Cahaya Cinta Arion

Cahaya Cinta Arion
BAB 39


__ADS_3

"Sayang, sudah siang. Kamu ke kantor gak?" tanya Arion. Dia mencium kening Cahaya lalu kedua pipinya agar Cahaya segera bangun dari tidurnya. Meskipun sudah menikah selama dua bulan, mereka berdua masih sangat romantis.


Cahaya menggeliat lalu menguap panjang. "Masih ngantuk."


"Ya udah, kalau tidak ke kantor tidak apa-apa." Arion kembali menyelimuti Cahaya tapi Cahaya justru duduk dan mengusap wajahnya.


"Aku hari ini adain meeting, jadi harus tetap ke kantor." Cahaya turun dari ranjang lalu berjalan dengan malas ke kamar mandi.


"Malas banget." Arion menahan tubuh Cahaya. Dia memeluknya dari belakang. "Nanti biar aku handle meeting kamu. Kamu di rumah aja."


"Mas kan beberapa minggu ini ada di kantor pusat. Aku mau membicarakan produk baru. Kebetulan sekali manager produksi memberi masukan."


"Oke, nanti kamu lihat dulu lalu ajukan ke aku. Kalau memang bagus, aku bantu buat sample." Kemudian Arion membalik tubuh Cahaya dan mencium bibirnya.


Ciuman pagi hari itu biasanya sangat Cahaya sukai, tapi sekarang perutnya terasa mual hingga dia harus mendorong dada Arion agar menjauh. Dia menutup bibirnya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia muntahkan isi perutnya yang hanya air saja.


"Sayang, kamu kenapa? Gak enak badan?" Arion memijat pelan punggung Cahaya.


"Gak tahu, tiba-tiba mual. Mas Rion udah gosok gigi belum?"


Seketika Arion mengecek aroma napasnya. "Aku sudah mandi dan gosok gigi. Kan kamu yang belum gosok gigi."


"Tapi kok mual banget."


"Kamu minum dulu. Mungkin karena efek baru bangun tidur."


"Udah ah, aku mau mandi dulu." Cahaya mendorong Arion keluar dari kamar mandi lalu menutup pintu itu rapat.


Arion merasa aneh dengan perubahan sikap Cahaya pagi hari itu. Biasanya Cahaya selalu ingin bermesraan dengannya, bahkan pintu kamar mandi juga jarang dia tutup rapat seperti ini.


Sampai Cahaya keluar dari kamar mandi dan memakai bajunya, Cahaya masih jaga jarak dengan Arion. Dia duduk di depan cermin dan merias wajahnya.


Arion yang sedang merapikan dasinya, beberapa kali melirik Cahaya. "Sayang, kamu sakit? Wajah kamu pucat."


Cahaya menggelengkan kepalanya. "Nggak." Dia sengaja memakai lipstik yang lebih cerah untuk menutupi wajah pucatnya. "Aku gak papa." Setelah itu Cahaya memasukkan laptop ke dalam tasnya. Kemudian mereka berdua sarapan bersama sebelum berangkat ke kantor.


Cahaya hanya mengambil roti yang dia oles dengan selai kacang.


"Aya, Mama sudah masak, kamu gak makan nasi?"


Cahaya menggelengkan kepalanya. "Lagi gak mau makan nasi."

__ADS_1


"Aya, nanti kamu lapar kalau cuma makan roti. Makan nasi ya," kata Arion. Dia kini mengambil nasi yang lengkap dengan lauknya. "Kalau gak mau, sini aku suapi."


Cahaya masih saja menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, Mama buatkan bekal saja, bisa sewaktu-waktu kamu makan nanti di kantor."


"Mama, makan saja. Mama suruh Bibi saja yang menyiapkan," kata Arion.


"Iya, Ma. Aya juga lagi gak mood makan nasi," kata Cahaya yang kini menghabiskan susunya.


"Rion, tidak apa-apa. Mama sudah lama sekali tidak menyiapkan bekal untuk Cahaya. Kamu mau juga?"


"Iya, Ma. Nanti biar aku makan sama Aya,"


Arion beberapa kali menatap Cahaya yang bersikap tidak seperti biasanya. "Aya, kalau gak enak badan bilang sama aku. Aku antar kamu periksa."


