangan itu hanya ada dia dan Nindi, tapi dia tidak suka membicarakan hal pribadi saat jam kerja. "Nindi!"
"Iya Pak, maaf..."
"Dika akan stay di sini karena ada meeting. Dia menggantikan saya. Kamu serahkan ini dulu sama Dika." Arion memberikan beberapa dokumen pada Nindi.
Setelah Nindi keluar, dia menutup laptopnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Penggelapan uang di kantor Aya gak main-main. Pantas saja semakin bangkrut, perusahaan itu juga dijadikan tumbal proyek yang gagal oleh keluarga Bayu. Kasihan Aya jadi korban."
Setelah itu Arion keluar dari ruangannya. "Nindi bawa laptop aku dan dokumen yang baru saja kamu print."
Nindi menganggukkan kepalanya. "Iya, Pak." Nindi menarik napas panjang, terkadang dia merasa lelah menuruti setiap perintah Arion karena Arion memang tipikal pekerja keras.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Arion segera melajukan mobilnya menuju perusahaan Cahaya.
"Nindi, kalau kamu capek, kamu bilang sama saya. Kadang saya kalau bekerja memang tidak kenal waktu."
__ADS_1
"Iya, Pak." Nindi kini mengalihkan pandangannya menatap luar jendela sambil tersenyum kecil. Ternyata Arion mengerti juga kalau dia sedang capek.
Beberapa saat kemudian, Arion menghentikan mobilnya di depan perusahaan Cahaya. Kemudian mereka turun dari mobil dan langsung menuju ruangan Cahaya.
Kali ini, Arion dan Cahaya sangat serius untuk menyelesaikan masalah yang terus membelit perusahaan itu. Tidak lagi memikirkan masalah pribadi, mereka hanya membahas masalah pekerjaan hingga akhirnya siang telah tiba.
"Nindi, kamu pesan makanan saja ya. Di rumah makan yang berada di sebelah perusahaan ini."
Baru juga Nindi duduk, sudah disuruh lagi. "Iya, Pak. Mau pesan apa?" tanyanya.
"Terserah kamu saja. Pakai kartu saya." Arion memberikan kartunya.
Seketika Nindi tersenyum menatap kartu berwarna hitam itu. Dia juga sudah tahu pin kartu itu. Memang kartu itu dikhususkan untuk keperluan kantor dan kebutuhan makan, tapi isinya tak terhitung.
Kalau ada makanan, pikiran jadi adem. Untuk Rion gak pelit. Kalau pelit, mikir dua kali aku menerima perjodohan sama dia. Eh, emang Rion mau dijodohin sama aku? Nindi tertawa sendiri sambil keluar dari ruangan Cahaya.
Arion melonggarkan dasinya sambil menarik napas panjang. Akhirnya semua masalah di perusahaan itu hampir selesai dia atasi.
"Minum dulu." Cahaya menggeser sebotol air mineral untuk Arion.
Arion menganggukkan kepalanya lalu membuka tutup botol itu dan meminumnya hingga habis.
"Oiya, aku lupa. Aku mau makan siang sama Bayu. Tidak apa-apa kan aku tinggal dulu."
Arion menganggukkan kepalanya sambil menatap Aya. "Aya, maaf, aku sempat dengar dari Nindi kalau kesehatan Bayu bermasalah jadi kalian masih belum memiliki anak."
Cahaya mengangguk pelan. "Iya, Bayu jatuh dan terbentur. Sampai sekarang masih melakukan pengobatan."
"Kamu sabar ya. Kamu temani dia sampai sembuh."
Cahaya menganggukkan kepalanya lagi. "Karena itu aku tidak meminta pisah dengan Bayu. Meskipun kadang aku merasa bersalah, karena sampai sekarang aku belum bisa menerima Bayu sepenuh hati."
"Kamu coba pelan-pelan menerima dia." Kemudian Arion tertawa. "Aku sok bijak banget ya. Padahal sebenarnya lain di mulut lain di hati. Tapi inilah takdir yang terkadang harus siap kita terima."
Cahaya hanya menatap Arion sambil tersenyum.
"Rion!"
💞💞💞
__ADS_1
Ada beberapa yang nyalahin Aya. 🙄 Apa perlu othor lenyapkan Aya dari muka bumi, eh, dari layar hp. 😒 ðŸ¤