Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 22


__ADS_3

"Aya, kita makan dulu ya. Setelah itu kita kembali ke kantor," kata Arion sambil menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran.


Cahaya hanya mengangguk kemudian mereka turun dan berjalan masuk ke dalam restoran itu. Mereka kini duduk di kursi yang berada di dekat jendela.


"Aya, mau pesan apa?" tanya Arion.


"Terserah kamu saja," jawab Cahaya. Dia hanya melihat menu sesaat lalu dia menutupnya kembali.


Setelah memesan makanan, Arion tersenyum kecil mengingat kenangannya semasa SMA bersama Cahaya dulu. "Dulu waktu kita pacaran, biasanya cuma beli bakso atau mie ayam di pinggir jalan ya. Baru sekarang aku ajak kamu ke restoran, tapi sebagai rekan bisnis."


"Iya, semua pasti akan berubah." Kemudian Cahaya mengambil ponselnya karena ada beberapa pesan dari Bayu.


"Aya, apa kamu bahagia dengan Bayu?" tanya Arion. Dia menatap Cahaya yang sedang menundukkan pandangannya.


Cahaya tak juga menjawab pertanyaan Arion. Dari raut wajah saja, Arion bisa menebak apa yang dirasakan Cahaya saat ini.


"Aya, apa kamu ingin berpisah dengan Bayu?" tanya Arion lagi.


Cahaya mengangkat kedua bahunya. "Aku gak tahu, Rion. Aku seperti gak bisa lepas dari Bayu."


"Aya, aku juga tidak mungkin merebut kamu dari Bayu. Bagaimanapun juga, dulu dia adalah sahabat aku yang baik. Tapi kalau Bayu keterlaluan sama kamu, kamu bilang sama aku. Aku pasti akan bantu kamu."


"Makasih ya. Kamu gak berubah, tetap baik seperti dulu."


"Tidak perlu bilang terima kasih. Kita memang harus saling membantu."


Setelah makanan yang mereka pesan datang, mereka mulai menyantapnya.


"Rion, apa kamu sudah mempunyai calon?" tanya Cahaya.


Arion tersenyum kecil. "Masih belum ada yang bisa menggantikan kamu di hatiku."


Cahaya semakin menatap Arion. Andai saja dia bisa mengungkapkannya, tidak ada juga yang bisa mengganti Arion di hatinya.


Arion semakin tertawa sambil mengusap puncak kepala Cahaya. "Jangan dipikirkan omongan aku barusan, yang terpenting sekarang, kamu harus ingat, masih ada aku yang bisa membantu kamu kapan saja. Tidak usah malu untuk bercerita, aku pasti akan mendengarkan semua keluh kesah kamu dan sebisa mungkin aku pasti akan membantu. Kita sekarang bestie ya, kayak kamu dan Nindi."


Akhirnya Cahaya tersenyum. Entah mengapa beban yang menggunung selama bertahun-tahun ini terasa hilang. "Bestie? Lucu juga. Untung aku bisa memaksa Bayu untuk menjadi direktur di perusahaan Papa, kalau tidak, mungkin sampai sekarang aku masih terpenjara di rumah Bayu."

__ADS_1


"Tapi Bayu tidak pernah menyakiti kamu kan?"


Cahaya menggelengkan kepalanya.


"Kalau memang kamu merasa tidak nyaman tinggal di rumah Bayu, kamu minta saja tinggal di rumah sendiri."


"Tapi masalahnya orang tua Bayu tidak mengizinkan itu."


"Iya, aku tahu gimana orang tua Bayu. Setahu aku, Bayu punya kakak tiri yang bernama Eric kan?"


Cahaya menganggukkan kepalanya. "Iya, dia sudah menikah dan memiliki anak. Tapi mereka tinggal diluar kota."


"Ya udah, silakan makan. Dihabiskan, biar gak kurus." Arion mengambil sendok dan garpu lalu mulai menyantap hidangan itu.


"Iya, badan aku dari dulu memang segini saja ya, gak bisa gemuk." Cahaya tersenyum kecil. Dia juga mulai menyantap makanannya. Sesekali mereka masih mengobrol dan tertawa bersama.


...***...


Sepulang dari kantor, Cahaya terlihat ceria. Dia sudah tidak muram seperti biasanya. Malam hari itu, dia juga makan dengan lahap. Setelah membereskan ruang makan sehabis makan malam, dia masuk ke dalam kamarnya.


