
Hari-haripun berlalu dengan cepat, hidup Cahaya kini jauh lebih bahagia tanpa beban lagi. Produk di perusahaannya kini juga telah resmi meluncur di pasaran dan sukses menarik minat pembeli.
"Bu Aya ditunggu Pak Rion di bawah," kata salah satu staff pada Cahaya.
"Iya."
Cahaya melihat jam dinding yang memang sudah waktunya makan siang. Tapi biasanya jika Arion mengajaknya makan siang, Arion pasti akan menjemputnya ke ruangan. "Mungkin Rion capek," gumamnya.
Kemudian Cahaya menutup layar laptopnya lalu membawa tasnya dan turun ke lantai dasar menggunakan lift. Beberapa staff yang bertemu dengan Cahaya mengucapkan selamat padanya.
"Selamat, Bu Cahaya."
Cahaya hanya tersenyum, dia tak mengerti dengan ucapan selamat itu. Setalah sampai di lantai dasar, dia keluar dan menghampiri Arion yang berdiri di halaman kantor.
"Rion kenapa kamu berdiri di sini?" tanya Cahaya.
Arion hanya tersenyum lalu dia menunjuk atap gedung perkantoran itu.
Seketika Cahaya mendongak. Ada spanduk yang bergelar dari atas gedung setinggi sebelas lantai itu. Cahaya membaca tulisan di atas spanduk itu.
"Aya, will you marry me?"
Kedua mata Cahaya seketika berkaca-kaca. Dia kini tersenyum menatap Arion yang berlutut di hadapannya sambil mendekatkan sebuah cincin yang cantik dengan mata berbentuk bintang dan berwarna biru muda.
"Rion, ini..."
"Aya, will you marry me?"
Di halaman kantor itu dengan disaksikan karyawan mereka, dada Cahaya semakin berdebar. Dia bingung harus menjawabnya apa. "Rion, tapi aku janda. Aku merasa gak pantas sama kamu."
"Aya, aku gak peduli status kamu, aku ingin menikahi kamu dan menghabiskan sisa hidupku bersama kamu. Maukah kamu menemaniku setiap waktu hingga kita tua nanti?"
Air mata haru semakin mengembun di pelupuk matanya. Dia menganggukkan kepalanya. "Iya, aku mau."
Kemudian Arion memasang cincin itu di jari tengah Cahaya. "Aku sengaja beli ukuran jari tengah kamu, agar masih ada tempat untuk cincin pernikahan kita di jari manis kamu."
"Rion, cantik sekali." Cahaya memandang cincin itu. Sepertinya cincin itu edisi khusu yang dipesan Arion untuk Cahaya.
Kemudian Arion berdiri dan menggenggam kedua tangan Cahaya. "Bintang Orion yang akan selalu menyinari hidup kamu."
Cahaya tersenyum dengan setetes air mata haru terjatuh di pipinya. Dia tidak menyangka kisah hidupnya akan berakhir bahagia bersama Arion.
Kemudian Arion memeluk tubuh Cahaya. Mereka tak peduli dengan karyawan mereka yang menjadi saksi kebahagiaan mereka.
"Aya, aku masih sangat mencintai kamu."
__ADS_1
"Aku juga masih cinta sama kamu."
Kemudian mereka melepas pelukannya dan saling bertatapan dengan senyum yang merekah di bibir.
Tepuk tangan dari karyawan kini mengiringi mereka berdua.
"Akhirnya Pak Direktur Utama dan Bu Direktur Operasional otw sah," teriak Nindi. Sedari tadi dia merekam momen romantis itu yang akan dia sebarkan di media sosial.
"Selamat Pak Rion, Bu Aya..." Beberapa karyawan memberi selamat pada mereka berdua.
"Terima kasih semuanya, dan berkat kerja keras kalian semua, produk kita berhasil mendapat penjualan tertinggi di pasaran Berkat tim marketing juga yang live dimana-mana, kalian luar biasa," kata Arion. Perusahaan milik Cahaya memang memiliki potensi yang tersembunyi, sejak awal dia sudah yakin akan sukses setelah mengakuisisi perusahaan itu dan setelah dua bulan, kini sudah menampakkan hasilnya.
"Dika, Nindi, traktir semua staff makan siang di hari bahagia ini. Saya dan Aya mau pulang dulu, ada acara di rumah," kata Arion. Satu tangannya kini menggandeng tangan Cahaya. "Dika, setelah ini kamu handle pekerjaan hari ini ya. Kalau ada sesuatu yang penting langsung hubungi saya."
"Baik, Pak."
