
Area panas ya, tapi gak kayak biasanya sih, biasa aja. Aku kurang nurhayati soalnya... 🤣 Lagi banyak pikiran .. 😅
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
Arion menyentuh bahu yang terekspos sempurna itu. "Kamu..." Arion semakin membuka selimut itu dan terlihatlah tubuh Cahaya yang hanya terbalut dengan gaun tidur yang minim. Dia tersenyum kecil menatapnya. "Aku sampai gak bisa berkata apa-apa."
"Aku malu." Cahaya kembali menarik selimutnya tapi Arion menahannya.
"Kenapa malu? Pasti Kak Shena yang kasih ini buat kamu."
Cahaya mengangguk pelan.
"Iya, siapa lagi kalau bukan Kak Shena yang mengajari. Aku masih ingat betul waktu Kak Shena dan Kak Sky malam pertama di rumah. Suara mereka terdengar sampai kamar aku. Hampir semalam aku gak bisa tidur."
Cahaya tertawa mendengar cerita Arion. "Terus Mas Rion diam aja di kamar sambil dengerin."
"Ya gimana aku gak terkontaminasi. Aku jadi bayangin yang nggak-nggak, terpaksa dituntasin sendiri pakai tangan."
Cahaya semakin tertawa mendengar cerita itu. "Waktu itu masih umur berapa?"
"19 tahun, aku baru saja kuliah. Tapi sekarang..." Arion menurunkan tali di bahu Cahaya. "Aku akan merasakannya bersama kamu." Gaun pendek itu semakin turun hingga dada Cahaya semakin terekspos. Arion menatapnya tak berkedip karena tidak ada lagi kain yang menutupi setelah gaun tidur itu.
"Mas, aku pernah..."
Arion membungkam bibir Cahaya dengan bibirnya sebelum Cahaya melanjutkan kalimatnya.
"Aya, aku gak peduli. Aku yakin. Aku yang pertama melakukannya sama kamu."
__ADS_1
Cahaya hanya menatap kedua mata Arion. Beberapa detik kemudian wajah mereka saling mendekat dan menyatu. Ciuman yang awalnya lembut itu semakin menuntut. Bahkan tangan Arion perlahan menyentuh dada Cahaya dan memijatnya dengan lembut.
Bibir Arion perlahan turun ke leher Cahaya. Menelusuri leher seputih susu itu dan membuat beberapa jejak di sana.
Cahaya semakin mendongak dan melenguh. Ditambah jemari Arion bermain di kedua puncaknya. Dia seperti dibawa Arion melambung tinggi.
"Aya, apa kamu sudah siap?" Satu tangan Arion meloloskan gaun tidur itu.
"Aku..." Cahaya menarik napas panjang lalu menghembuskannya. Dia menganggukkan kepalanya sambil menggigit bibir bawahnya karena jemari Arion kini sudah bermain di bawah perutnya. Dia baru tahu sisi lain dari Arion. Dia mengira Arion tidak terlalu aktif seperti ini tapi ternyata baru permainan dari jemarinya saja sudah membuatnya terbuai.
Kemudian Arion melepas piyamanya dan menindih tubuh Cahaya. Mereka saling bertatapan tanpa kata. Hanya detak jantung mereka yang terdengar saling bersahutan. Semua kisah pilu dan perjalanan panjang mereka kini telah berakhir bahagia.
Arion menggenggam kedua tangan Cahaya. Posisi dia sudah tepat dan bersiap menyatu.
Cahaya semakin menegang saat merasakan tekanan di bawah perutnya.
"Rion!!" Satu tangan Cahaya mencakar lengan Arion. Sekarang baru dia yakin bahwa Bayu memang tidak pernah berhasil melakukan itu padanya, karena baru kali ini dia merasakan sakit seperti ini.
"Sakit?" Arion mengusap ujung mata Cahaya yang mengembun. "Ternyata takdir memang memihak padaku. Aku benar-benar yang pertama untuk kamu."
Kemudian Cahaya mengalungkan kedua tangannya di leher Arion. Dia semakin memberi ruang pada Arion saat Arion mulai menggerakkan dirinya.
"Aya..." Arion kembali membungkuk dan mengendus leher Cahaya. Rasa yang baru pertama kali dia rasakan benar-benar membuatnya mabuk kepayang.
Cahaya mulai menikmati permainan Arion. Rasa sakit itu kini telah bercampur menjadi rasa nikmat. Dia semakin mengusap punggung Arion yang telah basah oleh keringat.
"Aya..." Arion mendekatkan wajahnya di telinga Cahaya. "Suara kamu jangan ditahan. Kamu men de sah saja. Tidak akan ada yang mendengar suara kita."
__ADS_1
"Tapi..."
Arion semakin dalam menghentaknya yang membuat suara Cahaya akhirnya terdengar. Mereka akhirnya berbalas suara hingga Cahaya bisa merasakan kenikmatan yang sebenarnya. Dia mencengkeram kuat bahu Arion saat perutnya mengejang. Dia seperti melambung tinggi lalu meledak di udara.
Arion tersenyum melihat wajah Cahaya yang memerah dan berkeringat. Dia kembali mencium bibir itu, sesekali menggigitnya kecil lalu menyesapnya. "Sayang, i'm cum in." Arion semakin menambah gerakannya, suaranya juga semakin keras. Hingga akhirnya rasa hangat itu memenuhi perut Cahaya.
Arion melepas dirinya, dia melihat noda merah yang membekas di sprei putih itu. Dia merasa bangga telah menjadi yang pertama untuk Cahaya meskipun statusnya janda. "Sayang, masih sakit gak? Aku bantu bersihkan dengan air hangat."
Kemudian Arion meraih tubuh Cahaya dan menggendongnya ke kamar mandi. Setelah bersih-bersih sesaat, mereka keluar dari kamar mandi. Arion menarik lapis atas sprei itu agar terlihat bersih lagi.
"Petualangan malam ini cukup sampai di sini. Kita lanjut besok pagi."
Cahaya hanya tersenyum. Dia menurut saja saat Arion membantunya memakai piyama.
"Sekarang kita tidur." Arion juga memakai piyamanya lalu dia merebahkan dirinya di atas ranjang. Dia peluk Cahaya ke dalam pelukannya lalu mencium kening Cahaya lagi.
"Mas, aku bahagia sekali hari ini."
Arion hanya tersenyum. Dia mengusap rambut Cahaya lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajahnya. "Aku juga sangat bahagia hari ini, tapi semoga saja kebahagiaan ini selalu ada di setiap hari kita. Aku sayang kamu, Aya."
"Aku juga sayang kamu." Kemudian Cahaya menyembunyikan wajahnya di dada Arion. Tempat ternyamannya adalah berada di dalam dekapan Arion.
💞💞💞
Like dan komen ya..
Komennya mana nih? 🙄
__ADS_1