Cahaya hanya menggelengkan kepalanya. Setelah selesai sarapan, mereka berdua berangkat ke kantor bersama-sama.


"Kamu kenapa diam aja?" tanya Arion sambil mengemudikan mobilnya. Sesekali dia melirik Cahaya yang terlihat cemberut.


"Gak tahulah, rasanya aku kesal aja."


"Nggak juga. Oiya, aku baru ingat loh." Cahaya membuka kalender di ponselnya. "Udah lama aku belum dapat sejak menikah sama Mas Rion."


"Kita menikah hampir dua bulan. Iya emang, kita gas terus tiap malam." Arion tersenyum kecil tapi kemudian Arion menghentikan mobilnya secara mendadak di depan perusahaan Cahaya. "Itu berarti..."


"Apa?"


"Udah jadi di dalam sini?" Arion mengusap perut Cahaya.


"Jadi?"


"Sayang, jangan-jangan kamu sudah hamil."


"Hamil? Masa' sih, Mas. Cepat banget prosesnya."


"Gimana kalau sekarang kita beli alat buat tes dulu?"


"Mas, aku buru-buru. Nanti aja ya." Cahaya mencium pipi Arion lalu dia keluar sambil membawa tas dan laptopnya.


"Sayang, hati-hati." Arion menatap punggung Cahaya yang kini telah masuk ke dalam perusahaannya lalu dia memutar mobilnya dan melaju menuju perusahaan pusat karena jadwalnya juga padat hari itu.

__ADS_1


...***...


Cahaya akan memulai rapatnya pagi hari itu. Dia membuka laptopnya tapi ternyata laptop yang dia bawa adalah milik Arion.


"Laptopnya tertukar lagi." Cahaya segera menghubungi Arion. Sampai beberapa kali baru akhirnya Arion mengangkat panggilan itu.


"Hallo Mas, laptopnya tertukar nih. Aku gak tahu. Iya, aku sendiri yang masukin. Terus gimana? Ya udah kalu Mas yang antar."


Cahaya menarik napas panjang lalu dia duduk di depan anak buahnya. "Meeting kita tunda dulu karena laptop saya tertukar. Mungkin Noval mau menjelaskan ide proyek yang baru silakan."


Noval berdiri dan menjelaskan ide proyek baru darinya.


Cahaya memang mendengar dan melihat gambaran dari proyeksi tapi pikirannya jauh melayang kemana-mana. Hari itu moodnya benar-benar kacau.


Sampai penjelasan dari Noval selesai, Arion belum juga datang.


"Iya, ide yang sangat bagus. Saya minta salinan perencanaannya nanti saya ajukan pada Pak Rion. Kalau begitu, kalian kembali bekerja saja karena laptop saya masih dibawa Pak Rion."


"Baik, Bu." Kemudian mereka semua keluar dari ruang rapat.


Cahaya masih saja duduk di ruangan itu sambil menyandarkan punggungnya. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya. Dia harus bisa mengontrol emosinya yang berantakan hari ini.


Beberapa saat kemudian Arion datang sambil membawa laptop Cahaya yang tertukar. Dia letakkan di atas meja lalu dia memasukkan laptopnya agar tidak tertukar lagi. "Laptop kita memang sama-sama hitam tapi merknya beda. Bisa-bisanya tertukar."


"Iya, aku gak tahu."


Arion menggeser satu kursi lalu duduk di sebelah Cahaya. "Jangan moody gini. Aku udah beliin tespack buat kamu. Coba kamu cek, biar hati kamu bahagia setelah tahu hasilnya."


Arion memberikan dua alat test itu.


Kamu wanita mandul. Tidak bisa punya keturunan!


Terlintas lagi perkataan Mamanya Bayu dulu yang sangat menyakitkan baginya. "Tapi, kalau ternyata negatif."


"Gak papa, kita coba lagi. Kan buatnya enak," kata Arion sambil tertawa. Ya, tentu saja Arion akan mencobanya lagi dengan semangat.


Seketika Cahaya tertawa. Kemudian dia berdiri dan mengajak Arion ke ruangannya. "Tunggu sebentar ya." Lalu Cahaya masuk ke dalam toilet di ruangannya.


Arion duduk di sofa dan dia sudah tidak sabar menunggu Cahaya.


Semoga saja hasilnya positif.

__ADS_1


__ADS_2