
"Nissa, tinggal satu bulan lagi anak kita akan lahir," kata Bayu sambil mengusap perut Nissa pagi hari itu.
Nissa hanya menganggukkan kepalanya.
"Sebentar ya, aku mandi dulu. Kalau kamu sudah mudah capek lebih baik tidak usah ke kantor." Bayu turun dari ranjang dan melihat ponselnya sesaat.
"Iya, hari ini aku tidak ke kantor, tapi aku mau ke rumah Mama."
"Ya sudah, nanti aku antar."
"Tidak usah, Mas Bayu kan sibuk. Nanti aku dijemput Papa."
"Ya sudah kalau gitu." Bayu meletakkan ponselnya di atas meja lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Nissa segera mengambil ponsel Bayu. Dia membuka m-banking yang berada di ponsel Bayu. Setelah membobolnya berulang kali akhirnya kali ini berhasil.
Nissa tersenyum miring. Selesai sudah permainannya. Nissa sangat licik. Dia bisa berbuat tanpa meninggalkan jejak.
Setelah selesai, Nissa mengembalikan ponsel Bayu pada tempatnya. Dia segera bersiap untuk pergi.
Keluar dari kamar mandi, Bayu tak menaruh curiga sedikit pun pada Nissa. Dia menjalani paginya seperti biasa dengan Nissa lalu sarapan bersama. Selesai sarapan dia berangkat ke kantor.
Nissa menunggu rumah Bayu hingga sepi lalu dia keluar dari rumah itu dan pergi meninggalkan Bayu untuk selamanya.
...***...
Singa hari itu, Bayu terkejut saat melihat saldo di rekeningnya terkuras habis. "Kenapa bisa seperti ini?" Kemudian Bayu segera menghubungi pihak bank untuk mengurus masalah itu.
"Di transfer ke nomor rekening atas nama Nissa dan Hendri secara berkala." Bayu tak pernah mengira Nissa akan menipunya seperti ini.
Kemudian Bayu berjalan cepat menuju ruangan Hendri.
"Hendri, kemana dia?" Tidak ada Hendri di ruangan itu, akhirnya Bayu mencari laporan keuangan di laci tapi dia justru menemukan sebuah foto pernikahan. "Ini seperti Nissa dan Hendri, tapi nama mereka Amel dan Riki."
Bayu duduk di kursi Hendri dan semakin mencari bukti-bukti yang mungkin tersisa. Dia juga menemukan laporan keuangan yang asli. "Ini?" Bayu melihat seluruh laporan keuangan itu dengan pengeluaran yang sangat tidak masuk akal. "Shits!!" Bayu memukul meja dengan keras lalu menghubungi nomor Nissa yang sudah tidak aktif.
"Ternyata mereka berdua penipu."
__ADS_1
Sepertinya hidup Bayu sudah diambang kehancuran. Kedua orang tuanya jelas akan menyalahkannya. Dia tidak mungkin bisa lepas dari masalah ini. Mau bertanggung jawab seperti apa, dia juga sudah tidak punya apa-apa.
"Apa anak yang dikandung Nissa bukan anak kandung aku, tapi anak Nissa dan Hendri?" Bayu berdiri dan keluar dari ruangan itu. Dia berjalan jenjang menuju tempat parkir. Dia akan mencari Nissa.
Bayu kini mengendarai mobilnya dan melaju menuju rumah orang tua Nissa. Setelah sampai, rumah itu nampak kosong. Bayu berulang kali menekan bel rumah itu tapi sama sekali tidak ada jawaban. Hingga akhirnya dia bertanya pada tetangga yang kebetulan sedang berdiri di dekat rumah itu.
"Apa Ibu tahu kemana pemilik rumah ini?"
"Semua yang tinggal di rumah ini sudah pindah tadi pagi."
"Ibu kenal yang namanya Nissa?"
"Saya tidak tahu. Mereka jarang di rumah. Ini cuma rumah kontrak."
"Iya, Bu. Terima kasih." Bayu mengusap wajahnya yang kusut. Dia kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Nissa. Akhirnya nomor itu aktif dan Nissa mengangkat panggilannya.
"Nissa, kamu dimana?"
