Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 14


__ADS_3

Sejak berpindah ke sekolah baru, Arion bertemu lagi dengan seseorang yang pernah menabraknya, dia bernama Sky. Sky, mantan ketua geng motor langit dan anak seorang pengusaha kaya raya.


Banyak kebetulan yang terus terjadi, hingga takdir membawa Arion bertemu dengan keluarga baru. Kedua orang tua Sky mengadopsi Arion saat neneknya meninggal.


Kehidupan Arion berangsur membaik setelah diadopsi pengusaha kaya raya dan menjadi adik Sky. Dia juga melakukan pengobatan yang terbaik, tidak lagi menggunakan asuransi gratis yang terkadang mendapat pelayanan buruk dan obat ala kadarnya.


Hari demi hari kesehatannya semakin membaik. Dia tidak perlu bekerja. Hidupnya sekarang bagai tuan muda yang semua keinginannya bisa terwujud. Tapi Arion juga tahu diri, dia tidak pernah memanfaatkan kekayaan orang tua angkatnya, bahkan dia sangat rajin membantu apapun di rumah. Dia juga sangat rajin belajar di sekolah. Hingga akhirnya dia mendapat nilai terbaik di sekolahnya lalu masuk di universitas terbaik juga di kotanya.


Walau sudah bertahun-tahun, dia tidak bisa melupakan Cahaya. Suatu malam itu, dia bertemu Cahaya yang terjatuh di jalan dari motornya. Arion berusaha menghindari Cahaya, karena dia sudah terbiasa hidup tanpa Cahaya meski belum bisa melupakannya.


Tapi ternyata Cahaya mengejarnya dengan motornya. Dia tidak mungkin menambah laju motornya, akhirnya dia menepi dan menghentikan motornya.


"Rion..." Cahaya juga menghentikan motornya lalu dia turun. "Apa kita bisa bicara sebentar?"


Arion menganggukkan kepalanya lalu dia turun dan duduk di pinggir jalan. "Kamu darimana? Ini sudah malam."


"Aku..." Cahaya terdiam. Dia justru mengusap luka yang ada dipunggung tangannya.


"Tangan kamu luka." Arion mengambil air mineral yang ada di tas selempangnya lalu menyiram tangan Cahaya setelah itu membalutnya dengan slayernya.


Cahaya hanya menatap Arion. Tiga tahun lebih tidak bertemu, Arion banyak berubah. Mulai dari sepeda motor sport yang mahal, dan pakaian yang dia pakai semua juga barang branded. Arion juga terlihat segar dan semakin tampan, sepertinya dia sudah sembuh dari penyakitnya.


"Makasih." Cahaya menatap slayer yang sekarang sudah terpasang di tangannya. "Kamu banyak berubah ya."


Arion hanya tersenyum kecil.


"Aku turut berduka cita atas meninggalnya nenek kamu. Waktu itu aku ke rumah kamu, tapi kata tetangga kamu sudah pindah dan diadopsi oleh seorang pengusaha."


Arion menganggukkan kepalanya. "Takdir membawaku bertemu dengan orang-orang baik."


"Syukurlah kalau seperti itu. Kamu sudah sembuh?"


"Tinggal melakukan biopsi lagi untuk memastikan kesembuhan aku."


"Semoga kamu memang sudah sembuh."

__ADS_1


Arion menganggukkan kepalanya. "Katanya kamu kuliah di luar negeri? Lagi liburan?"


Cahaya menggelengkan kepalanya. "Aku gak jadi kuliah di luar negeri. Aku kuliah di sini. Kamu sendiri kuliah dimana?"


"Di kampus biru."


"Wow, kamu hebat bisa masuk kampus favorit. Pasti kamu bisa menjadi orang yang sukses." Kemudian wajah Cahaya berubah muram. Roda kehidupan itu benar-benar berputar.


Kemudian mereka hanya terdiam sambil menikmati angin malam hari itu.


"Rion, aku mau menikah," kata Cahaya memecah kebisuan.


Hati Arion masih saja terasa sakit. Padahal dia sudah tidak ingin berharap pada Cahaya.


"Selamat ya..." Arion mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


Sekuat tenaga Cahaya menahan tangisnya. Dia mengira Arion sudah mengubur jauh perasaannya. "Iya, makasih. Rion, aku pulang dulu ya." Cahaya hanya mengalihkan pandangannya tanpa membalas tangan Arion.


Walau hanya melihatnya dari jauh, Arion tahu Cahaya sedang menangis. Tapi dia tidak akan mencampuri lagi hidup Cahaya. Meskipun sekarang dia sudah punya kekuatan untuk merebut Cahaya dari Bayu, tapi dia tidak akan melakukan itu. Semuanya sudah berakhir, walau rasa cinta itu masih tersisa.


