Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 30


__ADS_3

Jika Anda terlambat sedikit saja membawanya ke rumah sakit, nyawanya tidak akan tertolong.


Arion kini duduk di dekat brankar Cahaya. Cahaya masih belum sadarkan diri meski sudah transfusi darah sebanyak dua kantong. Wajahnya masih terlihat sangat pucat.


"Aya, cepat sadar." Arion menggenggam tangan Cahaya. Tangannya sudah tidak sedingin saat Arion menemukannya. Satu tangan Arion kini mengusap rambut Cahaya. "Sejak kecil hidup kamu selalu tertekan. Berulang kali kamu bilang sama aku, kamu tidak punya pilihan hidup bahkan sampai saat ini. Aku tahu, kamu sangat lelah dengan hidup kamu. Setelah ini kamu bebas, tidak ada lagi yang akan mengekang kamu. Cepat sadar, kamu akan memulai hidup kamu yang baru."


Beberapa saat kemudian ponselnya berbunyi. Ada panggilan masuk dari Dika yang dia suruh untuk menjemput mamanya Cahaya.


"Pak, pihak rumah sakit tidak mengizinkan Bu Weni keluar dari rumah sakit tanpa seizin Pak Tirta."


"Astaga, kenapa bisa pihak rumah sakit tidak bisa mengizinkan hanya karena Pak Tirta tidak mengizinkan. Putrinya sedang sakit."


"Saya sudah berusaha memberi alasan dan bernegosiasi tapi tetap tidak bisa."


"Rion, tante mau melihat Aya."


Kemudian Arion mengalihkan panggilan itu menjadi panggilan video. "Tante, saya akan urus agar tante bisa keluar dari rumah sakit. Tapi Aya masih tidak ada yang jaga. Tunggu besok, soalnya Mama dan kakak ipar saya hari ini sangat sibuk dan capek."


"Tidak apa-apa. Kamu jaga Aya saja di rumah sakit. Aya... Maafin Mama. Mama yang sudah buat hidup kamu hancur seperti ini. Aya, kamu harus kuat ya."


"Aya, banyak kehilangan darah. Sampai sekarang masih dalam masa kritis, semoga besok semakin membaik dan segera sadar."


"Rion, kenapa Aya mencoba bunuh diri? Apa yang sudah dilakukan keluarga Bayu?"


Arion hanya terdiam. Dia takut jika apa yang dia ceritakan akan menambah beban pikiran.


"Rion, tidak apa-apa kamu ceritakan saja."


"Bayu selingkuh dan selingkuhannya hamil." Tidak banyak yang bisa Arion ceritakan.


"Tante gak bisa bayangin gimana hancurnya Aya. Rion, Tante minta tolong kamu temani Aya. Tante tidak bisa menjaga Aya."


"Iya, Tante. Besok akan aku usahakan agar Tante bisa bertemu Aya."


"Terima kasih ya.."


Kemudian panggilan itu terputus. Arion meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia kembali memandangi Cahaya.


"Aya, cepat sadar." Sampai malam telah larut, akhirnya Arion tertidur dengan menelungkupkan wajahnya di dekat tangan Cahaya.


...***...


Pagi hari itu, Arion terbangun karena lehernya terasa pegal. Dia kini menatap Cahaya yang sudah membuka kedua matanya.

__ADS_1


"Aya, kamu sudah sadar?" Seketika senyum mengembang di bibir Arion.


Cahaya hanya menatap kosong. Dia tidak menjawab pertanyaan Arion.


"Aya, kenapa?" Senyum itu memudar saat melihat tatapan kosong Cahaya. "Aya?"


Cahaya masih saja menatap kosong. Kedua matanya kembali mengembun dan menetes. Dia kini menangis tanpa suara.


Arion segera memanggil Dokter agar kondisi Cahaya segera diperiksa. Setelah Dokter datang dan memeriksa kondisi Cahaya, Dokter memberi penjelasan terkait kondisinya. "Sepertinya pasien mengalami trauma berat hingga menyebabkan depresi. Diajak bicara pelan-pelan. Jangan dulu mengungkit masalahnya."


"Iya, Dok."


"Tensi darahnya juga sudah mulai normal. Nanti saya rekomendasikan dokter psikiater agar mental pasien membaik."


"Iya, Dok. Terima kasih."


Setelah Dokter keluar, Arion kembali duduk di dekat Cahaya. Tapi Cahaya masih saja menatap kosong bahkan dia sama sekali tidak bertanya bagaimana Arion bisa menemukannya.


