Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 20


__ADS_3

Setelah berhasil mendapatkan perusahaan permana, Arion merasa puas dengan dirinya sendiri. Entah kenapa dia begitu yakin dengan keputusannya ini. Meski beberapa persen pembelian itu menggunakan uang pribadinya tapi tak mengapa, dia yakin projek kerjanya kali ini akan sukses.


"Nindi, kita ke perusahaan permana sekarang. Kamu bawa laptop saya dan beberapa berkas perencanaan proyek baru."


"Baik, Pak." Tentu saja saat bekerja, Nindi berada dalam mode serius. Dia juga sangat cekatan dan mudah mengerti semua perintah Arion.


"Dika, kamu juga ikut saya. Kamu yang mengemudi." Arion menyerahkan kunci mobilnya pada assistantnya. Kemudian mereka bertiga turun ke lantai dasar dan berjalan menuju tempat parkir.


Arion dan Nindi duduk di belakang saat Dika mengemudikan mobilnya menuju perusahaan permana.


Di dalam mobil Arion masih fokus dengan ponselnya. Dia memeriksa kembali data yang akan dia persentasikan di rapat pertamanya bersama pemimpin dan staff di perusahaan permana.


Sedari tadi Nindi hanya menatap Arion. Pesona Arion benar-benar terpancar setelah Arion berusia matang.


Merasa diperhatikan Arion beralih menatap Nindi. "Lihat apa?"


"Lihat Pak Arion," kata Nindi dengan jujur.


"Lihat arah lain saja, jangan lihat saya."


"Oke, mau lihat Dika, sayang Dikanya lagi fokus menyetir."


Dika yang usianya memang lebih muda dari Nindi hanya tersenyum kecil.


Akhirnya Nindi menatap keluar jendela, karena pria tampan di dekatnya hatinya terkunci rapat.


"Dika, kamu tahu direktur perusahaan permana yang sekarang?" tanya Arion.


"Sebelum perusahaan itu resmi Pak Arion beli, posisi direktur baru saja ditempati oleh anak kandung pemilik perusahaan yang asli, Pak. Namanya Cahaya."


Bukan hanya Arion yang terkejut tapi juga Nindi.


"Maksud kamu Cahaya Putri?"


"OMG! Saya sampai gak kepikiran kalau nama Cahaya itu Cahaya Putri Permana. Berarti itu memang benar perusahaan keluarganya Aya."


"Iya, itu nama lengkapnya," jawab Dika membenarkannya.

__ADS_1


Seketika Arion mengambil berkas-berkasnya. Dia memang tidak ikut menghadiri rapat pembelian saham itu karena sudah dihadiri oleh Papanya, jadi dia tidak tahu jika Cahaya yang memegang perusahaan itu.


"Kalau begitu saya harus mengubah rencana ini, berarti Aya harus tetap menjadi direktur pengelola usaha."


Nindi berusaha menahan tawanya tapi tidak bisa. Wajah Arion berubah, dia terlihat sangat bersemangat dan menurut Nindi itu sangat lucu. "Pak, maaf, saya tidak bisa menahan tawa. Kalau perusahaan Aya sudah diakuisisi Pak Arion, itu berarti Aya sudah menjadi bawahan Pak Arion. Kalau begitu, akan sering bertemu dan akan menjalin kerjasama. Wow, benar-benar kesempatan emas."


"Nindi, kamu diam dulu. Saya belum tahu bagaimana kepastiannya. Ini saya buat perencanaan kedua, buat jaga-jaga kalau ternyata nama Aya hanya tertera sebagai direktur saja."


"Tapi kalau ternyata Aya tetap aktif di perusahaan?"


Arion hanya tersenyum kecil. Bolehkah dia sedikit berharap pada Cahaya?


Beberapa saat kemudian, mobil itu berhenti di tempat parkir perusahaan permana. Mereka bertiga turun dari mobil dan segera masuk ke dalam perusahaan.


Seluruh karyawan dan staff telah berjajar menyambut kedatangan Arion. Mereka menunduk hormat pada Arion saat dia melangkahkan kakinya masuk.