"Semoga kamu bahagia, Aya..."


"Aya, perusahaan kita hampir bangkrut dan hanya keluarga Bayu yang bisa menolong kita..."


Cahaya berusaha menghapus air matanya berulang kali. Dia selalu ingat kata-kata Arion.


"Jangan menangis, karena dengan menangis masalah tidak akan selesai."


Tapi semakin mengingatnya, Cahaya semakin menangis. Dia kini menatap dirinya di cermin. Beberapa jam lagi, dia akan sah menjadi istri Bayu. Sampai sekarang dia masih belum bisa mencintai Bayu, walaupun Bayu sangat baik padanya. Di dalam hatinya masih terukir nama Arion dan tidak akan yang bisa menggantikan Arion.


Kemudian Cahaya menghapus air matanya. "Aku gak boleh sedih lagi. Rion sudah bahagia, aku juga harus bisa bahagia."


Kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, dia bersiap untuk melakukan ijab qabul lalu resepsi.


Cahaya hanya diam dan menurut seperti boneka yang siap dimainkan sesuka hati.

__ADS_1


Akhirnya ijab qabul itu akan dimulai. Wajah bahagia Bayu tak juga menular pada dirinya. Cahaya masih diam dan menahan sesak di dadanya. Tentu saja ini bukan film yang tiba-tiba lelaki pujaan hatinya datang dan menggagalkan ijab qabul itu.


Ijab qabul itu tetap berjalan lancar hingga akhirnya Cahaya sah menjadi istri Bayu.


Tak ada senyuman dan tak ada suara sampai acara resepsi dimulai, bahkan Cahaya memakai gaun mewah seperti seorang ratu tapi tetap saja bibir itu tidak bisa tersenyum.


Saudara dan temannya sudah memberinya selamat satu per satu. Do'a semoga langgeng dan bahagia terus mengalir untuk Cahaya, ya, Cahaya hanya beharap, semoga dia benar-benar bahagia.


"Aku titipkan dia, lanjutkan perjuanganku untuknya. Bahagiakan dia, kau sayangi dia. Sepertiku menyayanginya..."


Mendengar suara itu, seketika Cahaya menatap panggung musik. Dia tidak asing dengan suara itu. Dia melihat sang vokalis yang memakai topeng pesta.


Aku ikhlaskan dia, tak pantas kubersanding dengannya. Kan kuterima dengan lapang dada. Aku bukan jodohnya...


Cahaya berjalan mendekati panggung musik, lalu dia berdiri di depan vokalis itu. Air mata sudah terbendung dan siap lolos.


"Rion..."


Arion menghentikan nyanyiannya, dia tersenyum menatap Cahaya lalu dia turun dari panggung dan membuka topeng pestanya.


"Selamat..." Arion mengulurkan tangannya pada Cahaya tapi justru Bayu yang membalas jabatan tangan Arion.


"Selamat brother..." Arion memeluk Bayu sesaat. "Semoga kamu bahagia bersama Aya. Jangan pernah sakiti dia..."


"Thanks..."


Kemudian Arion berjalan dengan gagah tanpa menundukkan pandangannya keluar dari resepsi itu. Beberapa teman yang sudah lama tidak bertemu Arion, menatap kagum pada Arion. Arion yang sekarang tidak sama dengan Arion empat tahun yang lalu. Dia terlihat tampan dan tentu saja penampilannya sudah seperti anak konglomerat. Sampai Arion masuk ke dalam mobilnya, beberapa temannya masih menatapnya.


Meskipun sudah berusaha tegar, tapi hati Arion tetap saja merasa sakit. Hingga dia membelokkan mobilnya masuk ke dalam klub malam. Dia melepas blazernya lalu menggulung lengannya dan minum sepuasnya sampai mabuk.


"Aya, semoga kamu bahagia. Aku memang sudah punya segalanya tapi aku gak mungkin rebut kamu dari Bayu." Arion terus meneguk minuman beralkohol itu hingga dia mabuk berat.


Dia mengambil ponselnya tapi jarinya tidak sinkron untuk mencari nomor Sky karena dia tidak mungkin pulang sendiri. Dia memberikan ponselnya pada bartender dan meminta tolong. "Tolong hubungi nomor Kak Sky."


Setelah itu Arion meneguk minuman lagi, walaupun sudah mabuk berat tapi luka hatinya masih saja terasa. Entah sampai kapan dia bisa melupakan Cahaya.

__ADS_1


💞💞💞


Like dan komen ya...


__ADS_2