"Maafkan aku, Mas. Aku akan pergi, tidak perlu memikirkan anak yang aku kandung karena dia bukan anak Mas Bayu."
Lalu panggilan itu terputus, Bayu berusaha menghubunginya lagi tapi nomor itu sudah tidak aktif. Bayu mencoba melacak nomor telepon Nissa tapi sudah tidak terdeteksi.
Benar saja, kini ponselnya berbunyi dan ada panggilan dari Papanya. Bayu segera mengangkat panggilan itu. "Iya, Pa?"
"Kamu pulang ke rumah sekarang!"
"Iya." Bayu hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia kini melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Beberapa saat kemudian, Bayu sudah menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dia turun dan masuk ke dalam rumah.
"Bayu, kamu sudah tahu masalah keuangan kantor?!"
Baru saja Bayu masuk ke dalam rumahnya, dia sudah disambut bentakan oleh Papanya. Bayu hanya menganggukkan kepalanya.
"Kamu teledor sekali! Apa laporan keuangan tidak pernah kamu cek!"
"Aku selalu cek, Pa. Tapi ternyata laporan itu palsu."
__ADS_1
"Kamu tahu berapa Hendri menggelapkan uang perusahaan? Dua milyar, dan sekarang dia pergi entah kemana. Nissa juga sudah menguras habis tabungan kamu! Kamu memberikan nomor PIN pada Nissa?"
Bayu menggelengkan kepalanya. "Dia membobol m-banking aku."
"Kemana Nissa sekarang?"
"Dia pergi, dia juga penipu."
"Bayu, lalu anak yang di kandung Nissa anak siapa?" tanya Mamanya.
Bayu terdiam beberapa saat. "Bukan anak aku."
"Bukan anak kamu?"
"Ma, Nissa menjebakku. Anak yang dikandung itu anak Hendri. Sedangkan aku... Mungkin aku memang mandul, tidak bisa mempunyai anak."
"Apa kamu bilang? Bayu kamu itu bo doh sekali bisa dijebak sama Nissa! Sekarang kamu gak punya apa-apa. Perusahaan kita juga hampir bangkrut. Karyawan menuntut gajinya yang ternyata belum dibayar sama Hendri!" Tirta terus memarahi Bayu bahkan dia sempat akan memukul Bayu.
Bayu hanya diam, dia tidak mungkin bisa membela dirinya sendiri.
"Apa kamu bisa mengganti semua kerugian itu! Kamu Papa sekolahkan tinggi biar kamu bisa mengelola perusahaan tapi kamu justru bo doh bisa tertipu seperti ini."
"Papa, selama ini aku diam saja waktu Papa menipu keluarga Aya! Selama ini aku juga diam saja Mama dan Papa terus mengatur hidup aku! Mama tidak pernah tahu aku berusaha keras agar aku bisa mempunyai anak karena Mama terus menuntut. Mama dan Papa pasti tidak akan mau menerima kekurangan aku dan akan terus menyalahkan aku!"
"Iya! Kamu jadi anak memang tidak berguna!
Bayu menarik napas panjang. Jika memang hidupnya tidak berguna buat apalagi hidupnya ini.
"Mulai sekarang biarkan kakak kamu yang mengurus perusahaan. Kakak kamu juga sudah memiliki generasi penerus."
"Iya, keputusan itu jauh lebih bagus." Kemudian Bayu meletakkan kunci mobilnya di atas meja. "Aku pergi dari rumah ini. Papa sama Mama tidak usah khawatir, aku sama sekali tidak membawa harta kalian!" Kemudian Bayu membalikkan badannya dan berjalan cepat keluar dari rumah.
Keluarga yang seharusnya memberi kenyamanan dan ketenangan untuknya, selama ini tidak pernah dia rasakan. Sepanjang hidupnya dia akan terus disalahkan. Bayu terus melangkahkan kakinya, dia tak tahu kemana dia akan pergi. Hingga akhirnya dia duduk di pinggir jembatan. Dia terus menatap aliran sungai yang sangat deras itu.
"Setelah apa yang aku lakukan pada Aya, aku memang pantas seperti ini."
Aliran sungai itu seolah memanggil Bayu untuk melompat.
__ADS_1
💞💞💞
Like dan komen ya... 😌