Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 28


__ADS_3

"Aya tunggu! Jangan pergi!" Bayu masih saja mengikuti Cahaya dan menahan tangan Cahaya


"Buat apalagi? Kamu sudah punya Nissa kan?"


"Maafin aku, Aya. Aku cuma mencobanya sama Nissa karena Nissa yang bisa membuat naf su aku kembali muncul."


Cahaya tertawa getir. Mencoba? "Iya, Mas. Memang wanita lain itu lebih menggoda makanya kamu bisa naf su sama dia."


"Aya, tapi kamu juga gak pernah mencoba merayu aku."


"Mas tahu kan, sejak awal dijodohkan aku gak cinta. Butuh proses yang lama agar aku bisa menerima kamu dalam hati aku. Aku gak pernah minta pisah karena aku ingin menemani kamu sampai sembuh. Meskipun Mama kamu terus menghina aku, meskipun Papa kamu mengambil harta aku sampai habis, aku tetap bertahan. Pelan-pelan aku terus berusaha menerima kamu. Tapi ternyata, ini yang aku dapat. Disaat aku kamu tuduh selingkuh, kamu sendiri yang selingkuh. Kalau memang Nissa yang bisa membuat kamu sembuh, kenapa gak bilang sejak awal. Kita bisa pisah sebelum kamu berbuat dosa seperti ini." Cahaya menghapus asal air matanya yang tidak bisa berhenti mengalir. Hatinya benar-benar terasa sakit. "Ini bukan salah aku, tapi Mama kamu dan bahkan kamu sendiri juga menyalahkan aku."


"Aya, kita bicarakan lagi baik-baik."


"Nggak! Semua sudah jelas. Lebih baik aku pergi. Selamat tinggal!" Cahaya melepas tangannya dari Bayu yang terus menahannya. Kemudian dia berlari pergi.


"Bayu, sudah biarkan Aya pergi. Dia jadi istri juga tidak ada gunanya."


"Mama, Aya sudah tidak punya apa-apa. Kalau memang kita harus pisah, aku ingin berikan apa yang menjadi hak dia. Biar kita berpisah secara baik-baik."


"Buat apa? Kamu juga tidak punya anak dengan dia."


Bayu menatap kepergian Cahaya yang kian jauh. Entah kemana dia akan pergi.


Aya, maafkan aku...


...***...


"MUA dari keluarga Rion memang the best. Kok aku bisa cantik gini sih." Nindi tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.


Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Dia membulatkan matanya saat melihat nama yang tertera di ponselnya.


"Yoga! Kenapa dia vc aku?" Dia biarkan ponselnya berdering sampai beberapa kali.


Nindi berdiri. Dia menjadi dilema. Mengapa juga Yoga menghubunginya di saat seperti ini. "Yoga, semua sudah terlambat. Eh, tapi aku kan belum tunangan."


Kemudian Nindi mengangkat panggilan video itu.


"Nindi, sayang, akhirnya kamu angkat."

__ADS_1


"Ih, sayang, sayang. Aku udah kamu tinggalin dua tahun."


"Kan aku sudah bilang, aku pergi untuk kembali. Aku ingin membuktikan pada kamu dan keluarga aku bahwa aku bisa sukses di dunia musik."


"Terus sekarang sudah sukses?"


"Nggak! Aku kembali dengan kegagalan tapi rasa cinta aku sama kamu tetap sama dan aku sudah mulai menata hidup. Aku sudah memutuskan meneruskan usaha Ayah."


Nindi memutar bola matanya. "Kan dulu aku sudah bilang sama kamu, lebih baik kamu belajar meneruskan usaha keluarga kamu. Jadi kan kita gak perlu berpisah."


"Iya, dan aku menyesal menyia-nyiakan dua tahunku tanpa kamu. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu cantik banget gitu. Siapa yang menikah? Kamu jadi dayang-dayang?"


"Yoga, aku mau tunangan hari ini."


"Hah, tunangan? Sama siapa? Kamu udah lupain aku?"


"Ya, aku... Aku pikir kamu yang udah lupain aku. Kamu udah gak mau menemui aku lagi. Udah dua tahun juga tanpa kabar."


"Nindi, aku sekarang ada di taman dekat rumah kamu. Aku yang ke sana, atau kamu yang ke sini."