"Aya, kamu mau apa? Kamu lapar?"


Cahaya hanya menggelengkan kepalanya. Mungkin saja Cahaya ingin ke kamar mandi, tapi dia tidak mungkin mengantarnya. Dia menunggu kakak iparnya yang sudah janji akan datang pagi hari.


"Kamu minum dulu, pasti haus." Arion mengambil air hangat lalu membantu Cahaya minum.


Hati Arion terasa sangat sakit melihat kondisi Cahaya seperti ini. "Sebentar lagi kamu sarapan dulu, biar cepat pulih."


Cahaya tak juga menjawabnya. Arion menahan sesak di dadanya. Rasanya dia ingin membalas semua perbuatan keluarga Bayu.


"Rion, maaf. Aku lama. Tadi nyiapin perlengkapan si kembar dulu mau berangkat sekolah." Shena masuk ke dalam ruangan itu dan meletakkan bekal yang dia bawa dari rumah. Dia kini menatap Cahaya. "Sudah sadar. Gimana kondisinya?" tanya Shena dengan suara yang pelan.


"Aya, sama sekali tidak merespon."


"Kasihan, sampai kena mental illness. Pelan-pelan saja diajak bicara. Kamu sekarang mau kemana?"


"Aku mau jemput Tante Weni, Mamanya Aya. Kak Shena tolong jaga Aya di sini ya. Secepat mungkin aku akan kembali."


"Iya, kamu tenang saja. Aku pasti akan jaga Aya di sini."


"Aya juga belum ke kamar mandi. Tolong antar, Kak." Kemudian Arion memakai jasnya.


"Iya. Kasihan ya. Aku kemarin sampai nangis waktu kamu cerita lewat vc. Mama juga mau ke sini, mungkin agak sore."


"Iya. Ya sudah, aku mau pulang dulu lalu berangkat jemput Mamanya Aya."

__ADS_1


"Iya."


Setelah Arion keluar, Shena kini duduk di dekat Cahaya. "Hai Aya, nama aku Shena. Aku kakak ipar Rion. Mau ke kamar mandi? Ayo, aku antar."


Cahaya hanya menggeleng pelan.


Shena tersenyum kecil dan berusaha menenangkan Cahaya. "Aya, aku mengerti apa yang kamu lalui ini sangat berat tapi badai pasti akan berlalu. Setiap orang pasti mempunyai masa-masa sulit seperti kamu. Kamu harus yakin, bahwa kamu bisa bangkit. Kamu sekarang tidak sendiri, ada Rion yang akan bersama kamu."


Cahaya memang mendengar perkataan itu, tapi dia masih saja berdiam diri.


"Kamu sudah tahu kalau Rion batal tunangan?"


Seketika Cahaya menatap Shena.


"Nindi lebih memilih pacarnya jadi acara tunangan itu Rion berikan untuk Nindi dan pacarnya. Sepertinya ini memang jalan takdir untuk mempersatukan kalian berdua."


Cahaya masih saja terdiam.


"Rion itu sangat mencintai kamu. Jadi, ayo berjuang melawan luka hati kamu. Ayo, bangkit. Kamu pasti bisa. Ada hari esok yang lebih indah menyambut kamu."


Akhirnya Cahaya tersenyum kecil mendengar motivasi dari Shena.


"Akhirnya kamu tersenyum. Ayo, aku antar ke kamar mandi. Aku bantu kamu bersih-bersih." Shena membantu Cahaya turun dari brankar lalu menuntunnya ke kamar mandi.


Setelah selesai membuang air dan membersihkan diri, Cahaya kembali merebahkan dirinya di atas brankar.


"Makanan sudah datang nih." Shena mengambil makanan yang baru saja diantar suster. "Kamu makan dulu ya, aku suapi."


Perlahan Cahaya duduk. Kini tatapannya juga sudah tidak kosong lagi. Dia akan mengambil sendok yang dipegang Shena tapi Shena melarangnya.


"Biar aku suapi. Ada infus di tangan kamu."


Akhirnya Cahaya mau menerima suapan dari Shena.


"Dihabiskan biar lekas sembuh."


Cahaya tidak pernah merasakan kehangatan seperti ini dari keluarga Bayu. "Makasih, Kak."


Shena tersenyum, akhirnya Cahaya mau bersuara. "Iya, sama-sama."


💞💞💞


Aduh, bawangnya akhirnya berlalu.

__ADS_1


__ADS_2