
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Cahaya sudah diperbolehkan pulang. Suasana hatinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Cahaya dan Mamanya kini berada di dalam mobil Arion.
"Rion, sudah dapat rumah kontrakan buat aku?"
"Sudah," jawab Arion singkat. Cahaya sama sekali tidak tahu jika rumahnya sudah berhasil dia dapatkan kembali.
"Tapi ini jalan menuju rumah aku dulu. Apa kontrakannya berada di dekat rumah lama aku?"
Arion hanya tersenyum. Beberapa saat kemudian dia membelokkan motornya masuk ke dalam gerbang yang tinggi itu. Kondisi rumah itu masih sama seperti dulu. Arion juga sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah itu.
"Rion, ini?"
"Iya, ini rumah kamu. Kamu dan Mama kamu mulai sekarang bisa menempati rumah ini."
Cahaya dan Mamanya keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah itu sambil tersenyum dan kedua mata yang berbinar.
"Mama, rumah kita kembali."
"Iya Aya. Banyak sekali kenangan di rumah ini."
Kemudian Cahaya dan Mamanya duduk di sofa ruang tamu. "Masih sama seperti dulu."
Arion ikut tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
"Rion, nanti pasti akan aku ganti semuanya."
"Tidak perlu Aya. Kamu cukup bekerja di perusahaan dan mengembangkan perusahaan itu menjadi lebih maju."
"Iya, aku pasti akan bekerja keras. Sekali lagi makasih ya."
"Rion, Tante sangat berterima kasih sama kamu. Kalau tidak ada kamu, Tante tidak tahu bagaimana dengan Aya."
"Iya, tidak apa-apa Tante. Aku pamit dulu, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aya, besok kalau ada waktu aku ingin mengajak kamu keluar."
"Kemana?"
"Ke suatu tempat."
Cahaya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah berpamitan, Arion keluar dari rumah itu. Dia berhenti sesaat di depan gerbang, masih teringat jelas saat dia mengantar Cahaya lalu Cahaya memarahinya, kemudian dia menatap taman yang berada di samping rumah Cahaya yang luas itu, masih teringat juga saat dia menjadi waitress di ulang tahun Cahaya. Semua sudah berlalu, dan sekarang keadaan sudah berbalik.
Setelah mengingat semua kenangan, Arion masuk ke dalam mobilnya.
...***...
__ADS_1
"Rion kamu mau kemana? Penampilan kamu kayak anak muda lagi." tanya Ida pada Arion di pagi hari itu. Dia menatap penampilan Arion dari atas sampai bawah. Celana jeans yang dipadu dengan kaos lengan pendek lalu memakai jaket bomber berwarna navy, lengkap dengan gaya rambut yang acak.
"Ma, aku kan masih muda. Masih single."
"Rion, iya, kamu masih single. Tapi biasanya kamu rapi dan pakai blazer sejak jadi direktur."
"Sekali-kali, Ma." Kemudian Arion memakan roti yang sudah dia oles dengan selai cokelat.
"Kemarin sore juga benerin motor. Mau jalan-jalan pakai motor?" tanya Alex.
Arion menganggukkan kepalanya.
"Rion, Mama dan Papa tidak pernah melarang kamu mau menjalin hubungan dengan siapapun yang penting kamu bahagia dan pasangan kamu tentunya juga bisa membahagiakan kamu. Ingat, jangan terus berjuang sendiri. Kalau memang kalian sudah serius, cepat diresmikan."
"Iya, Ma. On progress." Setelah minum susu Arion berpamitan pada kedua orang tuanya. "Aku berangkat dulu Ma, Pa."
"Ya sudah, hati-hati kalau naik motor."
"Iya, Pa." Kemudian Arion keluar dari rumahnya. Dia kini menaiki motor sport nya yang sudah lama tidak dia pakai. "Kayak umur belasan lagi kalau gini." Setelah memakai helmnya, dia melajukan motornya menuju rumah Cahaya.
Beberapa saat kemudian dia sampai di depan rumah Cahaya. Dia melepas helmnya dan turun dari motor.
Cahaya melihat Arion hampir tak berkedip. Dia pikir, Arion akan mengendarai mobilnya "Rion, tumben bawa motor?"
"Iya, mengenang masa muda. Ayo, sudah siap?"