Nindi terdiam. Dia bingung harus bagaimana? Kalau dia kabur, bagaimana dengan Arion. Belum lagi kedua orang tuanya yang pasti akan marah padanya.


"Tapi masalahnya dia bosku."


"Jadi kamu lebih memilih bos kamu daripada aku?"


"Bukan begitu, Yoga. Aku..." Nindi membuka pintu kamarnya dan melihat kondisi rumahnya terlebih dahulu sebelum kabur. "Oke, biar aku yang ke sana." Nindi memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu dia kabur di saat kedua orang tuanya menyambut kedatangan keluarga Arion.


Rion, maaf aku harus pergi, daripada aku menyesal seperti kamu dan Aya.


Setelah Nindi berhasil kabur dari rumah, Mamanya masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Nindi.


"Nin, kamu dimana? Nindi?" Diah mencari keberadaan putrinya di kamar mandi lalu keluar dari kamar dan mencarinya di belakang tapi tidak ada. "Papa, Nindi dimana? Nindi kabur?"


"Kabur?" Seketika Edi menghubungi putrinya. Ponsel putrinya aktif tapi tidak diangkat.


Diah sudah bingung. Dia merasa tidak enak dengan keluarga Arion dan tamu yang telah datang.


"Nindi kemana jeng?" tanya Ida.

__ADS_1


Diah semakin bingung. "Nindi kabur jeng. Gimana ini? Aduh, pasti nak Rion malu sekali."


"Kabur? Nindi kok gak bilang sama aku kalau mau kabur." Arion juga menghubungi nomor Nindi.


"Rion, kamu dan Nindi beneran setuju bertunangan kan?"


"Iya, Ma. Malah Nindi yang sangat antusias." Arion berusaha menghubungi Nindi lagi. Akhirnya Nindi mengangkat panggilan video itu.


"Rion, maaf. Aku gak bisa lanjut tunangan sama kamu. Pacar aku sudah kembali, aku gak mau menyesal kayak kamu dan Aya."


"Iya, aku mengerti tapi harusnya kamu bilang dulu, kita bisa bicara baik-baik."


"Aku takut Mama marah."


"Iya, Mama marah! Cepat kamu pulang! Rion pasti malu pertunangannya batal. Kita sudah mengundang tamu dan yang lainnya, terus kamu main kabur begitu saja."


"Maaf Tante, saya tidak ingin kehilangan Nindi. Maaf..." Yoga ikut masuk dalam panggilan video call itu.


"Yoga, kamu dari dulu masih saja belum berubah. Keluarga Tante tidak apa-apa malu, masalahnya ini keluarga besarnya Rion juga malu. Mama jadi tidak enak."


"Tante, sudah. Saya tidak apa-apa." Rion berusaha menenangkan suasana agar tidak semakin memanas. "Saya dan keluarga saya tidak apa-apa. Biarkan Nindi menentukan pilihannya."


"Lalu pesta ini?"


Kemudian Arion mengambil alih ponselnya. "Yoga, apa kamu benar-benar mencintai Nindi?"


"Iya, aku sangat mencintai Nindi. Kita saling mencintai."


"Kalau begitu, kalian sekarang ke sini. Acara ini untuk kalian berdua."


"Rion, ini serius?" tanya Nindi.


"Iya, dari awal kita memang tidak saling mencintai dan sepertinya kita memang tidak berjodoh. Semoga kalian bahagia. Cepat ke sini, acara akan segera dimulai. Cincin ini untuk kalian berdua. Tidak ada nama di dalamnya, hanya ada ukiran tanggal." Arion mengambil kotak bludru yang ada di sakunya lalu dia letakkan cincin pertunangan itu di atas meja. "Cepat pulang, jangan mengecewakan kedua orang tua kamu lagi." Kemudian Arion mematikan panggilannya.


"Nak Rion, Jeng Ida, Pak Alex, kami sekeluarga benar-benar minta maaf."


"Iya, tidak apa-apa. Jangan dipaksa kalau tidak saling cinta, kita pulang dulu ya."


Setelah itu Arion dan keluarganya pulang dari rumah Nindi. Belum juga masuk ke dalam mobil, ponsel Arion kembali berbunyi. Dia menautkan alisnya melihat nomor tidak dikenal itu. Kemudian dia mengangkat panggilan itu.

__ADS_1


"Iya, hallo... Aya kenapa?"


__ADS_2