Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 29


__ADS_3

Cahaya tidak tahu harus pergi kemana. Dia sudah lelah dan ingin menyerah dengan hidupnya. Akhirnya dia memutuskan untuk ke kantornya. Ada sesuatu yang ingin dia lakukan di sana.


Sejak dimiliki Arion, perusahaan itu dijaga oleh seorang satpam yang selalu berjaga 24 jam hingga membuatnya mudah untuk masuk ke dalam perusahaan itu kapanpun dia mau.


Cahaya kini duduk di ruangannya. Dia semakin menangis sesenggukan. "Aku sudah tidak sanggup hidup seperti ini."


Cahaya mengambil sebuah kertas dan menulis surat kuasa bahwa dia akan menitipkan sisa sahamnya pada Arion dan sewaktu-waktu bisa digunakan untuk keperluan ibunya saat membutuhkan. Setelah bertanda tangan di atas materai, dia menyimpannya di dalam map.


Air mata itu masih saja mengalir di pipinya. Kemudian dia menghubungi mamanya yang berada di rumah sakit.


"Hallo, bisa bicara dengan Ibu Weni?"


Setelah menunggu beberapa saat, terdengar suara mamanya di ujung sana menyapanya.


"Mama, Aya minta maaf ya. Mungkin Aya sudah tidak bisa menemui Mama lagi," kata Aya dengan isak tangisnya.


"Kenapa Aya? Kenapa kamu menangis?"


"Aya sudah tidak sanggup lagi, Ma."


"Kamu sekarang dimana?"


Cahaya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Mamanya. "Mama, Aya sudah titipkan sisa saham milik Papa pada Rion. Kalau sewaktu-waktu Mama membutuhkan bilang sama Rion ya."


"Aya, kamu bicara apa? Tenangin diri kamu. Kamu dimana sekarang? Kalau butuh Mama, Mama akan ke sana sekarang."


"Makasih, Ma. Tapi Aya sudah tidak sanggup lagi, Ma. Maafin Aya. Jaga diri Mama baik-baik. Sekali lagi Aya minta maaf tidak bisa menemani Mama sampai tua."


"Aya, jangan bilang seperti itu. Aya..."


"Maaf." Kemudian Cahaya mematikan panggilannya dan juga ponselnya. Dia semakin menangis hingga suara tangisnya menggema. Dia kini menatap cutter yang berada di tempat bulpoin. Lalu dia mengambilnya. Dia tatap mata cutter yang sangat tajam itu. Tanpa ragu lagi, dia goreskan mata cutter itu tepat di nadi pergelangan tangannya.


Cutter yang telah berlumuran darah itu jatuh ke lantai. Cahaya menyandarkan kepalanya di atas meja. Tangan kirinya yang terluka dia biarkan menggantung hingga darah itu terus menetes ke lantai.


"Selamat tinggal semuanya. Dunia akan tetap baik-baik saja tanpa aku."


Tubuh Cahaya semakin lemas, pandangannya kini juga telah kabur.

__ADS_1


...***...


Arion mengangkat panggilan telepon dari seseorang yang tidak dikenal itu.


"Iya, hallo..."


"Rion, ini tante, mamanya Aya. Kamu cepat cari Aya."


"Aya kenapa?"


"Barusan Aya telepon Tante sambil menangis. Dia bilang sudah tidak sanggup lagi. Rion, Tante takut Aya berbuat nekad."


"Aya sekarang dimana?"


"Tante juga tidak tahu."


"Ya sudah, saya akan cari Aya. Tante tenang saja." Setelah mematikan panggilannya, Arion mengambil kunci mobil yang dibawa oleh sopir keluarganya. "Mama, Papa, aku ada keperluan penting banget. Mama sama Papa ikut mobil Kak Sky saja ya."


"Kamu mau kemana?"


Arion masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya dengan kencang. "Aya, dimana? Lebih baik aku cek ke rumah Bayu dulu. Mungkin saja Aya masih di sana."


Beberapa saat kemudian, dia sampai di depan rumah Bayu. Dia segera turun dari mobil dan menerobos masuk ke dalam rumah Bayu. Dia mendengar apa yang sedang dibicarakan orang tua Bayu tentang pernikahan Bayu dengan Nissa.


"Bayu! Dimana aya? Apa maksudnya ini? Kamu mau menikah lagi?"