Kemudian Cahaya dan Arion masuk ke dalam mobil.
"Kita mau kemana?" tanya Cahaya setelah mobil itu melaju.
"Ke rumah kamu. Semua keluarga aku sudah berkumpul di sana. Kita makan siang bersama sekalian membahas acara pernikahan kita."
"Secepat ini?"
Arion menganggukkan kepalanya. "Aku gak mau menunda lagi karena aku takut kehilangan kamu lagi. Apa kamu masih trauma menjalani rumah tangga? Tapi kalau kamu masih belum siap, tidak apa-apa, aku masih bisa menunggu kamu."
"Oke, kalau begitu besok ya."
"Nggak harus besok juga."
"Oke, kalau gitu minggu depan."
Cahaya semakin tertawa. Hari itu hatinya benar-benar sudah dibuat Arion berbunga-bunga.
"Oke, deal, satu minggu lagi. Kita akan adakan acara yang mewah."
"Beneran satu minggu lagi? Tapi Rion, aku gak punya apa-apa."
"Aya, kamu tenang saja. Kamu hanya tinggal mempersiapkan diri kamu. Ini keinginan kedua orang tua aku. Mereka ingin mengadakan resepsi yang mewah karena dulu Kak Sky tidak mau mengadakan resepsi. Sebenarnya aku juga ingin yang simple karena pasti capek, tapi ya gak papa, ini keinginan orang tua, biar mereka senang."
"Tapi bagaimana kalau tamu undangan tahu, kalau aku udah..."
"Ssstttt, jangan bahas masalah status lagi." Kemudian Arion menghentikan mobilnya di depan rumah Cahaya. Mereka berdua berjalan menuju pintu rumah yang terbuka lebar itu.
"Ara, Ares, sudah pulang sekolah?" tanya Arion saat melihat si kembar sedang bermain berkejaran di teras rumah Cahaya.
__ADS_1
"Sudah, Om. Tadi pulang pagi jadi Ara ikut Mama sama Papa. Ini Tante Aya." Ara bersalaman dengan Cahaya dan mencium tangannya.
"Pintar sekali. Namanya siapa?"
"Adara. Panggilannya Ara."
"Aku Ares, Tante." Ares menyerobot tangan Ara.
"Ih, Kak Ares. Gantian." Begitulah, si kembar selalu bertengkar meskipun tetap saling menyayangi.
"Kamu lama." Ares mencubit pipi Ara lalu dia berlari.
"Kak Ares, ih."
Si kembar sudah kembali berlarian lagi.
"Begitulah, mereka berdua itu gak bisa diam." Kemudian Arion dan Cahaya masuk ke dalam rumah. Cahaya mencium tangan Mamanya lalu kedua orang tua Arion. Kemudian dia duduk di dekat Mamanya.
"Rion, bagaimana? Sudah sukses?" tanya Ida pada putranya.
Arion menganggukkan kepalanya.
"Jadi udah fix satu minggu lagi?
"Fix, Pa."
"Wih, buru-buru banget." Sky tertawa yang langsung mendapat satu cubitan dari Shena.
"Kak Sky, tawanya jangan keras-keras gitu, yang sopan di rumah orang."
"Sky, tidak apa-apa. Adik kamu kan juga ingin cepat menikah. Kamu aja umur 19 tahun udah nikah," kata Alex. "Saya juga sudah menghubungi wedding organizer. Besok tinggal meeting sama kita mau konsep seperti apa, dan surat-suratnya besok biar diurus sama assistant nya Rion ke KUA. Bu Weni dan Aya, tidak perlu memikirkan apa-apa. Kita sengaja mengadakan resepsi pernikahan dengan mewah karena dulu Sky tidak mau resepsi. Namanya orang tua juga ingin merasakan resepsi pernikahan anaknya."
"Tapi kalau sekarang aku resepsi juga, aku mau, Pa," kata Sky.
"Ya udah, nanti kamu dan Shena sekalian pesan gaun pengantin."
"Kak Sky, aku gak mau, resepsi itu capek," kata Shena.
"Bercanda, nanti kita pesan kamar hotelnya saja."
"Sky, mau titip si kembar lagi sama Mama?"
"Yah, Mama sampai hafal. Titip Ara aja, Ma. Ares biar sama mertua," kelakar Sky.
Kemudian mereka semua tertawa. Keluarga Arion jelas berbeda dengan keluarga Bayu. Mereka semua sangat hangat dan penyayang. Cahaya merasa sangat beruntung, sekarang dia berada di tengah-tengah keluarga Arion.
__ADS_1
💞💞💞
Like dan komen ya...