Sepanjang perjalanan mereka tak banyak bicara, karena baik Cahaya maupun Arion masih ada rasa canggung. Bahkan Cahaya hanya berpegangan sedikit di jaket Arion.
"Rion, ini bukit waktu itu?"
Arion menghentikan motornya di bukit yang pernah dia datangi waktu SMA dulu bersama Cahaya.
"Iya. Sudah banyak berubah ya."
Kemudian mereka turun dan duduk di sebuah bangku. Dulu mereka hanya duduk di rerumputan, tidak ada bangku taman seperti sekarang. Meski berbeda, udaranya tetap sejuk dan pemandangannya juga bagus, meskipun perumahan di bawah bukit semakin padat.
"Di sini juga sudah ada beberapa villa." Kemudian Cahaya menatap villa yang berada tak jauh darinya. "Villa ini terlihat nyaman sekali. Tidak terlalu besar tapi viewnya bagus."
"Iya, sudah ada beberapa villa di sini. Aku juga sudah lama tidak ke tempat ini. Tapi udaranya tetap sejuk seperti dulu."
Kemudian mereka sama-sama terdiam sambil menikmati udara sejuk hari itu.
"Aya, mulai sekarang kamu jangan pernah sedih lagi," kata Arion memecah kebisuan.
Cahaya hanya mengangguk kecil.
__ADS_1
"Kamu bisa lepaskan sisa beban kamu di sini."
Cahaya menatap Arion tak mengerti apa maksudnya.
Kemudian Arion berdiri dan berjalan ke tepi bukit. Dia berteriak dengan keras memberi contoh pada Cahaya. "Aku sering meluapkan emosi aku seperti itu kalau aku sedang ada masalah. Kamu coba saja."
Kemudian Cahaya berdiri dan berjalan mendekati Arion. "Takut mengganggu orang yang ada di villa."
"Tidak ada orang di villa itu. Setelah kamu mencobanya, hati kamu pasti akan semakin lega."
Cahaya akhirnya mencobanya dan berteriak seperti yang dilakukan Arion. Hatinya terasa lega setelah mencobanya beberapa kali. Akhirnya dia bisa tertawa lepas. Semua beban yang menggunung selama bertahun-tahun kini telah luruh.
"Aya, mulai sekarang kamu harus bisa menuruti semua keinginan kamu. Kalau tidak mau, kamu harus menolak. Kalau menginginkan sesuatu kamu harus meraihnya. Sekarang sudah tidak ada lagi yang menuntut kamu. Kamu bisa bebas mengekspresikan diri kamu." Arion beralih menatap Cahaya yang sekarang sedang tersenyum.
"Makasih, Rion. Ini semua berkat kamu. Aku banyak hutang budi sama kamu."
"Kamu tidak perlu membalas. Ya, untuk sekarang tapi tidak tahu nanti." Arion tertawa lalu dia kembali duduk di bangku.
"Maksud kamu apa?"
"Aku bercanda. Setelah ini kamu mau kemana?"
Cahaya mengangkat kedua bahunya.
"Kita naik paralayang yuk."
"Paralayang? Gak mau. Aku takut."
"Tenang saja. Aku bisa, sama aku."
"Sejak kapan kamu bisa paralayang?"
"Sejak mempunyai dana." Arion menarik tangan Cahaya agar naik ke atas motor. Mereka berpindah ke wilayah paralayang.
Satu kali terbang memang butuh biaya ratusan, sejak menjadi anak orang kaya Arion beberapa kali naik paralayang dan akhirnya bisa mengendalikannya secara mandiri.
"Rion, serius kamu bisa?" tanya Cahaya lagi sambil memakai helm dan pengaman lain di tubuhnya.
"Percaya sama aku." Setelah tali pengaman yang terhubung pada parasut aman. Mereka berdua berlari ke ujung tebing lalu terjun sesuai aba-aba dan parasut itu pun mengembang terbawa angin di udara.
"Arion ini seru banget." Cahaya yang berada di depan Arion mulai menikmatinya. Angin yang menerpa tubuhnya di ketinggian membuatnya seperti benar-benar terbang di udara.
💞💞💞
Rion, bayarin aku naik ini juga 500k.. 🥹
__ADS_1
Terima kasih yang masih setia, dan terima kasih yang sudah pergi yang membuat novel ini gagal. Aku sempat mau menyerah, tapi tidak apa-apa tetap aku lanjut meski tidak dapat apa-apa. 🥺