"Rion, tidak sopan sekali kamu masuk ke rumah orang. Aya tidak ada di sini, Aya sudah pergi!" kata mamanya Bayu papa Arion.


Arion menarik paksa Bayu agar keluar dari rumahnya. "Lo selingkuhin Aya! Breng sek lo!" Sudah lama Arion ingin menghajar Bayu, baru kali ini kesampaian. Kali ini emosinya sudah memuncak. Dia memukul dengan keras pipi Bayu. "Gue gak rebut Aya dari lo karena gue menghargai lo sebagai sahabat gue, tapi ternyata lo bisanya cuma nyakitin Aya!" Arion memukul lagi perut Bayu, hingga Bayu jatuh ke belakang.


"Ini bukan sepenuhnya salah gue! Selama empat tahun Aya masih saja memikirkan lo!"


Arion kembali menyergap krah Bayu. "Setelah lo dan keluarga lo ambil semua dari Aya terus lo buang Aya begitu saja." Dia kembali memukul rahang Bayu dengan keras hingga darah keluar di bibir Bayu.


"Sudah hentikan!" Tirta menahan Arion agar tidak memukul putranya lagi.


"Rion, mengapa kamu menyalahkan Bayu! Jelas-jelas Aya yang tidak pernah mau menerima Bayu dan dia juga wanita mandul!" kata Weni sambil menahan lengan Bayu.

__ADS_1


Mendengar tuduhan itu saja hati Arion merasa sakit, bagaimana dengan Cahaya yang selama bertahun-tahun tinggal dengan mereka.


"Kalian semua menyalahkan Aya. Aya itu justru korban kalian. Aku sudah membersihkan perusahaan dan ternyata manager keuangan bekerja sama dengan kalian untuk menggelapkan uang, belum lagi tumbal proyek yang gagal! Kalian masih menuduh Aya mandul. Astaga, aku gak habis pikir sama kalian. Gila! Bayu yang tidak bisa melakukannya sama Aya, tapi Aya yang disalahkan."


"Memang benar, ini kenyataannya. Sekarang Nissa hamil anak Bayu."


Arion melepas cekalan tangan Tirta lalu menuding Bayu tepat . "Hebat sekali, lo sukses hancurin hidup Aya! Kalau sampai Aya kenapa-napa, lo akan mendapat balasannya. Satu lagi, lo ceraikan Aya sekarang juga!"


Kemudian Arion masuk ke dalam mobilnya dan segera melajukan mobilnya dengan kencang. Dia mencoba menghubungi nomor Cahaya berulang kali tapi tidak aktif.


"Aya kemana? Sepertinya dia tidak punya teman lagi selain Nindi." Setelah berpikir beberapa saat, Arion memutar mobilnya menuju perusahaan Cahaya. "Mungkin Aya ada di kantor. Semoga saja di sana."


Arion semakin menambah kecepatan laju mobilnya, setelah sampai di depan perusahaan Arion turun dan bertanya pada satpam. "Cahaya apa ada di sini?"


"Iya, tadi masuk ke dalam dan sampai sekarang belum keluar, Pak."


Arion segera berlari masuk ke dalam. Akhirnya dia bisa menemukan Cahaya, tapi saat dia membuka ruangan Cahaya, dia sangat terkejut melihat darah yang telah mengalir di bawah meja.


"Aya! Aya apa yang kamu lakukan!" Arion meraih tubuh Cahaya yang telah lemas. Dia mengambil sapu tangannya dan menutup luka Cahaya. "Denyut nadinya sudah sangat lemah. Aya, kamu harus bertahan."


Tak sengaja Arion melihat surat kuasa yang ditulis oleh Cahaya, di atas map yang terbuka itu.


"Surat kuasa? Aya, kamu gak boleh pergi." Arion menggendong Cahaya dan berlari keluar dari kantor.


"Pak, bukakan pintu mobil saya cepat!"


Pak satpam itu segera membuka pintu untuk Arion. "Bu Cahaya kenapa?"


"Ada masalah, tolong bersihkan di ruangan Cahaya!"


Setelah memasang sabuk pengaman dan menutup pintu, Arion segera duduk di kursi pengemudi lalu melajukan mobilnya dengan kencang.


"Aya, aku mohon, kamu harus bertahan. Aku janji, aku akan bahagiakan kamu. Kamu gak akan lagi hidup menderita."


💞💞💞


Like dan komen ya...

__ADS_1


__ADS_2