"Aya, apa Pak Alex tadi ke kantor?" tanya Bayu. Sampai sekarang dia masih belum tahu jika Arion sudah menjadi anak angkat Alex yang telah membeli perusahaan keluarga Cahaya.


"Kelihatannya kamu bahagia sekali." Bayu mendekat dan mengalungkan kedua tangannya di leher Cahaya.


"Iya, biasanya aku bosan di rumah. Sekarang sudah ada kegiatan, dan ilmu yang aku dapat selama kuliah akhirnya sekarang bisa berguna."


"Aya." Bayu membungkukkan dirinya dan mengendus leher Cahaya. "Apa kamu mau menungguku sampai aku sembuh?"


Cahaya terdiam beberapa saat. Dia memandang dirinya dan Bayu di pantulan cermin. "Tapi kalau bisa, kamu bilang sama orang tua kamu, kalau sebenarnya kamu yang bermasalah. Aku gak mau terus disalahkan kedua orang tua kamu."


"Maafkan aku soal ini. Aku masih belum bisa bilang sama orang tua aku." Bayu menarik tubuh Cahaya agar berdiri kemudian memeluknya erat. "Aya, aku gak mau kehilangan kamu."


"Tapi kamu egois. Apa yang membuat kamu menyembunyikan masalah kamu dari orang tua kamu? Kamu gak ngerti gimana perasaanku."


"Iya aku ngerti. Aku lakuin ini karena aku gak mau kedua orang tua aku membenciku. Mereka sangat ingin cucu, kalau aku tidak bisa, mungkin semua yang aku miliki sekarang akan dialihkan untuk Kak Eric."


"Jadi karena harta." Cahaya melepas tangan Bayu lalu dia menghempaskan dirinya di atas ranjang.

__ADS_1


"Tapi aku benar-benar cinta sama kamu, dan aku gak mau kehilangan kamu. Ini semua juga demi kamu." Bayu menyusul Cahaya dan merebahkan dirinya di samping Cahaya. "Aku sudah melakukan pengobatan, sudah berganti dokter berkali-kali juga, tapi memang belum berhasil. Bantu aku melalui ini ya." Bayu kembali memeluk Cahaya. Dia mengendus leher Cahaya. Meskipun sudah menyentuh Cahaya tapi masih saja tidak bereaksi pada dirinya.


"Aku gak bisa." Bayu menjauh dari Cahaya dan mengacak rambutnya. Dia kesal dengan dirinya sendiri.


Cahaya hanya menatap Bayu. Takdir seolah tidak mengizinkan Bayu melakukan hubungan itu dengannya. Setiap kali Bayu akan melakukannya selalu gagal.


Kemudian Bayu turun dari ranjang dan memakai kemejanya.


"Mas, mau kemana?"


"Ada yang tertinggal di kantor."


"Ini sudah malam."


"Iya, cuma sebentar."


Setelah memakai jaketnya, Bayu keluar dari kamar.


Sebenarnya Cahaya juga merasa kasihan dengan Bayu. Bayu pasti merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


Malam itu Bayu sedang diujung lelahnya. Selama empat tahun menikah dia belum pernah memenuhi kebutuhan batinnya bersama Cahaya.


Beberapa saat kemudian Bayu menghentikan mobilnya di klub malam. Mungkin sedikit minuman beralkohol itu bisa menenangkan pikirannya yang tidak tenang. Dia kini duduk di depan barista dan memesan minuman.


"Pak Bayu?"


Bayu menatap seorang wanita yang kini duduk di sebelahnya. "Nissa, kamu sama siapa?" Nissa adalah staff accounting di perusahaan Bayu.


"Tadi sama teman-teman, tapi mereka sibuk dengan pasangan." Nissa juga memesan segelas kecil minuman. "Pak Bayu tumben ke klub?"


"Lagi suntuk," jawab Bayu singkat.


"Lagi ada masalah sama istri?"


Bayu terdiam dan berhenti minum. "Ya beginilah kehidupan rumah tangga."


"Memang ada masalah apa?" Nissa semakin mendekat, bahkan lekuk tubuh sexy Nissa kini menempel di lengan Bayu.

__ADS_1


Kenapa tubuhku bisa bereaksi?


__ADS_2