"Selamat datang, Pak..." Cahaya melebarkan matanya saat melihat bahwa direktur utama yang dia sambut adalah Arion karena setahu dia, Pak Alex yang menghadiri rapat saham.


"Selamat datang Pak Arion," kata Cahaya mengulangi kalimatnya.


"Terima kasih Bu Cahaya atas sambutannya."


Begitu juga dengan Arion, tapi bukan rasa canggung yang dia rasakan. Dia merasa bahagia karena akhirnya dia akan sering bertemu dengan Cahaya.


Nindi yang mengekori Arion, terus menahan tawanya. Bisa-bisanya dia bekerja dengan teman-temannya seperti ini.


Setelah mereka semua duduk di ruang rapat, kemudian rapat dibuka oleh Cahaya yang dilanjutkan oleh Arion selaku direktur utama yang sekarang juga memegang kendali di perusahaan itu.


Rancangan struktural dadakan yang Arion buat di jalan akhirnya dia pakai. Dia tetap menjadikan Cahaya sebagai direktur pengembangan usaha. Dia juga menjelaskan beberapa barang baru yang akan diproduksi tanpa membuang barang lama yang sudah diproduksi sebelumnya.


Cahaya tersenyum dalam hatinya. Dia akui, Arion sekarang sangat hebat. Hingga rapat itu berakhir, Arion membisikkan sesuatu di telinga Cahaya. "Aku mau cek ke bagian produksi dulu, nanti kita bicara sebentar."


Kemudian Arion dan Dika keluar dari ruangan itu. Setelah staff lain juga keluar, Nindi berpindah duduk di sebelah Cahaya.


"Nin, kamu gak ikut Rion?" tanya Cahaya.


"Sebentar lagi udah jam istirahat, biarin sama Dika. Rion kalau bertukar pendapat sama Dika. Gimana perasaan kamu setelah tahu perusahaan kamu dibeli Arion? Perusahaan kamu sekarang bagian dari AL Elektronika."

__ADS_1


"Aku cuma punya saham 20% saja. Udah gak berharap apa-apa, yang penting perusahaan ini semakin maju dan berada di tangan yang tepat."


"Ciee, memang Arion adalah orang yang tepat. Jadi sering bertemu dong."


"Nindi, udahlah. Aku udah nikah. Udah gak mungkin sama Arion." Kemudian Cahaya mengemasi berkas-berkasnya.


"Aya, gak ada yang gak mungkin. Memang kamu bahagia menikah dengan Bayu?"


Cahaya terdiam. Lalu dia menggeleng pelan.


"Eh, emang selama ini kamu gak pernah berhubungan sama Bayu sampai kamu belum punya anak gini? Hmm, sorry kalau aku menyinggung perasaan kamu," tanya Nindi setengah berbisik. Dia sangat ingin tahu masalah rumah tangga Cahaya dan Bayu.


Cahaya bersandar di kursi sambil melipat tangannya. "Aku gak tahu."


"Loh, gak tahu gimana?"


"Ya gak tahu, gak terasa apa-apa."


"Loh, gak terasa apa-apa?" Nindi semakin bingung dengan pernyataan Cahaya.


"Ya, aduh gimana jelasinnya. Aku sendiri juga gak ngerti."


Nindi memukul lengan Cahaya. "Aya, aku semakin penasaran. Emang Bayu gak normal ya?"


"Sebenarnya..." Belum selesai Cahaya menjawab Arion kembali masuk ke dalam ruang rapat.


"Nindi, kamu ke kantor dulu sama Dika. Saya mau mengurus masalah di sini dulu," kata Arion.


"Iya, Pak." Nindi segera mengemasi berkas-berkasnya.


"Laptop sama berkas-berkasnya biarkan di sini."


"Iya, Pak. Saya permisi." Kemudian Nindi keluar dari ruangan itu.


Kini hanya tinggal Arion dan Cahaya yang berada di dalam ruangan itu. Banyak hal yang ingin dikatakan Arion, tapi dia tidak tahu harus dimulai darimana.


💞💞💞

__ADS_1


Like dan komen ya.. 🤭


.


__ADS_2